
CUMA MAU BILANG, HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.
Aditya merengkuh Putri nya dengan erat, seakan tak ingin melepaskan nya.
Annisa hanya melihat pemandangan itu dengan diam dan air mata nya yang sedari tadi mengalir.
Zidan memeluk Annisa, menenangkan sang istri. Dia ciumi puncak kepala Annisa dengan sayang.
Hampir satu jam mereka menunggu dan saat Dokter keluar dari ruangan, segala pertanyaan di lontarkan.
"Pasien sudah tidak apa-apa, kalian jangan khawatir, pasien hanya syok saja" jelas Dokter.
Bian mendapatkan empat jahitan di bahu nya karena luka yang cukup lebar.
Mereka bisa lega dengan penjelasan Dokter tadi.
Aditya dan yang lain nya masuk ke dalam.
Miris sekali melihat putranya harus terbaring lemah dia atas ranjang pesakitan itu.
Aditya menggenggam tangan kecil itu.
Dia tersadar dengan orang di hadapan nya.
"Maaf telah membuat acara kalian harus jadi drama seperti ini, dan maaf karena kita kalian harus ikut menunggu seperti ini, dan seharusnya ini menjadi malam pertama kalian" ucap Aditya yang di selingi canda.
"Berisik" saut Annisa cepat.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan Asyifa juga terluka, dan kalau tidak ada Bian, mungkin Annisa lah yang berbaring di ranjang ini" jawab Zidan.
Aditya tersenyum miris.
"Aku akan buat perhitungan pada nya bila sesuatu hal terjadi pada anak ku" kata Aditya geram.
Lama mereka menunggu, dan Asyifa sudah tidak kuat lagi untuk membuka mata nya.
"Lebih baik kalian pulang saja, kasian Asyifa sudah mengantuk, ini hampir tengah malam, lagi pula kamu nggak ribet pake itu terus Nis" ucap Aditya menunjuk gaun Annisa yang masih manis terpakai di badannya.
"Apa nggak apa-apa kalau kami tinggal?" tanya Annisa.
"Enggak, lagi pula ini tanggung jawab aku, bukan kamu" jawab nya membuat Annisa mencebikkan bibir nya.
"Ayo lah Syifa kita pulang" Annisa menggandeng tangan putri nya, tapi karena dia sangat mengantuk jadi Zidan berinisiatif untuk menggendong Asyifa.
Aditya menatap kepergian sang mantan dengan perih.
"Hufftt, sudah lah Aditya, semua sudah berlalu, sekarang prioritas kamu itu Bian dan Syifa" gumam Aditya menyemangati diri sendiri.
💢💢💢💢
Zidan mengendarai mobil nya dengan terus memegang tangan Annisa, dia seakan enggan untuk melepas tangan istri nya itu.
Asyifa sudah tertidur pulas di belakang.
"Enggak nyangka loh, kamu sekarang sudah jadi istri aku" ucap Zidan tersenyum manis.
"Entah lah, aku ajah nggak nyangka bisa menerima kamu jadi suami aku" balas Annisa.
"Coba deh kamu cubit aku Yang" kata Zidan.
Annisa dengan semangat mencubit lengan Zidan gemas.
"Au..au.. sakit sayang" ucap Zidan manja.
"Katanya minta di cubit, gimana sih" kesal Annisa.
"Ya iya, tapi jangan kenceng-kenceng dong, kan sakit" keluh Zidan manja.
Annisa terkekeh, apa-apaan ini, kenapa si suami nya ini jadi manja begitu, tapi aneh nya dia suka, apakah dia sudah tertular virus cinta nya Zidan?.
"Pokoknya, nanti kamu harus memberikan aku kompensasi yah, tapi kompensasi nya di kamar ajah" ucap Zidan yang merendahkan suara nya di akhir kalimat.
Annisa melepaskan genggaman tangan Zidan dengan gemas.
"Apaan kau ini?, kenapa jadi ke kamar segala?!" ucap Annisa pura-pura tidak tahu.
"Ayo lah sayang, memang nya kamu nggak mau ngasih adik buat putri kita?" rayu Zidan.
Annisa membuang muka menghadap jendela mobil. Dia bersemu merah malu.
Zidan tertawa mendapati istrinya yang malu, imut sekali pikir nya.
💢💢💢💢
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun, Zidan menggendong Asyifa yang masih tertidur, saat mereka masuk ke dalam, semua orang dewasa di rumah itu masih terjaga, masih menunggu kabar.
Karena ponsel mereka yang tidak di bawa, membuat keluarga nya harus menunggu dengan cemas.
"Assalamualaikum" sapa Zidan dan Annisa bersamaan.
