Stay Here Please!

Stay Here Please!
Rintangan



"Tolong buka masker kalian"


"Maaf pak, kami memiliki virus. Takut menyebar jika kami membuka masker. Terlebih ini ditempat umum" jawab Aurelia lagi. Entah darimana ia bisa menjawab dengan lancar seperti ini.


"Hacuhh, uhuk uhuk" Nathan terlihat mendukung sandiwaranya, mereka berpura-pura batuk dan bersin secara terus menerus.


Empat pria bertubuh kekar yang menghadang mereka saling pandang. Salah satu dari mereka yang menyuruh Aurelia dan Nathan membuka masker itu terlihat mengedipkan matanya. Kini gantian Nathan dan Aurelia saling pandang. Mereka tau yang akan dilakukan pria didepannya.


Nathan menganggukkan sedikit kepalanya tanpa diketahui pria didepannya. Terlihat beberapa petugas bandara menghampiri mereka. Mereka bukan petugas bandara asli, melainkan anak buah yang sudah ditugaskan Nathan untuk berjaga-jaga jika Nathan membutuhkan bantuan cepat.


Petugas itu datang bersamaan dengan terulurnya tangan pria didepannya hendak membuka paksa masker mereka. Tangan nya ditampis, mereka gagal membuka paksa masker Nathan dan Aurelia.


"Tolong hargai privasy pengunjung tuan. Bapak dan Ibu boleh masuk" Nathan merebut koper yang sebelumnya diambil oleh pria yang menghadangnya. Ia mendengus kesal, pun beberapa pria itu sedikit jengkel.


"Halo yah" telepon genggam Nathan berbunyi. Tertera nama ayah Gibran yang menghubunginya. Nathan menggeser tombol hijau di layar ponselnya, berbicara sembari memperhatikan sekeliling. Takut jika ada yang mendengar perbincangan mereka.


"Ayah sudah menyiapkan jet pribadi, mereka sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu. Berjalanlah dengan hati-hati. Jangan mengandalkan anak buah yang berjaga, mereka bisa saja lalai. Jangan katakan apapun lagi, jangan menjelaskan kepada Aurelia jika kau belum didalam pesawat. Mereka berbahaya. Hati-hati. Langsung tutup telpon ayah" Nathan sedikit tercengang mendengar penjelasan Ayah Gibran. Ia menoleh kearah Aurelia yang sibuk memperhatikan sekitar. Melepaskan kopernya begitu saja. Ia menarik tangan Aurelia dan mengajaknya berjalan sedikit berlari.


Anak buahnya yang menyamar pun berjejer sedikit berjauhan. Mengawal langkah Nathan tetapi berusaha tetap dalam penyamaran. Beberapa pria suruhan yang mulai curiga dengan gerak-gerik mereka, mulai mengikuti. Nathan menarik tangan Aurelia semakin kencang, ia mengajak Aurelia berlari.


"Ku mohon bertahanlah sedikit lagi" Nathan mendengar nafas Aurelia yang ngos-ngosan. Ia menguatkan Aurelia untuk berlari sedikit lagi. Mereka sudah dekat dengan jet pribadi.


"Woii berhenti" pergerakannya tertangkap. Mereka dikejar orang suruhan berpakaian hitam. Nathan tetap memegang tangan Aurelia erat. Berlari sekuat tenaga menaiki tangga jet pribadi. Orang suruhan itu dihadapi oleh anak buahnya, mereka berkelahi di bandara. Kekacauan terjadi. Banyak anak kecil yang menyaksikan berteriak histeris.


"Cepat tutup pintunya" teriak Nathan pada petugas jet nya. Ia menghela nafas lega, Aurelia sudah terduduk di kursi karna lelah berlari.


Jet pribadi mulai terbang, meninggalkan bandara yang terlihat banyak sekali pria berpakaian hitam. Mereka menendang angin, merasa kalah dimedan perang. Mangsanya berhasil kabur.


"****" umpat pilot yang mengendarai jet pribadi miliknya. Jo namanya, ia pilot muda yang diberi tugas untuk mengendarai jet pribadi milik keluarga Gibran.


"Kenapa Jo?" Tanya Nathan mendengar umpatan itu.


"Pistol mereka mengenai body jet tuan." Jelas Jo dengan wajah kesal. Karena jet ini merupakan jet kesayangannya meskipun ia hanya bekerja. Jet ini sudah mengajaknya berkeliling dunia selama kurang lebih tiga tahun ini.


"Apakah parah?" Tanya Nathan khawatir. Bukan tentang jet pribadi yang rusak. Tetapi perjalanan mereka apakah akan terganggu? Jika iya, tentunya mereka harus melakukan pendaratan darurat untuk menghindari kecelakaan.


"Sepertinya tidak tuan, hanya lecet sedikit." Jo bisa menjawab karna goncangan yang ditimbulkan tidak terlalu keras. Nathan pun tidak merasakannya. Tapi karena ia yang mengemudikan, jadi ia tau apa yang terjadi di luar pesawat. Beruntung jet ini di desain dengan material pilihan dengan kualitas tinggi. Sehingga tidak mudah tergores.


