Stay Here Please!

Stay Here Please!
Keinginan El



"Tidak perlu menjawabnya jika kau belum siap El, papa akan menunggu sampai El benar-benar siap untuk mengatakannya" jawab Nathan, meyakinkan El bahwa pertanyaannya tidak harus dijawab malam ini.


El kembali menggeleng.


"El ingin punya adik perempuan pa, El melukisnya di lukisan itu agar besok jika adik El lahir, dia tidak iri karena dia sudah ada di lukisan itu bersama El, papa, dan mama" El mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap wajah papa yang pastinya akan terkejut mendengar penjelasannya.


"Kau baru bertemu papa El, kau menginginkan adik apa kau tidak takut kasih sayang papa dan mama akan terbagi untuk El dan adik?" Tanya Nathan tetap tersenyum. Sejujurnya dia benar-benar terkejut dengan jawaban El yang sungguh jauh diluar pikirannya.


"Tidak, El yakin papa dan mama akan tetap menyayangi El seperti ini meskipun El sudah memiliki adik" El tetap menjawab tegas, dulu ia memiliki Selly yang bisa ia ajak bermain. Menjaga Selly jika bibi Aruna sedang ada pekerjaan. Kini ia merindukan semua aktivitas itu.


"Akan papa bicarakan dengan mama nanti, ayo tidur. Sudah malam" meskipun Nathan menyukai keputusan El, tapi ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak boleh mengiyakan begitu saja permintaan El karena Aurelia yang akan menjalani nantinya. Terlebih baru beberapa hari ia menikah, ia ingin lebih mencintai Aurelia dulu, tidak ingin tergesa mempunyai anak lagi. Karena hadirnya El sudah cukup untuk saat ini.


El membereskan alat lukisnya, dibantu papa membawa kanvas lukisannya kedalam rumah. Sesampainya didalam kamar, Nathan mendapati istrinya yang melipat ulang baju untuk dimasukkan kedalam lemari.


"Sayangg" Nathan memeluk Aurelia dari belakang.


"Mass, El sudah masuk kedalam kamar?" Tanya Aurelia, sengaja ia tadi membiarkan dua pria tampan berbeda usia itu untuk berbicara empat mata.


"Sudahh" Nathan mengangguk, ia masih menyandarkan kepalanya di bahu Aurelia yang lebih pendek darinya. Memejamkan matanya sejenak, pikirannya berkecamuk.


"Mas ingin mengatakan sesuatu?" Aurelia membalikkan badannya, kini tubuh mereka berhadapan. Nathan menarik pinggang Aurelia, memeluknya erat. Nathan menggeleng, "Aku hanya lelah" hanya itu yang dikatakan Nathan.


"Ayo tidur, aku sudah selesai" Aurelia tahu jika kelelahan Nathan ini pasti hasil perbincangan dengan El sebelumnya. Entah apa yang mereka bicarakan hingga Nathan terlihat berpikir seperti ini. Suaminya itu tidak banyak bicara, langsung berjalan menuju kasur dan merebahkan diri.


Nathan kembali memeluk Aurelia. Berusaha memejamkan mata tapi gagal. Pikirannya berkeliaran. Ia tidak kuasa untuk membicarakan permintaan El pada Aurelia.


Dengkuran halus terdengar, Aurelia sudah terlelap dalam pelukannya. Nathan membuka matanya. Ia menyingkirkan anak rambut Aurelia yang menutupi wajah cantik itu.


Otaknya berpikir keras, permintaan El sungguh diluar kendalinya. Karena ia belum memikirkan sejauh itu, baginya untuk saat ini hadirnya El sudah cukup mewarnai kehidupan keluarga kecil mereka. Terlebih ia ingin mencintai Aurelia lebih dalam, ingin menikmati waktu pendekatan yang lebih lama. Ia pasti akan menuruti permintaan El tapi belum untuk saat ini.


Jika ditanya apakah ia tidak ingin memiliki anak perempuan yang lucu? Jawabannya iya. Tentu ia menginginkan anak perempuan yang lucu. Tapi tidak secepat ini. Ia bahkan masih berhati-hati dalam berhubungan dengan Aurelia. Tidak ingin membebani Aurelia dengan kehamilan.


Nathan ingin mengganti kasih sayang yang belum dirasakan El selama bertahun-tahun ini, ia ingin memanjakan El terlebih dahulu. Ingin belajar menjadi seorang ayah yang lebih baik. Menebus kesalahannya yang telah menelantarkan El dan Aurelia.


