
Nathan
Ia tersenyum simpul. Entah karena cukup puas dengan lagu yang ia nyanyikan atau karena melihat gadis itu tergopoh-gopoh memasuki lift. Ia yakin jika gadis tersebut masih berada dilantai ini saat dirinya bernyanyi. Sejenak ia terdiam, melamun, memikirkan, membangkitkan ingatan tentang dimana ia pernah melihat gadis itu.
Wajah yang tidak asing.
Ia bangkit, membawa gitar miliknya masuk kedalam ruangan. Meletakkan disudut sofa, tempat semula. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Menyelami dan menikmati aroma khas ruangannya yang satu minggu ini tinggal ke luar negeri. Ruangan yang kembali ditempati oleh sang ayah ketika ia pergi.
Merebahkan diri diranjang kamar yang ada diruangan. Kamar didalam ruang kerja dengan desain minimalis tapi tetap terlihat nyaman. Memejamkan matanya hingga terlelap. Memasang alarm untuk membangunkan tidur singkatnya. Dan berhasil terbangun ketika jam menunjukkan tepat pukul 08.00.
“keruangan saya sekarang” ia menghubungi Yesi, hingga membuat sekertarisnya itu cukup terkejut karena ia sudah diruangannya.
“kapan bapak datang?” tanya Yesi saat sudah diruangannya dan menyerahkan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangannya.
“apa hanya ini?” tak menjawab pertanyaan Yesi, ia lebih memilih menanyakan pertanyaan lain.
“iya pak, semua sudah dihandel sama pak Gibran kemarin” ia hanya mengangguk, mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat jika Yesi bisa pergi.
“eh tunggu” Yesi yang baru saja membuka pintu kembali membalikkan badan. Menunggu alasan mengapa dirinya memanggil kembali.
"Ya, ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Tanya Yesi sopan.
"Apa kau yang meminjamkan gitarku pada office girl itu?" Tanyanya dengan wajah datar. Sejenak hening, Yesi hanya menunjukkan wajah pias daripada menjawab pertanyaannya.
"Kau mendengarku?" Geramnya.
"Ma-maaf pak, karena gadis itu sangat ingin memainkan gitar bapak sudah dari lama. Jadi saya pikir tidak masalah jika meminjamkannya sebentar. Maaf atas sikap lancang saya pak" Yesi terlihat gugup, seperti seorang maling yang kepergok.
"Siapa namanya?" Tanyanya.
"Aurelia"
Yesi.
Ia menyipitkan kedua matanya saat melihat Aurelia keluar dari ruangan bosnya dengan wajah kesal. Sudah dua kali, tadi pagi saat mengantar kopi dan siang tadi saat mengantar makanan. Entah apa yang terjadi didalam.
Sengaja ia memerintahkan Aurelia yang mengantar, karena ia belum siap bertemu dengan pak Nathan setelah pertanyaan menegangkan tadi pagi.
"Apa kau meminjamkan gitarku pada office girl itu?" Pikiran buruk mulai berkeliaran, apa Aurelia merusakkan gitar pak Nathan. Ah syukurlah, gitarnya masih utuh dan tidak berkurang saat ia melirik sejenak pada gitar yang terletak diujung sofa.
"Kau mendengarku?" Ia melonjak, saking terkejutnya ia sampai gugup. Ini sama sekali bukan dirinya.
"Ma-maaf pak, karena Aurelia sangat ingin memainkan gutar bapak sudah dari lama. Jadi saya pikir tidak masalah jika meminjamkannya sebentar. Maaf atas sikap lancang saya pak"
Sesalnya, berharap pak Nathan tidak marah atas keputusannya.
"Siapa namanya?" Ia semakin terkejut, tapi juga bersyukur karena pak Nathan tidak memarahinya tapi malah menanyakan hal lain.
"Aurelia"
Setelah keluar dari ruangan pak Nathan, ia menghela nafas. Sambil terus bergumam "Maafkan aku Rel, semoga pak Nathan menanyakan namamu tidak untuk memarahimu" gumamnya.
Dan tidak berselang lama setelah ia duduk dikursinya, pak Nathan kembali menghubungi untuk meminta pertolongan membawa minuman untuk tamu. Ah iya selain belum siap bertemu dengan pak Nathan, ia juga tidak ingin bertemu dengan tamu pak Nathan. Tamu kurang ajar yang sudah meremehkan harga dirinya.
Aurelia.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, ia akan mengalami pagi yang menegangkan.
Satu minggu ia bekerja, normal. Tidak ada yang menegangkan seperti ini.
"ada telpon dari lantai 15 tuh" ia melonjak saat Vivi berbicara dan menepuk bahunya. Dengan gelagapan, ia langsung berdiri dan mengangkat telpon yang masih menggelepar-gelepar.
"Baik bu"
"Ya, baik."
Ia sesekali mengangguk, meletakkan kembali telpon dan mendudukkan diri dengan lemas dan wajah kurang bersemangat.
"Ada apa?" Tanya Vivi melihat wajah tak bersemangatnya.
"Bu Yesi menyuruhku membuatkan minuman untuk tamu pak presdir dan menunggu makan siang yang diantarkan oleh ojek online nanti" jelasnya pada Vivi,
Ia langsung bangkit dari duduknya, mencuci cangkir bekas tehnya dan mulai menyeduh kopi untuk tamu Pak Nathan. Meraciknya, menambah satu sendok kopi bubuk dan gula secukupnya. Heumm, sangat pas dilidah. Tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis juga.
"Aku pergi dulu ya Vi" pamitnya pada Vivi yang asik bermain ponsel.
