Stay Here Please!

Stay Here Please!
Khawatir



Nathan


Ia sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari menyewa sebuah pantai agar tidak ada pengunjung, lalu menyuruh asistennya untuk mencarikan dekorasi mewah. Dan berencana melamar Aurelia secara resmi besok malam. Tepat di hari ulang tahun Aurelia. Tapi tuhan tidak akan membuat semua mulus begitu saja, tentu ada beberapa masalah yang harus ia lewati.


"Pilihan ada ditangan kalian, kami tidak akan memaksa" itu menjadi ucapan terakhirnya saat mereka tengah merundingkan bagaimana kehidupan keluarga Tirta selanjutnya.


Ia berjanji akan menyusut kasus ini, bukan karena ia mencari perhatian Aurelia. Tapi ini sudah menjadi kewajibannya, mungkin ia bisa balas budi pada Tirta melalui cara ini. Meskipun itu tidak akan sepadan dengan apa yang telah Tirta lakukan demi melindungi Aurelia hingga melahirkan anaknya dan tumbuh sebesar itu.


"Saya pamit dulu" ucapnya saat Aurelia mengantarkan ia sampai didepan pintu.


"El sudah tidur mas, maaf ya" ia tersenyum menanggapi ucapan Aurelia.


"Nathan, saya ingin bicara" ucap Tirta dari dalam apartement, ia mengangguk.


"Kita bicara di bawah saja" lagi-lagi ia mengangguk saat Tirta mengajaknya bicara di lantai dasar. Sembari menyesap kopi panas dan memperhatikan lalu lalang manusia yang tidak sebanyak biasanya.


"Kami memutuskan untuk tetap di negara ini" ucap Tirta membuka perbincangan setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Asisten saya akan mengurus semuanya" jawabnya tanpa ragu atau bahkan bertanya alasan mengapa Tirta lebih memilih menetap.


"Tapi terlalu berlebihan jika aku langsung menduduki kursi teratas" ia tersenyum tipis lalu menyesap kopinya.


"Saya tidak akan menawarkan lelucon, tentu sudah melalui beberapa tahap untuk saya membuat keputusan seperti itu. Kau mengenalku bukan?" Tanyanya.


"Tentu, kau pebisnis handal yang sudah mendunia" jawab Tirta lalu mereka tertawa bersama.


"Tapi saya harap kau bisa mengatasi keterkejutan mereka" mereka yang ia maksut adalah para pegawai perusahaan yang akan dipimpin oleh Tirta nantinya. Tentu itu tak mudah, Tirta harus menunjukkan kerja keras dan kompeten tentu bertanggung jawab juga.


"Pekerjaan yang sulit" gumam Tirta.


"Nikmati saja, saya yakin kau mampu mengatasi masalah kecil seperti itu" tambahnya meyakinkan.


"Terima kasih" jawab Tirta kembali.


"Seharusnya saya yang berterima kasih karena sudah bersedia menjaga Aurelia dan Rafael" sanggahnya.


Tirta sudah kembali, ia masih terdiam di kursi restoran lantai dasar gedung apartement ini. Sesekali menyesap kopi yang hampir dingin, memperhatikan sekeliling yang sudah mulai sepi. Hampir tengah malam, tapi ia masih enggan kembali ke apartement.


"Nathan" ia menoleh, meletakkan cangkirnya di meja dan menatap sang pemanggil dengan cepat.


"Ayah, bunda, sedang apa disini?" Tanya nya polos.


Tukk


Ia mengusap kepala saat bunda melayangkan pukulan kecil dibahunya.


"Duduk dulu, pasti kalian capek" ia tersenyum, lalu menarik tangan bunda hingga terduduk di kursi yang ada disampingnya. Kemudian disusul ayah yang duduk di depannya.


"Dimana cucu bunda?" Ia menggaruk tengkuknya saat bunda langsung mencecarnya pertanyaan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Bunda tidak bisa tenang karena kau tak kunjung membawa cucu kami pulang" ucap papa menimpali.


"Kan Nathan janjinya akhir bulan. Kenapa bunda malah menyusul kemari?" Tanya nya sedikit menggerutu.


"Bunda tidak sabar, bunda ingin membelikan banyak mainan untuknya" ucap bunda dengan wajah sumringah. Membuat ia semakin dihantui rasa bersalah. Bagaimana pun ia yang membuat Rafael dan Aurelia terpisah dari mereka.


"Tunggu sebentar lagi bunda, belum saatnya" ucapnya, tentu ia tidak ingin rencana yang ia susun sedemikian rupa menjadi berantakan karena kemunculan ayah dan bunda secara tiba-tiba.


"Nathan, kau tidak mungkin membiarkan kami pulang dengan wajah kecewa kan?" Tanya ayah menyelidik, ia meneguk ludahnya kasar.


