Stay Here Please!

Stay Here Please!
Lomba melukis



Nathan


Disaat ia tengah memikirkan anaknya, tiba-tiba sang keponakan (Anak Oliv) duduk di pangkuannya.


"Buat apa boys?" Tanyanya pada bocah berumur dua tahun itu yang sibuk merakit mainan. Tapi tak ada jawaban, seolah kepribadian Oliv yang ceria sama sekali tak menurun pada bocah itu.


"Kesini sama siapa?" Tanyanya lagi.


"Supir" jawab bocah itu, bernama Axelle Evano.


"Apa kau rindu paman?" Tanyanya menggoda.


"Tidak"


"Lalu mengapa kau kesini?" Ia pura-pura kesal.


"Aku hampir lupa, ajari aku menggunakan komputer pamann" ia melongo mendengar permintaan Axelle. Meskipun masih berumur dua tahun, tapi Axelle sudah pandai berbicara meskipun ada beberapa huruf yang masih belum lancar pengucapannya.


"Kenapa kau tidak meminta belajar sama ayahmu?" Tanyanya heran.


"Ayah belum mengijinkanku, begitu juga bunda. Makanya aku meminta paman" jawab Axelle


"Boyss, jika ayah dan bundamu belum mengijinkan maka paman pun sama dengan mereka"


"Ayolah paman, biar aku bisa bermain ps atau melacak sesuatu yang biasa ayah lakukan"


"Belum saatnya, suatu saat pasti ayah maupun paman akan mengajarimu" nasehatnya


"Paman menyebalkan" Axelle mengerucutkan bibirnya.


"Lain kali kalau mau kesini suruh bibi untuk menghubungi paman, paman akan menjemputmu" nasehatnya, tapi Rafael sama sekali tak berniat menanggapi.


"Boyss kau mendengar ucapan paman?"


"Ya" ia menghela nafas saat mendengar jawaban singkat dari bibir mungil itu.


Aurelia


Ia bangga, terharu, dan tak tahu harus berkata apa. Setelah masa kelam, masa dimana ia hampir saja mengakhiri hidupnya kini sudah digantikan oleh kebahagiaan yang meluap-luap.  Bahkan ia tak henti-hentinya mengucap syukur atas apa yang tuhan berikan. Putra tampan dengan segudang prestasi diusia dini.


"Papa pasti bangga lihat Rafael bisa menang" tak lupa ia menyelipkan sosok pria itu ditengah kebahagiaan sang putra. Berharap Rafael tidak melupakan sosok pria yang menjadi alasan adanya Rafael didunia.


"Papa? Aku hampir lupa jika aku mempunyai papa" ucapan Rafael yang terdengar dingin sangat menusuk hatinya. Akibat kesibukannya ia belum sempat mempertemukan dua sosok berbeda usia itu, hingga Rafael hampir saja melupakan kehadiran papa.


"Rafael, nggak boleh gitu. Papa kerja buat kita loh" nasehatnya.


"Kerja buat kita? Apa papa pernah ngirim uang untuk mama?"


"Nothing, bahkan Rafael nggak pernah lihat wajah papa"


Ia tak bisa berkata-kata. Ini juga kesalahannya karena ia sibuk memperbaiki diri hingga melupakan jika Rafael membutuhkan figur seorang papa.


"Besok kita ketemu papa ya El" ucap om Tirta membuat ia menatap tajam pada om Tirta.


"Nggak usah kasih janji sama Rafael mas, kasian Rafael kalau mas nggak bisa nepatin" tegur Aruuna yang ternyata mengerti kegelisahannya.


"Hemm" jawab Rafael, entah menurun dari siapa sifat dingin dan acuh Rafael. Ia bahkan berpikir apa Rafael menurun sifat Nathan? Ah ia lupa jika memang ada darah Nathan yang mengalir ditubuh Rafael.


"Maaf ya kak, nggak bisa bantuin jaga Sellsy" Selsy adalah anak om Tirta dan Aruuna. Bayi cantik itu baru berusia 16 bulan.


"Iya nggak papa Lia, hati-hati yaa. Semoga menang. Semangat El" jawab Aruuna memberi semangat untuk mereka.


"Pengumuman pemenangnya langsung hari ini juga?" Om Tirta menimpali.


