
Rafael
Ia bosan, entah sudah berapa kali ia berganti posisi duduk atau berbaring hanya untuk mengusir kejenuhan. Terlebih lagi papa sibuk dengan dokumen, dan sebentar lagi akan turun kebawah untuk rapat.
Ia keluar dari kamar yang berada diruangan papa, melihat papa yang masih sibuk dengan beberapa dokumen dan juga laptop yang menyala. Ia menghela nafas, berjalan menuju lemari buku yang terletak disuatu sudut ruangan.
Mengambil buku dengan acak, lalu membawanya duduk disofa.
"Bosan?" Ia mendongak saat papa bertanya, menatap papa dan menganggukkan kepalanya.
"Mau ikut papa kebawah?" Ia menghentikan kegiatan membacanya, lalu menutup buku dan mengembalikannya ketempat semula. Dan mengikuti papa yang sudah menunggunya didepan pintu.
"El bisa jalan sendiri" ia memundurkan langkah saat papa hendak meraih tubuhnya dalam gendongan. Sebenarnya ia bahagia bisa digendong oleh papa, hanya saja jika terlalu sering membuatnya seperti anak kecil yang manja. Big No. Ia tidak ingin menyandang status itu. Ia harus mandiri.
Papa terkekeh lalu mengusap rambutnya sedangkan ia hanya mendengus. Merapikan kembali rambutnya dan menatap tajam papa.
"Pak Nathan lebih sering tersenyum" gumam asisten papa yang berjalan dibelakangnya dan papa. Ia menoleh sekejab lalu mengernyitkan dahi.
"Ada apa El?" Tanya papa saat melihat wajah terkejutnya.
"Oh tidak ada apa-apa" jawabnya dan memasuki lift.
Ia memasuki ruangan luas dengan suasana dingin itu, menatap beberapa orang yang juga menatapnya penuh tanya.
"Maaf saya mengajak putra saya karena ia merasa bosan diruangan saya" ia menoleh kearah papa yang sedang menjelaskan tentang siapa dirinya. Setelah orang yang terlibat rapat mengangguk mengerti, ia langsung dipersilahkan papa untuk duduk dikursi paling ujung. Sebagai kursi pemimpin rapat. Dan papa berdiri. Hingga asisten papa datang lalu membawa kursi lagi.
"Apa anda yakin jika anak anda tidak akan mengganggu jalannya rapat?" Ia mendengus saat mendengar salah satu anggota rapat, lalu menatap papa yang hanya memasang wajah datar.
"Saya pastikan tidak akan terjadi keributan apalagi disebabkan oleh anak saya, saya akan bertanggung jawab jika keributan terjadi" tegas papa dan mengelus rambutnya.
"Baik, silahkan dimulai"
Ia memperhatikan papa yang sibuk menerangkan dengan layar besar dibelakangnya. Tanpa sadar ia tersenyum, ternyata cerita mama tentang bagaimana hebatnya papa memang benar adanya. Dan kini ia bisa melihat sendiri bagaimana sosok itu saat dalam dunia bisnis. Menakjubkan.
"Maaf pak, tolong hargai papa yang menjelaskan" ia menegur salah satu anggota rapat yang sibuk dengan ponsel, semua memperhatikannya lalu beralih menatap pada seorang pria yang sepertinya seusia dengan papa yang sibuk memainkan ponsel.
"Jangan mengada-ngada anak kecil. Saya memperhatikan pak Nathan" ia tersenyum sinis saat pria itu membela diri dihadapan semua orang. Dan bahkan semua anggota rapat sudah menatapnya menuduh.
"Paman, ada CCTV bukan? Coba lihat apa saya hanya mengada-ngada atau memang kenyataan" ucapnya pada asisten papa. Pria itu terlihat gugup dan menatapnya tajam.
"Ada hal yang mengharuskan saya membuka ponsel jadi dengan terpaksa saya memainkan ponsel saat pak Nathan menjelaskan" lagi-lagi ia tersenyum sinis saat pria itu mengaku tapi masih mengelak dengan berbagai alasan.
