
Hari berjalan seperti semestinya, normal. Tidak ada yang menegangkan atau menyebalkan seperti beberapa hari yang lalu. Kantor hari ini diliburkan, sebagai persiapan menjelang nanti malam. Perayaan ulang tahun perusahaan yang akan diselenggarakan di sebuah ballroom hotel mewah.
Aurelia
Ia gunakan hari libur dengan sebaik-baiknya. Membantu mbah membersihkan rumah, mulai dari nyapu atau ngepel. Pagi tadi juga ia sempat ke pasar tradisional untuk belanja.
"Ndukk, ono telpon. (Nakk, ada telpon)" panggil mbah menghampirinya yang sibuk berkutat dengan alat pel.
"Iya mbah" meletakkan pelnya sejenak, beranjak menuju kamar dimana ia menyimpan ponselnya.
"Hallo Vi" sapanya
"Hallo, kau pake baju apa? Aih aku merasa minder karena disana pasti semua kalangan elit" Di seberang sana, Vivi terlihat gusar. Memang semua karyawan diundang dan bebas hadir dalam perayaan tersebut. Wajar jika bagi kalangan biasa seperti mereka sedikit kewalahan memilih baju yang tepat.
"Aku ingin ikut lembur saja Vi" ini keputusannya, selain dibebaskan hadir dalam acara tersebut. Office boy/girl dibebaskan untuk memilih hadir atau lembur dengan uang gaji yang lumayan besar. Meskipun disana juga sudah tersedia petugas cleaning service, tapi pilihan menggiurkan ini tak akan disia-siakan olehnya.
"Haduhh Liaa, kapan lagi datang ke pesta orang kaya. Tapi kau memilih lembur" gerutu Vivi
"Lumayan kan, uang lemburnya gede banget. Dua kali lipat dari gaji biasanya."
"Haiss, terserah kau saja lah. Tapi nanti berangkat bareng ya. Nggak percaya diri aku kalau berangkat sendiri"
"Ya, aku menunggumu dirumah"
Setelah itu panggilan terputus. Ia pun langsung meletakkan kembali ponselnya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Hati-hati ya nak, jaga diri" ia sempat mengernyit mendengar pesan mbah saat ia berpamitan akan berangkat. Biasanya mbah tidak pernah mengatakan *jaga diri* tapi ini?. Ah mungkin saja hanya perasaannya.
"Pergi dulu ya mbah" pamit Vivi yang sejak beberapa menit yang lalu sudah sampai dirumahnya.
"Iya nak, hati-hati"
Ia dan Vivi menyusuri jalan dengan lampu temaram menggunakan motor. Tentu saja ia yang menyetir karena Vivi menggunakan dress sedangkan ia menggunakan jeans.
"Parkir motor disana mbak" ia mengangguk saat satpam mengarahkan mereka disuatu sudut dimana terdapat motor terparkir disana.
"Duhh yang datang pake mobil semuaa, tuh lihat. Mana mobilnya bagus-bagus lagi" bisik Vivi ditelinganya.
"Husstt" tegurnya karena mereka menjadi pusat perhatian para tamu
"Tunjukkan kartu identitas kalian" ia menyerahkan kartu undangan dan identitas yang didapatkannya di kantor.
"Untuk anda silahkan bergabung dengan yang lain. Nanti akan diadakan briefing sebelum mulai bekerja" petugas tersebut menunjuk segerombolan petugas yang berseragam sama dengannya.
"Untuk anda silahkan masuk lewat sana" kini gilirian Vivi yang mendapat arahan. Mau tidak mau mereka berdua pun akhirnya berpisah.
Tepat jam delapan malam, akhirnya acara pun dimulai. Ia pun sudah berbaur dengan para tamu dan petugas lainnya untuk melayani para tamu yang membutuhkan bantuan mereka.
"Kerja sama ini pasti sangat menguntungkan"
"Tapi juga mempunyai resiko yang cukup besar karena berada dipedesaan"
"Ya, amukan massa adalah musuh terbesar bagi pembangunan proyek"
Ia meringis sendiri, tidak mengerti apa yang dibicarakan para tamu. Bahkan hampir semua tamu membicarakan tentang pekerjaan dan pekerjaan. Mungkin menurut mereka setiap waktu dan tempat adalah pekerjaan.
"Selamat malam, para tamu yang paling berbahagia..."
Acara dimulai oleh pembawa acara. Ia berjalan menjauh saat semua tamu menyatukan fokus mereka pada panggung megah itu.
Nathan.
Ia sudah berpakaian rapi. Setelan tuxedo bewarna navy dan dasi yang melingkar dilehernya sangat membuat ketampanannya semakin mencuat.
"Ganteng banget sii kakaknya Olivv ini" ucap Oliv bergelayut manja pada lengannya, sedangkan ia hanya terkekeh dan mengusap pucuk kepala adik kesayangannya itu.
"Kau kenapa tidak berangkat dengan mama dan papa mu?" Tanyanya karena sedari sore tadi Oliv sudah berada dirumahnya.
"Mama dan papa sudah dihotel tauu dari tadi sore. Setelah dari kantor mereka langsung menuju hotel. Mereka mengajakku sih, tapi aku tidak mau" jelas Oliv membuat ia menggelengkan kepala.
"Minggir, jas ku kusut" godanya saat Oliv terlihat enggan berjauhan dengannya.
"Bundaa, Ayahh, ayo berangkat" Oliv terlihat antusias, bahkan tanpa melepaskan lengannya.
"Nathan menyetir sendiri saja bunda" ucapnya saat bunda menyuruh supir untuk mengantarnya.
