
"Papa tahu ada maksud tersendiri di dalam lukisan itu El, meskipun mama tidak bicara ke papa, tapi papa tahu jika mama pun terkejut melihat lukisan itu. Entah apa yang ada di pikiran mama, mama tidak mau bilang ke papa. Karena mama menyuruh papa untuk menanyakan sendiri kepada El. Apakah El benar-benar tidak mau menjawab keingintahuan papa sayang?" Nathan memajukan kursinya sedikit, menaruh tangannya di sandaran kursi El.
El terdiam sejenak. Ia menunduk dalam-dalam. Ia malu untuk mengatakan apa makna lukisan yang di pajang kakek dirumahnya. Ia menyesali keputusannya kemarin karena mengijinkan kakek memasang lukisan itu di tangga yang dilewati semua orang. Bukan ia tidak mau berbicara, tapi ia takut. Takut jika papa menertawakan apa yang ia katakan.
"Kau tau El, seorang laki-laki tidak boleh menundukkan kepala seperti itu. Seorang laki-laki yang menundukkan kepala seperti itu mereka tak lebih dari seorang budak. Mereka merendahkan dirinya sendiri." Nathan memundurkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
El memutar kursinya, menghadap sang papa. Wejangan-wejangan papa akan ia ingat sampai kapanpun. Ia ingin mendengar ucapan papa selanjutnya, ia tidak ingin menjadi laki-laki lemah seperti yang didefinisikan papa.
"Seorang laki-laki tangguh harus berani menegakkan kepala apapun keadaannya. Apapun yang akan kita hadapi didepan, kita adalah benteng keluarga. Menjaga orang-orang yang kita sayangi dengan keberanian. Jika kau menundukkan kepala didepan musuh, kau sama saja menunjukkan bahwa kau bukan laki-laki yang kuat. Mereka akan melihatmu lemah yang bisa saja dengan mudah mereka hancurkan. Persetan dengan kekuatan apapun yang kau miliki, tetapi jika kau tetap menundukkan kepala jika bertemu musuh, kau tetap akan dianggap lemah." Rafael mencerna semua ucapan papa. Mendengarkan dengan seksama. Memikirkan kalimat yang dilontarkan papa. Memasukkannya kedalam ingatan terdalamnya.
Nathan terdiam sejenak, menatap mata tajam El. Siluet wajah yang hampir sama dengan dirinya. Ah ia jadi tersenyum dalam hati. Ketampanan El menurun darinya. Sorot mata El pun juga mengikutinya.
Sebelum Nathan melanjutkan ucapannya, ia menyentuh bahu El. Wajah tampan itu juga menatapnya. Entah apa yang diharapkan bocah kecil itu. Dari sorot matanya, El terlihat menunggu dan menaruh harapan padanya.
"Kau putra dari seorang Nathan Aderald, kau mengingatnya bukan?" Tanya Nathan dan El mengangguk.
"Sebagai putra Nathan Aderald, kau dituntut untuk jadi laki-laki kuat. Dengan pekerjaan papa, banyak musuh diluaran sana yang siap menyergap kapan saja. Terlebih kau akan menggantikan posisi papa nantinya, kau harus lebih kuat. Meskipun kau nanti tidak bersedia meneruskan bisnis papa, tapi alasan kuat tidak hanya untuk berbisnis seperti papa. Tapi untuk semua pekerjaan. Mereka yang bekerja satu profesi seperti kita, menganggap kita adalah musuhnya yang harus dihancurkan. Mereka menganggap kita saingan bahayanya. Meskipun kau nanti merintis bisnis dari bawah lagi, tetap ada nama Aderald yang tersemat di namamu. Itu akan membuat musuh dengan mudah menandai mu sebagai bagian dari keluarga Aderald." Nathan berhenti sejenak, menyesap kopi nya yang sudah hampir dingin.
"Jika El memikirkan kenapa papa meladeni musuh-musuh itu? Jawabannya karena papa takut mereka menyerang mama atau El. Sekarang kelemahan papa ada di kalian. Mereka memiliki mangsa baru yang bisa dengan mudah menjatuhkan papa. Lalu jika El saja menundukkan kepala? Siapa yang akan menjaga mama jika papa terjatuh?" El masih mendengarkan dengan serius. Ia mengabaikan kuas lukisnya yang hampir mengering.
