
Malam tiba, waktu yang di tunggu-tunggu Asyifa dan Reyyan, yaitu pesta Barbeque.
Hal yang amat di gemari oleh Reyyan karena dia bisa makan sepuasnya di saat begini.
"Kamu makan melulu sih Rey?, lihat tuh perut kamu sudah hampir meletus" ucap Asyifa.
" Mana ada perut meletus, ini masih muat tau, nggak bakalan bisa meletus" saut Reyyan.
" Masa sih, coba aku lihat" tanya Asyifa penasaran.
Reyyan menegakkan duduk nya tapi tiba-tiba dia menjerit kesakitan.
"Aduh... Asyifa sakit tau, kenapa perut aku di pukul begitu?" kesal Reyyan.
"Lagian kamu rese,kamu tau kan Ayah aku sudah capek-capek ngipas in dari tadi,tapi kamu malah asyik makan ajah,bahkan aku nggak kebagian" ucap Asyifa setelah menghentikan tawanya.
"Lihat tuh piring nya kosong melulu" kesal Asyifa.
"Hehe maaf deh, habis nya enak sih, terus aku boleh makan sepuasnya, soalnya nya nggak ada Mommy" kata Reyyan, yang melirih kan kata terakhir nya.
"Kata siapa kamu boleh makan sepuasnya, ingat yah Rey nggak boleh berlebihan" ingat Zidan.
"Iya...iya .. cerewet banget sih Om" jawab Reyyan.
Zidan hanya menggelengkan kepalanya.
"Dasar keras kepala" gumam Zidan yang masih bisa di dengar oleh Vita.
"Sama kayak Om nya, sama-sama keras kepala, kamu harus ekstra sabar yah Nis" saut Vita dan beralih pada Annisa.
Annisa yang baru datang dari arah dalam dan tak tau apa-apa hanya terbengong bingung dengan apa yang di maksudkan oleh Vita.
Bingung nya Annisa membuat Vita dan Zidan tertawa saja, suami Vita tidak bergabung karena dia sedang menidurkan Revan yang tampak kelelahan.
Annisa hanya mengangkat bahu nya tak menanggapi.
Dia duduk tak jauh dari tempat Zidan dan Vita membakar, sembari menuang minuman.
Asyifa bangkit dari duduknya dan memeluk Zidan di punggungnya, Zidan menoleh dan tersenyum mendapati Asyifa yang manja.
"Asyifa, jangan manja begitu dong, itu Om Zidan kan sedang membakar, sini sama Bunda ajah nak" ucap Annisa.
"Nggak mau ah, sama Bunda nanti kalau mau tidur ajah, sekarang pengen nya sama Ayah ajah" saut Syifa.
"Tapi kan itu Om nya susah ngipasin nya" ucap Annisa gemas.
Asyifa cemberut dan melepaskan pelukannya di punggung Zidan. Dia duduk di samping Annisa.
Zidan menghampiri mereka dan meletakkan hasil kerja nya di atas meja depan Annisa dan Asyifa.
Zidan mengambil sepotong daging dan menyuapkan nya pada mulut Asyifa.
Asyifa menerima dengan sumringah, Asyifa mengikuti seperti yang Zidan lakukan dan menyuapkan pada Zidan dan Annisa.
Mereka seperti keluarga yang bahagia, hal itu membuat Annisa merasa canggung.
Tak lama ponsel Zidan berdering, dia menjauh dari sana guna menerima panggilan.
Annisa mengikuti gerakan Zidan yang menjauh dan menatap punggung Zidan.
Zidan sibuk berbicara dengan orang yang menelpon nya, dia menoleh ke belakang dan mendapati Annisa yang menatap nya, dia tersenyum manis membuat Annisa salah tingkah dan mengalihkan pandangan nya.
💢💢💢💢
Semua makanan sudah di siapkan di atas meja, dan semua sudah berkumpul, mereka memakan hasil dari kerja Zidan dan Vita.
Saat di tengah makan mereka, tiba-tiba lampu mati dan membuat semua kaget.
