
Nathan
Ia memasuki store itu. Begitu menapakkan kakinya, harum khas kue menyeruak dalam indra penciumannya. Ia melangkah lebih dalam, melewati beberapa lemari berbahan kaca yang digunakan untuk menjajarkan kue.
Menaiki tangga, satu persatu. Sembari matanya terus menatap sekeliling bangunan itu.
"Aureliaa" sampailah ia dilantai dua. Lantai yang sudah didesain lebih seperti rumah minimalis. Terdapat sofa dan sebuah kamar yang sepertinya digunakan untuk tidur.
"Sebentar mas, saya ambilkan dulu" ia mengangguk, mendudukkan diri disofa seraya matanya terus memperhatikan sekeliling ruangan.
"Rafael mana kok nggak ikut kesini?" Ia menoleh, menatap Aurelia dengan senyum terkembang.
"Aaaa" ia terkejut saat mendengar teriakan Aurelia, langsung merentangkan tangan untuk menangkap Aurelia yang jatuh karena tersandung karpet. Sejenak tatapan mereka saling terkunci, menyelami pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Bahkan jantungnya terpompa dengan cepat, merasa sesuatu baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada wanita manapun.
"Maaf" Aurelia berdiri, dan ia langsung melepaskan tangannya. Suasana menjadi canggung, bahkan ia sampai menggaruk tengkuknya.
"Ikut kekantor yuk, store udah tutup kan?" Ucapnya menghilangkan kecanggungan.
"Nggak mas, saya disini saja. Lagi banyak pekerjaan" ia mengangguk lalu berdiri untuk turun kebawah. Tapi ia kembali membalikkan badan, menghadap Aurelia yang mengernyit heran.
"Tadi Rafael terkena masalah di sekolah, saya memutuskan untuk memindahkan Rafael ke sekolah lain yang lebih tegas dan terbaik" ia menangkap keterkejutan dari mata cantik itu.
"Masalah apa? Terus bagaimana keadaan Rafael? Masalah sama siapa? Rafael nggak pernah buat masalah mas. Dan ini sampai pindah? Ada apa?" Rentetan pertanyaan Aurelia membuat ia kewalahan, dan gadis cantik itu bahkan sudah menitikkan air mata.
"Husstt, cuma masalah kecil dan bukan seutuhnya kesalahan Rafael" ia mengusap lengan Aurelia, menyalurkan kekuatan.
"Tapi kenapa harus sampai pindah?" Tanya Aurelia merasa belum puas akan jawabannya.
"Guru-guru disana menahan Rafael karena Rafael siswa berprestasi, bukan karena hal lain. Mereka hanya mementingkan reputasi sekolah daripada kenyamanan dan keamanan siswanya. Saya sudah memerintahkan asisten saya untuk mencari sekolah terbaik disini" jelasnya lebih detail.
"Tapi mas, beberapa hari lagi ulangan semester. Kasian Rafael kalau harus mengulang ditempat baru" jawab Aurelia membuat ia terdiam.
"Rafael akan sekolah dirumah. Saya akan mencarikan guru privat terbaik. Yang penting Rafael tidak kesekolah itu, keamanan Rafael lebih utama" jawabnya.
"Setelah ulangan selesai dan kenaikan kelas, Rafael akan masuk kesekolah baru" lanjutnya sedangkan Aurelia hanya diam.
"Saya harus pergi, tutup pintu luar setelah saya keluar. Takut ada orang asing masuk. Kasian juga Rafael nunggu didalam mobil" pamitnya dan melambaikan tangan kearah Aurelia yang terlihat menganggukkan kepalanya.
"Nanti saya jemput jam 4 sore" teriaknya dari lantai bawah.
Begitu ia masuk mobil, ia tersenyum. Meletakkan paper bag berisi baju ganti Rafael dijok belakang.
"Kenapa lama?" Ia menoleh kearah Rafael saat bibir mungil itu bertanya padanya.
"Jangan cerita tentang masalah tadi sama mama, El nggak mau mama sedih" ia menghela nafas, menghadap Rafael yang menatap jendela mobil.
"Boyss, masalah sekecil apapun itu mama harus tahu, begitu juga papa. Nggak boleh memendam masalah, ungkapin masalahnya dan kita cari jalan keluar sama-sama" ucapnya dan mengelus rambut lebat Rafael.
