
Rahang Nathan mengeras, ia menatap seorang pria yang ia kenali berdiri dengan dihalau oleh anak buahnya. Kemeja nya basah seperti ketumpahan minuman. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Yang datang adalah Oliv dan Evan. Entah apa yang terjadi dengan keluarga mereka hingga penampilan Oliv terlihat berantakan. Pun tangisan Oliv yang hampir sesak nafas. Nathan mengambil alih Ax dari gendongan Oliv. Meminta salah satu pelayan untuk membawa Ax keatas. Menyusul Aurelia.
"Jangan ikut campur ini keluargaku" Evan terlihat sinis. Ia menatap tajam Nathan. Nathan hanya mengangkat sudut bibirnya. Sejujurnya ia sudah curiga dengan Evan beberapa bulan yang lalu. Pria yang menjadi suami Oliv itu entah terprovokasi dari mana tiba-tiba seolah ingin mengambil alih semua aset kekayaan keluarga besar mereka.
"Bodoh, kau bilang begitu tapi kau masuk kerumah ini membawa masalah. Bagaimana bisa kau melarang kami tidak ikut campur?" Dika yang terlebih dulu tersulut emosi. Dika adalah teman seperjuangan Nathan dulu, sempat menjadi asisten pribadi Nathan hingga akhirnya mengundurkan diri saat mendengar Oliv hendak menikah. Ya, Dika sempat menyukai Oliv. Dan sampai saat ini pun ia masih sulit melupakan cinta pertamanya itu. Wajar jika ia terlihat marah saat melihat keadaan Oliv seperti ini.
Tangan Evan ditahan oleh anak buah Nathan. Nathan menyandarkan tubuhnya di kursi, sambil berdiri ia mensedekapkan tangannya.
Nathan tak berniat membuka suara, ia ingin melihat sejauh mana Evan bertindak. Melihat kondisi Oliv sehancur ini, pasti masalah di keluarga mereka tidak sepele.
"Kau bahkan berani menggunakan tangan kotormu itu untuk mencengkeram tangan istrimu sendiri." Dika kembali bersuara, tangannya mengepal. Nathan menoleh, ia menatap Oliv yang berusaha menyembunyikan tangannya.
"Seberapa banyak harta yang kau inginkan Evan sampai kau tega menyakiti istrimu" Nathan berucap tegas, sorot matanya tajam.
"Hahaha, kau sudah tahu maksud ku Nathan Aderald. Ya aku menginginkan harta kalian. Persetan dengan anak atau istri, aku tidak peduli dengan mereka" Evan tergelak, sedikit terdorong saat anak buah mendorong tubuhnya dari belakang.
Oliv terisak, ia tidak menyangka suaminya setega ini. Bahkan suaminya yang ia banggakan kepada semua orang dulu ternyata tidak mencintainya. Melainkan hanya menginginkan hartanya.
Oliv sekarang mengerti ucapan Nathan ketika ia berpamitan hendak pergi selepas mereka bertemu "Hati-hati Oliv, orang terjahat bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Bahkan itu orang terdekat kita" Oliv hanya menanggapi sewajarnya. Tidak berpikir jika ini adalah maksud dari ucapan sang kakak.
"Sebenarnya apa yang terjadi Oliv?" Tanya Nathan beralih pada Oliv, bagaimanapun ia harus mendengar dari dua sisi meskipun ia yakin jika Evan lah yang memulai masalah ini.
"Katakan Oliv! Apa yang kau takutkan dari bedebah satu itu" Dika ikut angkat suara.
Oliv mengusap air matanya, ia menatap Nathan dan Dika bergantian. Lalu menatap Evan yang juga menatapnya tajam.
"Sepulang dari negara A Evan meminta surat saham perusahaan papa. Menyuruh Oliv membujuk papa" ucap Oliv berhenti sejenak, ia menatap tiga orang itu bergantian.
Nathan tersenyum simpul, tetapi menyeramkan. Ia sudah menduga hal itu akan dilakukan Evan dalam waktu dekat.