"Baik, paman mari tunjukkan rekaman CCTV. Berapa lama pria itu memainkan ponsel" ucapnya dengan tegas tapi tetap santai.
"Saya lanjutkan penjelasan ini lalu kita akan mengecek CCTV sama-sama" anggota rapat mengangguk bersamaan atas ucapan papa, sedangkan ia menatap penuh iba pada pria itu yang terlihat gugup.
Hingga kini layar besar dibelakang sudah berganti, yang awalnya menampilkan berbagai bahan yang dirapatkan kini berganti rekaman beberapa puluh menit yang lalu. Ia tersenyum, tak mengalihkan pandangannya pada pria yang terlihat sangat ketakutan dan berkeringat dingin.
"Tolong urus, El ayo keluar" ucap papa pada asisten papa setelah terbukti siapa yang bersalah. Ia mengangguk saat papa mengajaknya berlalu.
"Pekerjaan papa sudah selesai, mau kemana dulu sebelum pulang?" Tanya papa saat sudah didalam lift.
"Pamannn" ia mengernyit saat ada bocah laki-laki tergopoh-gopoh berlari memeluk papa dan bahkan papa langsung menggendong. Mencium pipi gembul bocah itu.
Pikiran buruk mulai menggelayuti, ia maish terdiam seraya menatap papa yang sedang menggoda bocah kecil itu. Terlebih lagi ada seorang wanita yang tersenyum dan berdiri didepan ruangan papa.
"Ax menangis, katanya ingin menyusul. Jadi mumpung aku ada pekerjaan disini jadi sekalian membawa Ax" lagi-lagi ia terdiam saat wanita itu membuka suara. Bahkan untuk menanyakan siapa dua orang itu rasanya bibirnya tak mampu terbuka.
"El sini" hingga panggilan papa membuyarkan lamunannya, berjalan mendekat lalu duduk disofa yang ada diruangan papa. Tepat berada diseberang wanita itu.
"Siapa kak?" Tanya wanita cantik itu yang sepertinya seusia dengan mama.
"Ax, ayo sapa kakak" ia masih menatap interaksi tiga manusia didepannya. Papa yang masih memangku bocah itu, wanita yang menatapnya penuh tanya, lalu bocah kecil yang sibuk merakit mainan dipangkuan papa.
"Kakak? Ax tidak punya kakak" ketus bocah itu membuat ia mendengus lalu menatap tajam.
"Kak, siapa dia?" Tanya wanita itu semakin terlihat penasaran.
"Anak kakak, dengan Aurelia. Kau mengingatnya?" Jawab papa bangga, wanita itu terlihat berpikir lalu mengangguk antusias dan langsung berpindah posisi duduk tepat disampingnya. Ia sedikit menjauh, hingga tepat berada diujung sofa.
"El, itu bibi Oliv. Adik papa" ah lega rasanya saat papa menjelaskan siapa wanita ini. Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya guna menyapa.
"Mirip sekali dengan kakak, tampan" puji wanita itu yang sempat ia curigai sebagai istri papa. Dan ternyata adik papa, bernama bibi Oliv.
"Ah sebentar, sepertinya wajahnya tidak asing" ucap bibi Oliv, sedangkan ia masih menatap apa yang dilakukan bibi Oliv.
"Wahh, bukankah ini kau? Hebat sekali" sekali lagi, bibi Oliv terlihat sangat antusias saat menemukannya dipemberitaan lomba melukis beberapa hari yang lalu.
"Bibit unggul, biasalah" ucap papa diiringi kekehan kecil.
"Wahh harus bilang sama Evan nih kak, harus diapresiasi" Evan? Siapa lagi itu?.
"Evan nggak ikut kesini?" Tanya papa pada bibi Oliv
"Ikut, sedang bertemu klien direstoran seberang" jawab bibi Oliv masih terus saja membaca pemberitaan tentang dirinya dimedia sosial.
"Siapa evan?" Nyatanya ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia berharap Evan bukanlah orang yang akan merebut perhatian papa seperti bocah kecil yang sedari tadi terus menggelayuti papa. Ah siapa namanya? Ax. Ya namanya Ax. Entah siapa nama lengkapnya ia tidak peduli.