Single Parent

Single Parent
29.



Annisa sudah pulang ke rumahnya dari dua Minggu yang lalu, sekarang dia berada di salah satu mall. Setelah kejadian yang lalu, membuat Annisa lebih protektif terhadap Putrinya itu.


Dia tidak sekali pun meninggalkan nya di tempat umum, contoh nya sekarang, dia selalu saja memegangi tangan Asyifa.


"Bunda, sudah dong masa di pegangin mulu, kan Asyifa sudah besar, bukan mau belajar berjalan lagi" rengek Asyifa memanyunkan bibirnya.


"Heleh,...masa sih sudah besar, tidur saja masih saja di peluk" ledek Annisa.


"Itu kan beda Bunda, ini tempat umum" ucap Asyifa.


"Tapi kan tetap saja kamu tetap anak Bunda, emangnya kamu nggak mau apa deket sama Bunda kayak gini" ucap Annisa memelas.


"Ya nggak begini juga kali Bun" ngambek Syifa.


"Ayolah Bun, aku sudah kelas empat tahu" lanjut nya.


Memang pada saat ini Syifa sudah kelas 4 dari seminggu yang lalu.


"Mau kelas 4 kek, mau kelas 12 kek, tetep saja Syifa itu putri Bunda yang masih kecil, nggak bisa di ganggu gugat" final Annisa.


Asyifa masih saja merengek, dia menatap Vita yang berjalan di belakang nya minta pertolongan.


" Kumat lagi nih anak" ucap Vita tertawa.


Vita berjalan menyelip Annisa membuat dia memberhentikan langkah nya.


"Mau ngapain kamu" tanya Annisa nyolot.


"Hehehe, galak banget Bu santai saja kenapa?, itu Syifa kasihan kali di pegang mulu begitu" saut Vita, Asyifa hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lepasin saja lah, yah,yah" tawar Vita.


"Enggak, tetep enggak!" ucap Annisa memicingkan matanya menatap Vita, membuat nya sedikit meringis.


"Ayah.. Tolongin Syifa yah,," rengekan Syifa kepada Zidan yang baru saja datang dengan para Male Gang yang berisi,


Zidan, Reyyan, Suami Vita,dan Revan.


Zidan terkekeh melihat gadis yang di sayang nya di perlakukan seperti itu, dia menghampiri mereka dan mengambil Syifa dari genggaman Bunda nya.


" Sudah sini Asyifa biar aku yang jagain, kamu have fun saja sama Vita, biar Asyifa urusan aku" tukas Zidan.


Vita langsung menarik tangan Annisa menjauh dari mereka, Zidan hanya melambaikan tangannya sambil senyum polos di barengi dengan Syifa yang menjulur kan lidahnya, dan itu sukses membuat Annisa menggeram kesal.


Vita membawa Annisa menjauh.


"Vita ...kamu apa-apaan sih tarik-tarik tangan aku, sakit tahu" gerutu Annisa setelah mereka menjauh dari jangkauan Male Gang.


"Lagian kamu ada-ada saja. Asyifa itu butuh kebebasan jangan terlalu di kekang ah nanti dia bisa berontak, lagian nih yah dia itu anak yang menuju remaja" kata Vita, sambil berjalan santai mendahului Annisa.


"Apa masalahnya dia yang sudah mau remaja" tanya Annisa.


"Aduh Annisa Bunda nya Asyifa, kamu pernah muda nggak sih, jangan-jangan kamu lahir langsung gede begini yah" jawab Vita gemas.


"Enak saja, aku pernah muda lah masa langsung gede begini" gerutu Annisa tak terima.


"Nah itu, jangan terlalu di kekang lah anak itu butuh kebebasan, cukup kita arahin, awasin, nasehatin, dan jaga ajah jangan terlalu mengekang oke" jawab Vita.


Annisa berhenti dan berfikir sejenak, benar juga ,tapi aku kenapa jadi trauma begini yah?, fikir nya.


"Annisa ayo buruan,,," teriak Vita dari kejauhan.


Annisa tersadar dia sudah ketinggalan jauh.


"Eh Vit tungguin dong" saut Annisa dan berlari menyusul Vita.


💢💢💢💢


Di sisi lain, The Male Gang asik bermain di Timezone, mereka begitu menikmati waktu mereka.