" Wa'alaikumusalam" jawab semua.
"Enggak apa-apa Mah, cuma tergores saja, tapi lumayan dalam sih, sudah di tangani oleh Dokter tadi" jawab Zidan menenangkan.
"Oh yah, bagaimana dengan Bian Zid?" tanya Vita cemas, yang di angguki yang lain.
"Dia sudah mendapatkan pertolongan, alkhamdulillah semuanya baik, tinggal menunggu dia siuman" jawab Annisa.
Mereka bernafas lega sekarang.
"Nanti kita jenguk dia yah" ucap Mama, yang di setujui oleh semua nya.
Akhirnya mereka bubar pada kamar masing-masing.
Tapi tidak dengan Vita, dia menatap Zidan dan tersenyum penuh makna.
"Apa?" tanya Zidan ketus.
"Ehem... nggak kok, cuma penasaran ajah sama pengantin baru yang kelewat malem nya" jawab Vita tertawa.
"Berisik" jawab Zidan dan Annisa bersamaan dan berlalu meninggalkan Vita sendiri, membuat Vita jadi tertawa semakin geli.
💢💢💢💢
Yasmin masih saja meraung meminta di bebas kan, membuat para penjaga geram di buat nya.
"Kamu kalau tidak diam, kami akan memindahkan di sel para preman" ancam penjaga.
"Lepasin saya, saya mau bertemu anak saya!" marah Yasmin.
"Kalau kamu tidak mau di sini, jangan buat kejahatan, gitu ajah kok repot!, lagi pula, kamu mau bertemu anak mu untuk apa?, bukannya kamu yang mencoba membunuh nya!" jawab petugas pedas.
Seketika Yasmin bungkam.
"Gitu dong diam, kalau kalian tidak ribut kan saya bisa tidur nyenyak" lanjutnya lagi.
Yasmin memandangi tangan nya, tangan ini lah yang membuat putra nya terbaring di atas ranjang Rumah Sakit, begitu lah pikiran nya sekarang, pikiran nya penuh dengan penyesalan. Bahkan dia belum tahu bagaimana keadaan putra nya saat ini.
"Bian,,,,Bian,,,, maafin Mama sayang, maafin Mama" tangis Yasmin sembari meringkuk memeluk lutut nya.
💢💢💢💢💢
Bian mengerjapkan mata nya, dia melihat sekeliling dan mendapati dirinya di dalam ruangan Rumah Sakit, dia melihat sang Ayah yang tertidur memegang tangan mungil nya.
Aditya mengerjap karena merasakan pergerakan tangan sang anak.
Dia terkejut bahagia putra nya telah sadar.
"Sayang, kamu sudah sadar nak" sambut bahagia Aditya.
"Haus Yah" jawab nya tanpa menjawab pertanyaan Ayah nya.
Aditya segera mengambil air untuk putra nya.
Dia memanggil Dokter, dan tak lama kemudian Dokter datang dan memeriksa kondisi Bian, Aditya bisa bernafas lega akhirnya sang putra bisa baik-baik saja.
"Kakak mana Yah?" tanya Bian.
Bukan nya mengeluh sakit, tapi dia malah menanyakan sang kakak.
"Kakak belum datang, nanti Ayah telepon Bunda buat bawa Kakak ke sini yah" ucap Aditya lembut.
Mata Bian berbinar dan mengangguk senang.
💢💢💢💢
Pagi hari, keluarga Zidan sudah berkumpul di meja makan, mereka sedang menikmati sarapan mereka sembari menunggu pengantin baru turun dari kamar nya.
"Pagi semua" ucap Zidan semangat.
"Pagi..." jawab mereka serempak.
"Semangat banget kaya nya nih manten baru" ledek Vita, membuat orang yang mendengar terkekeh geli.
"Iya dong, ada mentari yang selalu membuat senyum ku merekah" jawab Zidan semangat, sembari duduk di karpet.
Karena semua berkumpul,jadi mereka memilih duduk lesehan.
"Gimana?, sudah gol belum?" pertanyaan Papa nya membuat Zidan menghentikan aktifitas menyendok nasi, dia tersenyum miris.
Papa nya tau apa yang terjadi sebenarnya. Dia hanya meledek saja.
Karena Annisa tidur di kamar Asyifa, dan dia tidak kembali ke kamar Zidan, lebih tepat nya kamar mereka.
Zidan maklum saja, tapi mendengar Papa nya bertanya seperti itu, kok sakit yah.
HAYOO YANG BAPER, YANG BAPER, ANGKAT JEMPOL,DAN KOMENTAR NYA🤣🤣
VOTE NYA DONG 🤣.