
Pagi ini adalah hari terakhir untuk liburan, dan mereka pun berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tapi ada wajah yang tak suka dengan kata pulang itu,dia terus saja cemberut dan tak mau beranjak dari tempat tidur.
"Hufftt....Bunda, memang nya kita nggak bisa lebih lama lagi liburan nya Bun?" ucap Asyifa cemberut.
"Sayang, kamu tahu kan Bunda harus ngurus Restoran, nanti kalau kelamaan kerja Bunda jadi terbengkalai dong, kamu ngertiin Bunda yah" jelas Annisa memberikan pengertian.
Asyifa tetap saja cemberut dan melipat kedua tangannya di atas perut nya.
Setelah berkemas, Annisa dan Asyifa keluar dari kamar dan berkumpul di ruang keluarga.
"Semua sudah siap?" tanya Zidan pada semua dan mereka mengangguk mengiyakan.
Sesaat mereka keluar, ponsel Annisa berdering nyaring, dan membuat yang lainnya menoleh kepada nya.
Annisa menatap nomer yang di kenali nya, meski pun sudah sangat lama, namun dia sangat hapal nomer siapa itu.
Dia mengernyitkan keningnya dan menatap lekat nomer itu membuat semua orang terheran dengan dia.
Dia menatap mereka dan menunjukan ponsel nya, dia bertanya siapa yang memberi tahu nomer baru nya itu, dan tak ada yang mengaku.
"Nomer siapa itu Nis?" tanya Vita ingin tahu.
" C10H16 ? Siapa itu Nis?" tanya Zidan setelah melihat siapa penelpon Annisa.
"Adamantane Yah" jawab Asyifa yang mendengar ucapan Zidan.
Seketika mereka memandang ke arah Asyifa.
"Kenapa,kok lihatin Asyifa nya begitu?" tanya Asyifa heran.
Vita mulai paham dengan jawaban Asyifa, dia terkekeh dan memandang Annisa.
"Angkat ajah Nis,kali penting" saut Vita.
Zidan masih saja bingung dengan pembicaraan mereka, dia menatap Vita minta penjelasan.
"Itu Adit, mantannya Annisa, gitu doang nggak paham, kalah kamu sama Asyifa yang masih bocah" ledek Vita.
Zidan menggaruk tengkuknya, dan cengar-cengir saja. " Memang aku nggak paham" batinnya
Berkali-kali ponsel Annisa berdering, dan saat deringan ke empat, dia mengangkat nya, menempel kan benda pipih itu di dekat telinganya.
Dia mendengar suara kelegaan dari seberang telepon nya.
"Mau apa kamu?" tanya Annisa dingin.
"Nis, tolong aku Nis, tolong Bian Nis, dia masuk Rumah Sakit" ucap Aditya khawatir.
Annisa mengernyitkan dahi nya tak paham.
"Maksud nya apa?" tanya Annisa masih dengan nada yang dingin.
"Bian masuk Rumah Sakit karena ingin bertemu dengan Asyifa, dia demam tinggi sampai sekarang dia masih belum sadar Nis" kata Aditya, yang terdengar menangis.
Menangis?, Aditya menangis?, di dalam hati yang paling dalam dia masih merasakan sakit hati, kenapa harus anak nya Yasmin yang mendapat air mata nya.
Tapi rasa sakit itu hilang mengingat perlakuan nya, biarkan saja dia di bilang orang yang tak mau memaafkan kesalahan orang yang telah menyakiti nya, tapi memang itu kenyataan nya.
Annisa tersadar dari lamunannya saat Aditya memanggil namanya dari seberang sana.
"Tolong Nis, izinkan Asyifa menemui Bian, aku mohon" ucap Aditya memohon.
Dia mengalihkan pandangan ke semua orang yang ada di situ.
Zidan melihat ekspresi wajah Annisa dengan heran, wajah nya terlihat khawatir, apa yang membuat pujaan hati nya itu di buat khawatir seperti itu?, apa yang Aditya katakan padanya?.
Ingin sekali dia mengatakan hal itu,tapi ini bukan saat nya untuk menanyakan hal semacam ini.
