
Aurelia
Semua tiba-tiba, terjadi seolah dunia tak mengabarinya. Ia terkejut, hanya diam mematung dengan sesekali menatap mata elang itu. Ia tahu, ketulusan Nathan sangat terlihat jelas. Tapi kemunculannya lalu membawanya ke apartement dan mengajaknya menikah jelas diluar nalarnya. Tentu ia tak akan gegabah, bagaimana pun ada sosok Rafael ditengah-tengah mereka. Ia tak akan mengambil keputusan sepihak selama Rafael belum menerima papa nya, tidak akan. Kebahagiaan Rafael tentu lebih utama.
"Maaf, saya harus pulang" ia berniat berlari dari situasi ini, memikirkan dengan matang atas tawaran Nathan.
"Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku" nyatanya pergi tak semudah yang ia pikirkan, baru saja ia hendak bangkit tangannya sudha dicekal kembali oleh Nathan.
"Pak, Rafael pasti menunggu saya" elaknya mengalihkan perhatian Nathan
"Saya bukan atasanmu lagi, berhenti memanggil saya bapak." gerutu Nathan dan ia hanya mengangguk.
"Baik tuan, saya harus kembali" gagal lagi, tangannya digenggam erat oleh tangan kokoh itu.
"Kenapa kau malah memanggilku tuan?" Gerutu Nathan dengan wajah kesal.
"Lalu saya harus memanggil apa? Bukankah tidak sopan jika saya harus memanggil hanya nama?" Jawabnya.
"Panggil Mas"
"Baik" patuhnya dan ingin segera pergi.
"Bagaimana dengan tawaran saya?" Ulang Nathan.
"Maaf, saya butuh waktu" sergahnya.
"Apa kau memiliki kekasih?" Ia melotot, tak pernah terbesit keinginan untuk memiliki kekasih.
"Tidak. Tolong biarkan saya kembali"
"Tunggu sebentar, saya harus ganti baju dulu" ia mengangguk, menyenderkan tubuhnya di sofa dan mengecek ponselnya.
Nathan.
Jelas ia tak bercanda, ia benar-benar serius dengan tawarannya. Ia ingin menebus kesalahannya, memberikan hidup yang layak untuk Aurelia dan anaknya. Tapi lagi-lagi ia harus bersabar, mungkin ia harus berjuang lagi untuk mendapatkan hati Aurelia dan anaknya. Tapi jelas fokus utamanya adalah Rafael, bagaimana bocah itu bisa menerimanya.
"Ayo" ia sudah berganti baju, terlihat lebih santai dari sebelumnya.
"Rafael sekolah dimana?" Tanyanya, ingin memulai mengenal Rafael.
"Anda bisa menanyakan sendiri mas, sekalian pendekatan" Jawab Aurelia seraya menatapnya sekilas. Ia mengangguk, menurutnya jawaban yang diberikan Aurelia cukup membantunya.
"Tunggu, kelihatannya ramai. Ada tamu?" Ia menarik tangan Aurelia yang hendak keluar lift.
"Tidak, itu keluarga om saya."
"Kamu tinggal satu apartement dengan om mu?" Tanyanya dengan dahi mengernyit.
"Mamaaa" pekikan suara membuyarkan obrolannya dengan Aurelia. Aurelia langsung melepas tangannya, berlari lalu memeluk Rafael yang berdiri didepan pintu.
"Mas, ayo masuk" ia mengangguk saat Aurelia mengajaknya masuk. Tapi ia masih terdiam, menatap sendu pada Rafael yang masih memasang benteng untuknya.
"Siapa Lia?" Tanya seorang pria yang baru saja muncul dari dalam apartement.
"Oh anda pak Nathan, silahkan masuk" ia sempat tertegun, mencoba mengingat siapa pria itu. Ia pernah melihat, dimana?.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tentu ia tak bisa membiarkan rasa penasaran menguar memenuhi hatinya.
"Ya, malam itu. Ketika anda melihat saya berjalan bersama Aurelia dimini market 7 tahun yang lalu" ia mencoba mengingat, mengernyitkan dahi untuk membangkitkan ingatannya. Dan damned, ingatannya kangsung tertuju pada gadis rambut sebahu.
"Tapi anda bilang itu kekasih anda?" Tanyanya ingin tahu.
"Saya akan menjelaskannya didalam, mari masuk" ajak pria itu, entah siapa namanya ia pun belum mengenalnya.
"Ayah, mengapa mengajak pria itu masuk?" Ia menoleh kearah Rafael yang masih berdiri didepan pintu. Menatap dnegan pandangan sendu dan hati yang tercabik-cabik karena penolakan secara nyata.