"El nggak mau mama sedih" ia tersenyum mendengar ketakutan Rafael.
"Papa sudah bicara sama mama, mama nggak akan sedih lagi. Sekarang buktikan sama mama kalau El kuat, kalau El nggak sedih karena masalah itu. El paham?" Begitu El mengangguk, ia tersenyum. Mengubah posisi duduknya menghadap depan lalu menyalakan mobil.
"Ponsel" ucap Rafael menyodorkan ponsel kearahnya.
"Pakai saja, mau main game juga boleh" ucapnya.
"Nggak mau, mama bilang masih kecil nggak boleh main game di ponsel" ia tersenyum, begitu perhatiannya Aurelia untuk Rafael.
"Nggak papa, mama bilang gitu karena mama takut El kecanduan. Papa ngijinin tapi tetap dalam batas waktu dan dalam pengawasan papa" jawabnya, Rafael terdiam lalu mengangguk dan menyalakan ponselnya.
"Nggak jadi main game?" Tanyanya yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Rafael.
"Sejak kapan Rafael suka melukis?" Tanyanya lagi, sedangkan Rafael terlihat berpikir lalu mengedikkan kedua bahu.
"Papa punya banyak alat melukis dinegara X. Nggak pernah papa gunakan karena papa sibuk diperusahaan" ucapnya dan menoleh sekilas kearah Rafael yang melepas airpods lalu mematikan putaran video.
"Kenapa membeli kalau tidak digunakan?" Ia tersenyum saat Rafael berkomentar.
"Tujuh tahun yang lalu papa sangat ingin membeli peralatan seni, entah melukis, memahat atau apapun itu. Hingga papa mempunyai satu ruangan khusus yang papa gunakan untuk menyimpan semua peralatan itu, tapi sampai sekarang papa tidak pernah menggunakannya, hanya sesekali masuk untuk mengecek" jelasnya panjang lebar, sedangkan Rafael terlihat mengangguk.
"Nanti kalau El mau kesana, semua itu buat El" ucapnya lagi dan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus presdir. El terdiam, sama sekali tak menanggapi ucapannya.
"Ayo turun"
"El mau ganti baju" ucap Rafael membuat ia mengangguk.
"Kita keruangan papa, nanti ganti baju disana" ucapnya dan langsung menggendong Rafael.
"El bisa jalan sendiri" ia terkekeh mendnegar gerutuan Rafael tapi ia sama sekali tak berniat menurunkan.
"Kenapa ramai?" Ucap El dan membuang pandangan dari para karyawan yang memperhatikan mereka.
"Sekarang jam istirahat dan wajar jika karyawan keluar untuk membeli makanan." Jelasnya dan El terlihat mengangguk.
Senyum terus terkembang dibibirnya, berjalan dengan santai dan sesekali melirik Rafael yang sedang memperhatikan sekitar.
"Ganteng bangett"
"Kayaknya aku lahirnya kecepetan"
"Untung masih kecil, kalau udah besar pasti sudah aku bungkus"
"Hot daddy"
El terlihat tidak nyaman saat karyawan bisik-bisik membicarakan mereka.
"Nggak usah didengarkan" ucapnya dan membawa El masuk kedalam lift.
"Pak, anak siapa?" Ia tertawa saat melihat keterkejutan asistennya.
"Anak saya" jawabnya dan langsung masuk kedalam ruangannya. Sedangkan asistennya terlihat berpikir dan menggaruk kepala.
"Ganti baju disana" ucapnya lalu menunjuk satu kamar yang ada diruangannya.
"Setelah itu kita makan siang diluar" lanjutnya.
"Makan siang disini saja" ucap El dan menutup pintu kamar.
Duduk dikursi kerja, membuka beberapa dokumen yang baru saja diantarkan oleh asistennya. Ia sibuk, bahkan sampai tak menyadari jika Rafael menatapnya sedari tadi.
"Bosan" ia mendongak, tersenyum kearah Rafael dan meletakkan bolpoinnya.
"Sebentar lagi makanan datang, setelah makan siang El boleh tidur dikamar itu, atau main apapun itu" ucapnya dan tersenyum saat El mengangguk atas ucapannya.
"Nanti pukul 2 papa ada rapat dibawah, mau ikut atau disini saja?" tanyanya.