Ia menaiki lift seraya membawa nampan, menganggukkan kepala saat berpapasan dengan karyawan lain. Meskipun tak semua membalas sapaannya.
"Langsung masuk saja Rel" ia mengangguk saat Yesi mempersilahkan ia masuk kedalam ruangan pak presdir. Aurel, begitu Yesi memanggilnya. Setiap ia menanyakan tentang panggilan yang sedikit kurang akrab ditelinganya karena orang terdekatnya selalu memanggil "Lia", Yesi selalu menjawab.
Ia membuka pintu ruangan pak Nathan, mengintip terlebih dahulu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya masuk. Terlihat beliau sedang berbincang dengan santai bersama seorang pria yang kelihatannya juga sebaya.
"Ini minumannya pak, silahkan" ucapnya saat meletakkan minuman diatas meja.
"Cantik" ia mendongak, menatap tamu pak Nathan yang baru saja berbicara. Ia menyipitkan mata saat melihat mata tamu itu menyiratkan hasrat yang menggebu.
"Saya permisi terlebih dahulu pak" pamitnya pada pak Nathan yang langsung diangguki.
"Heii siapa namamu?" Tanya tamu itu.
"Saya Aurelia" jawabnya sopan.
"Emm lumayan cantik, hanya perlu sedikit permak agar terlihat lebih menonjol dibagian tertentu dan baru pantas jika berkencan denganku dan melayaniku" ucap Tamu itu tanpa aling-aling. Ia pun menyipitkan kedua matanya. Menghela nafas dan mencoba tersenyum.
"Maaf pak, tapi saya tidak berminat berkencan dengan anda ataupun melayani anda" tegasnya kemudian menganggukkan kepalanya pada pak Nathan yang terlihat menarik ujung bibirnya.
Manis
Eh apa yang kau pikirkan Liaa, bodoh. Umpatnya pada dirinya sendiri.
Nathan.
Ia memeriksa laporan yang ada, sembari menunggu Glen yang akan datang kekantornya. Tidak ada urusan, hanya ingin berbincang layaknya teman yang lama tak jumpa.
"Yesi, tolong suruh petugas untuk mengantarkan minuman untuk Glen" ucapnya pada Yesi melalui sambungan telepon. Bahkan ia tak menunggu jawaban Yesi, langsung mematikan begitu saja.
"Haii broo" ia mendongakkan kepalanya, tersenyum dan berdiri dari kursi kerjanya lalu mendekati Glen yang sudah terlebih dahulu duduk disofa.
"Gue cape bangettt, harus ngurus perusahaan selama bokap diluar negeri"
"Oh ayolah Glen, berhenti mengeluh dan membicarakan perusahaan" gerutunya.
"Makanya kasih tips buat gue biar bisa rajin kaya lo. " mendengar jawaban Glen, ia pun tertawa.
Tapi baru saja hendak menjawab, pintu ruangannya sudah terlebih dulu diketuk.
"Masuk" ucapnya.
"Ini pak minumannya silahkan" ucap gadis tadi pagi yang sempat memainkan gitarnya.
"Cantik" gumam Glen, ia pun hanya memutar bola jengah dengan kelakuan temannya yang tak pernah berubah.
Gadis itu terlihat mendongak, menatap Glen dengan mata mengernyit dan alis saling bertaut. Tapi hanya sesaat, karena gadis itu langsung bangkit dari posisi jongkok.
"Saya permisi terlebih dahulu pak" pamit gadis itu pada dirinya, ia pun mengangguk.
"Heii Siapa nama mu?" Mau tak mau gadis itu mengurungkan niat sata ingin berbalik karena Glen kembali bersuara.
"Aurelia" jawab gadis itu sopan dan terlihat tegas.
Namanya Aurelia
"Emm lumayan cantik, hanya perlu sedikit permak agar terlihat lebih menonjol dibagian tertentu dan baru pantas jika berkencan denganku dan melayaniku" ucap Glen menatap penuh minat pada Aurelia.
"Maaf pak, tapi saya tidak berminat berkencan dengan anda ataupun melayani anda" mendengar jawaban tegas dari Aurelia membuat ia tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya, sedangkan Glen masih mencerna semua yang didengarnya.
"Buahahaha" setelah kepergian Aurelia dari ruangannya ia tak mampu lagi menahan tawa. Menatap Glen dengan wajah penuh ejekan.
"Seorang Glen ditolak oleh seorang office girl" ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
"Shit, beraninya gadis itu" gerutu Glen, sedangkan ia masih menuntaskan tawanya.
Ia menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan ketegasan dan keberanian gadis itu secara terang-terangan menolak pesona seorang Glen. Bahkan Yesi, wanita pemberani dan terkenal kebal dengan gunjingan pun masih akan jatuh ke pelukan Glen. Tapi gadis itu? Very interesting.
Mengobrol, membicarakan mengenai semua hal layaknya teman. Sedikit menyelipkan urusan pekerjaan jika Glen bertanya dan ia akan menjawabnya.
Suasana sore mulai terasa, Glen sudah pulang beberapa menit lalu. Sedangkan ia langsung menuntaskan pekerjaannya, berharap cepat sampai rumah dan merebahkan dirinya.
"Ini rincian tentang teknis pelaksanaan acara pesta ulang tahun perusahaan pak. Kemarin pak Gibran sudah memeriksa, tinggal menunggu persetujuan anda" ucap Yesi menyerahkan map berisi proposal dan dokumen tentang ulang tahun perusahaan yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.
Membolak-balik halaman, membacanya sebentar lalu memasukkan kedalam tasnya.
"Saya bawa pulang, nanti akan saya kirim file nya jika ada yang perlu dibenahi" ucapnya.
"Baik"