Tetapi ia berjanji akan membicarakan ini dengan Aurelia. Mungkin istrinya itu bisa membantu untuk memberi pengertian pada El.


Nathan meletakkan kepala Aurelia di bantal dengan hati-hati. Mencium kening istrinya dan bangkit dari ranjang. Pikirannya butuh dialihkan. Ia memutuskan untuk keruang kerja, menghadapi dokumen-dokumen tidak akan serumit ini.


Nathan mulai tenggelam dengan tumpukan dokumen. Ia merasa pegal, dilihatnya jam di dinding sudah hampir dini hari. Ia menutup laptopnya. Kembali ke kamar dan memeluk untuk menyusul istrinya terlelap.


Nathan mengerjap, menatap wajah cantik itu meskipun dengan rambut yang di jedai acak. Ia menarik Aurelia dalam pelukannya.


"Mass, El sudah menunggu di meja makan. Ayo bangunlah" Aurelia gemas, ia mencium seluruh wajah suaminya. Nathan kembali menggeliat.


Aurelia tersenyum, suaminya benar-benar tampan, meskipun bangun tidur. Tak heran jika banyak wanita diluaran sana yang mencoba menarik perhatian suaminya. Kini lelaki tampan ini sudah menjadi miliknya, tidak akan ada yang bisa merebutnya. Ia akan memasang wajah galak jika ada yang berusaha menggoda Nathan.


Nathan tersenyum, mengecup bibir Aurelia lalu duduk bersandar ranjang. Ia meraih gelas berisi air yang sudah disiapkan oleh Aurelia dan menegakknya hingga tandas.


"Cepat bersiap, aku akan turun" ucap Aurelia membawa gelas kosong. Nathan mengangguk, segera bangkit lalu menuju kamar mandi untuk bersiap ke kantor.


Saat memasuki ruang makan, Nathan tersenyum melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Aurelia yang sibuk menata makanan di atas meja dan El yang sesekali melihat gerak lihai mamanya.


"Selamat pagi" Nathan mengecup dua orang itu bergantian. El mendengus, ia menatap papa tajam.


"Malu pa, dilihat orang" gerutu El saat beberapa pelayan memperhatikan interaksi mereka.


Nathan terkekeh kecil, ia mengusap rambut El.


"Rapot El nanti akan diantar oleh anak buah papa dan peralatan sekolah El yang baru. Besok El sudah mulai sekolah" jelas Nathan saat mereka sudah menyelesaikan sarapan. El mengangguk, menyalami tangan sang papa yang hendak berangkat bekerja. Begitupun Aurelia yang ikut menyalami.


Setelah papa berangkat, El mengambil alat lukisnya tadi malam. Membawanya kembali ke halaman samping rumah. Tempat dimana ia mengobrol bersama papa tadi malam. Suasana di halaman samping sejuk, meskipun tidak terlalu luas, tapi tempat ini nyaman jika digunakan untuk merenung diiringi suara gemericik air yang mengalir di kolam ikan.


"Sayang" Aurelia membawa beberapa kue, meletakkan di meja kecil disamping El. El tersenyum, mengucapkan terima kasih.


"Nanti siang mama mau ke kantor papa ngantar makan siang, El mau ikut?" Aurelia duduk disamping El.


"Tidak ma, El dirumah saja" jawab El dengan tangan yang sudah mulai melukis. Aurelia mengangguk, ia berdiri. Melangkah menuju kolam ikan yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Kolam ini berukuran tidak terlalu besar, tapi di desain sangat menarik. Ikan terlihat menari didalam air dengan bahagianya.


El mendengus, ia meletakkan kuas lukisnya di pallet. Pikirannya berkeliaran, entah kenapa ia tidak bisa fokus.


"Kenapa sayang? Apa yang kau pikirkan?" Hidup bertahun-tahun dengan El, Aurelia tentu tau jika putranya itu sedang memikirkan sesuatu.


"El tidak memikirkan apapun ma, hanya bingung hendak melukis apa lagi" Bohong El, ia belum berani untuk jujur mengenai pembicaraannya dengan sang papa semalam.


Aurelia yang ragu pun mengernyitkan dahinya, tapi ia tetap mengangguk. Tak mau memaksa El untuk berbicara. Toh El akan bicara sendiri nanti saat El merasa sudah siap.