Stay Here Please!

Stay Here Please!
Beberapa rencana



Liburan hari pertama kurang menarik bagi Nathan. Ia mengajak Aurelia kembali ke hotel lebih awal. Kini mereka sudah pindah hotel dengan fasilitas lebih baik dan ada di tengah-tengah kota sehingga dengan mudah menjangkau tempat yang akan mereka kunjungi.


Sebenarnya Nathan kasian dengan Aurelia yang tidak bisa menikmati liburan dengan tenang. Peneror itu membuat hatinya resah. Ia tidak ingin Aurelia tersakiti atau bahkan tergores sedikitpun jadi ia memutuskan untuk sembunyi-sembunyi daripada melawan mereka.


Aurelia terlelap setelah aktivitas mereka. Sedangkan Nathan sibuk dengan laptop nya. Mengurus pekerjaan yang ia tinggalkan. Meskipun ada orang kepercayaannya yang mengurus, tetapi ia tidak boleh lalai. Terlebih perusahaannya sedang diincar oleh beberapa orang, bisa saja mereka mengirim penyusup di kantornya. Yang bisa dilakukan Nathan saat ini hanyalah waspada, sembari menyelidiki hal yang mencurigakan.


Beberapa kali ia terlihat menghubungi seseorang untuk menanyakan mengenai laporan yang mengganjal. Meskipun itu hanya kesalahan dalam pengetikan, ia tetap harus menanyakan agar tidak terjadi kelalaian berikutnya.


"Mass, sudah hampir pagi. Istirahatlah dulu" Aurelia yang terbangun terkejut saat melihat Nathan masih setia memangku laptop dan berkutat dengan beberapa file dokumen. Lebih terkejut lagi saat melihat jam di ponselnya sudah hampir dini hari. Ia sudah terlelap hampir 3 jam tapi Nathan belum juga tidur.


"Sebentar lagi" jawab Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop didepannya. Aurelia bangkit, menutup tubuhnya dengan selimut. Melirik Nathan sekilas lalu melihat ponselnya.


"Kenapa kau malah bangun?" Tanya Nathan menatap Aurelia yang sibuk memperhatikan ponsel.


"Tidak hanya mas yang punya pekerjaan, aku pun punya" jawab Aurelia menantang.


Nathan terkekeh kecil, ia meletakkan dan menutup laptopnya. Merebut ponsel dari tangan Aurelia dan meletakkannya.


"Siapp Bu bos, aku tau istriku ini bukan seorang pengangguran" ucap Nathan menggoda. Kini mereka sudah berbaring dengan posisi berpelukan.


"Bolehkah aku kembali bekerja mas?" Aurelia menatap mata tajam itu dengan mata penuh harap. Menjadi seorang istri dari Nathan Adelard, tentunya ia tidak boleh leha-leha. Ia harus mengimbangi posisi Nathan agar Nathan tidak direndahkan rekan bisnisnya jika mempunyai istri pengangguran. Aurelia ingin jadi wanita mandiri, elegan, dan berkompeten.


"Kerja apa?" Nathan memeluk erat tubuh Aurelia, menenggelamkan wajah Aurelia di dadanya. Mencium rambut wangi Aurelia.


"Melanjutkan bisnis seperti di negara A" Nathan mengangguk, ia akan mengijinkan apapun yang diinginkan Aurelia selama itu tidak membahayakan.


"Aku akan mengurus semuanya, kau hanya perlu menjalankan. Masalah tempat dan apapun yang kau butuhkan biar aku yang mengurusnya" Nathan berucap setelah melihat Aurelia yang terlihat berpikir.


"Bagaimana dengan store ku di negara A mas?" Ah Aurelia baru ingat jika ia beberapa hari ini tidak memantau perkembangan toko kuenya.


"Aku sudah meminta Aruna untuk mengurus ditemani satu orang suruhanku. Toko itu akan tetap berjalan meskipun kau tidak disana" jelas Nathan mulai memejamkan mata. Aurelia menenggelamkan kembali wajahnya didada bidang suaminya itu. Mengangguk. Toko itu adalah saksi perjuangannya mulai dari mengandung Rafael hingga Rafael sebesar ini. Melewati rintangan ramai sepinya pengunjung. Mencoba resep-resep baru dan mendesain kue semenarik mungkin agar konsumen tidak bosan. Serta membangun nama yang terkenal di seluruh negara A. Bahkan banyak turis yang mampir ke toko kue nya.