"Iya sayang, katanya sih karena salah satu pengucur dana masih disini jadi bisa memberi kado untuk para pemenang gitu. Soalnya beliau dari negara kalian dulu, kan jauh banget tuh kalo harus bolak-balik hanya untuk memberi hadiah" jelas Aruuna seraya menimang Selsy.


"Wahh, bagus dong. Yang semangat ya El kalau nanti waktu presentasi lukisan, nggak boleh gugup. Hadiahnya lumayan besar" seloroh Om Tirta antusias.


"Bukan hanya lumayan mas, tapi besar" timpal Aruuna.


"Ma, ayo berangkat" ia mengangguk, berpamitan pada Om Tirta dan Aruuna.


Sesampainya disana sudah terlihat ramai peserta maupun penonton. Yang memang didominasi oleh orang dewasa, dan hanya terhitung beberapa anak yang beberapa tahun diatas Rafael. Dan Rafael disini adalah peserta termuda.


"Saingannya orang dewasa semua sayang, jangan kendor. Tetep semangat" bisiknya pada Rafael.


Ia mendudukkan diri dikursi, berbaur dengan penonton lainnya. Ia menatap Rafael yang duduk jauh dari tempatnya, berkumpul dengan peserta lainnya.


"Good morning, i'am Nathan Adelard...." ia sontak mendongakkan kepala saat telinganya menangkap suara yang cukup keras saat memperkenalkan diri. Tiba-tiba tubuhnya melemas, ia langsung menundukkan kepala dan berniat mengirim pesan untuk Om Tirta.


"Om, papa Rafael ada disini. Memberi sambutan sebagai pengucur dana terbesar" tulisnya pada pesan yang dikirimkan. Ia memang menyebut Nathan dengan sebutan *papa Rafael*, rasanya aneh jika ia menyebut nama pria itu.


Tak membutuhkan waktu lama, ponselnya kembali berdering tanda jika om Tirta sudah membalas pesannya.


"Jangan menghindar lagi, ingat jika Rafael membutuhkan figur seorang papa. Jangan sampai Rafael melupakan sosok itu, bagaimanapun Nathan berhak atas Rafael. Ini waktu yang terbaik untuk mempertemukan mereka" ia meneguk ludahnya dengan kasar saat membaca rentetan kata yang tersusun dalam balasan pesan Om Tirta.


Saat ia sibuk dengan pemikirannya, ternyata Rafael sudah naik kedalam panggung. Melakukan presentasi guna menjelaskan setiap goresan yang terkandung dalam lukisan. Ia tersenyum.


Tibalah dimana sekarang adalah sesi pengumuman. Semua terlihat menegang, mengharapkan idola mereka menang dalam kompetesi ini. Ia pun begitu, sesekali ia tersenyum memberi semangat untuk Rafael yang berdiri jauh didepannya.


"First prize for best painter, Rafael Narendra Adelard." Suara tepuk tangan riuh diiringi sorot lampu yang mengarah dimana Rafael berjalan menuju panggung membuat ia tanpa sadar menitikkan air mata.


"Papa melihatmu nakk, papa ada disini" gumamnya.


"Thankyou for mama and come back soon papa. We are waiting for you" ia tersenyum saat Rafael menyelipkan ucapan untuk Nathan. Bahkan ia melihat dengan jelas wajah Nathan yang terlihat terharu atas ucapan Rafael meskipun pria itu belum mengetahui siapa Rafael sebenarnya.


Tepat disore hari akhirnya serangkaian acara pun selesai, ia tidak langsung mengajak pulang Rafael, melainkan menunggu di loby.


"Nunggu siapa ma?" Entah sudah pertanyaan ke berapa yang dilontarkan oleh Rafael.


"Sebentar sayang" ia menoleh kanan kiri, berharap pria yang ia tunggu muncul dihadapannya.


"Nah itu" ia menarik tangan Rafael, berjalan dengan langkah terburu-buru hingga membuat Rafael terseok-seok mengikuti langkahnya.


"Ma, pelan-pelan" gerutu Rafael.


"Maaf ya sayang, tapi sedikit cepat ya jalannya" ia mengendurkan sedikit langkahnya, tapi masih dalam ritme yang cepat. Ia tidak ingin kesempatan ini terbuang sia-sia. Karena entah kapan ia bisa bertemu sosok itu.