
Nathan.
Rahangnya mengeras, melihat anak serta Aurelia terlihat kurang nyaman dengan kedatangan pria bernama Vino itu. Terlihat jelas kalau Rafael terlihat gelisah, begitupun Aurelia yang meremas tangannya, merapatkan tubuh kearahnya, jelas ada yang tidak beres dengan pria bernama Vino itu. Setelah memastikan Aurelia dan Rafael aman didalam mobil, ia sedikit berjalan menjauh dari mobil, berniat menghubungi asistennya untuk menyelidiki siapa Vino.
"Saya punya tugas untukmu, tolong selidiki pria bernama Vino yang saya temui di loby apartement tadi. Kau bisa melihat wajahnya dari rekaman CCTV" setelah mendapat jawaban dari sang asisten, ia langsung mematikan sambungan teleponnya. Masuk kedalam mobil dan melemparkan senyum kepada dua orang yang ada didalam mobil.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang mereka tumpangi sampai didepan gerbang sekolah dimana Rafael menuntut ilmu.
"Sampai sini saja mas" ia mengernyit saat Aurelia mencegahnya yang hendak mengantar Rafael kedalam.
"Rafael tidak biasa diantar sampai dalam" lanjut Aurelia.
"Tapi itu banyak orang tua yang mengantar anak mereka sampai depan kelas. Rafael mau papa antar kaya teman-teman? Papa antar sampai depan kelas?" Ia sedikit jongkok, bertanya pada Rafael yang diam memperhatikan lalu lalang murid dan orang tua. Rafael terlihat berpikir, dan dalam sekejab mengangguk.
"Maaf ma, Rafael ingin seperti teman-teman" Rafael memeluk kaki Aurelia, berharap sang mama tidak marah.
"Iya, nggak papa sayang. Ayo masuk, bel sudah hampir berbunyi" ia tersenyum saat Aurelia begitu lembut, ia langsung menggendong Rafael. Menarik tangan Aurelia.
"Wahh sama siapa nih Rafaell" ia memasang wajah datar saat ada seorang wanita berpakaian dinas menyapa nereka, sepertinya guru Rafael.
"Sama papa" blushh, senyumannya langsung menguar seketika. Rafael menyebutnya papa? Ah betapa bahagianya ia.
"Ternyata Rafael yang tampan ini adalah faktor keturunan, mama yang cantik dan papa yang tampan" ia hanya tersenyum, begitu juga Aurelia.
"Itu siapa? Papanya Rafael?"
"Iya, tadi aku dengar dari percakapan mereka dengan bu... Rafael menyebutnya papa"
"Tampan ya, tidak heran jika Rafael setampan itu"
"Iya sepertinya juga bukan orang biasa, lihat cara jalan dan berpakaiannya terlihat jelas kalau bukan orang biasa"
"Eh tapi itu papa kandung atau papa baru?"
"Papa baru mungkin, masa iya papa kandung baru muncul setelah sekian lama"
"Mama nya cantik jadi gampang lah cari pria tampan dan kaya"
"Iya mengandalkan fisiknya"
Beberapa bisik-bisik ia dengar, ia merengkuh tubuh Aurelia, meletakkan tangannya dipinggang ramping itu.
"Apa mereka selalu membicarakan orang lain seperti itu?" Tanya nya sedikit menahan kesal.
"Sudah biasa, jangan dihiraukan" jawab Aurelia.
"Mas, tolong lepaskan" bukannya menurut, ia malah merapatkan tubuhnya. Menghimpit tubuh Aurelia dipintu mobil.
"Mass, banyak anak-anak disini. Tidak baik" ah ia lupa, ia langsung melepaskan. Membuka pintu mobil dan mempersilahkan agar Aurelia masuk.
"Saya antar kamu kemana?" Tanyanya saat mobil sudah menjauh dari kawasan sekolah.
"Store" ia menerima alamat yang disodorkan oleh Aurelia, mengangguk dan memutar musik dalam mobil.
"Sejak syndrom kehamilan menyerang saya, saya lebih suka memutar musik didalam mobil. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian saya sebelumnya" ucapnya, meskipun Aurelia tidak bertanya.
"Ini store milikmu?" Tanyanya saat sudah sampai disebuah bangunan dua lantai ditengah kota, bangunan dengan desain menarik, menyerupai sebuah kue.
