Stay Here Please!

Stay Here Please!
Bahagia



Rafael.


Bohong jika ia mengatakan tidak bahagia atas kedatangan papa malam ini. Ia sangat bahagia, ingin sekali memeluk dan menubruk tubuh kokoh itu, tapi urung. Raganya belum siap, bahkan ia hanya menunjukkan wajah datar dengan mata tajam, nyalang. Memperlihatkan bahwa benteng yang ia bangun begitu kokoh dan tinggi. Ia tidak marah pada papa, hanya saja ia butuh waktu untuk menerima sosok itu.


Ia menerima setiap sentuhan yang diberikan oleh papa, mengelus rambutnya. Bahkan ia merasa bangga, karena ia bisa pamer terhadap teman-temannya.


Ia menatap punggung papa yang berjalan menuju pintu, sebenarnya ia ingin menyetujui ajakan papa untuk menginap di apartement papa. Tapi lagi-lagi hati dan mulutnya tidak searah. Ia belum bisa menerima papa, masih butuh waktu.


"Sayang" ia mengusap air matanya, ia tidak ingin membuat mama sedih karena ia menangis. Tidak, ia tidak boleh cengeng. Ia laki-laki. Dan ayah selalu bilang jika anak laki-laki harus kuat dan harus bisa menjaga orang tersayang.


"Nggak papa nangis" mama memeluknya, nyatanya meskipun ia bersembunyi tapi mama tetap melihat air matanya.


"Mama tahu kalau Rafael sayaaaang banget sama papa, tapi Rafael butuh waktu buat nerima kehadiran papa. Begitu sayang?" Pertanyaan mama yang tepat sasaran membuat ia mengangguk dalam dekapan mama.


"Biarkan papa melakukan hal apapun untuk Rafael, biar Rafael tahu seberapa sayangnya papa untuk Rafael." Ia diam, tak menanggapi ucapan mama.


"Rafael ingin papa sedih? Rafael mau papa sakit karena terlalu memikirkan Rafael?" Tidak, ia dengan cepat menggeleng untuk menjawab pertanyaan mama


"Kalau Rafael tidak mau semua itu terjadi, jangan hukum papa terlalu lama. Besok dijemput papa kan waktu pulang sekolah?" Tanya mama lagi dan ia hanya mengangguk.


"Pasti papa akan seneng banget kalau Rafael baik sama papa, Rafael mau menjawab pertanyaan papa itu sudah membuat papa bahagia." Lagi-lagi ia hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa Rafael menolak ajakan papa untuk menginap?" Ia terdiam, tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan mama yang satu ini.


"Rafael mau, hanya saja..."


"Hanya saja Rafael memikirkan mama?" Ia mengangguk saat mama melanjutkan ucapannya.


"Mama baik-baik saja, dengan Rafael mau menginap di apartement papa pasti papa sangaaat bahagia. Papa pasti akan memeluk Rafael sepanjang malam, seperti yang Rafael inginkan dari dulu." Ya, ia mengakui jika ia sangat menginginkan tidur dipelukan papa.


"Ya sudah, tidur dulu ya sayang. Buku untuk sekolah besok sudah disiapkan?" Tanya mama dan ia hanya mengangguk.


Ia merebahkan diri, tersenyum kearah mama yang menyelimuti tubuhnya. Ia mencekal tangan mama yang hendak berdiri, menatap mama dengan pandangan yang tak bisa diartikan.


"El butuh sesuatu?" Tanya mama dengan lembut.


"Apa El besok boleh menginap ditempat papa?" Tanyanya dengan lirih.


"Boleeh sayang, sangaaat boleh. Besok sepulang sekolah El bilang sama papa ya, nggak usah bawa banyak barang. El langsung pulang kesini jika membutuhkan baju atau apapun itu, apartement papa ada dilantai atas" ia terkejut, tak menyangka jika jarak nya begitu dekat.


"Ma, papa mengajak El ke kantor papa besok" ucapnya.


"Nggak papa, tapi bawa baju ganti ya. Jangan berkeliaran sepulang sekolah dengan memakai seragam. El paham?" Ia mengangguk mendengar jawaban mama.


Nathan


Ia kembali ke apartement dengan perasaan bahagia, hari yang sangat menakjubkan selama penantiannya. Tapi Tuhan seolah tak ingin ia lupa pada-Nya, tuhan memberikan ujian dimana ia harus menaklukan dua hati sekaligus. Pertama anaknya dan kedua Aurelia. Kedua orang yang sangat sulit.


