Stay Here Please!

Stay Here Please!
Makan malam



Kardus sudah dibawa ke dalam oleh anak buah Nathan, semuanya di tata di ruangan khusus untuk Rafael sesuai tempatnya oleh pelayan. Rafael membantu memilah, untuk tetap meletakkan di kardus barang-barang yang belum akan di pakai dalam waktu dekat.


Sejujurnya Rafael bingung, sang papa membelikan tas sekolahnya sebanyak 5 tas, sedangkan ia pastinya tidak akan menggunakan semua tas ini. Rafael memutuskan hanya mengeluarkan dua tas untuk diletakkan di rak khususnya, sisanya biarlah didalam kardus yang akan disimpan. Agar tidak ada debu yang menempel. Siapa tahu dia membutuhkannya nanti.


Tak hanya tas, sang papa juga membeli banyak sepatu, ada kiranya 7 pasang sepatu yang diantaranya terdiri dari warna hitam, putih, dan abu. Rafael mengeluarkan semua sepatu ini. Meletakkan di rak sepatu. Sang papa yang menyuruh, memintanya untuk menggunakan sepatu itu bergantian ketika ada kegiatan di sekolah. Ia mengiyakan, menghargai usaha papa yang sudah menyiapkan sebanyak ini.


Rafael meninggalkan kardus-kardus yang berisi perlengkapan sekolah itu yang di bongkar oleh pelayan. Ia beralih ke tumpukan kardus yang belum disentuh pelayan, ini adalah kardus berisi peralatan melukisnya. Sekarang ia mempunyai 2 ruang lukis. Semuanya besar, papa dan kakek menyiapkan peralatan lukisnya seolah ia sudah menjadi pelukis terkenal.


"Apakah kau menyukainya?" Rafael menoleh, terlihat sang papa berdiri dibelakang nya dan tersenyum. Tangannya dimasukkan kedalam saku.


"Iya, tapi ini berlebihan pa. Papa menyiapkan semua ini terlihat seperti El akan buka toko" gerutu Rafael yang dibalas dengan kekehan kecil oleh Nathan.


"Tidak ada yang berlebihan untuk anak papa" selalu begitu, Rafael sampai hafal dengan jawaban sang papa.


"Papa pasti menghabiskan banyak uang untuk membeli semua barang-barang ini" Rafael masih keberatan, teringat pesan mama dulu yang selalu menanamkan hidup hemat untuknya. Membeli keperluan sesuai kebutuhan, tidak boleh menghamburkan uang dan membeli sesuatu yang tidak terlalu penting.


"Papa bekerja untuk keluarga papa, untuk El, untuk anak-anak papa nanti. Meskipun harta papa habis jika itu untuk kalian papa tidak masalah." Nathan duduk di sofa, diikuti El yang duduk disebelahnya.


Rafael menatap mata sang papa, mata tajam tetapi memancarkan aura teduh. Mata tegas yang juga ia miliki.


"Apakah papa kecewa jika nanti El tidak bersedia mengelola bisnis papa?" Tanya El menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia meluruskan pandangannya kedepan.


"Tentu tidak, hidup El kedepannya adalah hak El. Masa depan El adalah pilihan El. Papa tidak akan memaksa, papa akan mendukung semua yang El inginkan." Nathan mengusap rambut El yang mirip dengan rambutnya. Hitam pekat, tebal dan lembut.


"Jangan berpikir jauh kedepan, perjalananmu masih panjang. Harus melewati banyak proses untuk sampai di titik untuk memikirkan hal itu. Fokuslah belajar" nasehat Nathan.


Rafael hanya mengangguk, membenarkan.


"Minggu depan ada pameran, El mau datang? Bersama papa" Nathan teringat informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya yang mengabarkan bahwa akan ada pameran lukisan di pusat kota.


El mengangguk antusias, ia menoleh kearah sang papa dengan mata berbinar.


"Papa punya brosurnya?" Tanya El dengan mata penuh harap


Nathan menggeleng, ia hanya menerima informasi itu melalui telepon. Tidak tahu menahu mengenai brosur acara itu. Dan ia pun tidak mengerti.


El terlihat menunduk lesu.


