
IT'S YOU diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Sezairi Sezali
...****************...
Aurelia
"Ba-bagaimana jika Lia hamil?" Ia menunduk dalam-dalam.
"Sudah pasti, kalian melakukan bukan hanya sekali dan tidak menggunakan pengaman" ia terkulai lemas saat Om Tirta menjawab pertanyaannya dengan tegas.
"Om akan menjadi ayah dari anak itu, menemanimu melewati masa kehamilan" ia menangis dipelukan Om Tirta malam itu.
Hingga beberapa minggu kemudian ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, ada beberapa bagian yang terlihat lebih menonjol dan berisi. Bahkan ia juga lupa kapan ia terakhir kali mendapat tamu bulanan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk periksa. Dan detik itu juga, perkataan dokter membuatnya benar-benar terkulai lemas, tak berdaya.
"Mbahh, Lia hamil" ia memeluk mbah saat sudah sampai di apartement. Menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib kurang beruntungnya.
"Jangan jadikan anak itu korban, anak itu tidak berdosa. Mbah dan Om mu akan menemani masa sulit Lia" ucapan mbah membuat ia sedikit lebih tenang, meskipun belum sepenuhnya ia bisa menerima anak tak berdosa ini.
Melewati masa hamil dengan ditemani Om Tirta, mulai dari periksa rutin hingga olahraga ibu hamil. Tapi ia beruntung, tak merasakan morning sickness atau ngidam aneh yang biasa dialami oleh kebanyakan ibu hamil.
Ia sudah mulai menerima kehamilan ini, perutnya sudah terlihat membuncit karena usia janin sudah menginjak bulan ke enam.
"Lia jalan-jalan yuk" ia mengangguk dengan penuh antusias saat Om Tirta mengajak mengelilingi kota malam itu. Membeli camilan, hingga akhirnya mampir ke minimarket untuk membeli air mineral dingin. Tapi naas, matanya menangkap sosok yang ia hindari baru saja turun dari mobil. Dengan cepat, ia membalikkan badan. Merapatkan tubuh dengan Om Tirta.
"Ada apa?" Tanya Om Tirta merasakan kegelisahannya.
"Tidak apa, hanya dingin" Om Tirta terlihat mempercayai ucapannya dan langsung memeluk erat tubuhnya.
"Mau mampir kemana lagi?" Tanya Om Tirta saat mereka sudah keluar dari minimarket.
"Langsung ke apartement saja" ia gusar saat sekelebat pandangannya menangkap jika pria itu mengadari kehadirannya, bahkan mengejarnya.
"Om lebih cepat jalannya, Lia kebelet" ia menarik tangan Om Tirta, ingin segera menghilang agar pria itu kehilangan jejaknya.
"Lia ada apa" Om Tirta mengajaknya bersembunyi dibalik dinding tinggi, jelas Om Tirta mencurigai tingkahnya.
"Hiks hiks, pria itu" jujur lebih baik pikirnya,
"Pria itu ada disini?" Tanya om Tirta dan ia hanya menganggukkan kepalanya.
Tirta
Ia disibukkan oleh beberapa kegiatan yang menguras tenaga. Bekerja jauh dikeluarga menjadi pilihannya saat Mbak Gita (mama Lia) dengan tegas mengusir kehadirannya dirumah mbah. Jelas ia bukan pemuda lemah, ia langsung pergi begitu saja. Dan berjanji akan menjemput mbah saat sukses nanti. Tapi mendengar bahwa mbak Gita bercerai membuat ia berpikir bagaimana nasib Aurelia, gadis cantik yang sayangnya adalah keponakannya sendiri.
Saat ia akan membawa Lia dan mbah keluar negeri, mbak Gita melarangnya.
"Laki-laki lemah kaya kamu nggak mungkin bisa mencukupi kebutuhan Lia dan ibu, jangan bawa mereka. Biarkan mereka disini" itu menjadi ucapan terakhir mbak Gita saat ia menghubungi, meminta ijin membawa Lia.
"Lia, mau ikut om?" Ia memutuskan bertanya pada Lia langsung, setidaknya mbak Gita akan mengijinkan jika Lia bersedia.
Hingga saat ia sibuk dengan setumpuk dokumen, ponselnya berdering dengan nyaringnya. Menampilkan nama yang hampir ia lupakan kehadirannya.
"Ya, Lia?"
Jelas sedang berada dalam masalah besar. Lia yang selalu menolak tawarannya untuk hidup menetap di negara ini kini dengan tiba-tiba mengabarinya sudah berada di bandara. Hendak terbang menuju negara ini.
