Stay Here Please!

Stay Here Please!
Kegiatan berujung keanehan



Aurelia


Tubuhnya semakin terasa panas, merasa tak tahan, akhirnya ia melucuti semua pakaiannya. Berlari kearah kamar mandi, ingin berendam.


"Aaa siapa kau?" Teriaknya saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh seorang pria yang hanya mengenakan handuk dipinggang.


Pandangannya melayang, tapi tubuhnya semakin terasa panas.


"Tampan sekali" tanpa sadar ia mengalungkan tangannya dileher pria itu. Saling membelit, menuntut, semakin dalam dan terbuai.


Nathan.


Seperti yang disarankan oleh Glen, masuk kedalam kamar ia langsung berlari kearah kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan shower meskipun itu masih tidak bisa mengendalikan hawa panas ditubuhnya.


Hingga suara dua orang gadis membuat hasratnya semakin menggebu, menginginkan hal yang bisa menghilangkan efek obat ini. Dengan susah ia melepas semua pakaiannya yang basah, mengganti dengan handuk yang disediakan pihak hotel.


Hingga teriakan gadis tanpa busana membuat hasratnya semakin tak terkendali. Mendorong gadis itu sampai terpentok tembok, menuntut lebih. Hingga tubuhnya semakin tak bisa dikendalikan, membelit, menyesap seluruh tenaga.


Permainan terasa seimbang, sepertinya gadis ini juga meminum obat itu. Permainan hina ini terjalin antar manusia yang sama dibawah naungan obat. Tidak sadar. Menyalurkan hasrat tanpa mengenal lelah.


Hingga efek obat yang sudah sedikit hilang akhirnya permainan berdosa itu selesai. Keduanya terlelap, saling berpelukan seperti layaknya seorang pengantin.


Aurelia.


Ia menyesap, membelit, mengimbangi pria didepannya. Menikmati setiap sentuhan itu, sungguh memabukkan. Ditambah efek obat yang masih membara, menghilangkan kesadarannya sepenuhnya.


Tak terasa, malam berdosa sudah digantikan oleh mentari yang sepertinya enggan menampakkan sinarnya. Ia hanya bisa merintih karena sakit, menyesal atas perbuatan terlarang ini.


Selembut mungkin ia turun dari ranjang, menatap pria yang selama melakukan hal terlarang bersamanya. Ia menutup mulutnya, tak menyangka jika pria itu adalah bosnya. Pak Nathan. Merasa malu, saat sekelebat pikiran mengingatkannya pada kejadian sebelum terjadinya pergulatan berdosa itu. Ia yang memulainya, ia yang menggoda Nathan dengan mengalungkan tangan disekitar pria itu.


Dirinya Hina.


Ia memunguti pakaiannya, memakainya dengan cepat sebelum pak Nathan bangun.


"Ka-kau?" Ia melonjak, saat seorang pria yang menggodanya beberapa hari lalu dikantor hendak masuk kedalam kamar ini.


Secepat kilat ia berlari, menundukkan kepala dan menangis.


Glen.


Semalam ia tak memejamkan mata barang sejenak kalipun, menyelidiki siapa yang menaruh serbuk itu diminuman sahabatnya, mengerjai pelaku. Hingga tepat dipagi hari ia baru saja menyelesaikan semuanya dan menuju kamar yang semula dihuni oleh sahabatnya.


Tapi ia melongo, melihat gadis yang menangis dengan wajah terkejut juga menatapnya. Gadis itu, ya ia mengingatnya. Aurelia namanya.


"Ka-kau?" Ia terbata, pikiran buruk mengelayuti otaknya. Apa sahabatnya yang bersih dan tidak pernah melakukan hal terlarang itu bisa goyah karena efek obat?.


Ia langsung berlari masuk, melihat tubuh Nathan yang masih terkulai lemas dan terlelap. Tanpa busana.


"Bangun" ia menepuk bahu Nathan. Tapi sejenak pandangannya teralihkan pada bercak darah diselimut putih bersih itu.


Benar-benar masih gadis


"Kau mengingat sesuatu?" Tanyanya ke Nathan yang baru saja membuka mata.


"Ada gadis lalu..."


"Kau merusaknya" ia menunjuk bercak darah itu, dia memang bukan pria baik, tapi ia tak pernah merusak seorang gadis hanya untuk memenuhi hasratnya.


"Gadis itu ada dikamar ini tanpa pakaian lalu dia menyerangku, aku yang dalam pengaruh obat juga langsung meladeni" jawab Nathan sepertinya memang hanya itu yang diingat sahabatnya.


"Ada yang tidak beres, gadis itu keluar dari sini menangis dan berlari. Jika memang gadis itu dengan suka rela menyerahkan tubuhnya, lalu kenapa dia menangis?"


"Kau melihatnya? Siapa?


"Aurelia" ia menghela nafas.


"Bawa gadis itu ke hadapanku dan aku akan menikahinya"


"Semudah itu?" Tanyanya tak percaya.


