Single Parent

Single Parent
60.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.


Hari yang sibuk untuk Annisa karena hari ini adalah hari syukuran ulang tahun pertama putra nya yang bernama AMIER YUSUF AL-HUSEIN bersamaan dengan syukuran kelulusan Asyifa dan Reyyan di kediaman keluarga besar Al-Husein.


Meskipun sudah di larang untuk turun tangan langsung oleh sang suami, tetap saja Annisa tidak mau diam. Seperti sebelumnya kesukaan dia di bidang dekorasi pun di tuangkan pada acara putra-putri dan keponakan nya itu.


Sempurna, satu kata untuk menilai dekorasi yang di buat oleh Annisa. Nuansa biru dan putih mendominasi dekorasi ruangan kali ini. Membuat siapa yang melihat akan berdecak kagum.


Syifa memang tidak terlalu menyukai warna pink seperti anak perempuan kebanyakan. Karena itu Asyifa tidak memperdulikan warna apa yang di dekor sang Bunda. Yang dia peduli hanya cake cokelat yang ada di depan nya itu.


Seorang anak perempuan mendatanginya dan menarik ujung kemeja yang Asyifa kenakan. Dia menunduk dan mendapati Adiba putri dari Naura kakak kembar sang Ayah. Dengan suara cadel nya membuat Asyifa gemas ingin mencubit, walaupun Adiba sering sekali menangis karena terus saja di jahili oleh Syifa. Tapi tidak membuat Adiba kapok untuk kembali berbicara ataupun minta tolong pada Syifa.


"Tata mau itu" ucap nya menunjuk cake yang berada di atas meja.


"Adiba mau ini?" tanya Syifa menunjuk cake di depannya dan mendapat anggukan dari bocah itu.


"Kamu nggak boleh makan ini, nanti kamu nggak lancar-lancar ngomong nya, mendingan Diba minta cucu ajah sama Mama kan Diba masih kecil" kata Asyifa memberi alasan. Dan mata yang berkaca-kaca membuat Asyifa tersenyum puas.


Annisa yang kebetulan lewat dan mendengar putrinya sedang mengerjai adik sepupunya itu merasa gemas. Dia mengambil kan sepotong cake dan memberikan nya pada keponakan nya itu.


"Maacih Ante" ucap Adiba dan menjulurkan lidahnya pada kakak sepupu nya itu, Annisa terkekeh dan mengangguk.


Asyifa yang melihat Bunda nya memberikan cake itu seketika senyuman nya pudar.


"Ih Bunda, kok di kasih sih?" kesal nya sembari melipat kedua tangannya.


"Jangan suka begitu sama saudara" nasihat Annisa.


"Tata jeyek kaya bebek" ledek Adiba dan berlari ke arah Mama nya yang sedang berada dapur.


Asyifa menggeram kesal.


"Bunda mah, Syifa sebel sama Bunda" ucap Asyifa mengerucutkan bibirnya.


"Siapa yang sebel sama Bunda?" saut Zidan yang baru saja datang.


Asyifa meringis melihat sang Ayah yang mendekat. Dia akan berlalu kabur namun sebelum berhasil Zidan sudah lebih dulu memeluk tubuh nya.


"Ampun Ayah.... nggak lagi aaa...Bunda tolongin aku Bun" teriak Asyifa.


Zidan bertambah semangat menggelitiki perut putri cantik nya itu. Annisa tertawa pelan.


"Sudah-sudah nanti kelewatan jadi nangis. Ayo sebentar lagi akan di mulai acara nya" ucap Annisa menengahi.


💢💢💢💢


Acara berjalan dengan lancar dan tak sedikit dari para tamu yang datang. Hampir semua nya datang mulai dari teman sekelas Asyifa dan Reyyan dan juga para tetangga.


Meskipun acara nya sederhana namun begitu meriah mengingat yang menghadiri acara itu adalah anak-anak.


Setelah acara tersebut usai, keluarga besar Al-Husein berkumpul untuk makan malam bersama tak tertinggal Vita dan suami beserta Revan anak nya.


Mereka berkumpul di ruang keluarga dengan menggunakan tikar. Setelah mereka selesai makan malam mereka pun duduk bersama sembari menemani anak-anak mereka mewarnai.


