Single Parent

Single Parent
39.



Hari ini adalah hari untuk Annisa kembali beraktifitas seperti biasa nya.


Ada satu makhluk yang menempel saja sedari Annisa keluar dari kamar mandi.


Dia selalu mengikuti Annisa, merengek untuk minta izin nya. Siapa lagi kalau bukan malaikat kecil nya, yaitu Asyifa.


Bahkan dari Annisa membuka mata, dia sudah meminta izin. Tapi jawaban dari Annisa membuat Asyifa tak berhenti untuk merengek, dan jawaban dari Asyifa membuat Annisa terdiam karena terkejut, tapi dia sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutan nya.


"Syifa,kamu kan ada Nenek, nggak usah lah main kesana, nanti merepotkan" tutur Annisa menasehati.


"Ngrepotin gimana sih Bun?, kan aku nggak minta gendong" kesal Asyifa dengan nada manja.


"Yakin nggak minta gendong?, kaya nya Bunda nggak percaya tuh" ledek Annisa.


"Ya, ..ya nggak mungkin enggak sih" jawab Asyifa kesal.


Annisa tertawa kecil.


"Kalau nggak boleh ke Ayah mending ke Bian ajah deh main di sana" ucap Asyifa dengan nada sedikit mengancam.


seketika Annisa menghentikan tawanya.


"Oke dari pada ke Rumah Sakit banyak virus, mendingan ikut Bunda ajah ke Restoran, oke?" Annisa memberi penawaran.


Mata Asyifa berbinar,


" Beneran Bun?, yes!! " ucap Asyifa dengan mata yang berbinar.


Annisa mengangguk ragu dan tertawa kecil sumbang.


Asyifa bersorak penuh kemenangan.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Sesampainya di Restoran, Annisa memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang hanya di gunakan oleh nya saja.


Dia dan Asyifa turun dan melangkah ke dalam.


Seperti biasa jikalau pagi sebelum buka itu sepi,tapi ada yang berbeda dengan hari ini, apa yah?, pikir Annisa.


Dia tak terlalu menghiraukan itu, dia masih saja melangkah dan tak lama semua karyawan nya berhambur keluar dari persembunyian mereka dan mengagetkan Annisa.


Mereka membawa tulisan yang bertuliskan selamat dan jangan lupakan yang satu ini, di Banner itu ada foto nya dan foto Zidan bersama dengan Asyifa juga.


"Surprise!!!, Happy engagement " Sambut semua karyawan Annisa kompak.


Annisa terkejut dan tersenyum, tapi, siapa yang memberi tahu mereka?.


"Selamat Bos" ucap mereka hampir bersamaan.


"Yah, pupus sudah harapan aku ini, patah hati dah aku" ucap Ridwan mendramatisir.


"Halah, lebay kamu" saut Milla sembari meraup muka Ridwan, membuat nya kesal.


Annisa terkekeh melihat mereka, selalu saja.


Dapat dari mana mereka itu, dan pertanyaan Annisa terjawab saat biang kerok dari semua ini datang dengan membawa kue tart.


Melihat ada kue tart, Asyifa memunculkan diri karena sedari tadi dia berdiri di balik punggung Annisa.


Karyawan Annisa langsung panik, dan saling berbisik satu sama lain.


Kalian tahu, jika kalian itu berfikir Asyifa akan diam dan menurut itu salah besar, karena dia itu akan berbuat onar dengan mengerjai para karyawan itu, kalau karyawan bernasib sial, pasti akan dapat giliran untuk menjadi korban Asyifa.


Mereka mulai merinding melihat Asyifa yang menaik turunkan alisnya melihat mereka.


Jika sudah seperti itu, hari ini mereka tidak akan tenang.


Annisa melihat aneh para karyawan nya karena sedari tadi bisik-bisik saja.


Lalu dia melirik ke Asyifa yang menyeringai melihat karyawan nya.


Annisa menghembuskan nafas kasar. Dia tau apa yang di pikir kan oleh putri nya itu, pernah dia satu hari bawa Asyifa ke Restoran, dan hasilnya kacau balau.


