Stay Here Please!

Stay Here Please!
Malam mencekam



Nathan


Sudah tengah malam, ia gusar. Tak bisa memejamkan mata barang sedetik sekalipun. Pikirannya kembali pada masa lalu. Dimana ia tanpa sadar merenggut mahkota seorang gadis. Jelas bukan murni kesalahannya karena mereka sama-sama dalam pengaruh obat. Tapi ia tak bisa abai begitu saja, apalagi perkataan bunda sore tadi sangat melekat dibenaknya. Terekam jelas di otaknya. Membuat hatinya diliputi rasa bersalah yang mencuat. Apa gadis itu hamil anaknya? Jika iya betapa sangat berdosanya ia menelantarkan anaknya.


"Shit" beberapa kali ia mengumpat, entah untuk siapa. Ia sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan gadis itu tapi tak satupun yang menemukan dimana gadis itu pindah. Sejak siang itu, seperti yang di informasikan oleh Glen, gadis itu pergi dari rumah. Bahkan sampai sekarang pun, rumah lama gadis itu tak seasri dulu.


Ia keluar, rumah sudah gelap gulita. Sepertinya semua sudah terlelap. Ia membuka lemari pendingin, mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya.


"Nathan" ia melonjak, membalikkan badan guna melihat sang pemanggil.


"Ayah bangun?" ia membawa beberapa makanan untuk duduk, melahapnya hingga licin tandas.


"Ada yang ingin kamu bicarakan?" Jelas ayahnya sudah diambang batas kesabaran, melihatnya bertingkah aneh beberapa bulan terakhir.


"Ehemm" berdehem untuk mengurangi kegugupannya.


"Nathan, kau mendengar ayah?"


"Bisa kita bicara diruang kerja ayah?" Ia hanya mengangguk menyanggupi ajakan Ayah. Mengatur degup jantungnya, entah apa yang akan ia dapat dari sang ayah setelah beliau mengetahui perbuatan bejatnya.


Dengan langkah gontai, menguatkan dirinya sendiri. Siap menerima apapun bentuk kemarahan ayahnya. Siap tidak siap, ia harus siap dengan kemarahan dari ayah ataupun bunda. Tidak akan bisa ia menyembunyikan ini terlalu lama.


"Duduk" ucapan ayah saat diruang kerja membuat ia meneguk ludah dengan kasar. Ruangan dengan pencahayaan sempurna ini tak membuat kelegaan dihatinya, justru menambah ketegangan. Seolah sebuah tali yang ditarik dan siap putus kapan saja. Lebih baik ia berada dalam ruangan gelap gulita, tenang, menyelami pikiran dengan diri sendiri. Daripada dalam ruangan penuh pencahayaan tapi dengan aura menegangkan dan penuh kemarahan.


"Aku baj*ng*n ayah" ia menunduk melihat tatapan mengintimidasi Ayah. Tidak sanggup, ia bahkan sampai menitikkan air mata.


"Ceritakan dengan benar" ayah menepuk bahunya dua kali, menenangkan dirinya.


"Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya kau dimalam pesta?" Sambung ayah saat ia terus terdiam, jelas semua orang menyadari perubahan sikapnya setelah pesta itu berlangsung. Acuh dan dingin.


"Ada yang mencampur minumanku dengan serbuk lalu.."


"Lalu kau melakukan hal terlarang?" Tebak ayah tepat sasaran, bahkan sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Ia hanya mengangguk.


"Siapa gadis itu?" Tanya Ayah datar, sepertinya kemarahan ayahnya sudah mencapai puncak ubun-ubun. Siap meledak kapan saja.


"Office girl baru dikantor. Baru bekerja dua minggu sebelum acara berlangsung. Namanya Aurelia" jelasnya dengan suara terbata.


"Kau mengenalnya?" Ayah menggeram.


"Lalu kau mengacuhkannya setelah kejadian itu?"


"Apa ini anak ayah? Dimana Nathan yang selalu bertanggung jawab atas semua yang dilakukan?"


Ia hanya menunduk dalam-dalam. Tak mampu menatap mata nyalang ayah. Mata yang menyiratkan kemarahan dan kekecewaan yang amat sangat.


"Aku sudah mencarinya, setelah kejadian itu aku langsung menyarinya. Tapi sama sekali tidak ada jejak, gadis itu menghilang bak ditelan bumi"


Bugg


Ia mengusap sudut bibirnya saat ayah melayangkan pukulan tepat mengenai tulang pipinya. Ia diam, menerima semua kemarahan ayah tanpa membela diri.


