
Oliv termenung didepan pintu, mengusap air matanya. Pandangannya tertuju pada orang yang baru saja ia peluk. Orang itu dulu menyukainya, berusaha mencuri perhatiannya tapi ia acuh. Sekarang pria itu kembali lagi dalam keadaan seperti ini. Keadaan dimana ia memang butuh sosok sandaran.
Punggung Dika menghilang dari balik pintu. Oliv menunduk. Membiarkan air matanya jatuh ke lantai. Oliv menutup pintu halaman samping. Tangisannya belum reda, ia luruh di depan pintu. Terisak, dadanya sesak.
Hingga pagi harinya, terdengar suara heboh di samping dapur. Aurelia berteriak memanggil suaminya, Aurelia terkejut saat melihat tubuh Oliv yang terkapar di depan pintu. Dengan wajah kusut dan pucat.
Aurelia yang baru saja turun dan hendak memasak terkejut saat pelayan menghampirinya dengan tergopoh-gopoh dan wajah panik.
"Apa yang terjadi" Dika yang terlebih dahulu menghampiri, wajahnya terlihat baru saja terbangun.
"Dika siapkan mobil, kita bawa Oliv kerumah sakit" Dika terkejut, ia meneriaki anak buah untuk menyiapkan mobil. Menggendong Oliv tanpa banyak bicara dan membawanya keluar.
"Maafkan aku Oliv, seharusnya aku tidak meninggalkanmu' lirih Dika, ia menyesal telah meninggalkan Oliv didepan pintu semalam. Ternyata gadis itu tidak masuk kedalam kamar.
"Kau berangkat dulu Dika. Urus Oliv. Kita menyusul dibelakang mu" Nathan yang baru saja bangun juga tak kalah terkejutnya. Ia langsung meminta Dika untuk berangkat kerumah sakit terlebih dahulu karena Ax menangis mencari ibunya dan Rafael harus sekolah hari ini.
Dengan segala kekacauan yang terjadi, Nathan terpaksa menunda keberangkatannya ke negara A. Menghubungi Tirta jika ia tidak bisa berangkat pagi ini.
Aurelia sibuk menenangkan Ax. Mengajak bocah itu melakukan hal yang bisa lupa dengan keberadaan ibunya sementara waktu. Untuk urusan memasak kali ini Aurelia menyerahkan seluruhnya kepada pelayan. Tak lupa juga meminta pelayan untuk menyiapkan bekal Rafael dan Dika dirumah sakit nanti.
"Nanti kita antar kak El sekolah ya Ax. Mau?" Aurelia terus membujuk Ax. Bocah itu sudah sedikit lebih tenang.
"El sudah siap ma" Ax menghentikan tangisnya saat mendengar suara Rafael. Bersembunyi dipelukan Aurelia. Aurelia menggeleng. Rafael tersenyum, ia pernah berkata jika ia melihat Ax menangis maka ia tidak akan mau mengajak Ax bermain.
"Tampan sekali anak mama" Aurelia tersenyum, menatap anaknya yang tampan menurun dari papanya
"Ayo berangkat" Nathan muncul sudah menggunakan pakaian kasualnya. Ia tidak memakai pakaian formal karena jadwalnya hari ini hanya menyelesaikan masalah Oliv.
"Ax sama papa dulu, mama mau ambil tas" ucap Aurelia memberikan Ax pada Nathan. Nathan mengambil alih, ia menggendong tubuh Ax yang sebenarnya sudah besar.
"Ax jalan sendiri pa" Ax berusaha turun, lagi-lagi ia malu dilihat oleh Rafael. Pasti nanti Rafael akan mengejeknya manja.
Nathan menurunkan Ax, menggandeng tangan Ax dan Rafael di tangan kanan kirinya.
"Ax tidak sekolah?" Tanya Rafael saat mereka sudah didalam mobil, menunggu Aurelia yang bersiap.
"Ell, nanti kita ke Playground ajak Ax ya" Nathan mengalihkan pembicaraan, agar Ax tidak mengingat Oliv lagi. Karena Ax selalu diantar oleh Oliv untuk sekolah.
"Iya pa" Rafael yang mengerti maksud sang papa mengiyakan. Ia tersenyum dan mengelus bahu Rafael yang murung lagi.
