Single Parent

Single Parent
63.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


Suasana di mobil begitu memilukan. Annisa terus saja memeluk kepala Zidan yang berbaring di pangkuan nya. Dia masih saja menepuk pelan pipi suami nya itu supaya tidak tertidur. Asyifa menangis sedari tadi di jok belakang. Begitu pula dengan Amier.


Setiba nya di Rumah Sakit mereka langsung membawa Zidan yang sudah tidak sadarkan diri itu ke UGD.


Semua keluarga berada di depan ruangan. Asyifa menangis dengan memeluk Bunda nya. Amier juga ikut menangis sesenggukan di pelukan sang Nenek. Annisa sudah tidak menangis seperti tadi namun air mata nya sesekali menetes.


Sudah lebih dari satu jam Zidan di dalam dan suara pintu yang terbuka membuyarkan pikiran mereka masing-masing.


Annisa maju lebih dulu dan menanyakan hal yang umum. Dokter menghembuskan nafas lelah dan menggeleng kan kepala nya. Annisa seketika tidak bisa menopang tubuh nya dan akan membentur lantai yang keras bila saja Azka tidak menangkap nya. Suara tangis mulai menggema lagi. Kemudian Annisa sudah tidak sadarkan diri.


"Lebih baik kita doa'kan saja pak Zidan. Tubuh nya tidak lagi mau menerima obat-obatan yang masuk, bahagia kan dia" final dokter menyarankan. Dan setelah mengatakan hal itu dia berlalu pergi.


"Hiks...hiks... Ayah" tangis Asyifa pilu.


💢💢💢💢


"Mas,,,, jangan tinggalkan aku,,, mas,,,,maaaassss!!!" teriak Annisa ketika dia membuka mata nya.


"Nis...kamu nggak apa-apa?" tanya Vita khawatir.


"Mas Zidan Vit, mas Zidan aku ingin ketemu sama dia!" Annisa mencopot jarum infus nya dengan paksa membuat darah segar mengalir dari bekas nya.


"Tenang Nis, tenang, oke aku antar kamu ke ruangan Zidan" ucap Vita.


Mereka pun beranjak ke ruangan Zidan. Semua sudah berada di sana dan Zidan juga sudah membuka matanya.


"Mas Zidan... hiks...hiks..." lirih Annisa setelah melihat kelopak mata suaminya itu terbuka.


Dia menghampiri dan berhambur memeluk nya. Sudah tidak ada tangis di ruangan tersebut hanya Annisa saja yang menangis namun raut wajah mereka begitu penuh duka.


"Ayah jangan tidur lagi, Bunda takut kalau Ayah nggak bangun" ucap nya di sela tangis.


Tangan Zidan terulur mengusap jilbab yang di kenakan sang istri.


"Bunda jangan khawatir, Ayah akan selalu di hati Bunda dan selalu di samping kalian" ucap nya lirih.


Bukan kelegaan yang tercipta namun tangisan lirih lah yang tercipta di ruangan itu.


"Ayah boleh minta satu nggak sama Bunda" ucap Zidan lirih.


Seketika Annisa mengurai pelukan nya dan menatap lekat wajah suaminya dengan mata yang basah. Zidan tersenyum.


"Boleh kan Ayah menjadi imam buat Bunda untuk sholat Ashar ini?, bantu Ayah ambil wudhu Bun" ucap Zidan dan senyuman masih saja melekat di bibir pucat nya.


Meskipun Annisa tidak ingin mengabulkan permohonan sang suami mengingat dia baru saja sadar dan dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Namun dia mengangguk saja dengan deraian air mata.


Zidan menyuruh keluarga mereka keluar dari ruangan dan menyisakan sang istri dan kedua anaknya.


Setelah mengambil wudhu, Annisa membentangkan sajadah untuk mereka sholat.


Zidan mengimami mereka seperti biasa nya. Seperti tidak ada rasa sakit yang dia derita dan dengan suara merdu nya dia membaca surah tanpa beban seperti biasanya.


Setelah menyelesaikan sholat nya dan saling mencium tangan tak lupa Zidan mencium kening istri dan kedua anaknya.


"Bun Ayah boleh kan berbaring di pangkuan Bunda?" pinta Zidan tanpa kata dia mengangguk setuju.


Zidan membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri dan Annisa mengusap kepala suami nya dengan sayang. Menggenggam tangan nya erat.


