
Aurelia
Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Satu minggu ini ia sangat menikmati profesinya yang baru. Tapi selama itu juga ia membersihkan ruangan yang hanya disinggahi beberapa jam saja oleh seorang pria paruh baya. Sama sekali jauh dipikirannya, ternyata presdir ditempatnya bekerja bukanlah pria itu.
Tapi ia pun masih bingung, banyak yang mengatakan jika pria paruh baya yang satu minggu ini menempati ruangan itu adalah presdir sebelumnya. Dan sekarang presdir baru adalah seorang pria muda, tampan, tegas, tapi juga dingin sikapnya.
Ini adalah minggu kedua ia bekerja, dengan bersenandung ria karena kantor pun terlihat masih sepi. Ia sengaja, bukan punya niat terselubung. Hanya saja ia lebih menikmati pekerjaan dan tidak terburu-buru.
Perlahan tapi pasti, ia mendekat kearah gitar yang tergeletak diujung sofa ruang presdir. Ia masih ingat dengan jelas saat Yesi, sekertaris presdir berpesan padanya.
"Kau boleh menggunakan gitar itu jika kau bisa tapi setelah selesai tolong kembalikan ketempat semula. Jangan sampai pak bos menanyakan keberadaan gitar itu" ia mengangguk saat itu, mengiyakan pesan sang sekertaris. Ia dan Yesi memang sudah mengenal baik, Yesi adalah pribadi yang menyenangkan meskipun pakaian yang digunakan terliihat kurang nyaman dimatanya.
"Pinjam ya pak, satu lagu saja" ia terkekeh sendiri mendengar ucapannya. Sudah jelas diruangan ini tidak ada siapapun, tapi ia masih saja ijin.
Ia membawa gitar itu keluar, tidak mungkin memainkannya diruang presdir. Mendudukkan diri dikursi yang biasanya ditempati oleh Yesi, ia mulai memposisikan gitar dengan benar dan nyaman di pelukan.
Jreng jreng jreng
Ia mematik senar demi senar, mengetes apakah kemampuannya memainkan gitar masih berjalan. Nyatanya memang kemampuan tidak akan hilang.
Ia sesekali menganggukkan kepala saat dirasa irama sudah pas. Bibirnya pun tak kuasa untuk selalu diam, tanpa sadar ia menyanyikan lagu favoritnya setelah orang tua nya pisah.
Bertaut ~ Nadin Amizah.
.......
Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Hingga lirik terakhir ia menyusut mata, entah kenapa lagu ini membuat matanya berair dengan sendirinya.
Hingga suara mengejutkan mampu membuat dirinya langsung berdiri dan membalikkan badan.
"Ehemm" deheman berat seorang pria.
Ia membalikkan badan, menatap seorang pria dengan kaos bewarna hitam dan celana pendek hitam. Terlihat lebih santai, bahkan rambutnya yang sedikit acak membuatnya terlihat seperti artis yang selalu ia tirukan dance nya.
"P-pak" ya, itu adalah presdir. Ia sering melihatnya, termasuk juga didalam ruangan yang ia selalu bersihkan terdapat nama dan foto pria ini.
Nathan.
Ia berdehem, tentu saja membuat gadis itu melonjak dan hampir menjatuhkan gitar miliknya. Tapi untung, tangan gadis itu dengan sigap menangkapnya kembali.
"Belajar gitar dimana?" Tanyanya, tak kuasa menahan pertanyaan tersebut yang kelihatannya memang bukan urusannya. Tapi ia tetaplah ia, ia akan mencari tahu apa saja yang menjadi titik penasarannya.
"Saya?" Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya. Ia hanya mengangkat kedua alis.
"Saya pernah mengikuti kelas musik waktu SMA" ia terlihat mengangguk saat mendengar jawaban gadis itu, pantas saja permainan gitarnya sangat rapi.
Ia berjalan mendekat, sedangkan gadis itu menatap pias padanya. Terlihat sangat ketakutan, apakah ia semenakutkan itu? Batinnya bertanya-tanya.
"Sini" ia mengulurkan tangan kanannya, mencoba meminta gitar tersebut tapi gadis itu malah memeluk gitar dengan erat.
"An-anda mau apa?" Gugup gadis itu memundurkan langkahnya.
"Saya mau bermain gitar, sini gitarnya" geramnya.
"Eh eh iya ini pak" jawab gadis itu dengan gugup dan menyodorkan gitar kearahnya.