El masih terdiam, menatap langkah papa hingga hilang dibalik pintu. Dulu ia hanya berkhayal tentang kehidupan bersama seorang ayah, dulu ia hanya bisa menatap iri teman-temannya yang diantar sekolah ayah mereka, iri dengan teman-temannya yang selalu membanggakan ayahnya.


Kini ia mendapatkan semua itu, ia mendapatkan kasih sayang dari sang papa secara nyata, tidak hanya melalui cerita sang mama setiap malam sebelum tidur. Kini ia bisa merasakan hangatnya perhatian papa. Dan ia tidak akan merasakan iri lagi dengan teman-temannya, ia memiliki papa yang hebat yang bisa ia banggakan.


Rafael menyunggingkan senyum, cerita sang mama dulu ternyata bukan bualan. Papa nya benar-benar hebat. Jujur ia pernah tidak mempercayai cerita-cerita sang mama, menganggap itu hanya bualan mamanya agar ia tak membenci papa. Tapi kini ia membuktikan sendiri jika cerita mama memang benar adanya, bahkan kebaikan papa melebihi dari cerita mama.


Pelayan yang sudah selesai menata buku-buku dan perlengkapan sekolahnya langsung keluar. Rafael meminta agar ia sendiri yang menata alat lukis nya. Pelayan mengangguk patuh, lalu melenggang pergi.


"Rafael makan dulu sayang" pintu terbuka, Aurelia masuk dengan wajah cantiknya yang selalu tersenyum.


Rafael menoleh, membalas senyuman Aurelia lalu mengangguk. Sebelum ia keluar, Rafael meletakkan kardus kosong yang sudah ia buka di pojok ruangan, biarlah besok ia akan membereskannya.


"Papa dimana ma?" Tanya El saat sudah sampai di meja makan tetapi sang papa tidak ada di kursinya.


"Masih ada pekerjaan dengan Om Dika. Nanti menyusul kesini" jelas Aurelia. Rafael tidak bertanya lebih lanjut tentang siapa Om Dika itu, baginya itu bukan urusannya.


"El makan menunggu papa saja" El tidak menyentuh sendoknya, ia menyandarkan punggungnya di kursi.


"Iya El. Mama kebelakang dulu" Aurelia tersenyum, ia menuju dapur untuk mengambil beberapa lauk yang belum dibawa ke meja makan oleh pelayan.


"Wahhh apakah dia bocah yang kau ceritakan? Sudah besar. Ku kira masih sebesar Ax" Rafael menoleh saat mendengar seruan di belakangnya. Terlihat papa berjalan beriringan bersama seseorang yang mungkin orang itu yang dimaksud mama Om Dika tadi.


"Rafael, kasih salam kepada Om Dika" titah Nathan, Rafael mengangguk. Berdiri dari kursi lalu menyalami orang yang disebut papa Om Dika itu.


"Selamat malam om" Rafael tersenyum, ia menatap wajah om Dika yang tak kalah tampannya dengan sang papa. Dengan tubuh tinggi proporsional dan kulit putih membuat om Dika terlihat lebih tampan.


"Benar-benar Nathan versi mini" gumam Om Dika dengan tatapan yang masih fokus menatap Rafael. Rafael sampai malu dibuatnya.


"Mari makan malam dulu" Aurelia yang baru saja keluar dari dapur menyapa, mengajak om Dika untuk bergabung makan malam dengan mereka.


Mereka makan malam dengan ceria, diselingi canda tawa. Dika yang sibuk menggoda Aurelia dan Nathan yang sibuk mendengus kesal hingga menimbulkan tawa di meja makan.


Saat mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Seorang wanita menangis histeris hingga membuat seluruh orang yang ada di meja makan menoleh. Wanita itu terlihat hancur, pakaian dan rambutnya berantakan. Sembari menggendong bocah laki-laki wanita itu berlari dan bersembunyi dibalik kursi Nathan. Terlihat juga pria masuk kedalam rumah Nathan dengan nafas memburu. Pria itu terlihat marah, dan mencoba menangkap wanita ini.


Rahang Nathan mengeras, "Dika kau tetap disini. Aurelia bawa El naik keatas dan jangan keluar sebelum aku menyuruh kalian keluar" Aurelia mengangguk. Segera menarik El untuk naik keatas.