"Besok datanglah ke tepi pantai dipinggir kota. Nathan akan melamar Aurelia disana dan kalian bisa bertemu mereka" jawabnya sedikit malu. Entah kenapa.


"Tidak perlu menunda pernikahan terlalu lama. Satu minggu setelah lamaran kalian akan melangsungkan pernikahan" sanggah bunda cepat.


"Nathan benar, bagaimana pun kebahagiaan dan kenyamanan Aurelia dan Rafael lebih penting" ucap ayah menimpali.


"Baiklah, gimana baiknya saja"


Aurelia.


Ia masih gusar, duduk di tepi ranjang kamarnya dengan gelisah. Beberapa kali mengecek ponselnya, berharap Nathan segera memberi kabar jika pria itu sudah sampai di apartement. Memastikan jika pria itu selamat, karena om Tirta sudah kembali sejak dua jam yang lalu.


Bahkan matanya enggan terpejam. Ia seperti seorang istri yang merindukan sosok suami. Eh apa yang ia pikirkan? Segera menampik tapi dengan senyum terkembang. Hingga matanya menoleh kebelakang. Menatap lipatan selimut berwarna coklat pemberian Nathan. Pria itu berkata "Sementara gunakan selimut ini untuk menghangatkan, lalu singkirkan jika kita sudah menikah nanti" ucap bibir tebal itu beberapa hari yang lalu.


Setelah melewati pertimbangan panjang, ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor Nathan. Tapi nihil, tidak ada sambungan. Bahkan operator yang terus saja menjawab panggilannya.


"Maaf nomor yang anda tuju..."


Tuttt tutt tuttt


Ia kesal sendiri. Meletakkan ponselnya dengan kasar lalu berdiri mengambil jaket yang tergantung di lemari pakaian.


"Mau kemana malam-malam begini?" Ia melonjak saat bahunya ditepuk oleh om Tirta saat ia baru saja menutup pintu kamar.


"Nathan belum menghubungi?" Tanya Om Tirta tepat sasaran. Seolah tau alasan ia gelisah. Dan ia hanya menggeleng.


"Kami tadi berbicara di lantai dasar, di restoran. Hanya ada satu restoran yang buka 24 jam. Mungkin Nathan masih disana" ucap om Tirta sedikit memberikan informasi padanya.


"Jangan terlalu malam, cepat kembali" setelah mengatakan itu, Om Tirta langsung berlalu. Ia pun dengan segera berlari dan menaiki lift untuk menuju apartement Nathan. Berharap melihat pria itu di apartement dan lupa menyalakan ponsel.


Sesampainya disana, tidak ada tanda kehidupan. Bahkan ia sudah memencet bel berkali-kali dan tidak ada sahutan.  Ia kembali turun lift, sembari tangannya terus mencoba menghubungi nomor Nathan.


Ia memutuskan untuk turun ke lantai dasar, mencari Nathan disana. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Nathan sedang terlihat berbincang dengan dua orang di salah satu sudut restoran.


Ia memundurkan langkah saat ia tahu siapa dua orang itu. Belum siap, ia belum memiliki cukup nyali untuk menemui dua orang penting Nathan itu. Tuan Gibran dan Nyonya Jasmine.


"Aduhh" ia terjatuh saat ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang sepertinya sedang terpengaruh minuman beralkohol.


"Jalan pake mata dong, gimana sih" teriak wanita itu menggema. Sangat menggema karena suasana restoran sudah cukup sepi. Bahkan sekelebat ia menangkap tiga orang yang ia hindari sedang memperhatikan mereka.


"Aduhh ganteng banget siihh" ia menegang saat wanita itu berbicara. Apa dibelakangnya ada Nathan yang sedang berdiri? Ya. Ia bisa mengenali parfum yang dipakai oleh pria itu.


"Kamu nggak papa?" Damned, dugaannya tepat sasaran.


"E-enggak papa kok" gugupnya, lalu menunduk dalam-dalam.


"Tengah malam kenapa keluar?" Tanya Nathan membuat kegugupannya semakin bertambah. Bahkan tangan kokoh itu sudah merengkuh tubuhnya.


"Em lapar" jawab nya spontan.


"Makan dulu ya, setelah itu kembali ke apartement" ia mengangguk meskipun perutnya tidak merasa lapar sama sekali. Mengikuti langkah Nathan. Sembari matanya terus melirik sekitar, berharap dua orang tadi hanya halusinasi nya saja.


"Cari siapa?" Tanya Nathan membuat ia meneguk ludah kasar.


"Ah tidak kok" jawabnya dengan senyum merekah. Dan membalas rengkuhan Nathan dengan melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. 


"Mau makan apa?" Ucap Nathan seraya menyodorkan buku menu kearahnya.


"Dessert saja" jawabnya cepat.


"Hanya dessert? Apa itu cukup mengenyangkan perut?" Tanya Nathan dengan dahi mengernyit.


"Cukup kok, diet" jawabnya sekenanya.