Ia meraih gitar itu, mendudukkan tubuhnya dikursi Yesi. Kursi dimana gadis itu sebelumnya duduk. Mulai memantik senar gitar, menarik satu persatu dengan irama indah.
"Siapa yang mengijinkanmu memainkan gitar saya?" Tanyanya dengan penasaran.
"Ye-eh bu Yesi" jawab gadis itu dengan terbata. Terlihat sangat gugup karena ia cukup memberikan tatapan mengintimidasi.
Ia mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut, mulai membuat melodi indah hingga menyuarakan intro sebuah lagu.
"Sa-saya permisi pak"
Aurelia.
Ia gugup dan takut bercampur jadi satu. Bagaimana bisa ia ketahuan bermain gitar dikantor. Apalagi ini gitar pemilik perusahaan, bodoh. Ia benar-benar bodoh. Sekarang ia tak tahu harus apa, hanya diam membeku dan memeluk gitar saat melihat pria itu semakin mendekat kearahnya.
"Sini" ia semakin takut saat pria itu berbicara, terlebih lagi dengan tatapan mata tajam dan tangan kanan terulur. Ia semakin memeluk gitar dengan erat, memundurkan langkahnya hingga menabrak tembok dibelakangnya. Pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Bahkan ia mulai melafalkan doa.
"Saya mau bermain gitar, sini gitarnya" seolah hilang begitu saja, ia bahkan menghembuskan nafas lega.
"Eh eh iya pak" ucapnya merasa salah tingkah.
"Siapa yang mengijinkanmu memainkan gitar saya?" Bagai beban yang sebelumnya diangkat kini kembali menghujam hatinya. Bahkan ia mulai mengeluarkan keringat dingin, memanjatkan doa berkali-kali agar Yesi tidak terseret dengan masalah gitar ini.
"Ye-Bu Yesi" jawabnya dengan gugup. Sedikit lega karena pria itu hanya mengangguk, tidak menghubungi Yesi dan memarahi sekertarisnya seperti yang ia bayangkan.
Ia mulai bingung, mengapa ia berdiri disini seperti orang bodoh? Ia langsung berpamitan.
"Sa-saya permisi pak" pamitnya, karena ia merasa tidak sopan jika ia harus melenggang begitu saja tanpa berpamitan.
Tak ada jawaban, pria didepannya yang menjabat sebagai presdir tersebut sibuk dengan melodi indah yang diciptakan tangan kokoh itu.
Ia berjalan dengan cepat, meraih alat kebersihannya dan berjalan untuk kekuar dari lantai mencekam ini. Tapi langkahnya terhenti, ia sayup-sayup mendengar suara merdu dengan lagu cinta yang menusuk hati. Ia menoleh kebelakang lagi, menatap pria yang ternyata pemilik suara berat tapi merdu itu.
-------
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
'Ku harus milikimu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta, kau tak cinta
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
(Risalah hati ~ Dewa 19 )
Ia segera menghilang dibalik dinding lift sebelum presdir melihat kehadirannya yang dengan lancang mendengar lantunan suara indah itu. Meskipun presdir kemungkinan besar tidak bisa melihatnya karema ia berada dibalik dinding. Bahkan kakinya sampai kebas karena terlalu lama berdiri bersandar dinding.
Ia menghela nafas lega saat sudah sampai dilantai dasar, kini ia hanya tinggal bersantai karena ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sembari menunggu Vivi dipantry.
"Rajin amat neng Lia" sapa seorang satpam yang memang sudah mengenalnya dengan baik.
"Iya pak, biar tidak terburu-buru" jawabnya dengan sopan.
"Pak presdir hari ini sudah kekantor, jadi neng Lia siap-siap kalo sewaktu-waktu dipanggil keruangan beliau" ia hanya mengangguk, satpam satu ini memang sudah tahu jika ia bekerja dilantai itu.
"Liaa, ke pantry yuk" ajak Vivi yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.
"Yukk, saya pamit dulu ya pak" pamitnya pada satpam.
"Monggo neng monggo (silahkan neng silahkan)" balas satpam dengam ramah.
"Eh tadi heboh tau" ucap Vivi dibelakang punggungnya karena ia sibuk menyeduh teh hangat.
"Kenapa?" Tanyanya singkat.
"Kau belum bertemu pak Nathan? Presdir itu, yang tampan itu ih. Masa kamu lupa" gerutu Vivi melihat keacuhannya.
"Ingett, tadi aku juga bertemu diatas" jawabnya snatai, tapi tidak dengan Vivi yang langsung membelalakkan matanya.