Stay Here Please!

Stay Here Please!
Diam



"Aurelia" Aurelia menoleh. Mengurungkan niatnya yang hendak menginjak tangga pesawat. Begitu pun Nathan yang kembali duduk di kursi roda saat mendengar suara seorang lelaki memanggil calon istrinya.


"Sebentar" ucap Nathan pada salah satu anak buah yang tadi membantunya berdiri.


Nathan meminta anak buahnya untuk membantu mendorong kursi rodanya lebih mendekat dengan Aurelia. Anak buahnya menurut, mendorong kursi roda Nathan dan berhenti tepat di samping tubuh Aurelia.


Aurelia masih terpaku melihat sosok yang sedang berjalan dengan sedikit berlari kearahnya. Nathan memperhatikan pria itu. Pria yang sudah ia peringatkan agar tidak mengganggu hubungan mereka lagi. Tapi kini muncul di bandara dan memanggil nama ibu dari anaknya itu dengan lantang.


Grepp


Tubuh Aurelia dipeluk oleh pria itu. Aurelia terkejut, ia tidak membalas pelukan pria yang mendekapnya saat ini. Nathan yang melihat pun darahnya mendidih. Ia menarik tangan Aurelia kasar. Menarik tubuh Aurelia lebih dekat dengan dirinya.


"Berhenti, apa yang kau lakukan disini" Nathan mengangkat tangannya, menatap tajam pria didepannya.


"Jangan mendekat" Nathan menatap pria itu tajam, menggenggam tangan Aurelia semakin erat. Aurelia meringis, ia mencoba mengendurkan genggaman tangan Nathan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Sekali lagi Nathan mengulangi pertanyannya. Menatap pria didepanya tajam.


"Ma-maaf pak Nathan, saya hanya ingin mengucapkan kata perpisahan kepada Aurelia" pria itu adalah Vano, pria yang sempat ia urus karena mengganggu Aurelia. Dan kini kembali lagi, mencoba mengganggu Aurelia kembali.


"Kau tau apa akibat yang kau lakukan?" Ancam Nathan.


"Ja-jangan pak" Vano terlihat gemetaran, ia menyesali perbuatannya. Jangan sampai Nathan melakukan hal yang membuat perusahannya baru saja ia genggam itu hancur.


"Pergi dari sini dan jangan ganggu keluarga saya. Ini peringatan terakhir. Jika kau masih mengulanginya, saya tidak akan mengampunimu"


"Sa-saya permisi" Vano menundukkan kepalanya, membalikkan badannya lalu berlari secepat kilat.


Nathan sedikit bingung dengan sikap Vano. Bukankah ada yang aneh? Jika memang Vano benar-benar berniat mengganggu hubungannya dengan Aurelia, tentunya Vano akan melawannya. Tetapi Vano terlihat ketakutan, bahkan ia bisa melihat dengan jelas wajah Vano yang tertekan.


Nathan melepaskan genggaman tangannya dari Aurelia.


"Masuk" tegas Nathan tanpa menoleh ke arah Aurelia. Aurelia dengan cepat naik kedalam pesawat, sedangkan Nathan dibantu anak buah untuk menaiki tangga.


Sepanjang perjalanan ini Nathan tak membuka suara. Bahkan ia tidak peduli dengan kebisingan Ax dan Selly yang ricuh berebut mainan. Selly? Iya. Tirta, Aruna, dan Selly ikut pergi ke negara X beberapa hari untuk berlibur.


Aurelia duduk disamping Nathan. Nathan memejamkan mata, mensedekapkan tangannya di dada. Ia masih enggan berbicara dengan Aurelia karena Aurelia yang tidak menolak pelukan Vano tadi.


Aurelia mencoba mengusap tangan Nathan tapi Nathan sama sekali tak membuka mata. Aurelia tau Nathan tidak tidur tapi Nathan juga terlihat menghindarinya.


"Papa sakit ma?" Tanya El khawatir melihat Nathan yang sepanjang perjalanan hanya memejamkan mata.


"Tidak sayang, papa hanya lelah" jawab Aurelia tersenyum


"Mass" Aurelia berbisik, ia menyenderkan kepalanya di bahu kekar Nathan. Nathan masih tidak membuka mata, bahkan Nathan memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Aurelia mendengus halus, masih menyenderkan kepalanya di bahu kekar itu dengan tangan yang terus mengelus lengan Nathan.