Ax terlelap didalam mobil, Rafael menyangga kepala Ax agar tidak terbentur. Semalam Ax tidak bisa tidur nyenyak dan pagi ini Ax terbangun lebih awal jadi wajar jika ia masih mengantuk.
"Sempit ya sayang? Mau pindah didepan? Biar mama yang pegang Ax" tanya Aurelia saat Rafael memangku kepala Ax yang sudah merebahkan diri di kursi. Sedangkan Rafael duduk di pinggir mepet dengan pintu mobil.
"Tidak ma" Rafael menolak, ia tidak papa harus memegang Ax sampai di sekolah nanti.
"Sebentar lagi sampai sayang" ucap Nathan tersenyum menatap Aurelia dan melihat dua bocah dari kaca yang ada di atas kemudi.
Dan benar, tidak membutuhkan waktu lama, mobil memasuki kawasan sekolah. Sekolah dijaga dengan ketat. Pun orang tua siswa hanya mengantar sampai didepan gerbang. Mereka menurunkan anaknya lalu melenggang begitu saja.
"Maaf pak, mobil pengantar hanya boleh sampai didepan gerbang" Nathan mengangguki ucapan satpam yang bertugas. Ia tidak perlu khawatir. Sekolah ini sudah melalui uji keselamatan dan kenyamanan belajar.
"Sendiri tidak apa sayang?" Aurelia khawatir, bagaimanapun ini lingkungan baru bagi Rafael. Aurelia menoleh ke belakang dimana Rafael terlihat meletakkan kepala Ax dengan hati-hati.
"Tidak apa ma"
Aurelia ikut turun, pun Nathan juga turun. Meskipun menggunakan kacamata hitam, Nathan tetap dikenali. Semua orang tua siswa yang mengantar anak mereka pandangannya tertuju pada mobil Nathan.
"Anak papa hebat, hubungi papa jika terjadi sesuatu" pesan Nathan. Ini sekolah modern, pembelajaran lebih sering menggunakan media online jadi siswa diperkenankan memegang ponsel saat di sekolah jika dibutuhkan.
Rafael melambaikan tangannya setelah menyalami kedua orang tuanya. Sejujurnya Rafael juga takut dengan lingkungan baru ini. Tapi ia tidak boleh manja, sang papa mengajarkan bahwa laki-laki harus mandiri dan pemberani.
Kini Aurelia duduk di belakang. Mengantikan posisi Rafael yang memangku Ax sebelumnya.
"Kasian Ax mas" Aurelia mengusap rambut Ax yang menutupi wajah tampannya.
Hatinya sakit, ia teringat masa lalu. Ia pernah di posisi Ax, menjadi korban dari orang tuanya. Nathan diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Dalam silsilah keluarga besarnya, baru kali ini Nathan menghadapi situasi seperti ini. Ini sungguh diluar kemampuannya. Nathan tidak mengira jika kejahatan Evan sudah sampai sejauh ini. Bahkan pria itu tidak hanya membuat psikis Oliv berantakan, tapi juga membuat psikis Ax yang masih terlampau kecil untuk mengerti keadaan orang dewasa juga berantakan.
Mobil hening, Aurelia sibuk dengan pikirannya. Ia menatap jendela mobil, melihat hiruk pikuk kendaraan yang menyalip mobil mereka. Pun juga pedagang keliling yang menawarkan dagangan mereka ketika lampu lalu lintas menyala merah.
"Apakah bibi Chayra sudah mendengar hal ini mas?" Aurelia teringat dengan orang tua Oliv. Bagaimana reaksi mereka jika mereka melihat anak semata wayangnya dalam keadaan seperti ini.
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah menghubungi ayah. Biarkan ayah yang mengurusnya" jawab Nathan, memang ia lebih memilih untuk mengabari sang ayah untuk menyampaikan berita besar ini. Biarlah sang ayah yang menghadapi banyak pertanyaan penuh kekhawatiran dari mereka. Ayah akan mengatasinya.
Aurelia mengangguk, keputusan Nathan sudah terbaik. Mengingat besarnya rasa sayang mereka pada Oliv, tentunya hal ini akan menimbulkan kekacauan lebih besar. Biarlah ayah yang mengatasi, semua ucapan ayah akan didengarkan oleh semua orang nanti. Mereka tidak akan melakukan tindakan gegabah dengan berlandaskan emosi mereka.