
Nathan
Hari ini adalah hari dimana ia akan menghadiri acara lomba melukis tersebut. Memberi sambutan, menjadi juri, ataupun komentator untuk setiap peserta. Tapi tak bisa dipungkiri jika fokusnya tertuju pada peserta termuda, bocah yang sama seperti yang ia lihat kemarin dalam tayangan televisi.
Terlebih saat bocah itu memperkenalkan diri dengan salah satu nama yang sama dengannya, memberi sambutan. Ia seolah ingin memeluk bocah laki-laki itu. Membayangkan jika itu anaknya. Betapa bangga nya ia.
Fokusnya semakin terpaku saat bocah itu dengan tegasnya memberi sambutan dan mengucapkan sepenggal kata diatas panggung. Mengucapkan satu kalimat yang membuat ia seolah menemukan yang ia cari. Hingga akhirnya saat ia hendak menuju apartement, tiba-tiba seorang wanita berambut panjang dan seorang bocah laki-laki tadi menghadang jalannya. Tentu ia tak bisa melihat wajah wanita itu, karena wanita itu menunduk. Sedangkan bocah laki-laki itu malah menatapnya tajam.
"Tatapan itu sama denganku" gumamnya tanpa sadar.
"Sorry, what are you doing miss?" Ia mengangkat tangan kirinya saat asistennya berbicara.
"Sa-saya.." deg. Ia mematung. Suara itu? Kegugupan itu? Ia bahkan langsung mengarahkan kedua tangannya mencakup kedua pipi wanita itu.
"Ka-kau? Aurelia?" Tenggorokannya tercekat, tak mampu lagi mengucapkan kata.
"Please, get your hands off my mother's face, sir. ( turunkan tangan anda dari wajah ibu saya, tuan.)" Dunia seolah berhenti, mendengar bocah itu menyebut Aurelia dengan ibu? Yeah. Apa ini anaknya?
"Your Mother?" Tanyanya tanpa berniat melepaskan tangannya.
"Please, your hands" ulang bocah itu.
"Aurelia, kau benar aurelia?" Tanyanya memastikan dan gadis didepannya itu mengangguk.
"Dia anak anda" jawab Aurelia menunjuk bocah itu, bocah yang sedari tadi menatap tajam kearahnya.
"Anakku?" Ulangnya lagi, ia seakan menjadi bodoh karena hal ini.
"Namanya Rafael Narendra Adelard. Maaf karena lancang memberikan nama anda dibelakang namanya, semata-mata karena saya tidak ingin Rafael melupakan papanya. Meskipun saya tidak tahu anda mengakui atau tidak" jelas Aurelia.
"Sayang, say hello to papa" ucap Aurelia membuat hidupnya seolah berhenti, semua berjalan begitu lambat. Bahkan ia hanya mampu terdiam, melolong bak orang bodoh. Air mata nya luruh, ia tak peduli. Tak menghiraukan banyak orang yang melihat kejadian ini.
"Papa?" Tanya bocah bernama Rafael itu, anaknya.
"Hai anak papa" sebisa mungkin ia menghilangkan rasa gugupnya.
"Papa? Apa pria ini benar papaku?" Sepertinya bocah itu tak mengenalinya.
"Mama jelaskan ini padaku, apa pria ini benar papaku?" Ulang Rafael.
"Boys, aku memang papamu" ia mendekat, jongkok dengan bertumpuan lutut untuk mensejajarkan tingginya dengan anaknya. Ya, ini benar anaknya. Wajah mereka sangat mirip jika dilihat dari dekat.
"Jangan mendekat, anda tidak boleh menyentuhku sebelum mama menjawab pertanyaanku" hatinya mencelos mendengar penolakan Rafael, bayangan mendapat pelukan seolah meluap tanpa sisa. Meninggalkan rasa bersalah yang mengendap dengan tebal tanpa berniat memudar.
"Rafael, itu papa. Say hello to papa sayang" meskipun Aurelia sudah menjawab, tapi bocah itu masih belum bergeming dari tempatnya.
"El ingin pulang" ia pasrah saat bocah itu berlari menjauh dari mereka.
"Maafkan Rafael pak Nathan, saya akan membujuknya. Mungkin Rafael hanya membutuhkan waktu untuk menerima anda" ia mendongak, menatap Aurelia yang semakin cantik dari masa lalu.
"Maafkan saya" ia menunduk, hendak meraih kaki Aurelia untuk bersujud tapi tangan lembut itu menyentuh lengannya, membantunya berdiri.
"Saya sudah memaafkan, saya harus menyusul Rafael" ucap Aurelia dan membalikkan badan hendak pergi.
