Stay Here Please!

Stay Here Please!
Di Kantor



Tidak ada yang menarik perhatian El hari ini. Melukis sepanjang hari tentu akan bosan. Terlebih disini tidak ada teman yang bisa ia ajak mengobrol. Hanya ada beberapa pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.


Aurelia pun sudah berangkat ke kantor Nathan beberapa menit yang lalu. Dengan diantar dua anak buah, Aurelia cukup merasa aman. Cahaya matahari terlihat cerah, Aurelia memperhatikan interaksi penduduk kota ini sepanjang jalan. Ada yang sibuk menawarkan dagangan mereka di lampu merah, ada juga yang membawa gitar untuk mengais rejeki. Dan ada juga beberapa orang yang hilir mudik membawa barang mereka.


"Tuan sedang ada meeting diluar nyonya, tuan berpesan agar nyonya ke ruangan tuan terlebih dahulu. Tuan akan datang beberapa menit lagi" anak buahnya menjelaskan. Ia mengiyakan. Turun dari mobil membawa tentengan bekal yang sudah ia siapkan tadi.


Dengan memakai rok span selutut dan kemeja yang dimasukkan ke dalam rok membuat penampilan Aurelia terlihat elegan. Ia memakai hels yang tidak terlalu tinggi, rambutnya diikat tinggi menjuntai.


"Selamat pagi, mohon maaf ibu ada yang bisa kami bantu?" Aurelia menuju meja resepsionis yang langsung disambut dengan hangat.


"Saya ingin ke ruangan Pak Nathan" Aurelia menyebut nama suaminya. Dua resepsionis itu saling pandang, mengernyitkan dahinya.


"Apakah ibu sudah membuat janji sebelumnya?" Resepsionis memastikan. Karena pak Nathan bilang beliau tidak ingin diganggu sampai jam istirahat selesai. Terlebih pak Nathan saat ini masih diluar untuk meeting.


"Maaf ibu, sebaiknya ibu tunggu di kursi itu sembari kami memastikan" ucap resepsionis masih terlihat ramah meskipun mereka bingung.


Aurelia mengangguk, ia berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari meja resepsionis. Baginya tidak masalah jika ia harus menunggu, ia harus menghargai dua resepsionis ini. Mereka bekerja dengan sangat baik.


Dua puluh menit Aurelia menunggu, ia mengantuk. Meletakkan kotak bekalnya di meja. Lalu menyandarkan kepalanya di kursi. Ia memejamkan mata, kantuknya ternyata tidak bisa ditahan.


"Apa-apaan ini, siapa yang menyuruh istriku menunggu disini" Nathan yang baru saja masuk kedalam kantor terkejut saat melihat istrinya terlelap dalam keadaan duduk. Dua resepsionis itu kelabakan. Mereka tahu jika sang bos sudah menikah tapi mereka tidak tahu jika wanita yang mereka hadapi dua puluh menit yang lalu itu merupakan istri bos.


"Ma-maaf tuan, kami hanya waspada" salah satu resepsionis itu menjawab dengan gugup. Mengingat banyaknya wanita yang mengaku sudah membuat janji dengan bos nya, mereka harus waspada.


"Sayangg" Aurelia mengerjap saat tubuhnya terasa diangkat. Nathan dengan wajah dingin menatap Aurelia. Aurelia tahu jika terjadi kesalahpahaman disini. Ia melirik dua resepsionis yang menunduk dan meremas tangan mereka.


"Turunkan aku mas, malu dilihat karyawan" bisik Aurelia, ini jam istirahat. Banyak karyawan yang keluar dari ruang kerja mereka, menuju kantin untuk makan siang.


Saat memasuki lift khusus penjabat tinggi kantor, barulah Nathan menurunkan tubuh Aurelia. Ia memeluk istrinya erat. Mengecup keningnya berkali-kali.


"Jangan hukum resepsionis itu mas, mereka hanya menjalankan tugas. Aku pun tidak keberatan jika disuruh menunggu" Aurelia mengelus punggung Nathan yang masih memeluknya. Menetralkan emosi di diri suaminya itu.


"Istriku direndahkan seperti itu, bagaimana aku tidak memberikan hukuman kepada mereka" Nathan dengan nafas berat membantah ucapan Aurelia.


Ia menarik Aurelia keluar dari lift dan berjalan di lorong untuk menuju keruangan kerjanya.