Jet pribadi berhasil landing dengan selamat di negara X. Aurelia tertidur, ia lelah karena berlari di bandara sebelumnya. Jet sudah berhenti sempurna. Anak buahnya sudah berjejer di seluruh penjuru bandara untuk mengawal mereka.


Karena Nathan tidak tega membangunkan Aurelia, ia memutuskan untuk menggendong istrinya itu. Aurelia yang merasakan tubuhnya seperti melayang ia mengerjapkan matanya. Hendak memekik kaget tapi ia tahan karena Nathan yang menggendongnya.


"Turunkan aku mas" bisik Aurelia malu karna semua orang yang beraktivitas di bandara memperhatikan mereka.


"Tidurlah, aku akan menggendongmu" Aurelia melotot, bagaimana bisa Nathan menyuruhnya tidur lagi dalam posisi seperti ini.


"Turunkan aku mass" pinta Aurelia sekali lagi. Nathan menurunkan tubuh Aurelia saat mereka sudah berada di depan pintu mobil. Aurelia menunduk malu, semua pengunjung bandara maupun petugas yang berlalu lalang menatap mereka.


Mobil membelah jalanan kota, Aurelia tidak melanjutkan tidur. Ia memperhatikan sekeliling. Siapa tahu ada ruko yang cocok untuk membuka usaha kue nya di negara ini.


Krukkkk


Aurelia memegang perutnya. Nathan yang semula sibuk dengan ponselnya kini menatap Aurelia dengan senyuman menggoda.


"Jangan tatap aku seperti itu mas" ucap Aurelia malu, ia memalingkan wajahnya. Merutuki perutnya yang berbunyi tidak tau tempat.


"Baik tuan" jawab supir yang mengemudi mobilnya.


Mobil memasuki kawasan restoran bernuansa putih itu. Mereka turun. Nathan hanya menggunakan celana formal dan kaos kerah berwarna hitam, tangan putihnya terpampang jelas. Mengundang banyak mata memusatkan perhatiannya kepada mereka.


Aurelia menggunakan celana pendek berbahan jeans dan kaos oversize berwarna putih yang hampir menutupi celananya. Paha mulusnya terpampang. Ia mencepol rambutnya asal. Menggunakan kacamata hitam dan menggandeng tangan Nathan.


"Bukankah itu Nathan Aderald?"


"Iya dan itu istrinya, yang baru nikah beberapa hari kemarin"


"Wahh ternyata memang benar menikah? Kukira hanya bualan wartawan saja"


"Saking banyaknya wanita yang diberitakan hingga kita tidak mempercayai artikel wartawan itu"


"Wartawan tidak berhasil mengambil potret wajah gadis itu. Nathan sangat menjaga istrinya"


"Ternyata cantikk ya istrinya"


"Iya cantik"


"Lebih cantik aku"


"Kau memang cantik, tapi tidak mampu menggoda seorang Nathan Aderald"


"Ahhaha benar, justru gadis itu yang mendapatkannya. Bahkan wartawan tidak pernah memberitakan gadis itu"


"Gadis itu pasti hanya mengincar harta Nathan"


"Memangnya ada gadis yang tulus jika mendekati keluarga mereka?"


Beberapa bisikan pengunjung restoran berhasil tertangkap telinga Aurelia. Aurelia menatap Nathan yang terlihat santai membuka buku menu tanpa memperdulikan ucapan mereka.


"Pesanlah yang kau mau" Nathan menyerahkan buku menu kepada Aurelia.


"Kenapa mas tidak jadi memesan?" Tanya Aurelia menerima buku menu tersebut. Nathan mengedikkan bahunya. Tidak ada makanan yang menarik hatinya.


Aurelia menyebutkan satu menu makanan yang mengenyangkan perut, serta minuman. Sedangkan Nathan hanya memesan americano coffee.


Nathan meletakkan ponselnya, menatap Aurelia yang melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas dahi, dahi mulus itu terpampang jelas.


"Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Aurelia saat menyadari Nathan memperhatikan ia tanpa berkedip.


"Cantikk" gumam Nathan tanpa sadar. Wajah Aurelia bersemu, ia menundukkan wajahnya.


Nathan berdiri, Aurelia mendongak. Menatap pergerakan Nathan, hendak melakukan apa suami tampannya itu.


Nathan pindah duduk di samping Aurelia. Merangkul bahu Aurelia.


"Aku benci tatapan mereka" nafas Nathan menerpa anak rambut di telinga Aurelia. Aurelia merinding, ia menatap Nathan tajam. Bisakah suaminya itu tidak usah mengendusnya di tempat umum seperti ini? Aihhh, Aurelia malu.


Makanan Aurelia datang, ia menikmati makannya. Sedangkan Nathan duduk disampingnya kembali sibuk dengan ponselnya seraya sesekali menyeruput kopinya.