"Iya" jawab Aurelia seraya melepas sabuk pengaman.
"Saya akan membantumu melepas ini, tidak ada yang lain" ia terkekeh.
"Maaf" ucap Aurelia dengan wajah bersemu. Menggemaskan.
Aurelia.
Masih pagi, ia bahkan sudah merasa malu entah berapa kali dengan pria ini. Ya Nathan, pria itu seolah selalu membuat jantungnya berdebar dan wajah bersemu. Sungguh hal yang sangat tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Terlebih saat Nathan mendekatkan tubuhnya, ia dengan refleks memundurkan tubuh, menjauhkan diri saat terpaan nafas itu menerpa wajahnya.
"Saya akan membantumu melepas ini, tidak ada yang lain" ucapan diiringi kekehan kecil dari bibir tebal itu membuat ia malu bukan kepalang. Bahkan wajahnya entah sudah semerah apa.
Terlebih lagi saat ia hendak turun, Nathan dengan sigap membuka pintu untuknya, menggenggam tangannya hingga sampai didepan pintu store. Maluu, sangat malu karena pegawainya memperhatikan mereka.
"Sa-saya masuk dulu" ia membalikkan badan, tapi gagal. Tangan kokoh itu masih menggenggam erat tangannya.
"Rafael pulang jam berapa?" Tanya Nathan.
"Jam 12" jawabnya menundukkan kepala karena mata elang itu tak berhenti menatapnya.
"Kamu pulang jam berapa?" Tanya Nathan lagi.
"Jam 4 sore" Nathan terlihat mengangguk, lalu melepaskan tangannya.
"Saya pergi dulu" ia mengangguk saat Nathan berpamitan. Tapi entah mendapat keberanian dari mana ia bisa menghentikan langkah pria itu.
"Mas" panggilnya, dan Nathan pun menoleh.
"Hati-hati" ucapnya dan langsung berlalu masuk kedalam store. Merasa malu atas apa yang ia lakukan.
"Wahh kita mau dapet pak bos guyss"
"Bu bos lagi bahagia"
"Ada traktiran nihh kayanya"
Ia semakin malu saat pegawai di store miliknya terlihat meledek dirinya. Ia langsung berlalu, menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Lantai yang khusus untuk ruang kerjanya. Lantai yang di desain lebih seperti rumah minimalis ini sangat nyaman untuknya.
Taoi baru saja ia menyenderkan tubuh dikursi kerja, asisten sekaligus tangan kanannya tergopoh-gopoh memasuki ruangannya.
"Bu, ada seorang ibu-ibu memaksa memborong semua kue. Sedangkan di rumah produksi kue sudah habis, dan persediaan hanya tinggal tersisa di store. Membutuhkan waktu lama jika koki membuat kue baru untuk dijual" Ia memijat pelipisnya saat mendengar ucapan asistennya.
"Kalian tidak menjelaskan jika store tidak menerima pembelian dalam jumlah banyak jika mendadak? Harus pesan dulu kan" ucapnya frustasi. Karena memang ia menerapkan peraturan seperti itu, ia tidak ingin beberapa pelanggan yang selalu membeli setiap hari harus kecewa karena stok tidak ada.
"Sudah bu, tapi katanya anak dan cucu beliau sedang berkumpul. Dan sangat ketagihan dengan kue di store ini. Jadi beliau berniat memborong semua kue"
"Baik, berikan saja. Langsung tutup store dan kalian bisa pulang lebih awal" putusnya, karena ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang. Menghadapi ibu-ibu yang hanya akan menguras emosi tanpa hasil yang maksimal.
"Tapi bu, ini masih terlalu pagi untuk menutup store" benar, bahkan jam baru menunjukkan pukul delapan.
"Hemm, anggap saja hari libur" ia mengangkat tangan kanannya, tak tau harus berbuat apa karena pikirannya terus tertuju pada sikap manis Nathan.
"Baik bu, saya permisi"
Ia memejamkan mata, menetralisir pikiran yang entah kenapa terus tertuju pada sikap Nathan kepada Rafael. Ia bahagia, melihat kerinduan dimata Rafael yang mulai memudar, tapi disisi lain ia juga takut jika Nathan akan memisahkannya dengan Rafael. Tidak. Ia tidak akan bisa hidup tanpa Rafael.