"Oliv menolak kak, Oliv kira dia tidak mempermasalahkan hal itu, tapi dia mengunci Oliv di kamar hotel sendirian, dia membawa Ax" Oliv menarik nafas, memberi jeda. Nathan tidak berniat menyela, sedangkan Dika terlihat tidak sabar menunggu penjelasan Oliv selanjutnya.
Oliv menelan ludahnya saat hendak melanjutkan cerita, ia menatap suaminya yang wajahnya memerah, tangannya mengepal. Berusaha melepaskan cengkeraman dari anak buah Nathan.
"Hentikan Oliv" Evan teriak, Oliv memejamkan matanya.
"Lanjutkan Oliv" titah Nathan, ia menatap Oliv tajam. Kemudian menatap Evan dengan mata menyorot penuh kemarahan.
"Dan Oliv menemukan Ax yang di ikat di kursi, mulut Ax disumpal. Sedangkan Evan..." Oliv berhenti lagi. Dika menggeram. Rahangnya sudah mengeras sejak tadi, tetapi Oliv seolah masih ragu untuk berkata jujur.
"Olivia" gertak Nathan, menatap Oliv tajam.
"Evann, Evan ber-berhubungan ba-badan dengan wa-wanita lain" Oliv memejamkan matanya, hatinya terasa sakitt jika mengingatnya. Ia memejamkan mata nya yang kembali berair. Oliv terhenti. Tenggorokannya tercekat. Nathan dan Dika pun tidak bertanya mengapa mereka memilih rumah Nathan untuk tempat pelarian. Nathan sudah tahu alasannya.
"Bi*dap" Dika mengumpat. Ia berjalan cepat menuju Evan dan melayangkan tinjunya di perut Evan. Bahkan Nathan juga terkejut melihatnya, ternyata sahabat lamanya itu masih memiliki rasa yang sama dengan Oliv. Evan tersungkur, tetapi masih tersenyum licik.
"Hahaha, kau masih menyukainya? Bukankah dulu kau sakit hati sekali hingga tidak mau datang ke pernikahan kami?" Dika semakin marah, sekali lagi ia meninju rahang Evan hingga hidung Evan mengeluarkan darah.
Nathan terdiam, ia juga marah. Tapi ia tidak mau mengotori tangannya untuk orang kotor seperti Evan. Biarlah Dika menuntaskan kekesalannya.
"Cukup Dika" akhirnya Nathan bersuara setelah melihat Evan yang sepertinya hampir pingsan. Dika menghajarnya penuh tenaga.
"Nathan dia sudah menghancurkan hidup Oliv" Dika membantah. Tangannya masih ingin melayangkan pukulan untuk pria sialan ini.
"Jangan bunuh dia, terlalu singkat penderitaannya jika dia mati sekarang. Hukum dia pelan-pelan" Nathan berkata datar. Lalu meminta anak buahnya untuk mengurus Evan.
Dika menghela nafas kasar, menatap Oliv yang masih menunduk dengan air mata berlinang. Hati Dika mencelos, tangisan Oliv mampu membangkitkan kemarahannya hingga separah ini. Perjuangan melupakan Oliv bertahun-tahun dengan cara merantau di negeri orang ternyata sia-sia. Rasa untuk gadis itu masih sama.
"Pergi keatas dan bersihkan dirimu Oliv" Nathan memijat pelipisnya. Baru saja ia merasakan hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecilnya, tapi malam ini ia harus menghadapi pria bedebah seperti Evan.
Oliv mengangguk, menatap Dika sebentar lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi kekamar atas dimana biasanya ia menginap dirumah ini. Dika memalingkan wajahnya, belum siap menatap wajah cantik itu lagi. Apalagi dengan keadaan seperti ini.
"Kau menginap disini Dika, jaga mereka. Aku harus pergi ke negara A besok. Jangan pulang kerumahmu sebelum aku pulang kerumah ini lagi" pesan Nathan sebelum ia juga naik keatas.
"Bagaimana dengan pria itu? kau tidak akan membiarkannya hidup tenang bukan?" ucap Dika sedikit berteriak tapi Nathan hanya mengangkat tangan kirinya. Tidak menjawab.