
Akhir pekan ini dihabiskan untuk menikmati waktu bersama keluarga sebelum Nathan mengajak istri dan anaknya untuk pindah kerumahnya sendiri. Bunda Jasmine terlihat berat, wanita yang berumur hampir dua kali umur Nathan itu terlihat menahan Aurelia dan Rafael agar tinggal beberapa hari lagi dari rumah.
Nathan menolaknya, ia ingin merasakan hidup mandiri dengan keluarga kecilnya. Nathan berjanji akan sering berkunjung kerumah ini. Dengan bujukan Nathan dan Gibran, Jasmine mengiyakan. Ia tentu tidak boleh egois, bagaimanapun Nathan sudah menjadi kepala keluarga dan berhak menentukan kehidupan keluarga kecilnya.
Mereka menikmati waktu di halaman belakang. Gibran yang menyesap kopi dan koran ditangannya, Nathan yang sibuk dengan ponselnya dan sesekali mengobrol dengan sang ayah, serta Rafael yang duduk di kursi yang ada di dekat kolam renang dengan kanvas lukisan didepannya.
Jangan tanyakan dimana Aurelia, sejak Jasmine mengetahui jika Aurelia terjun sendiri dalam proses pembuatan kue di negara A dulu, Jasmine mengajak Aurelia membuat kue ketika waktu senggang.
Aurelia dengan senang hati mengajari sang ibu mertua untuk membuat kue-kue unik yang biasa ia jual di tokonya dulu. Ini bisa jadi jalan agar ia semakin dekat dengan ibu mertuanya.
Pun Jasmine merasa senang, dulu Oliv yang selalu menemani kemanapun dan apapun yang ingin ia lakukan jika Chayra sedang sibuk dengan pekerjaan. Sekarang ia memiliki anak perempuan yang bisa ia andalkan. Ia serasa mempunyai teman, tidak akan kesepian. Suaminya pun setuju jika ia sering berkunjung kerumah anaknya nanti.
"Heummm bahan-bahannya sama seperti di video-video yang sering bunda tonton di media sosial. Tapi kenapa tekstur dan rasanya berbeda ya dengan yang bunda buat dulu" Jasmine icip saat kue pertama sudah matang. Resep ini pernah ia coba dulu bersama Chayra, memang dulu tidak gagal tapi rasanya berbeda dengan kue yang dibuat oleh Aurelia. Juga teksturnya pun tidak selembut ini.
"Kau tidak memasukkan bahan lain saat bunda tidak melihatnya kan?" Jasmine masih penasaran, ia menatap Aurelia takjub.
"Tidak bunda, Aurelia menggunakan bahan yang ada disini saja. Tidak menambahkan apapun" jawab Aurelia sedikit terkikik.
Jasmine mengangguk, ia percaya. Tapi tekstur kue yang dihasilkan oleh Aurelia sangat lembut. Dengan rasa yang pas, tidak terlalu manis tapi juga tidak hambar.
Aurelia masih sibuk dengan beberapa adonan, sedangkan ibu mertua nya masih sibuk menatap pergerakan kue di oven dan mencicipi setiap varian kue yang baru matang.
"Bunda akan menceritakan ini pada Oliv, dia pasti minta diajari juga" Aurelia mengangguk, ia tidak keberatan. Toh hanya ini yang ia bisa banggakan.
"Kenapa Oliv menjemput Ax bunda? Padahal hari ini hari terakhir Rafael disini" Sejujurnya Aurelia merindukan bocah crewet itu.
"Evan ada bisnis di negara J. Oliv ikut dan memutuskan membawa Ax. Bunda tidak sanggup jika harus mengurus Ax sendirian tanpa ncusnya. Bocah itu dikit-dikit hilang, suka lari-lari. Bunda capek" gerutu bunda, Ax memang bocah yang aktif. Tapi dengan umur bunda yang semakin menua, mengurus anak seperti Ax tentu akan membuat bunda cepat lelah.
Kini tiba dimana Aurelia akan pulang kerumah pribadi Nathan. Bunda berkali-kali membujuk Rafael kembali agar tetap disini sampai beberapa hari kedepan, tapi Rafael selalu menjawab "El ikut kemanapun mama pergi". Mendengar jawaban El, bunda sudah tidak pernah mencoba membujuk El lagi. Bocah itu tidak mudah dirayu hanya dengan iming-iming sesuatu.