Ia ingin melanjutkannya disini. Tidak perlu membuat nama baru, ia akan memakai nama yang sama seperti sebelumnya. Bukankah itu juga akan menarik pasar agar diminati konsumen?.


Akhirnya mereka berdua terlelap dalam posisi berpelukan. Perbincangan mereka cukup sampai disitu. Mendapat ijin dari Nathan, bagi Aurelia sudah lebih dari cukup. Ia akan memikirkan apa saja keperluan yang dibutuhkan besok saat mereka sudah pulang dari liburan.


Pintu kamar diketuk. Mereka saling tatap karena mereka tidak merasa memanggil siapapun. Nathan bangkit lebih dulu, ia menyuruh Aurelia tetap ditempat. Ponsel Nathan diberikan kepada Aurelia. Meminta jika terjadi sesuatu yang buruk, biarlah Nathan yang menghadapi. Aurelia hanya cukup menekan nomor anak buah Nathan, meminta bantuan.


Nathan membuka pintu, terlihat satu pelayan hotel mengantarkan satu troli penuh makanan.


"Kau yang memesannya sayang?" Tanya Nathan pada Aurelia. Aurelia menggeleng cepat, ia tidak memesan makanan apapun.


"Mungkin anda salah room" Nathan menolak. Tidak membiarkan pelayan itu masuk.


"Maaf tuan, tapi ini sudah menjadi fasilitas hotel untuk mengantarkan makanan untuk pengunjung" Nathan memicing. Ia menerima troli itu dengan terpaksa, menghalangi pelayan itu yang hendak membawa troli masuk.


Nathan menutup pintu, mendorong troli yang penuh dengan berbagai jenis makanan itu kedalam kamar.


"Jangan dimakan, sepertinya ada yang tidak beres" Aurelia mengangguk. Menatap Nathan yang mencari nama di ponsel untuk melakukan panggilan telepon.


"Ke kamar saya sekarang" hanya itu yang diucapkan Nathan di sambungan telepon. Ia kembali menyerahkan ponselnya ke Aurelia.


Terdengar pintu diketuk kembali. Nathan membukakan pintu. Terlihat dua anak buahnya berdiri di depan pintu.


"Ambil makanan itu dan periksa" titah Nathan membuka pintu lebih lebar mempersilahkan anak buahnya masuk.


"Baik tuan" mereka menundukkan kepalanya, berjalan masuk dan mengambil troli makanan itu.


Mereka membawa sebuah alat kecil yang dapat mendeteksi racun di makanan. Benar dugaan Nathan, layar itu berkedip cepat. Makanan itu mengandung racun mematikan. Nathan mendengus kesal. Menyuruh anak buahnya untuk membawa makanan itu keluar. Dan menyelidiki pelayan yang mengantar makanan sebelumnya.


"Mas, kita pulang aja yuk. Aku takut" tubuh Aurelia bergetar. Lapar bercampur takut membuat tubuhnya gemetaran. Nathan menenangkan Aurelia, memeluk dan meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi mereka tetap harus berhati-hati.


"Hal seperti ini biasa dalam dunia bisnis. Mereka melakukan segala cara untuk mendapat kekuasaan. Kita hanya perlu berhati-hati dalam melakukan hal apapun. Memeriksa sekecil apapun hal yang terlihat mencurigakan" ucap Nathan.


"Kita pulang hari ini jika kau menginginkannya. Aku akan mengganti liburan di waktu lain jika keadaan benar-benar aman" keselamatan mereka lebih penting. Aurelia mengangguk cepat. Ia ingin segera pulang dan hidup dengan tenang. Masalah liburan yang gagal ia tidak memikirkan itu semua, mereka bisa melakukan liburan setiap waktu jika keadaan memang aman.


"Aku mau kamu" Nathan tersenyum nakal. Ia mulai menyerang Aurelia. Aurelia hanya pasrah, karna ia pun menikmati kegiatan ini.


Mereka benar-benar pulang hari ini. Setelah kegiatan panas itu, Aurelia mengemasi barang-barangnya. Nathan pun membersihkan diri kemudian bersiap.