Tapi, tak berselang lama, lampu kembali terang dan Annisa bingung dengan keadaan saat ini, yang membuat dia panik adalah ketidakadaan nya semua orang, dan hanya dirinya lah yang berada di meja itu.
Dia panik melihat putri nya tak ada di samping nya, dia berdiri dan berjalan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari sosok putrinya.
Tapi, ada hal yang membuat perhatian nya teralih kan saat ada bunga mawar beserta lilin yang menyala di sepanjang jalan menuju kolam renang.
Dia menghampiri panggung kecil yang di penuhi kelopak bunga mawar membentuk sebuah lambang hati, ada lilin yang mengelilingi panggung itu.
Dia menemukan sebuah card di tengah kelopak bunga yang membentuk lambang hati itu, tak hanya itu di sana juga terdapat kotak kecil beludru berwarna merah hati.
Dia mengambil card itu dan membaca nya.
Dia tertawa pelan melihat tulisan itu, ada-ada saja ini orang masih saja narsis, tapi dia kesal membaca akhir dari tulisan itu.
Apa-apaan dia, seenaknya saja memutuskan itu, ini bukan lamaran tapi ancaman.
Dia jadi kesal sendiri.
••••••••••
*Dulu, aku tidak percaya apa itu cinta pada pandangan pertama
Bahkan aku menganggap hal itu mustahil terjadi pada diriku
Tapi setelah melihat mu, aku baru percaya apa itu cinta pada pandangan pertama
Baru aku sadari aku telah jatuh cinta kepada mu
Entah kapan aku mulai mencintai mu, aku juga tidak tahu
Yang aku tahu, aku hanya ingin membuat kamu bahagia
Dari banyak nya wanita yang bahagia karena akan di jodohkan dengan ku, tidak satu pun dari mereka yang mendapatkan hati seorang pemuda tampan seperti ku ini
Selamat kamu telah mendapatkan hati pemuda tampan ini
Sekarang, pemuda ini ingin melamar mu kembali
Kau bisa lihat kotak kecil di depan mu itu, bukalah, jika kau menerima ku, kau pakai cincin itu, tapi kalau kamu tidak mau,aku culik putrimu untuk ku jadikan putriku*.
•••••••••
Annisa merasa lucu apa yang di sampaikan oleh isi dari kartu itu.
Dia mengambil kotak itu dan melihat isi di dalam nya.
Dia sedikit kaget karena sebuah cincin dengan berlian di atas nya yang cukup besar.
"Royal juga nih orang" gumamnya pelan dan tersenyum.
Dia bahkan melupakan niat awal nya untuk mencari Asyifa yang hilang.
Tapi dia tak khawatir lagi saat melihat isi kartu itu, itu artinya Asyifa bersama dengan dia.
Annisa tersenyum lucu, bila dia tidak memakai nya, apakah Zidan akan berekspresi kecewa?, dia bahkan ingin melihat nya. Bagaimana ekspresi nya itu.
Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok orang yang membuat hati nya bergejolak.
Dia melihat Asyifa mendekati dirinya, dengan muka yang galak Asyifa menghampiri Bunda nya.
"Bunda kalau tidak di pakai cincin nya, Asyifa nanti pulang ke rumah Ayah Zidan saja" ancam Asyifa dengan galak.
Annisa bukan nya takut malah terkekeh, Asyifa jadi terlihat lucu di matanya.
Manis sekali dia ini, dia jadi bingung harus memakai atau tidak cincin ini.
"Eemm gimana yah, pengin sih, tapi Ayah kamu pengecut sekali hanya meletakkan cincinnya di sini" gurau Annisa dengan kesal.
Mendengar hal itu, Zidan yang bersembunyi langsung melompat keluar, dia tidak ingin di bilang pengecut oleh pujaan hati nya.
Vita sudah tidak bisa menahan tawa nya, dan seketika tawanya meledak melihat Zidan yang kalang kabut hingga hampir terjatuh.
"Jadi gimana...?" tanya Zidan takut-takut.
JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE DAN COMMENT YAH MAN-TEMAN 😊 VOTE NYA JUGA JANGAN LUPA OCEH, YANG PUNYA POIN BANYAK BOLEH LAH BAGI-BAGI 🤗
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