Annisa mengakhiri panggilan nya dan beralih ke Ibu nya,dia meminta saran pada orang yang di sayangi nya itu.
"Bu, tadi Aditya telepon, dia meminta izin untuk bisa mempertemukan Asyifa dengan Bian, sekarang dia sedang di Rumah Sakit. Aku harus bagaimana Bu?" tanya Annisa pada Ibu nya.
Sang Ibu jadi bingung, sebenarnya ini adalah hal yang bisa di putuskan oleh Annisa sendiri, karena dia lah yang jauh lebih tahu apa yang harus dia lakukan.
"Jadi bagaimana menurut Ibu?" tanya Annisa lagi.
"Sebenarnya,hal ini adalah hal yang harus kamu putuskan sendiri nak, kalau menurut Ibu, lebih baik kamu pertemukan mereka, karena bagaimana pun Asyifa adalah kakak nya dan itu tidak bisa di pungkiri" jawab Ibu.
" Jangan melihat kejahatan orang tua nya nak, jangan juga melarang kakak dan adik itu bertemu, bagaimana pun mereka adalah saudara" lanjutnya.
Annisa terlihat terdiam melihat putri nya dan berfikir, apakah dia egois dengan berperilaku seperti ini?.
💢💢💢💢
Aditya dan Yasmin menunggu di depan ruangan Bian, Yasmin sudah menangis sedari tadi.
Kondisi Bian bertambah buruk, dia sedang dalam penanganan dokter saat ini.
Dan tak lama Annisa dan Asyifa datang, dan jangan lupakan Zidan yang selalu menemani mereka, begitu juga dengan Ibu Annisa.
Aditya yang melihat kedatangan mereka pun langsung menghampiri, dengan bahagia dia menyambut, tapi tidak dengan mereka yang berekspresi biasa saja.
Yasmin bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka juga, meskipun dia orang yang angkuh, tapi dia tetap saja meminta bantuan pada Annisa untuk membiarkan Asyifa menemui putra nya.
Biarlah dia di anggap tidak tahu malu, yang terpenting sekarang ini kesembuhan Bian adalah prioritas utama.
Setelah hampir setengah jam mereka menunggu, akhirnya dokter keluar.
"Bagaimana Dok?" tanya Aditya dan Yasmin hampir bersamaan.
"Maaf pak apakah kakak dari pasien Bian sudah datang?, dia sedari kami masuk selalu memanggil Kakak nya pak" tanya Dokter balik.
Aditya memandang Annisa meminta persetujuan. Annisa mengangguk meskipun dengan kaku.
Aditya menggenggam tangan kecil putri nya masuk ke dalam ruangan itu, di dalam hati nya, dia merasa hangat, putri nya sekarang bisa dia genggam.
Asyifa hanya menurut saja. Setelah di beri pengertian oleh Annisa dia sebenarnya tidak mau,tapi tentu saja ada Zidan yang menenangkan kan dia, dan juga memberi pengertian pada nya, Asyifa seperti tersihir dengan apa yang di ucapkan oleh Zidan, dia mengangguk saja menyetujui.
Annisa sebenarnya ingin menanyakan sihir apa yang di berikan oleh Zidan, tapi hal ini bukan lah saat yang tepat, dia cemburu melihat putrinya lebih menurut perkataan Zidan atau bisa di bilang calon suami nya.
💢💢💢💢
Asyifa masuk ke dalam ruangan itu, bau obat yang menyengat menyambut indera penciuman Asyifa, di sana dia melihat Bian dengan selang infus tangannya.
Dia melihat nya kasian, bocah ini yang waktu itu selalu mengejar nya, tapi sekarang harus terbaring di ranjang pesakitan nya dengan wajah yang pucat.
Dia menghampiri Bian, dan memegang lengan nya. Dia menatap lekat wajah itu.
"Bian, bangun nak, katanya mau ketemu kakak?, ini kakak sudah datang menemui Bian" ucap Aditya sedih.
MENGINGAT KAN KEMBALI, JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE DAN COMMENT YAH MAN-TEMAN 😊 VOTE NYA JUGA JANGAN LUPA 😅😅