"Glen, gadis itu masih virgin. Apa yang harus dibanggakan jika mahkotanya sudah kuambil dengan ketidaksadaran"


"Gadis yang menjebakmu itu salah satu teman om Gibran, dia menuangkan serbuk itu kedalam minumanmu. Lalu aku membalasnya dengan memberikannya serbuk yang sama. Dan tepat sasaran. Gadis itu melayaniku semalam. Tapi anehnya, tidak ada darah seperti ini. Sepertinya memang sudah ahli terbukti karena gadis itu yang bermain aktif seperti sudah profesional"


Nathan.


Ia melamun, memikirkan semua ucapan Glen tentang kejadian tadi malam. Pikirannya berkecamuk, rasa pusing tak kunjung reda. Bahkan sudah malam hari seperti ini Glen belum juga membawa berita yang melegakan hatinya.


"Aku tidak menemukan gadis itu, bahkan aku sudah berkunjung dirumahnya tapi tetangga disekitarnya bilang kalau pergi sejak siang tadi" itu menjadi berita Glen terakhir kalinya.


Sejak kejadian itu, ia semakin dingin ke semua orang. Terkecuali keluarganya. Sudah enam bulan, keberadaan gadis itu belum juga ditemukan meskipun awal mula bagaimana gadis itu masuk kekamar sudah jelas.


"Gadis itu korban salah sasaran, ada yang ingin memberikan minuman mengandung serbuk untuk Oliv tapi saat pelayan lewat gadis itu tersedak dan langsung menegak minuman yang dibawa oleh pelayan itu. Dan sahabatnya, yang diduga berangkat bersama dengan gadis itu mengantarnya kekamar. Kamar yang sama dengan kamarmu" itu penjelasan Glen beberapa bulan yang lalu.


Sudah beberapa bulan ini ada yang aneh dengan tubuhnya. Mual setiap pagi hari, susah tidur dan juga sering ingin memakan makanan yang sama sekali diluar kebiasaannya.


"Bi, ada mangga muda nggak ya?" Pertanyaan ini sering ia lontarkan kepada pelayan. Ia menyadari jika orang tuanya pun merasa ada yang aneh dengan perubahan dirinya beberapa bulan terakhir ini.


"Ada tuan dihalaman belakang, mau diambilkan?"


"Tidak bi, mau ambil sendiri" ia melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya mang Ucup saat menyadari kehadirannya


"Ingin mengambil mangga" hanya itu jawaban yang terlontar dari mulutnya, ia langsung beranjak menuju pohon mangga dan memanjatnya. Memetik beberapa buah yang menurutnya pas dilidah.


Jasmine


Ia merasa ada yang aneh dengan Nathan. Sejak kejadian hilangnya Nathan dimalam pesta, putranya itu berubah. Semakin dingin, dan sering melakukan hal aneh diluar nalar. Seperti sore ini, dimana ia sedang menyiapkan makan malam tapi Nathan berlalu ke halaman belakang hanya untuk mengambil mangga. Dan yang lebih parah memanjatnya.


Jelas itu sangat berbeda dari Nathan sebelumnya.


Bahkan ia sering memergoki putranya mual dipagi hari, susah tidur dimalam hari tapi cepat tidur disiang hari. Dan bahkan makan dalam porsi banyak. Padahal ia tahu betul jika Nathan sangat menjaga pola makan.


"Nathan ke dokter yuk" ia sudah tidak tahan dengan kelakuan aneh putranya. Jadi ia memutuskan untuk membawa Nathan ke dokter saat Nathan asik memakan mangga hasil petikannya sendiri.


"Siapa yang sakit?"


"Nggak ada yang sakit, cuma konsultasi aja"


"Nggak deh bun, Nathan malas kemana-mana. Lagi pengen dirumah. Bunda sama ayah aja" mendengar jawaban Nathan, ia hanya menghela nafas. Biasanya akan ada Oliv yang memaksa dan Nathan menurut tapi Oliv tak ada, putri kecilnya itu sudah aktif kuliah diluar negeri dan hanya akan pulang saat liburan.


"Nathan, bunda ngerasa ada yang aneh sama kamu. Apa tebakan bunda benar nak? Tingkahmu beberapa bulan ini seperti seorang suami yang mengalami sindrom ngidam masa kehamilan istrinya. Padahal kau belum menikah, bunda takut terjadi sesuatu sama kamu nakk" ia mengelus punggung Nathan, menyalurkan rasa khawatir yang amat sangat.


"Nathan ngantuk, mau kekamar" ia menghela nafas, saat putranya memilih untuk pergi daripada menjawab pertanyaannya.


"Ada apa sayang, Nathan berulah lagi?" Mendengar pertanyaan suaminya yang baru saja turun, ia mengangguk.


"Aku takut, mas, coba nanti kalau Nathan sudah lebih baik kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi"


"Bikin ulah apa lagi?" Tanya Gibran, jelas semua orang sudah mengetahui perubahan tak biasa Nathan. Mulai dari makan dalam porsi banyak, menjauhi susu, memanjat pohon mangga, dan membeli alat seni yang sama sekali bukan hobi Nathan.


"Nyonya, ini sisa mangga milik tuan muda, disimpan atau dibuang?" Tanya Bibi seraya membawa dua buah mangga yang belum matang.


"Buang saja bi"


"Manjat pohon mangga lagi?" Tanya Gibran yang langsung diangguki olehnya.