Stay Here Please!

Stay Here Please!
Rafael di rumah.



Yang dilakukan Rafael dirumah adalah membaca buku di perpustakaan pribadi sang papa. Tentunya Rafael sudah mendapat ijin kemarin. Ia bebas mengeksplor rumah ini. Melakukan hal sesuka hatinya. Tapi sebelum memasuki ruangan penuh buku ini, Rafael menghubungi sang papa untuk meminta ijin. Papanya mengiyakan.


Rafael duduk di sofa yang ada di ruangan itu, ruangan ini besar, banyak rak buku yang tentunya penuh buku. Tidak semua buku bisa ia baca. Dari banyaknya rak dan lorong-lorong yang ia lewati, Rafael menemukan satu rak buku yang isinya buku-buku sesuai umurnya. Rak ini berisi berbagai macam buku pelajaran. Entah untuk apa sang papa mengoleksi buku ini.


Tapi buku yang tidak asing di matanya itu ternyata berisi semua materi yang sudah ia kuasai. Rafael bosan, ia mengambil acak buku bisnis sang papa. Meskipun bahasa dalam buku yang ia baca sedikit berat, ia tetap memahaminya.


"Serumit ini" Rafael mengernyit, buku tebal bersampul kuning ini memuat trik-trik bisnis yang sulit dicerna Rafael.


Meskipun buku yang di pegang Rafael kali ini cukup rumit untuk bocah seusianya, tapi Rafael tetap membacanya. Bahkan lebih serius daripada membaca buku-buku pelajaran yang ia ambil sebelumnya.


Ia tertarik, ia memang ingin menjadi pelukis terkenal, mempunyai karya-karya yang indah, menggelar pameran setiap tahunnya. Tapi mau tidak mau di masa depan tentu ia akan mengurus bisnis sang papa. Meskipun ia menginginkan seorang adik, tetapi yang ia inginkan adalah seorang adik perempuan, dan ia tentu tidak akan mengijinkan jika adiknya terjun ke dunia bisnis yang tidak semulus yang dibayangkan oleh mereka diluaran sana, kejamnya dunia bisnis akan membahayakan adik perempuannya nanti. Ia sebagai kakak laki-laki akan menjaga dan memasang diri di garda paling depan untuk menjaga keluarganya.


Saat Rafael sibuk membaca buku itu hampir setengah halaman, terdengar pintu ruangan diketuk. Ia berdiri, meletakkan buku kembali di tempatnya lalu melangkah membuka pintu.


"Ada mobil box diluar tuan muda" ucapan pelayan itu membuat Rafael mengernyit tapi ia tetap mengangguk. Mengikuti langkah pelayan ke pintu utama. Terlihat mobil box dan dua orang didalam mobil itu.


"Selamat sore tuan muda, kami mengantarkan peralatan sekolah" jelas salah satu dari dua orang itu.


"Selamat sore, turunkan disini saja. Nanti biar pelayan saja yang membawa kedalam" jawab Rafael, ia mengangguk ramah tapi tetap dengan wajah datar. Ia tetap waspada, tidak membiarkan sembarang orang masuk kedalam rumah. Biarlah nanti pelayan yang membawanya kedalam. Toh tidak akan banyak pikirnya.


Rafael terkejut saat mobil box itu dibuka. Isinya banyak kardus yang tersegel rapi. Rafael mendekat, melihat kardus itu lebih jelas.


Salah satu kardus besar bertuliskan merk tas internasional, kemudian satu kardus lainnya bertuliskan merk sepatu internasional yang tak kalah mahalnya, ia kembali menelisik beberapa kardus.


"Ini semuanya?" Tanya Rafael saat pintu mobil box ditutup kembali. Dua petugas yang mengantar itu saling pandang, mereka mengangguk bersamaan.


"Untuk apa sebanyak ini" gumam Rafael bingung.


"Kami hanya bertugas mengantarkan saja tuan muda, sesuai pesanan tuan Nathan" salah satu petugas menjawab. Rafael mengangguk. Ia akan menanyakan pada sang papa nantinya.


Sedangkan di kantor Aurelia mulai bosan menunggu Nathan yang tak kunjung selesai. Aurelia hendak melihat kantin kantor, berniat mengirim kue buatannya mulai besok. Tetapi ia harus melihat kondisi kantin terlebih dahulu.