"Papa harus kuat tidak boleh terjatuh, El akan menjaga papa dan mama" Ucap El tegas. Nathan mengangguk dan tersenyum.
"Jika papa boleh memilih, papa memilih tidak berurusan dengan mereka El, papa juga ingin hidup tenang. Tapi dengan bisnis papa yang semakin besar, musuh muncul di setiap tempat. Bahkan mungkin di orang terdekat sekalipun. Tapi mereka yang menganggap papa saingannya tidak akan berhenti mengganggu papa sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan"
"Tidak semua orang yang menegakkan kepala adalah orang yang sombong El, mereka menegakkan kepala mereka untuk melindungi diri mereka sendiri. Karena dengan menegakkan kepala, musuh tidak akan meremehkan kita meskipun kita sedang ketakutan sekalipun, musuh tidak akan tau." Nathan melanjutkan ucapannya.
"Di sekolah El dulu, anak yang suka menegakkan kepala adalah anak yang nakal, anak yang sering menyakiti teman-teman El yang lain pa" El teringat sekolahnya di negara A dulu.
"Coba El ingat kembali ucapan papa sebelumnya. Orang yang menegakkan kepala akan terlihat lebih kuat" Nathan menjawab dengan tenang, memberikan waktu untuk El memahami ucapannya.
"Seperti ini El, teman El yang selalu menegakkan kepala adalah anak yang nakal bukan? Suka menyakiti teman-teman El yang lain bukan?" Tanya Nathan.
El terlihat mengangguk lagi.
"Seperti apa yang papa katakan tadi, orang yang menegakkan kepala akan terlihat lebih kuat. Meskipun mereka tidak mempunyai nyali besar. Mereka hanya akan lebih disegani, lebih ditakuti karena mereka tidak menunjukkan bahwa mereka sebenarnya takut. Dan mereka yang disakiti, adalah mereka yang suka menundukkan kepalanya. Mereka akan melihat jika musuhnya menundukkan kepala itu artinya mereka lemah. Meskipun belum tentu seperti itu, bisa saja orang yang menundukkan kepala itu mempunyai kekuatan yang lebih. Tetapi kesalahan mereka adalah selalu menundukkan kepalanya, mereka menyembunyikan kekuatannya" Nathan berhenti sejenak, membiarkan El memikirkan semua yang ia katakan.
El mengingatnya, mencerna semua ucapan papa ternyata ada benarnya. El ingat disuatu hari di sekolah mereka praktek di taman sekolah. Di salah satu bunga disana ada ulat bulu, bunga itu cantik tapi banyak ulatnya. Temannya yang merasa paling kuat di kelas itu berteriak. Semuanya panik. Meneriaki teman yang biasa dibully olehnya untuk menyingkirkan ulat bulu itu. Meskipun hanya perihal ulat bulu, El bisa menyimpulkan bahwa tidak semua yang ia lihat menegakkan kepala adalah ia yang paling kuat. Tapi mereka akan lebih ditakuti dengan keberanian mereka mengangkat kepalanya.
"Tetapi kita tetap tidak boleh merendahkan orang yang menundukkan kepalanya, mereka juga patut untuk dihargai. Tapi meskipun begitu, jangan pernah menundukkan kepalamu El. Kau adalah pewaris seluruh aset Nathan Aderald." Lanjut Nathan.
El mengangguk mantap, ia akan mengingat semua ucapan papa.
"Sudah malam, ayo tidur" Nathan tersenyum. Ia melupakan pertanyaannya sebelumnya, biarlah El menjawab nanti jika El siap.
"Paa" El menahan tangan papa yang hendak berdiri. El menatap mata Nathan, Nathan kembali duduk. Ia juga menatap mata El.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Nathan lembut.
El menggeleng.
"Lalu?" Dahi Nathan mengernyit. Ia membenarkan posisi duduknya.
"El ingin menjawab pertanyaan papa" El ingin sekali menundukkan kepalanya karena malu, tapi mengingat ucapan papa tadi, ia tetap menegakkan kepalanya.
"Tidak perlu menjawabnya jika kau belum siap El, papa akan menunggu sampai El benar-benar siap untuk mengatakannya" jawab Nathan, meyakinkan El bahwa pertanyaannya tidak harus dijawab malam ini.