"Bodoh"


"Melihat sikapmu yang aneh beberapa bulan terakhir kami yakin ada yang tidak beres"


"Gadis itu hamil anakmu. Pasti"


"Dan anakmu menghukummu melalui tingkah aneh itu"


"Ayah pernah merasakannya dulu"


Ia hanya diam, rasa perih dibibirnya sama sekali tak dihiraukan olehnya.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Suara ayah semakin datar, dingin, dan acuh. Benar-benar dalam kemarahan yang amat besar.


"Menunggunya" mungkin ini keputusan terbaik, ia tak akan mengulang kesalahan dua kali.


"Sayang" ia dan ayah menoleh, ayah terlihat menghela nafas sedangkan ia meneguk ludah. Kemarah ayah belum reda dan ia tidak tahu seperti apa kemarahan bunda saat mengetahui kesalahan terhinanya. 


"Ada apa? Mengapa Nathan terluka?" Bunda panik, berlari kearahnya lalu memeluknya. Ia tersenyum getir, apa bunda akan tetap memeluknya seperti ini saat bunda mengetahui semuanya? Hal yang paling dibenci oleh semua orang. Kegiatan berdosa besar yang membuatnya kelimpungan beberapa bulan.


"Ada apa ini? Mengapa kalian diam" bunda semakin geram karena ia maupun ayah tak ada yang membuka suara.


"Jelaskan secara rinci"


"Sayang, tolong dengarkan Nathan menjelaskan masalahnya dan jangan mengelak." Ia meneguk ludahnya kasar berkali-kali. Dua kalimat ayah yang membuatnya mau tak mau harus menceritakan semuanya. Berawal dari bagaimana ia masuk kekamar hotel itu lalu bagaimana gadis itu masuk dikamar yang sama. Sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, hal yang selama bertahun-tahun ia hindari dengan amat sangat.


"Maafkan Nathan bunda, maafkan Nathan" ia menunduk, tak mampu menatap mata berkaca bunda yang mulai mengeluarkan air mata tanpa permisi.


"Mass" bunda memilih menjauh dari dirinya, langsung memeluk ayah yang berdiri didepan mereka.


Ia masih menunduk dalam-dalam. Tak mampu mendongakkan kepala, melihat mata bunda yang memperlihatkan kekecewaan. Ia salah, ia mengakui ia tak berguna.


"Kau ingat pesan bunda? Kehormatan wanita adalah hal utama. Lalu jika kau mengambilnya? Apa lagi yang harus dibanggakan oleh gadis malang itu? Wanita akan merasa hina jika ia kehilangan mahkota bukan dengan suaminya, merasa rendah dan seperti sampah ketika kehormatannya direnggut oleh pria asing yang belum dikenalnya. Lalu sekarang kau mengalami hal aneh, hal yang biasa dialami ibu hamil. Mulai dari morning sickness atau ngidam, semua itu menandakan jika gadis itu mengandung anakmu"


Ia menunduk, terus menunduk. Mendengarkan setiap ungkapan kemarahan bunda. Ungkapan seorang wanita yang melahirkannya, yang tetap dengan sukarela memberinya nasehat disaat ia salah, yang selalu bersedia memaafkan apapun kesalahannya.


"Mass, tolong cari gadis itu" ia sempat menangkap anggukan kepala Ayah saat bunda meminta ayah mencari keberadaan gadis itu.


"Kau tidak mencoba mencarinya?" Tanya bunda jelas ditujukan padanya. Ia mendongakkan kepala, menatap mata teduh dengan luka yang sangat memilukan.


"Aku tidak menemukannya bunda, semua sudah ku kerahkan, semua kerabatnya sudah dikunjungi tapi tak ada satupun yang tahu dimana keberadaan gadis itu. Yang mereka tahu, gadis itu berpamitan pindah dan membawa sang nenek disiang hari" jelasnya dengan suara berat, mengantuk, lelah hati, lelah fisik, lelah pikiran, semua melebur menjadi satu.


"Siapa namanya?"


"Aurelia"


"Apa pertemuan dikantor menjadi pertemuan pertama kalian?" Tanya bunda lagi.


"Tidak, pertemuan pertama di SweetCake langganan bunda. Dia menjadi karyawan ditoko itu sebelum akhirnya pindah kekantor"


"Dan aku merusaknya" sambungnya getir.


"Sudah dini hari, tidur" ayah mengajak bunda keluar, sedangkan ia masih duduk mematung memikirkan semua hal. Mulai dari anak, dan bagaimana nasib kedua manusia tak bersalah itu.


"Jika memang kau hadir dalam perut gadis itu, maafkan papa nakk, papa siap menerima semua hukuman yang kau berikan. Tapi papa mohon, bawa mama mu kembali ke hadapan papa" itu menjadi doa terakhirnya dimalam ini. Ia langsung bangkit, keluar dari ruang kerja ayah dan menuju kekamarnya. Menuntaskan rasa kantuknya yang kian mendera. Membawa matanya terpejam untuk menyelami mimpi.