Single Parent

Single Parent
62.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Hari demi hari dan bulan demi bulan mereka lewati dengan biasa saja tidak seperti waktu itu. Sekarang sudah tiga tahun setelah kejadian dimana banyak nya air mata yang tumpah karena mendengar kenyataan yang pahit untuk mereka. Yang menjadi prioritas utama mereka adalah kesembuhan Zidan hanya itu.


Meski kekalutan masih saja menyelimuti hati keluarga masing-masing. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk kesembuhan anggota keluarga mereka.


Zidan merasa sangat beruntung berada di tengah-tengah keluarga nya itu. Sungguh dia begitu merasa bersalah akan kenyataan ini.


Dia berharap selalu bersama mereka namun entah lah apakah dia masih bisa sanggup untuk bisa bertahan lebih lama. Semakin hari dia semakin seperti kehilangan semangat nya.


Dia hanya ingin selalu di samping orang-orang yang dia cintai itu saja. Dan hal itu bisa menjadi kenangan yang terindah yang tak pernah dia lupakan meski dia harus berada di dunia lain ' mungkin '.


Hari ini adalah hari dimana Asyifa dan Reyyan akan naik ke pendidikan yang lebih tinggi lagi


setelah tiga tahun dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sekarang ini dirinya akan mendapatkan penghargaan atas prestasi yang dia capai.


"Bunda ayo cepat aku sudah mau telat nih" teriak Asyifa dari bawah tangga.


"Eittss Syifa, kamu nggak boleh lagi teriak-teriak seperti itu sama Bunda kamu, nggak baik sudah berapa kali Ayah ingat kan"


"Ups maaf Ayah, Asyifa kelepasan, Syifa janji nggak akan teriak seperti itu lagi" ujar Asyifa sembari memberi tanda damai dengan kedua jari nya.


Dan tak lama Annisa turun dengan menggandeng tangan kecil putra nya. Mereka turun namun perdebatan mereka masih saja berlangsung.


"Bunda aku nggak mau pake ini Bun, ini bikin aku gerah tau, nggak mau ah lepas saja" protes Amier yang tidak mau memakai setelan kemeja yang senada dengan mereka.


"Oh jadi kamu cil yang bikin lama?!" tanya Asyifa dengan kesal setelah sang adik yang di gandeng Bunda nya berada di depannya.


" Apaan sih kak, aku tuh udah gede bukan bocah kecil lagi!" protesnya.


"Heleh kalau bukan bocah kecil lalu apa, Kakek Kakek?" ketus Syifa.


"Ayah..." rengek Amier membuat Zidan terkekeh.


"Sudah-sudah nanti kita malah telat ayo kita berangkat" ujar Annisa menengahi.


Mereka pun berangkat dengan mobil yang di kendarai supir karena Annisa melarang Zidan untuk menyetir lagi.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Suasana aula sekolah begitu riuh. Reyyan melambaikan tangan nya kepada Asyifa dan menyuruh nya mendekat.


Tempat itu sudah di sediakan oleh panitia khusus untuk keluarga Husein mengingat keluarga mereka ikut dalam pengembangan sekolah itu.


"Wah Syifa kamu cantik banget tau, beda sama yang biasa nya" kagum Reyyan.


"Ehm" balas nya singkat.


Syifa menyalimi Opa Oma dan juga yang lainnya begitu juga dengan Annisa Zidan dan Amier tentunya tak tertinggal ibu dari Annisa. Setelah itu baru lah Asyifa duduk di sebelah Reyyan.


"Gugup nggak Syifa?" tanya Reyyan.


"Lumayan sih, tapi gimana dong nggak bisa di wakili" jawab nya cuek.


Reyyan menepuk jidatnya" ya kali di wakili ada-ada saja kamu" ucap Reyyan gemas.


"Hehehe lagian kamu aneh siapa sih yang nggak gugup mau di beri penghargaan lulusan terbaik " bangga Syifa yang di akhiri dengan kekehan geli membuat Reyyan memutar bola matanya jengah.


"Oh yah habis ini kamu traktir aku makan yah" ucap Reyyan dengan menaik-turunkan alisnya.


"Kebiasaan nih minta traktir mulu" kesal Syifa.


"kalau lebar itu empang puas kamu" kesal Syifa membuat Reyyan tertawa geli.