Tapi jelas ia tak ingin melepas begitu saja, ia langsung memeluk Aurelia dari belakang dan membisikkan sebuah kalimat.
"Pa-pakk" gugup Aurelia.
Rafael.
Sudah hampir satu jam mama mengajaknya menunggu seseorang di loby. Entah siapa yang mama tunggu, ia sama sekali tak diberi tahu.
Hingga tiba-tiba mama menarik tangannya, menghadang langkah besar seorang pria yang sebelumnya memberi sambutan dan menyerahkan hadiah serta piagam kemenangannya. Ia bingung, hanya diam dan memperhatikan apa yang akan mama lakukan selanjutnya.
Dan pertanyaannya terjawab, mama memperkenalkan pria itu sebagai papa. Sosok yang paling ingin ia temui, bohong jika ia tidak merindukan sosok itu. Tapi seolah hanya matanya yang bereaksi, matanya menatap tajam pada pria itu. Ingin sekali ia memeluk, menceritakan semua hal yang menarik tapi tubuhnya menolak.
"El ingin pulang" itu menjadi keputusannya, mungkin pulang dan memikirkan akan menemukan jalan terang.
Ia berlari, meninggalkan mama dengan pria itu. Ia berhenti didepan mobil yang ia yakini sebagai mobil Ayah Tirta. Karena ia sempat menangkap jika Ayah Tirta memperhatikan mereka dari samping mobil
"El, kenapa tidak menyapa papamu?" Ia menoleh kearah Ayah Tirta, kemudian menggeleng pelan.
"Ayah tahu jika pria itu adalah papaku?" Tanyanya memastikan.
"Papa mu adalah orang yang sangat terkenal, raja bisnis hampir di seluruh penjuru dunia. Siapa yang tidak mengenalnya?" Jawab Ayah Tirta.
"Aku" ketusnya.
"Mama mu selalu mengenalkanmu pada sosok itu? Kau melupakannya?" Tidak, ia tidak lupa. Jawabnya dalam hati.
"Aku tidak pernah melihat wajahnya" sambungnya lagi
"Papa mu tidak akan berdiri disana jika beliau menampakkan wajahnya didepan publik, banyak yang ingin menghancurkannya karena persaingan bisnis. Jadi sangat sulit bagi kami untuk menunjukkan foto papamu, itulah alasan mengapa mama mu hanya menceritakan tanpa menunjukkan wujud papamu" penjelasan Ayah Tirta membuat ia mengernyit. Apa sekejam itu dunia bisnis?.
"Kau masih tidak ingin menyapanya?" Tanya Ayah Tirta.
"Tidak sekarang. El butuh waktu" jawabnya dan langsung masuk kedalam mobil.
"Ayah, kenapa meninggalkan mama dengan pria itu?" Gerutunya saat Ayah Tirta malah melajukan mobilnya.
"Biarkan mama mu menyelesaikan masalah dengan papa mu."
"Tapi nanti mama mencariku" gerutunya
"Ayah sudah mengirim pesan, tenanglah"
"Ayah menyebalkan" ia merajuk.
Aurelia
Ia berdiri mematung, menundukkan kepala seraya memegang tangan Rafael kuat-kuat. Hingga pertanyaan pria disamping pak Nathan mengharuskan ia memulai saat itu juga. Kegugupan mulai memenuhi dirinya, jantunya termpompa dengan cepat hingga keringatnya terasa bercucuran didahinya.
"Sa-saya.." belum sampai ia menyelesaikan ucapanya, tangan kokoh itu langsung menerkam kedua pipinya, membuat janyungnya seolah berlarian tak terkendali, tubuhnya menegang. Tak mampu melanjutkan ucapan yang tertunda. Tangan kokoh itu mendongakkan kepalanya, hingga matanya bisa menangkap keterkejutan dari pria itu, sejenak mata mereka bertemu.
"Ka-kau? Aurelia?" Ia terkejut saat pak Nathan mengenalnya, apa benar yang dikatakan Om Tirta jika pak Nathan menyelidikinya?. Ia hanya mengangguk, masih menyelami perasaan yang menyeruak saat menatap mata elang itu. Mata tajam tapi menyiratkan kerinduan yang amat sangat.
Lebih terkejut lagi saat ia mengenalkan Rafael, pak Nathan langsung menerima. Bukan menolak seperti yang ia takutkan. Mengapa pria itu cepat menerima Rafael? Darimana pria itu tahu jika ia mengandung karena perbuatan itu?. Batinnya dipenuhi pertanyaan.