"Bun, Ayah lelah Ayah mau istirahat " ucap nya dan mendapat anggukan dari Annisa dengan air mata yang mengalir.


"Tuntun Ayah Bun" ucap nya lagi.


Dengan sesegukan Annisa menuntun sang suami untuk menghadap sang ilahi. Meski dia tidak rela namun ini yang terbaik suami nya itu sudah sangat lama menderita dengan penyakitnya. Dia harus ikhlas.


Genggaman Zidan melemah dan detik itu juga dia sudah berpulang. Suara tangis Asyifa dan Amier menggema dan membuat keluarga yang berada di luar pun masuk.


Mereka langsung menangis melihat anak, adik, dan teman nya itu sudah tidak bernyawa. Annisa tidak menangis lagi hanya tatapan kosong saja yang ada di mata nya.


💢💢💢💢


Pemakaman berjalan lancar, meski tangis dan duka menyelimuti keluarga mereka namun mereka sadar hal itu tidak lah membuat Zidan kembali.


Annisa masih terdiam tak mau bicara tak ada air mata meski mata nya bengkak karena menangis lama. Dia duduk saja di atas tempat tidur dan memeluk foto sang suami.


Tidak ada makanan yang dapat masuk ke dalam mulutnya. Dia selalu menolak apapun yang di berikan. Kehilangan satu kata yang mengubah segalanya. Dari status, kehidupan, kebahagiaan, dan juga cinta.


Vita sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia sudah geram dengan nya.


"Mau kamu apa Nis?! kamu nggak kasian pada anak-anak mu yang butuh kamu! kamu nggak kasian melihat mereka harus melihat kamu seperti mayat hidup seperti ini?!" ujar Vita kesal.


"Kamu lihat mereka?" ucap Vita membalikkan badan Annisa untuk melihat putra dan putri nya di ambang pintu.


"Kamu sudah dua hari tidak makan, kamu mau lihat mereka kehilangan kamu juga?!, kamu nggak boleh egois kamu pikir hanya kamu yang kehilangan?, aku...aku yang kenal lebih lama dari kamu,apa kamu tidak melihat keluarga nya apa lagi Tante Risma yang melahirkan nya. Apa kamu pikir kita tidak sedih?, ingat yah Nis, Zidan sudah terkubur di dalam tanah dia sudah bahagia di sana kamu nggak boleh egois kamu itu masih punya kita. Punya kedua anak kamu!" ujar Vita panjang lebar.


"Meskipun kamu seperti ini selama nya hal itu tidak akan mengubah apapun, ingat itu" geram Vita dan berlalu pergi. Dia mengusap puncak kepala Asyifa dan Amier dan memberi isyarat untuk mendekat pada Bunda nya itu.


Mereka menghampiri sang Bunda dan memeluk nya. Tangis Annisa seketika pecah dan mulai sadar atas kebodohannya.


💢💢💢💢


Malam harinya Asyifa merenung di kursi taman dia memandangi sebuah kotak di depannya itu. Dia menarik nafas nya dalam dan menghembuskan nya pelan.


Dia mengambil dan membuka nya.


Tulisan terakhir dari sang Ayah membuat nya menangis kembali.


*Putri Ayah tersayang, selamat atas kerja keras mu dan menjadi lulusan terbaik.


Jangan menangis nak, kamu anak Ayah yang kuat, Kamu harus jaga Bunda yah.


Ayah sangat amat sangat menyayangi kamu, kejar lah mimpi mu jangan sampai putus karena ketidak ada nya Ayah di samping kamu sayang.


Maafin Ayah karena tidak bisa mendampingi kamu sampai dewasa dan melihat kamu menikah dan mempunyai anak.


Selalu menyayangi Bunda dan nurut sama Bunda oke.


Ayah sayang kamu cantik*.


Ada hadiah di balik kertas itu, dia mengambil dan menangis lebih pilu lagi.


Sebuah hijab yang cantik menjadi kado terakhir dan terindah dari sang Ayah untuk putri nya.


😭😭😭😭😭😭 MEWEK DEH....


TETAP SEMANGAT LIKE COMMENT VOTE NYA YAH MAN-TEMAN.


MASIH ADA CHAPTER SELANJUTNYA TUNGGUIN YAH AUTHOR NYA MAU AMBIL TISU DULU.