"Tes..tes selamat pagi semua nya" intrupsi MC menghentikan obrolan samua orang di dalam aula.


Kata sambutan demi sambutan di berikan dan tiba saatnya untuk mengumumkan kelulusan mereka.


"Hari ini adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh semua murid dan juga para orang tua mereka, setelah tiga tahun lama nya belajar dan hari ini kalian dapat melanjutkan pendidikan kalian ke jenjang yang lebih tinggi karena kalian di nyatakan lulus seratus persen!!"ujar kepala sekolah membuat para murid bersorak senang.


"Hari ini juga kita akan memberikan penghargaan sebagai lulusan terbaik tahun ini. Dan semoga dia bisa jadi contoh yang baik untuk teman-teman seangkatan nya maupun adik kelas nya. Dan tanpa menunda lagi mari kita sambut ASYIFA PUTRI ANNISA" ucap kepala sekolah yang membuat aula riuh dengan tepuk tangan.


Asyifa menarik nafas nya dalam-dalam dan tersenyum pada Bunda dan keluarganya.


"Jangan gugup sayang" ucap Annisa memberi nasihat yang mendapatkan anggukan kepala dari putri nya.


Kepala sekolah memberikan piala dan juga piagam dan Asyifa mengambil mic yang di berikan oleh MC.


"Terima kasih semua nya terutama keluarga dan terkhusus untuk Bunda dan Ayah yang selalu mengarahkan aku untuk selalu mengutamakan belajar, terima kasih Bunda, terima kasih Ayah kalian selalu menjadi semangat aku untuk menjadi yang terbaik" ucap Asyifa dengan air mata yang sedikit keluar.


Annisa juga menitikan air mata. Zidan mengangkat kedua jempol nya. Terlihat berlebihan mungkin, tapi setelah keadaan yang tidak seperti dahulu kala putri nya bisa mendapatkan juara itu sungguh pencapaian yang luar biasa.


Setelah acara selesai mereka berfoto bersama dan di saat berfoto ria Aditya dan juga Bian datang dengan membawa paper bag berisi kado.


"Kakak..!" panggil Bian sembari berlari ke arah mereka.


"Bian.." panggil nya balik senang. Di acara nya ini mereka berkumpul menjadi satu sungguh ada perasaan yang begitu tak dapat di ungkapkan.


"Aku bawa kado buat Kakak" ucap nya sembari memberikan paper bag itu.


Aditya hadir di antara mereka berdua.


"Selamat sayang telah menjadi lulusan terbaik" ucap Aditya tulus dan senang.


Asyifa melirik ke belakang melihat reaksi Bunda nya. Annisa seakan tahu dia mengangguk mengizinkan.


Asyifa terlihat sumringah dan menghambur memeluk Aditya. Aditya sempat kaget dan juga senang tentu nya. Putri nya lebih dulu berinisiatif memeluk dirinya.


Dia dengan segera membalas pelukan sang putri dan di selingi sedikit air mata yang menetes di pipi nya.


Keluarga mereka melihat interaksi kedua ayah dan anak itu pun ikut tersenyum. Sekarang tidak ada lagi dendam, yang mereka inginkan adalah kebahagiaan anak-anak mereka.


Zidan merangkul pundak sang istri, Annisa menatap Zidan dan tersenyum begitu pula dengan Zidan sendiri.


Acara itu di akhiri dengan foto bersama dan Aditya bersama Bian pun ikut serta.


Kebahagiaan sangat terlihat dari wajah-wajah mereka. Namun Zidan sejenak memundurkan diri karena dia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.


Darah, satu kata yang mengisyaratkan banyak makna dan beberapa detik kemudian dia tumbang dan tak sadarkan diri membuat semua nya kaget dan juga panik.


"Ayah...!" panggil Annisa yang melihat nya terlebih dahulu dan membuat semua nya mengalihkan perhatian mereka pada tubuh Zidan yang tumbang.


Mereka seketika menghampiri nya dan langsung membawa Zidan ke Rumah Sakit.


BENTAR LAGI TAMAT😭😭😭.


LIKE COMMENT VOTE JANGAN LUPA πŸ˜….


SARAN SAJA SEDIA TISU SEBELUM MEMBACA CHAPTER SELANJUTNYA 😒.