Tak jarang juga Revan menangis karena di jahili oleh Reyyan.


Keseruan mereka sedikit terganggu dengan suara tangisan anak kecil.


Asyifa menoleh ke arah suara itu berasal, dia memicingkan matanya marah karena yang menangis itu adalah Bian yang sedang di ganggu oleh kawanan anak laki-laki yang bertubuh lebih besar dari adiknya itu.


Ntah mungkin naluri dari kakak, atau kasian melihat nya, Asyifa menghampiri Bian.


"Kenapa kalian gangguin dia" marah Syifa pada mereka.


"Siapa kamu?!, jangan ikut-ikutan deh" ucap salah satu dari mereka.


"Kakak...hiks..hiks..." Bian menangis dan memeluk Asyifa.


Meskipun dia merasa canggung, tapi dia memeluk Bian juga.


" Dia itu adik aku, Kamu tidak boleh ganggu dia" saut Asyifa.


Sebelum mereka melanjutkan bicara nya, Zidan lebih dahulu melerai pertengkaran mereka, takut-takut bila mereka berbuat nekat karena kalah jumlah.


"Hei...hei ... guys, ada apa ini?" tanya Zidan.


"Ini Om, anak ini nabrak aku sampai makanan aku tumpah semua" adu salah satu dari mereka sedih.


"Bener Bian kata Kakak nya?" tanya Zidan lembut.


"Aku nggak sengaja Om"


"Ayah sama Ibu kamu kemana?"


"Ayah lagi nelpon Om, terus Mama lagi belanja" jawab nya polos.


"Oh ok, sekarang kamu minta maaf sama Kakak nya, terus nanti Om anterin ke Ayah kamu yah" tutur nya.


Bian mengangguk dan menyodorkan tangan nya.


Setelah semua selesai, Bian tidak mau di antar ke Ayah nya. Dia merengek ingin ikut bermain dengan kakak nya, dan dengan terpaksa Asyifa mengangguk mengiyakan.


Di sisi lain, Aditya pusing mencari anaknya itu, setelah berkeliling dia tidak juga menemukan Bian, sesaat dia berhenti di depan Timezone. Dia teringat bahwa Bian sangat suka dengan permainan.


Dengan seribu langkah, dia masuk dan mengedarkan pandangannya. Dia menemukan apa yang di carinya.


Senyum nya terukir saat dia tidak hanya menemukan putra nya tapi juga putri nya.


"Bian..." panggil Aditya setelah dia sampai.


"Ayah...." saut Bian girang.


"Kenapa kamu bisa di sini nak?, Ayah sudah nyari kamu kemana-mana loh"


"Maaf Ayah, tadi Bian sudah bilang sama Ayah, tapi Ayah masih sibuk telpon, jadi Bian kesini sendiri" jawab Bian menunduk karena takut.


Aditya menghela nafas kasar.


"Ya sudah,tapi jangan di ulangi lagi yah" nasihat Aditya, Bian mengangguk mengerti.


Asyifa hanya diam saja melihat interaksi mereka, Zidan yang memperhatikan ekspresi Asyifa langsung merangkul pundak nya dan tersenyum dan di ikuti Asyifa.


" Lain kali jangan di lepas, takut kenapa-napa" nasihat Zidan.


" Terima kasih telah menjaga putra ku" ucap Aditya tulus.


Dia beralih menatap Asyifa dan tersenyum.


Asyifa memalingkan wajahnya, mungkin saja masih marah dengan nya pikir Aditya.


Di dalam hati, Aditya begitu lega karena putrinya tidak lagi takut padanya.


💢💢💢💢


Annisa dan Vita sedang memilih bahan makanan yang akan mereka bawa untuk berlibur nanti, Annisa mengambil kaleng di depan nya, tapi ada tangan lain yang ikut menggapai nya.


Dia menoleh dan berekspresi datar terkesan dingin.


"Hoho... Siapa ini?" ucap dia dan ber sedekap menatap Annisa menyeringai.


"Wah kamu memang fans berat aku yah Yas, sampai kaleng susu saja rebutan, padahal di samping nya lebih banyak loh" ucap Annisa ketus.


JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE DAN COMMENT YAH MAN-TEMAN 😊 VOTE NYA JUGA JANGAN LUPA OCEH.


HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