"Kita pulang kerumah bunda saja karena kalian belum menikah. Biar tidak ada fitnah" ucap bunda yang langsung diiyakan oleh semuanya.


Mobil hitam beriringan menuju rumah besar keluarga Nathan. Nathan, Aurelia, dan Rafael berada didalam satu mobil yang sama. Mobil membelah jalanan kota X yang begitu ramai. Tetapi di dalam mobil itu sunyi, tidak ada yang membuka suara. Sesekali Rafael yang bertanya dan dijawab oleh supir.


"Apakah El buat salah pa? Kenapa papa sejak tadi diam saja?" El akhirnya menanyakan hal yang sangat ingin ia tanyakan sejak didalam pesawat tadi.


"Tidak El, papa memikirkan pekerjaan papa yang terbengkalai" El tau jika itu bukan alasan diamnya papa, tapi jika papa tidak ingin menjawab jujur ia tidak akan mendesaknya. Bukan urusannya mencampuri urusan orang dewasa.


Aurelia pun tidak berusaha mengajak Nathan berbicara. Pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu saling diam. Pandangan mereka berfokus pada jalanan yang mereka lewati.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan rumah mewah keluarga Gibran. Hingga akhirnya keheningan di dalam mobil itu berakhir ketika Nathan sudah turun dari mobil dan dibantu salah satu anak buahnya untuk masuk ke kamarnya.


Aurelia menyusul dibelakang, ia memperhatikan interior rumah mewah ini. Begitupun dengan Tirta dan Aruna yang terlihat takjub. Bahkan mulut mereka hampir tidak tertutup.


"Mari saya antar ke kamar tuan dan nyonya"


"Eh" Aruna terkejut saat tiba-tiba ada pelayan yang menghampiri mereka. Mereka pun langsung mengikuti langkah pelayan. Hingga akhirnya langkah mereka memasuki sebuah kamar yang mewah untuk ukuran kamar tamu biasanya.


Sedangkan di lantai 3, keheningan kembali terjadi. Nathan yang mulai sibuk dengan iPad di tangannya, dan Aurelia yang bingung hendak melakukan apa.


"Mama ingin bicara dengan papa, boleh El ikut ayah dulu?" Bisik Aurelia di telinga El saat El sibuk menikmati pemandangan dari balkon kamar.


"Baik ma" El mengangguk. Sebelum keluar dari kamar, bocah tampan itu menatap Nathan sebentar lalu menghembuskan nafasnya.


Memastikan El sudah keluar dan menutup pintu, Aurelia duduk tepat di ranjang samping Nathan. Mengelus tangan Nathan dan merebut iPad yang dipegang Nathan.


"Berikan aku kesempatan untuk berbicara mas" Aurelia meletakkan iPad itu di nakas, Nathan terlihat mendengus tapi tetap mengangguk.


"Silahkan" sorot mata tajam itu menatap mata cantik Aurelia. Aurelia terlihat gugup tapi ia tetap menggenggam tangan Nathan. Tidak ada penolakan dari Nathan.


"Aku tidak tau jika Vano datang, maafkan aku" Aurelia mulai menjelaskan.


"Aku pun tidak tau jika Vano hendak memelukku" tambah Aurelia melihat diamnya Nathan.


"Aku tidak memperdulikan itu" elak Nathan


"Kau mendiamkanku sejak kejadian itu, dan kau masih mengelak?" jawab Aurelia sedikit geram karena Nathan tidak ingin mengakui.


"Untuk apa aku memperdulikan jika orang yang dipeluk saja tidak berontak atau bahkan berusaha menolak?" jawab Nathan mengangkat sudut bibirnya. Tapi bukan senyuman ini yang diinginkan oleh Aurelia.


"Bukan aku tidak menolak tapi kejadian itu cepat sekali. Aku terkejut" Aurelia menatap mata tajam itu. Meyakinkan dari sorot mata jika yang ia katakan memang benar adanya.


"Jangan diam seperti ini, kasian El" Aurelia memeluk Nathan, mengalahkan segala rasa malunya.


"Ganti bajumu lalu buang, aku tidak ingin melihat baju ini lagi. Kau boleh memelukku lagi nanti" Nathan memegang bahu Aurelia, mengecup singkat kening Aurelia. Ia tidak marah, hanya saja Nathan ingin melihat bagaimana usaha Aurelia meluluhkannya. Terdengar egois bukan? biarlah. Nathan tidak peduli.