"Jangan kemana-mana, aku akan mencarimu disana nanti" pesan Nathan sebelum Aurelia keluar dari ruang kerjanya.


Aurelia menyusuri lorong, tersenyum saat beberapa karyawan mengangguk menyapanya. Kantin berada di lantai dua, ruangan ini luas. Di desain seperti restoran mewah tetapi dengan banyak macam makanan yang dijajarkan. Dan karyawan boleh mengambil makanan sepuasnya tanpa membayar. Mereka di fasilitasi.


Jam kerja sudah selesai sejak lima menit yang lalu. Kantin juga mulai dipenuhi karyawan yang hendak membungkus makanan. Aurelia memperhatikan satu persatu makanan disini, tersenyum ramah saat beberapa karyawan tersenyum padanya tetapi juga ada yang berbisik-bisik membicarakannya.


"Dia siapa?" Bisik salah satu karyawan.


"Sstt, istri pak Nathan" temannya menimpali.


"Oh ya? Kapan nikahnya?"


"Wahh ternyata artikel wartawan itu benar? Kukira bualan mereka saja"


"Iya, kukira juga begitu tapi tadi pagi sempat terjadi keributan katanya. Pak Nathan marah besar di meja resepsionis"


"Benar, jika terjadi masalah pun pasti anak buahnya yang turun tangan"


"Karna dua resepsionis itu membuat istri pak Nathan menunggu sampai tertidur didepan meja resepsionis"


"Mereka tidak mengijinkan istri pak Nathan masuk?"


"Iya, karna mereka tidak tahu jika beliau istri pak Nathan karena beliau tidak mengatakan identitasnya"


"Resepsionis pun tidak salah sebenarnya karena mereka hanya waspada, mengingat banyak wanita yang mengaku-ngaku dan berujung menjadi masalah akhirnya."


"Iya kita memang tidak bisa menyalahkan resepsionis, mereka hanya menjalankan tugas"


"Tapi kasian kalau sampe mereka dapat hukuman"


"Ku dengar tidak, dari yang ku dengar mereka malah mendapat apresiasi karena menjalankan tugas dengan baik"


"Oh ya? Tapi aneh jika pak Nathan yang memberikan apresiasi itu jika sebelumnya pak Nathan marah besar"


"Istrinya yang memberikan apresiasi"


"Wahhh, benarkah?"


"Ya, ku dengar seperti itu"


Aurelia yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar obrolan mereka. Aurelia tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. Dengan cepatnya gosip itu menyebar luas hampir seluruh pegawai di kantor.


Aurelia melihat di tengah deretan penjejer makanan itu ada satu space kosong. Aurelia melihat banner diatasnya. Sepertinya juga penjual kue.


"Maaf pak, siapa pemilik tempat ini?" Meskipun mereka disini hanya bekerja, tetapi setiap space yang diberikan untuk menjejerkan makanan yang berbeda ada penanggung jawab tersendiri. Setiap space terdiri dua sampe tiga orang yang melayani karyawan.


"Semua milik pak Nathan neng, tidak ada yang mempunyai tempat sendiri disini. Semuanya bekerja. Kami dibayar setiap bulannya" ya, Aurelia mengerti, tapi yang ia tanyakan siapa penanggung jawab space ini.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Aurelia menoleh, ia tersenyum pada resepsionis yang melayaninya tadi pagi.


"Biasanya space ini digunakan untuk berbagai macam kue Bu, tapi sejak pemasok kue langganan perusahaan sudah tutup, pak Nathan tidak memasok kue lagi dari toko lain. Banyak yang berminat memasok kue di kantor ini tapi pak Nathan menolak dengan alasan pak Nathan tidak ada waktu memikirkan hal sepele seperti ini" jelas resepsionis, Aurelia mengernyit.


"Mari duduk Bu" resepsionis itu menyodorkan satu gelas jus. Aurelia menerima, mengucapkan terima kasih dan duduk di kursi yang berderet rapi.


"Kue apa yang dijajarkan disini?" Tanya Aurelia setelah meminum sedikit jusnya.


"Tidak banyak bu, hanya donat-donat klasik dan berbagai macam kue yang biasa dijual di pasaran saja" jelas resepsionis itu.


Aurelia mengangguk paham.


"Sayang, ayo pulang" mereka mendongak bersamaan.