"Mass, bukankah mas yang membuat peraturan agar mereka bekerja dengan hati-hati dan jangan mudah mempercayai orang lain? Bukankah mas juga yang melatih mereka agar tetap tegas kepada siapapun? Mereka tidak bersalah mas" Aurelia mengelus rambut Nathan, kini posisi mereka sudah duduk dengan Aurelia duduk dipangkuan Nathan.


"Tapi tidak denganmu, harusnya mereka menghormatimu" Nathan masih keberatan karena Aurelia membela dua resepsionis itu.


"Karena mereka tidak tahu jika aku istri mu mas, apakah mas mengatakan kepada mereka jika istrimu ini akan datang?" Aurelia tersenyum. Nathan terdiam. Karena terburu-buru ia jadi lupa mengatakan pada resepsionis nya jika Aurelia akan datang.


"Aku masak dengan susah payah tapi mas meninggalkannya di meja resepsionis tadi" gerutu Aurelia tersenyum. Nathan menepuk dahinya. Ia melupakan kotak bekal itu.


Tok tok


Nathan yang hendak mengambil ponsel untuk menghubungi sekretarisnya agar mengambilkan makanan itu mengurungkan niatnya saat pintunya diketuk.


"Jangan bergerak atau akan ada yang berdiri" bisik Nathan di telinga Aurelia. Aurelia merinding, ia mengurungkan niatnya yang hendak turun dari pangkuan suaminya.


"Tuan ini bekal ibu yang ketinggalan di bawah" gadis berpakaian formal itu membawa kotak makannya. Gadis cantik, tinggi, berperawakan bak gitar spanyol, dengan belahan dada yang sengaja ditonjolkan agar terlihat dari luar, Aurelia menatap heran.


"Terima kasih ya" ucap Aurelia, sedangkan Nathan sama sekali tidak melirik gadis itu, suaminya itu malah sibuk mengendus leher jenjangnya.


Aurelia tahu jika gadis itu marah, Aurelia menatap tajam gadis itu. Mungkin gadis ini adalah salah satu gadis yang mencoba menggoda suaminya.


"Apakah ada keperluan lain?" Tanya Aurelia tegas, matanya masih tetap menatap tajam gadis itu.


"Eh tidak, saya permisi" gadis itu terlihat gugup, langsung berbalik dan keluar dari ruangan Nathan.


"Siapa dia mas?" Aurelia menjauhkan lehernya, agar Nathan mau menjawab pertanyaannya.


"Linda, sekertaris ku" Aurelia mencoba mengingat wajah sekertaris itu. Ia seperti pernah melihatnya.


"Tidak bisakah kau mencari sekretaris laki-laki sayang" Aurelia tentu tidak ingin nasib rumah tangga nya diganggu oleh sosok pelakor yang sering muncul seperti novel-novel yang ia baca dulu. Terlebih dengan kelebihan yang dimiliki suaminya, tentu banyak wanita yang akan berbuat nekat untuk mendapatkan perhatian suaminya ini.


Nathan yang awalnya mengendus-endus leher jenjang Aurelia kini mendongak. Ia menatap mata cantik istrinya itu.


"Sesuai keinginan istriku" Nathan tersenyum, ia akan mengusahakan.


"Mass, El dirumah sendirian" Aurelia hampir tiga jam disini. Setelah makan siang tadi Nathan terus menggempurnya dengan aktifitas penyatuan, sama sekali tidak memberikan waktu untuk Aurelia beristirahat. Bahkan jam kantor sudah hampir selesai, Aurelia teringat El dirumah. Ia mendekati Nathan yang sibuk dengan dokumen.


"Sebentar sayang, sebentar lagi ini selesai. Kita pulang bersama" Aurelia melirik komputer Nathan, memang terlihat tinggal sedikit lagi. Aurelia mengangguk, mendudukkan diri di sofa. Membereskan kotak bekal yang tadi tidak sempat dibereskan karena Nathan langsung membopongnya.


Ia melihat ponselnya, ingin menghubungi Rafael.


"Halo sayang" Aurelia tersenyum saat panggilannya sudah tersambung dengan Rafael.


"Semua baik-baik saja kan sayang?" Aurelia memastikan. Mendengar jawaban dari Rafael, Aurelia lega. Mereka memutus sambungan telepon. Dan Aurelia bilang mereka akan pulang sebentar lagi. Rafael tidak keberatan. Entah apa yang dilakukan bocah itu dirumah.