"Rafael, itu papa. Bukan orang asing, jadi boleh masuk" pria itu menasehati Rafael. Sedangkan Rafael hanya memutar bola mata lalu melenggang masuk.
"Ayah?" Ia masih penasaran mengapa Rafael memanggil pria itu dengan sebutan ayah.
"Ah maaf, saya merepotkan anda karena kesalahan saya" ia menunduk malu.
"Semua sudah berlalu, mari masuk. Sekalian makan malam, istri saya sudah memasak" ia mengangguk, mengikuti langkah pria itu.
"Duduk dulu mas" ia menuruti ucapan Aurelia, mendudukkan diri disofa yang tepat berada disamping Rafael yang sedang melukis diselembar kertas.
"Menggambar apa?" Tanyanya memulai percakapan dengan Rafael. Tapi hening, Rafael tak menanggapinya.
"Besok sekolah?" Tanyanya lagi.
Hening, sama sekali tak ada jawaban.
"Rafael, ditanya berarti harus dijawab" tegur pria itu.
"Ya" meskipun singkat, ia tetap tersenyum.
"Mohon maaf pak, bagaimana jika Aurelia dan Rafael tinggal di apartement saya?"
"Panggil Tirta saja, kita seumuran" ia mengangguk.
"Sebaiknya jangan, kalian belum menikah. Menghindari hal yang tidak diinginkan" ia menunduk, jelas kepercayaan akan sulit didapat karena ia sudah membuat kesalahan besar.
"Bagaimana dengan apartement baru? Aurelia dan Rafael akan tinggal disana tanpa saya" ucapnya.
"Haduhh bakal sepi dong, sebaiknya disini saja pak Nathan. Kami tidak merasa keberatan, anda bisa berkunjung kesini jika ingin bertemu Aurelia dan Rafael" ia menoleh kearah sumber suara. Menatap seorang wanita yang menggendong bayi.
"Itu istri saya, gadis yang saya perkenalkan malam itu. Masih ingat?" Ia memutar ingatannya, dan sedetik kemudian ia mengangguk.
"Aruna?" Tanyanya memastikan.
"Ya betul"
"El besok dijemput papa ya, ayah ada urusan. Mama kamu kan harus ke Store. Bagaimana pak Nathan, tidak keberatan kan?" Ucapan Tirta membuat ia mengangguk setuju, jelas ia sudah tahu jika Tirta mencoba mendekatkan Rafael dengan dirinya.
"Rafael bisa naik taksi" ketus Rafael.
"Tidak aman" sergah Tirta cepat.
"El sekolah dimana?" Tanyanya dan tersenyum kearah Rafael.
"Di ...." ia tersenyum saat Rafael bersedia menjawab pertanyaannya meskipun dengan singkat. Tak apa, bukankah awal yang baik?.
"Wah dekat dengan kantor papa, besok papa jemput ya. Sekalian kita mampir dulu kekantor papa" ia menjawab dengan antusias.
"Terserah" ia tetap tersenyum meskipun Rafael masih saja ketus terhadapnya.
Hari sudah larut, malam semakin gelap. Ia langsung berpamitan, tak baik jika bertamu terlalu malam bukan? Meskipun ia nyaris tak rela berpisah dengan Rafael.
"Rafael, tidur di apartement papa yuk" tawarannya tentu tak membuahkan hal manis, Rafael bahkan dengan tegas menolak.
"Maaf sudah merepotkan" ucapnya.
"Tidak apa mas, pamit sama Rafael dulu ya" ia mengangguk, berjalan mengikuti langkah Aurelia untuk menuju kamar Rafael.
"Rafael" ia mendekat dimana Rafel sedang belajar disebuah meja yang ada didekat ranjang. Ia mengelus rambut Rafael, tak ada penolakan. Rafael menerima setiap sentuhannya. Sedikit beban terangkat dari hatinya.
"Papa pulang dulu ya, kalau butuh sesuatu langsung hubungi papa." Ucapnya tapi Rafael tak menjawab.
"Rafael pegang ponsel?" Tanyanya lagi
"No" singkat, tapi ia tetap tersenyum.
"Kalau begitu pinjam ponsel mama untuk menghubungi papa ya, nanti papa minta mama untuk menyimpan nomor papa." Lagi-lagi tak ada jawaban.
"Papa mau pamit, papa bangga sama El. See you besok jagoan papa" ia mengusap pucuk kepala Rafael, melambaikan tangan dan berlalu keluar.
"Maafkan sikap Rafael ya, saya akan membantu sebisa saya" ia tersenyum menanggapi ucapan Aurelia