Stay Here Please!

Stay Here Please!
Kondisi Nathan



Rumah sakit dipenuhi wartawan, entah dari mana mereka mendengar kabar secepat itu. Banyak anak buah yang sudah siap siaga memberikan jalan untuk keluarga Gibran. Rumah sakit terlihat ramai, pengunjung rumah sakit dihebohkan dengan keluarga besar itu. Siapa yang tidak mengenal mereka? Bahkan saat diluar negeri pun mereka tetap menjadi pusat perhatian.


Berjalan sedikit berlari, tangan Gibran setia merangkul bahu Jasmine, Aurelia menggenggam tangan Rafael, Aruna yang mengendong Selsy dan Tirta yang menggendong Ax. Mereka menyusuri lorong rumah sakit, menaiki lift.


Bertepatan dengan dokter yang sudah selesai menangani Nathan, mereka sampai di depan ruang perawatan.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanpa menyapa terlebih dahulu, Gibran langsung menatap tegas dokter.


"Pak Nathan hanya mengalami luka ringan di beberapa bagian tubuhnya, kami sudah memberikan obat. Tapi karena pak Nathan kehilangan banyak darah, kondisi pak Nathan sekarang masih kritis tapi kami sudah melakukan yang terbaik, semoga pak Nathan bisa segera melewati masa kritisnya" dokter menjelaskan kondisi Nathan sekarang. Mereka lega, setidaknya tidak ada yang memerlukan pengobatan serius.


"Boleh kami melihatnya?" Tanya Jasmine disela tangisnya.


"Boleh tapi bergantian, agar tidak mengganggu pasien" setelah mengatakan hal itu, dokter berpamitan.


Gibran dan Jasmine masuk terlebih dahulu. Rafael yang hendak masuk mengurungkan niatnya, ia paham jika kakek dan neneknya lebih berhak untuk melihat kondisi papa pertama kali.


"Mama jangan menangis, bukankah mama yang mengatakan bahwa papa akan baik-baik saja?" Sembari menunggu kakek dan neneknya keluar, Rafael mengajak Aurelia duduk. Menenangkan mamanya yang masih saja menangis sedari tadi.


"Maafkan mama" Aurelia mengangguk, ia memeluk Rafael dan mengusap air matanya.


Melihat pintu terbuka, Aurelia mengajak Rafael berdiri. Mereka mohon ijin kepada Gibran dan Jasmine untuk masuk dan melihat kondisi Nathan. Pasangan legendaris itu mengangguk, mempersilahkan Aurelia masuk.


Aurelia tidak kuasa menahan tangisnya, pipinya basah oleh air mata yang bercucuran. Ia berjalan mendekat, sedangkan Rafael masih berdiri di ujung ranjang. Memperhatikan papa yang baru saja ia temui beberapa hari kini terbaring lemah di ranjang pasien dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Wajah papa pun terdapat perban di beberapa bagian.


Sosok pria dewasa panutannya kini memejamkan mata. Tidak berusaha mengambil hatinya, tidak bersuara, tidak menegurnya karena ia hanya diam.


"Papa jahat sekali ma" Rafael menatap Nathan tajam, masih berdiri di ujung ranjang, tidak berniat mendekat.


"Papa yang merencanakan mau melamar mama bertepatan dengan hari ulang tahun mama di pantai tapi papa tidak datang malah merepotkan kita semua" Rafael mendengus, matanya berkaca-kaca, Ia memalingkan wajahnya dan mensedekapkan tangannya di dada.


Aurelia sedikit terkejut dengan ucapan Rafael, ia mengusap air matanya yang kembali keluar tanpa permisi. Ia berjalan mendekati Rafael, merengkuh dan mengajaknya mendekat, melihat wajah tampan Nathan dari jarak yang lebih dekat.


"Mas, lihatlah kau dimarahi oleh anak laki-lakimu. Apa kau tidak ingin bangun dan membalas kemarahan El?" Ia mencoba tersenyum, mengusap bahu El lembut.


"Papa egois ma, papa janji mau membahagiakan mama, papa janji tidak akan membuat mama menangis tapi papa tidak mendengarkan ucapan mama." Hati Rafael benar-benar hancur, ia takut. Takut kehilangan seseorang yang baru saja ia rasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah.