Dan lagi, ia terkejut mendengar permintaan tak biasa Lia, menghilangkan jejak? Sungguh hal yang sangat menimbulkan pertanyaan besar. Sebenarnya apa yang terjadi.
Hingga sesampainya di apartement, ia langsung mencecar banyak pertanyaan untuk keponakan cantiknya itu. Menghakimi bak seolah tersangka. Lelah dan emosi melebur menjadi satu, ditambah kabar tak mengenakkan. Ia bahkan ingin sekali menghancurkan apapun disekelilingnya jika ibu tak menenangkannya.
Beruntung ia memiliki teman ahli IT, tanpa berpikir panjang. Ia langsung menghubungi temannya dan meminta bantuan untuk menghapus jejak Lia, baik di negara sebelumnya atau di negara ini. Tak ingin pria itu menemukan keberadaan keponakannya. Biarlah pria itu menikmati penyesalannya sendirian, tapi ia juga tak akan melarang jika dimasa depan pria itu muncul dan membawa Lia dan anaknya. Itu haknya, pria itu lebih berhak daripada dirinya.
Enam bulan sudah, perut Lia juga terlihat membuncit, membuktikan jika benar-benar ada malaikat kecil didalam perut itu. Ia juga menemani masa kehamilan Lia, meskipun Lia sama sekali tak merepotkan. Seolah anak itu tau jika ibunya berkuang seorang diri.
Gaji sudah diterimanya, ia berniat mengajak Lia berkeliling kota malam ini. Tapi keputusannya salah, disaat ia singgah diminimarket, sekelebat bayangan membuat Lia kelimpungan. Gelisah, gusar, takut, hingga ia memutuskan untuk memeluk Lia. Memberi rengkuhan. Meskipun ia tahu jika Lia berdalih kedinginan hanya untuk membuatnya tidak khawatir.
"Om, bagaimana kalau pak Nathan menemukan Lia?" Jelas ketakutan terbesar Lia adalah bertemu pria itu, pria yang bernama Nathan.
"Sampai kapan terus menghindar? Suatu saat kalian pasti juga akan bertemu, anak ini butuh sosok ayah kandung" nasehatnya, memeluk Lia yang masih nangis tergugu.
"Setidaknya biarlah anak ini lahir terlebih dahulu om, Lia belum siap jika bertemu sekarang" baiklah ia setuju, lagipula hal yang dipaksakan tidak akan baik kedepannya.
"Ayo pulang"
Sesampainya di apartement dan memastikan Lia aman, ia langsung keluar. Berkeliling di sekitar apartement.
"Sorry" ia membalikkan badan saat pria yang ia tunggu menepuk bahunya, ia tersenyum sekilas. Bahkan nyaris tak terlihat.
"Sorry I'm presumptuous, I saw you walking with a girl with shoulder-length hair at the convenience store. Is that your lover? (Maaf saya lancang, saya melihat anda berjalan bersama seorang gadis rambut sebahu di minimarket. Apa itu kekasihmu?)"
"Apakah dia yang anda maksut?" Pria tersebut terlihat terkejut saat Ia menunjuk seorang gadis yang sama persis dengan Aurelia jika dilihat dari belakang. Dan itu kekasihnya, Aruna. Beruntung enam bulan yang lalu ia sempat membawa Aurelia ke salon, membuat rambut Aurelia berbeda dengan rambut Aurelia yang lama. Dan ternyata model rambut Aurelia yang baru sama dengan model rambut kekasihnya.
"Arunaa" ia berteriak, memanggil sosok gadis yang terlihat mengantri sebuah jajanan. Dan Aruna tersenyum lalu melambaikan tangan kearahnya. Beruntung ia sempat menghubungi Aruna dan meminta kekasihnya itu untuk bertemu. Jadi pria didepannya terlihat sangat percaya dengan ucapannya.
"Tunggu sebentar sayang" teriak Aruna.
"Itu kekasih saya"
"Oh maaf, saya kira kekasih anda adalah orang yang selama ini saya cari, sekali lagi saya mohon maaf atas kekeliruan ini"
"It's okay" ia menangkap sedikit keterkejutan dimata pria itu, pria yang paling dihindari oleh Aurelia. Saat ia menjawab menggunakan bahasa indonesia.
Nathan.
Bayangan gadis rambut sebahu memenuhi rongga hatinya, mirip. Bahkan kakinya langsung melangkah tanpa sadar mengikuti gadis itu. Gadis yang menurutnya adalah gadis yang ia cari selama ini. Tapi bersama seorang pria? Dengan posisi berpelukan? Apa yang ia lihat benar gadis itu? Apa orang lain?.
"Kakk, ngelamun terus. Ada apa?"