"Hari ini Bunda tidak ingin mendengar keluhan dari karyawan Bunda karena kenakalan kamu ya Syifa" peringat Annisa.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Asyifa duduk di sofa dengan bosan, Bunda nya sibuk dengan laporan bulanan.


"Bun, boleh ya Bun, aku mau ke dapur sebentaaarrr ajah,yah" mohon Asyifa.


Annisa melirik tajam curiga. Dan tak lama pintu ruangan Annisa di ketuk. Membuat Ibu dan Anak itu menoleh secara bersamaan.


Pintu terbuka setelah Annisa menyuruh nya masuk, dan orang yang masuk itu membuat Asyifa bersorak kegirangan, akhir nya ada angin segar yang datang kepada nya setelah pengap sedari tadi di ruangan itu tanpa melakukan apapun.


"Ayaahh..." panggil Asyifa beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Zidan.


Betul, dia Zidan. Dia mendapatkan pesan dari Annisa yang melaporkan kebosanan Asyifa kepada nya.


"Ayah, ajak aku keluar dari sini, Syifa sudah bosan, nggak di izinkan main sama Bunda" adu Syifa.


Annisa menghembuskan nafas lelah, Zidan mengernyitkan dahi nya bingung, kenapa tidak boleh main?. Kalian tahu apa artinya main di sini bukan.


Zidan akhirnya membawa Asyifa keluar untuk main, ntah dia tau atau tidak apa arti main yang di bicarakan Asyifa saat ini.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Zidan membawa Asyifa ke bengkel nya sebentar karena ada urusan yang harus di selesaikan segera.


"Yah, ini bengkel Ayah?" tanya Syifa semangat.


Zidan mengangguk dan tersenyum membenarkan.


Zidan masuk kedalam ruangan nya dan mengurus urusan nya, tapi tidak dengan Asyifa.


Ketika Zidan tengah fokus pada berkas yang ada di hadapannya, Dia menghentikan aktifitas nya karena mendengar keributan di luar, dia segera meninggalkan pekerjaan nya dan lari menghampiri tempat keributan itu.


Zidan tercengang melihat kaki salah satu anak buah nya terendam oli bekas. Ada juga yang mukanya penuh dengan oli.


Siapa yang melakukan ini?, dan pandangan nya mengikuti arah pandang anak buah nya yang tertuju pada Asyifa di balik mobil yang tengah bersembunyi.


Zidan memejamkan mata nya.


"Asyifa?!" panggil Zidan tegas.


Asyifa datang menghampiri dengan wajah yang cemberut.


"Syifa bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zidan lembut tapi penuh penekanan, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kan Ayah tadi ngasih ijin buat Asyifa main,kok sekarang Ayah marah sih" kesal Asyifa.


Zidan mengerutkan keningnya "Main?" tanya nya.


Asyifa menganggukan kepala nya.


Memang benar Zidan tadi mengizinkan dia main, tapi.. apa ini?, dia sebut main?, pantas saja Annisa mengurung nya di ruangan nya, jadi ini penyebab nya?.


"Syifa, apa ini yang kamu sebut main nak?, Syifa, ini tuh bisa membahayakan orang sayang, kalau terjadi kecelakaan kerja bagaimana?" tanya Zidan.


"Maafin Syifa Yah, Syifa nggak akan mengulangi lagi, Syifa janji" ucap Asyifa dan mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya.


Zidan mengembuskan napas pelan.


"Jangan di ulangi lagi yah?!" nasihat Zidan.


" Iya Yah, nggak akan lagi, kalau nggak lupa Yah" jawab Asyifa melirih kan kata terakhir nya, tapi masih di dengar oleh Zidan dan anak buah nya.


"Syifa?!" panggil nya gemas.


" Hehehe.....iya Yah, bercanda kok" ucap Asyifa sambil berlalu.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Di tempat lain, ada seseorang yang mengerang frustasi.


"Aaarrgghhh.....awas kamu....kali ini aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja" teriak nya.


KLIK LIKE DAN COMMENT YAH, VOTE NYA KENCENGINπŸ€—.