Tak lupa ia mengabari orang tuanya, lalu tidur dengan perasaan bahagia. Tenang dan nyaman. Terlebih lagi saat ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Aurelia, membuat kebahagiaan seolah datang satu persatu.


"Saya sudah bicara dengan El. Besok dia ingin menginap tapi biarkan dia bicara sendiri, anda hanya perlu bersikap seolah anda tidak tahu, jangan bilang saya mengabari anda. Biarkan El lebih banyak bicara dengan anda" tulis pesan yang dikirim oleh Aurelia.


"Batalkan penerbangan saya besok, saya harus menetap disini sampai waktu yang belum bisa ditentukan" tak lupa ia menghubungi asistennya, mengabarkan jika ia membatalkan penerbangannya besok.


Ia memasang pengingat untuk membangunkannya besok pagi, tentu ia tidak ingin terlambat. Ia berencana menjemput Rafael berangkat dan pulang sekolah.


"Loh ngapain kesini mas? Bukannya janjiannya jemput Rafael pas jam pulang sekolah?" Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan penuh keterkejutan dari Aurelia.


"Sekalian, kan kantor ku dekat dengan sekolah Rafael" jawabnya.


"Rafael mau berangkat sama mama" ucap Rafael tegas sedangkan ia masih tetap tersenyum.


"Mau kemana?" Tanyanya saat melihat Aurelia sudah rapi.


"Ke store, sekalian mau antar Rafael ke sekolah" jawab Aurelia seraya membenarkan dasi yang digunakan oleh Rafael.


"Naik apa?" Tanyanya ingin tahu.


"Taksi".


"Berangkat sama-sama saja, aku akan mengantar kalian." Putusnya, karena Rafael terlihat tidak ingin berpisah dari Aurelia.


"Tapi mas..."


"Maa, El nanti telat" gerutu Rafael.


"Baik, kita berangkat sama-sama" jawab Aurelia dan membuat ia tersenyum lega dan mengangkat tubuh Rafael dalam gendongannya.


"Saya bisa berjalan" ia tertawa mendengar gerutuan Rafael, menurutnya sangat menggemaskan.


"Ayo ma" ia meraih tangan Aurelia, menggenggamnya seperti keluarga kecil yang bahagia.


Aurelia.


Kemunculan Nathan membuat ia heran, bukankah pria itu akan menjemput Rafael sepulang sekolah? Lalu mengapa sepagi ini sudah berada diapartementnya.


Dan lagi, Nathan menarik tangannya, membawanya turun kebawah untuk berangkat. Ia hanya diam, tak mampu menolak karena genggaman itu sangat kuat. Ia terharu, ia merasa seperti dalam keluarga bahagia, dengan Rafael yang berada digendongan Nathan dan ia yang bergandengan tangan dengan Nathan. Sungguh ia merasa pasti orang yang melihat mereka akan menganggap bahwa mereka adalah satu keluarga kecil yang bahagia.


"Ell" ia menghentikan langkah, begitu juga Nathan. Mereka membalikkan badan saat ada panggilan. Ia meremas tangan Nathan tanpa sadar, hingga sang empu mengernyit heran dan menatapnya.


"Siapa boys?" Tanya Nathan pada Rafael.


"Om Vino" jawab Rafael singkat.


Tapi ia jelas tak mampu menatap mata Vino, mata pemilik tubuh yang hampir saja nekat melecehkannya jika saja saat itu ia tak berhasil melarikan diri. Tak bisa dipungkiri jika Vino tampan, tapi ia sama sekali tak memiliki perasaan pada pria yang berteman dengan om Tirta itu. Apalagi ia pernah memergoki Vino membentak Rafael, tentu ia tidak akan menerima Vino menjadi suami melihat tingkah Vino seperti itu.


"Ada apa?" Nyatanya Nathan tidak mampu lagi membendung rasa penasaran saat ia memeluk lengan Nathan.


"Ayo berangkat" Rafael menatap Nathan, meminta agar Nathan segera membawa mereka pergi dari hadapan pria be*at itu.


"Kau siapa?" Tanya Vino yang ditujukan untuk Nathan.


"Saya papa nya Rafael, kami harus segera berangkat"


Ia menganggukkan kepalanya menyapa Vino, kemudian mengikuti langkah Nathan dan Rafael.


"Maaf" ia buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Nathan, menundukkan kepala dengan malu. Tak mampu menatap mata nyalang dengan segala pertanyaan itu.


"Masuk, saya harus menghubungi seseorang" ia mengangguk, menyusul Rafael yang sudah mendudukkan diri dikursi belakang.