"Bagaimana dengan rapot El pa?" Tanya El pada Nathan saat mereka sudah didalam mobil.
Nathan yang berkutat dengan tab di tangannya pun mendongak, ah iya melupakan rapot Rafael.
"Ah papa lupa, besok papa suruh anak buah papa untuk antar kerumah" jawabnya, karena sebenarnya Nathan sudah menyuruh anak buahnya untuk mengurus rapot Rafael, tapi karena ia sibuk beberapa hari ini, jadi rapot Rafael masih ada ditangan anak buahnya. Ia belum sempat mengambil.
"Sebelum besok papa bekerja, boleh nanti malam papa ngobrol sama El?" Mereka sudah sampai rumah. Nathan bertanya kepada El sebelum mereka berpisah untuk masuk kedalam kamar.
"Boleh pa" tentu El tidak akan menolak, tetapi demi kenyamanan El, Nathan akan bertanya terlebih dahulu. Dan jika El menolak pun, Nathan tidak akan memaksa. Ia bisa mengajak mengobrol lagi dilain waktu.
"El istirahat ya sayang, mama sama papa kekamar dulu" pamit Aurelia mencium kening El. El mengangguk, ia pun berniat langsung masuk kedalam kamar dan tidur. Matanya sudah minta untuk dipejamkan.
Malam sudah tiba, Aurelia sibuk didapur memasak untuk makan malam. Ini permintaannya, Nathan boleh mempekerjakan pelayan di rumah ini tapi jika urusan memasak biar Aurelia saja. Nathan mengiyakan permintaan istrinya dengan syarat tidak boleh terlalu kecapekan.
Nathan mencerna masakan Aurelia. Meskipun ini pernah makan masakan Aurelia dulu saat di negara A, tapi ini berbeda. Kini Nathan bisa menyebut makanan yang berjejer rapi di meja ini dengan masakan istri.
"Enakk" Aurelia tersenyum mendengar pujian Nathan.
"Besok sepulang kerja bisa temani aku belanja untuk keperluan dapur mas?" Tanya Aurelia setelah mereka menandaskan semua makanan. Aurelia membereskan meja makan dibantu pelayan. Sedangkan Nathan mengajak Rafael untuk ke halaman samping tempat dimana ia biasanya menyendiri.
"Boleh papa bertanya El?" Nathan menyesap kopinya. Menatap El yang sibuk dengan kanvas lukisannya. Kanvas itu El bawa dari rumah Gibran tadi.
"Tentu" jawab El mengangguk.
"Diantara banyaknya hal yang dilakukan oleh anak diusia El, mengapa El lebih suka menghabiskan waktu untuk melukis?" Tanya Nathan sembari terus menatap jari El yang dengan lihai menorehkan cat di atas kanvas.
"Hobi pa, El melakukannya dengan kemauan hati El. El bisa mencurahkan apa yang El rasakan di kanvas" jawaban El menoleh kearah Nathan sejenak lalu melanjutkan lukisannya.
"Apa lukisan di dinding samping tangga yang ada dirumah kakek itu juga karya El?" Nathan bertanya lagi seolah ia tidak tahu jika itu memang karya El. Ia ingin mendengar sendiri apa jawaban El.
Tangan El berhenti sejenak, menoleh kearah Nathan dan mengangguk pelan.
"El bilang kalau El melukis untuk mencurahkan apa yang El rasakan. Dan mama pernah bilang, setiap lukisan El punya makna yang tidak di mengerti oleh orang lain selain El jika El tidak menjelaskannya. Boleh ceritakan ke papa tentang makna di lukisan yang di pajang dirumah kakek?" Nathan bertanya pelan-pelan. Menggunakan power dari jawaban El sebelumnya dan perkataan Aurelia kemarin.
"Itu hanya lukisan biasa yang menggambarkan sebuah keluarga kecil yang bahagia pa. Lukisan seperti itu banyak juga dijual diluaran sana, tidak hanya El yang melukis" jawab El menaruh kuasnya di pallet. Kini ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Oh ya? Jika memang itu lukisan biasa kakek tidak akan memajangnya. Karena kakek bukan pecinta lukisan" Nathan tersenyum, ia menanggapi jawaban El dengan sabar. Mungkin pelan-pelan El bisa lebih terbuka.