"Hiks kenapa papa tidak menjawab ucapan El ma" El sudah tidak kuat menahan tangis, ia menangis dalam pelukan sang mama.


Aurelia mendongakkan kepala Rafael, menatap wajah tampan duplikat Nathan itu yang penuh air mata. Aurelia mengusap wajah El, "Kita doakan papa agar cepat sembuh ya sayang, coba peluk papa. Mungkin papa mau bangun"


Rafael memeluk Nathan yang berbaring, sedikit menahan tubuhnya agar tidak menyakiti sang papa. "El tidak akan mau bicara lagi dengan papa jika papa tidak bangun sekarang juga" dengus El mengusap air matanya agar tidak mengotori selimut sang papa.


"E-el" El terkejut, ia mendongakkan kepala, menatap wajah pucat itu. Ia bangkit, menoleh kearah mamanya tapi tidak ada.


"Apa yang terjadi Aurelia?" Tanya Jasmine panik, takut terjadi sesuatu dengan Nathan.


"Nathan sadar nyonya" jelas Aurelia antusias.


Dokter dan beberapa suster berlarian memeriksa kondisi Nathan.


"Adik bisa keluar sebentar, kami akan memeriksa tuan Nathan" bujuk suster lembut.


"Tidak, aku mau disamping papa" El menjawab ketus, tetapi ia tetap memundurkan langkahnya. Memberi ruang agar dokter bisa memeriksa papanya dengan leluasa.


Dokter dan beberapa tenaga medis yang memeriksa Nathan sedikit terkejut dengan panggilan yang dilontarkan El untuk Nathan. Papa? Sejak kapan tuan Nathan yang terkenal dingin dan tidak pernah menyentuh wanita menikah dan mempunyai anak sebesar ini?


Kondisi Nathan semakin membaik, ia sudah bisa tersenyum menanggapi ocehan Ax menggoda Selly. Ia menatap Rafael yang sama sekali tak berpindah dari sampingnya. Putra tampannya itu setia menunggunya dan melayaninya apapun yang ia butuhkan.


"Tidurlah El, banyak yang menjaga papa disini" El terlihat mengantuk, ia bahkan menahan agar tidak menguap.


"Tidak" El menggeleng cepat, ia menyenderkan kepalanya di tangan sang papa yang berada di kepalanya.


"Katanya tidak mau tidur, tapi akhirnya terlelap juga" Aurelia yang awalnya duduk di sofa bersama Gibran dan Jasmine bangkit, berniat memindahkan Rafael agar tidak mengganggu waktu istirahat Nathan.


"Jangan dipindah, tidurkan saja disini. Aku ingin tidur dengan memeluknya" Nathan mencegah Aurelia yang hendak mengangkat Rafael dan menidurkan di sofa. Nathan meminta Aurelia menidurkan Rafael di ranjang yang sama dengannya. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, memberi ruang agar Rafael dapat berbaring di sampingnya.


"Tapi kau nanti tidak nyaman mas" cegah Aurelia.


"Aku selalu nyaman berada di dekat anakku" Aurelia mengangguk, segigih apapun ia melarang, Nathan akan tetap pada pendiriannya.


Dengan hati-hati, Aurelia mengangkat tubuh Rafael dan membaringkan di samping Nathan.


Dua pria berbeda usia tersebut terlelap di ranjang pasien. Aurelia tersenyum haru, menatap dua pria yang sudah berpengaruh besar dihidupnya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Dia bahkan mirip sekali dengan Nathan meskipun mereka berpisah sangat lama" ucap Jasmine tersenyum pada Aurelia.


"Mirip sekali sayang, semua yang ada di diri Nathan ada di diri El juga." saut Gibran menimpali.


Aurelia tersenyum malu, ia tidak menyangka bahwa tuan Gibran dan nyonya Jasmine menerima kehadiran El begitu baiknya.


"Terima kasih sudah mendidik dan merawat cucu saya dengan baik Aurelia, dan jangan panggil saya nyonya. Saya ibumu sekarang, panggil saya bunda seperti Nathan memanggil saya" Jasmine tersenyum lembut, mengusap tangan Aurelia yang duduk disampingnya.


"Sudah menjadi tugas saya sebagai seorang ibu untuk menjaga, mendidik, dan merawat anak saya nyonya, eh bunda. Maaf" Aurelia menunduk malu.