Single Parent

Single Parent
23.



Zidan melajukan mobilnya dengan puas, meskipun seperti dugaan nya, tapi pengakuan nya sedikit membuat dia iba, entah dia yang terlalu baik, atau entah lah dia juga tidak tahu, yang dia tahu seorang ibu akan melakukan apapun untuk membuat anaknya bahagia.


🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️


"Aku melakukan nya karena kasian sama dia, aku hanya ingin anakku bahagia itu saja tidak lebih?, apa aku salah" jelas wanita itu yang tidak lain adalah Ibu dari Yasmin.


"Jadi dia terlibat dalam kecelakaan ini?" tanya Zidan mengernyitkan dahi nya.


"Tidak, dia tidak terlibat ini salah saya, saya lah yang akan tanggung jawab" jawab nya cepat.


"Oh, tapi bukan berarti tidak ada motif nya kan?" tanya Zidan sinis.


"I..itu, sa...saya melihat anak saya bertengkar dengan suami nya karena Annisa" jawab nya tergagap.


"Saya hanya memberi nya pelajaran, ta...tapi, saya tidak menyangka akan berakibat seperti ini" lanjut nya.


"Dan anda telah membuat Annisa terbaring di ranjang Rumah Sakit" ucap Zidan dingin.


"Anda melakukan apapun demi anak mu, tapi anda tidak memikirkan anak nya Annisa, apabila Annisa tidak sadar, apa anda tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada psikologis nya?, anda tidak memikirkan jika Annisa tidak sadar mungkin saja dia akan jadi anak piatu, apa anda tidak memikirkan jika anak anda yang mengalami hal ini dan cucu anda dalam kondisi yang Asyifa rasakan" geram Zidan.


"Dan juga bukan kah Asyifa juga termasuk cucu anda" lanjut nya.


"Maaf kan saya, saya tidak bermaksud seperti itu, tolong jangan sakiti dia saya mohon" mohon nya dengan uraian air mata.


Zidan sedikit tidak tega, tapi hal ini tidak bisa di biarkan. Mungkin saja hal ini akan terulang kembali.


"Baiklah, saya tidak akan menyentuh dia, tapi jika dia menyentuh sedikit saja, bahkan seujung kuku Annisa ataupun Asyifa saja, saya tidak akan tinggal diam" ancam Zidan.


"Terima kasih, terima kasih banyak tuan" ucap nya dan berlutut memohon.


"Sudah lah jangan berlutut seperti itu, anda seorang ibu, derajat nya lebih tinggi dari saya" ujar Zidan membantu nya untuk berdiri.


Ibu Yasmin berdiri dan tersenyum.


"Annisa beruntung anda begitu menyayangi nya, semoga Allah menyatukan kalian berdua, terima kasih dan maaf kan saya atas kekhilafan saya" jawab Ibu Yasmin menunduk.


"Terima kasih doa'nya, tapi tetap hukum tidak bisa melepaskan anda" ujar Zidan.


" Saya siap menjalani hukumannya" ucap nya tersenyum.


Zidan memanggil orang suruhan nya untuk membawa Ibu dari Yasmin ke kantor polisi.


🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️


Zidan menghentikan mobilnya saat sudah sampai di rumah nya.


Dia memasuki rumahnya dengan perasaan yang bahagia karena sudah membereskan masalah kecelakaan Annisa.


"Gimana Zid?, apa sudah beres semuanya?" tanya Mama.


"Sudah Mah, pelaku nya sudah di tahan oleh pihak berwajib" jawab Zidan.


"Oh yah?, syukur lah semua sudah beres" Ujar Mama lega.


"Oh yah Mah,aku ke kamar dulu yah" pamit Zidan dan mencium pipi Mama nya.


Dia pun berlalu naik ke lantai atas guna mengistirahatkan tubuh nya.


"Huh... akhirnya aku bisa istirahat juga" ucap Zidan yang sudah akan memejamkan mata, dan tak lama dia pun terlelap.


💢💢💢💢


" Syifa, Syifa nggak boleh begitu. Om Zidan kan punya urusan sendiri, jadi jangan ngrepotin Om Zidan yah, kasihan dia, kan dia perlu istirahat" jelas Annisa Pada putri nya.


" Tapi kan Om Zid sudah janji mau ngajak Syifa makan es krim Bun" ucap Syifa sedih.


"Apa jangan-jangan Om Zid marah sama Syifa yah Bun?" ujar Syifa.


"Eemm,,, memang nya Om Zid marah sama Syifa kenapa?" tanya Annisa lembut.


"Mungkin saja Om Zid marah karena Syifa nggak manggil dia Ayah lagi Bun" jawab Asyifa dan menunduk.


"Ayah?" Annisa memicingkan matanya heran.


"Iya, soal nya kemarin waktu Bunda sakit kan aku tinggal di rumah Om Zid, terus aku manggil dia Ayah, tapi waktu Syifa denger Bunda masuk Rumah Sakit Syifa marah sama Om Zid, dan nggak manggil Ayah lagi" jelas Syifa sendu.


Annisa sedikit kaget anaknya mengatakan hal itu. Tapi di dalam hati nya merasa hangat saat putri nya begitu di sayang oleh Zidan.


Benarkah dia sudah mulai membuka pintu hati nya untuk menerima orang baru?.


Meski terkesan plin-plan, tapi perasaan ini memang benar ada nya, dan sedikit membuat dia merasa bersalah pada Zidan karena belum juga dia membalas perasaan nya.


Biar lah dia merasa di perjuangkan, dia ingin tahu bagaimana kerasnya perjuangan Zidan.


Karena ketrauma an nya pada sebuah pernikahan, membuat nya jauh lebih hati-hati dalam memilih.


Annisa tersenyum melihat Asyifa yang terus berceloteh tentang Zidan, kebanyakan dari cerita nya itu adalah kebaikan nya dan sisanya adalah kelembutannya, jadi apa yang tidak di sukai oleh Asyifa,? dia belum menemukan nya dari cerita nya.


Dua jam kemudian, yang di tunggu-tunggu datang juga,dan itu membuat Asyifa begitu senang, tapi dia tetap saja merajuk.


"Assalamualaikum, sore semua nya?" sapa Zidan.


"Wa'alaikumussalam" jawab serentak mereka.


" Ngapain Om dateng kesini?" ketus Syifa.


"Oh, jadi Om nggak boleh kesini nih?" tanya Zidan pura-pura ngambek.


"Ehem.. kayaknya tadi ada yang nungguin buat ngajak makan es krim deh?" seru Annisa terkekeh.


Zidan menatap Annisa, dan mengerti apa yang di maksud oleh Annisa. Dia tersenyum lembut.


" Oh, ya sudah deh, Om pulang saja, lagipula nggak ada yang mau ketemu sama Om" ucap Zidan dan hendak pergi, tapi tangan nya di cekal oleh Syifa.


Zidan tersenyum senang tanpa menoleh ke belakang, Syifa menggenggam erat telapak tangan Zidan.


" Jangan pergi Om, kan Om sudah janji mau ajak Syifa makan es krim" kata Syifa dan menunduk.


" Katanya nggak mau ketemu" tanya Zidan


" Kayak nya Syifa nggak bilang nggak mau ketemu Om Zidan, Syifa cuma bilang Om mau apa kesini" jawab Asyifa dan mengerjap lucu.


"Ayo kita pergi...?!" ajak Zidan.


"Ayo..." semangat Asyifa.


Annisa terkekeh, ada-ada saja interaksi dua orang beda usia ini.


Jangan lupa untuk klik like dan comment yah man-teman terima kasih 😊 vote nya juga jangan lupa 😁😁