"Baiklah" .
Kini mereka berempat berangkat dengan mobil terpisah. Bunda satu mobil dengan ayah sedangkan ia satu mobil dengan Oliv.
Dengan berjalan berdampingan dengan Oliv, ia mengikuti langkah ayah dan bunda yang berjalan didepannya beralaskan karpet merah yang membentang.
Jepretan kilatan lampu kamera mengiringi perjalanannya. Dengan kacamata hitam ia terlihat lebih elegan.
"Ini dia yang ditunggu..." suara pembawa acara menggema dalam ballroom, diiringi suara tepukan yang menggema memenuhi seluruh penjuru ballroom.
Ia menaiki panggung bersama ayah dan bunda. Memberi sambutan dan ucapan terima kasih. Hingga tak terasa kini sudah sampai dipenghujung acara, dimana para tamu dipersilahkan menikmati jamuan yang disediakan.
"Wahh selamat pak Gibran, anda memang hebat dalam mendidik putra anda."
"Ya, meskipun masih muda tapi sudah mempunyai segudang prestasi"
Ia hanya memasang wajah datar saat para tamu bergantian menyapa dan memberi selamat. Tak sedikit juga dari mereka yang menggunakan kesempatan ini untuk menjalin kerja sama.
"Woii, broo. Congratss" tepukan bahu yang cukup keras membuat ia menoleh. Tersenyum dan memeluk Glen.
"Keren keren" ia hanya menggelengkan kepala mendengar pujian temannya yang tiada habisnya.
"Heii, bawakan aku minum" teriak Glen pada salah satu pelayan yang lewat. Sejenak ia menajamkan pandangannya, memastikan jika yang ia lihat sama sekali tidak salah.
"Bukannya itu gadis yang menolakku dikantormu beberapa hari yang lalu?" Ternyata bukan hanya ia yang memikirkan hal tersebut, Glen pun memikirkan hal yang sama. Tak ingin memperpanjang hal yang tidak jelas, ia lebih memilih untuk mengedikkan bahu
Dua gelas berisi minuman sudah tersaji dihadapan mereka, lengkap dengan beberapa cake yang dihias semenarik mungkin. Tapi tidak diantar oleh gadis itu, bahkan saat gadis itu datang. Glen langsung berucap
"Bawa kembali, sudah ada yang mengantar" tolak Glen saat gadis itu kembali membawa dua gelas berisi minuman.
Tapi ada yang aneh dengan tubuhnya, setelah menandaskan minuman yang ada digelas ia merasa kepanasan.
"Shit" jelas bukan hal yang tabu dipesta, pasti ada yang mencampur minumannya dengan serbuk menjijikkan itu.
"Why?" Tanya Glen memperhatikan kegelisahannya.
"Shit, ada yang ingin menjebakmu?" Glen geram, bahkan temannya itu langsung membantunya berdiri dan mengantarkan kekamar hotel terdekat. Tidak mungkin naik kelantai paling atas hanya untuk menuju kelantai pribadi milik keluarganya. Itu akan memakan waktu lama, sedangkan ia sudah tidak tahan dengan tubuhnya.
"Ini yang terdekat, masuk dan rendam dirimu sebelum ada yang melihat" Glen berbisik, memperhatikan sekeliling dan mendorong tubuhnya masuk.
Aurelia.
Ternyata cukup melelahkan, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya.
"Liaa" ia melonjak saat tepukan mampir dibahunya.
"Ngapain kesini?" Bisiknya saat melihat Vivi duduk didepannya.
"Nggak ada yang gue kenal" jawab Vivi.
"Uhuk uhuk" ia tersedak, langsung menyahut minuman yang dibawa oleh salah satu pelayan yang kebetulan lewat dan menandaskannya.
"Eh eh, apa yang kau lakukan" pelayan tersebut terlihat panik. Tapi ia dan Vivi justru mengerutkan kening.
"Maaf teman saya tersedak, saya akan mengambilkan ganti" Vivi berdiri, mengambil minuman yang sama dan memberikan gelas tersebut di nampan pelayan.
Matanya terlihat berat, bahkan tubuhnya terasa panas
"Panas banget sih" gerutunya seraya mengipaskan kedua tangannya didepan tubuhnya
"Panas apaan sih, orang dingin begini" tegur Vivi tidak setuju dengan ucapannya.
"Panas banget tauu, duhh nggak kuatt" ia semakin gusar, sedangkan Vivi terlihat panik.
"Kayaknya ada yang nggak beres deh, mending lo ke kamar yang udah disediakan buat pegawai yang lembur aja deh." Ia mengangguk,
"Anter gue Vi, mata gue berat banget sumpah" Vivi langsung menuntunnya.
"Eh pak, kamar yang untuk karyawan lembur dimana ya?" Tanya Vivi pada petugas yang berjaga didepan pintu masuk ballroom.
"Diujung lorong, lantai ini memang khusus untuk acara"
"Terima kasih pak" ucap Vivi dan mengajaknya segera berlalu.
"Aduhh panas bangett Vii" ia semakin tak tahan, bahkan ingin melucuti pakaiannya detik itu juga.
"Ini yang paling dekat, masuk sini aja ya. Nahh pas belum ada yang nempatin" ucap Vivi saat membuka pintu dan tak terlihat satu orangpun didalam kamar itu.
"Gue pergi dulu ya, gantiin kerjaan lo" ia hanya mengangguk dan Vivi pun langsung berlalu keluar dan melemparkan kunci padanya.
"Jangan lupa kunci pintu, takut ada yang masuk" ia mengangguk, dengan langkah berat menuju pintu dan menguncinya.