Annisa pamit terlebih dahulu untuk menidurkan Amier karena sedari tadi dia menguap dan mengucek mata nya tapi tak mau bilang ingin tidur karena sedang asyik menggambar.


Meski Amier enggan untuk tidur tapi rasa kantuknya lebih mendominasi dan akhirnya dia menuruti perintah Bunda nya.


Annisa menggendong sang putra dan masuk ke dalam kamar. Sebelum diri nya membaringkan tubuhnya dia melihat selembar kertas yang terjepit di pintu laci saat hendak meletakkan ponsel nya.


Dia hendak memasukkan kertas itu kembali namun nama rumah sakit yang tertera di kertas itu membuat nya penasaran.


Dia mengurungkan niatnya untuk memasukannya kembali dan mengambil kertas itu untuk dia baca.


Nama yang tertera di dalam kertas itu membuat nya mematung. Dia membaca kertas itu berulang-ulang dan nama itu tidak berubah. Satu nama yang amat sangat dia kenal tercantum di kertas itu.


Air mata nya tak kuasa terbendung. Dia menangis begitu pilu. Amier yang seperti merasa apa yang di rasakan oleh Bunda nya pun juga ikut menangis.


Orang yang berada di ruang keluarga pun mendekati mereka dengan panik mendengar suara tangisan Amier yang begitu kencang.


Zidan masuk lebih dulu dan di ikuti yang lain nya. Dia mematung melihat bidadari nya menunduk menyembunyikan wajah nya di atas kedua lututnya.


Zidan memberi isyarat pada Vita untuk membawa Amier keluar. Vita yang mengerti langsung menggendong Amier yang masih menangis sesenggukan. Dia membawa nya keluar dan di ikuti yang lainnya.


Zidan mendekati istri nya. Dia memeluk nya dari belakang dan ikut bersimpuh di lantai.


"Maafin aku sayang, aku salah" ujar Zidan menyesal setelah melihat kertas yang di pegang oleh Annisa yang sudah sedikit teremas.


Annisa tidak menggubris nya. Dia masih saja menangis.


Zidan membalikkan badan sang istri dan memeluk nya dengan erat, Annisa juga balik memeluk tubuh suaminya dengan sama erat nya. Sangat erat seakan tak ingin dia pergi.


Zidan ikut menangis juga. Hatinya sakit melihat pujaan hati nya menangis dengan pilu.


Setelah tangisannya mereda baru lah mereka keluar menemui orang rumah karena mereka sudah lumayan lama menunggu. Hanya ada orang dewasa yang menunggu.


"Anak-anak kemana Mah?" tanya Zidan.


"Mereka di kamar Reyyan dan Amier sudah tidur sama Adiba dan juga Alia tadi di kamar Naura" ujar Mama dan mendapat anggukan dari Zidan.


Mereka duduk. Sesaat suasana menjadi hening. Zidan melirik istri nya yang berada di pelukan Vita. Dia menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.


"Sebelum nya aku minta maaf sama kalian, aku bukan berniat untuk tidak memberi tahu tapi aku nggak mau membuat kalian cemas dan khawatir" kata Zidan mengawali pembicaraan.


Mereka jadi lebih bingung dan saling memandang satu sama lain. Zidan menarik nafas lagi dia mengeluarkan selembar kertas dan di letakkan di meja.


Mama lebih dulu mengambil dan membaca nya. Dia menutup mulutnya kaget seketika air mata nya mengalir tak terbendung.


Kertas itu beralih dari satu tangan ke tangan yang lain. Respon mereka hampir sama, terkejut dan ada rasa takut kecuali Raka suami dari Naura. Dia sudah lebih dulu tahu karena dia pernah melihat Zidan yang berada di rumah sakit tempat dirinya bekerja sebagai dokter anak.


Dan Zidan meminta pada nya untuk tidak memberi tahu pada keluarga yang lain. Karena dia takut mereka akan seperti ini. Dan hal yang dia takutkan pada akhirnya terjadi.


"Mengapa kamu tidak mau jujur sama kita Zid, kamu anggap apa kita disini, kita itu keluarga dan tidak seharusnya kamu menyembunyikan hal yang serius seperti ini!" marah Papah.


"Dan bahkan kamu juga menyembunyikan nya dari istri mu sendiri!" sambung nya.


Zidan menunduk dalam "maaf" hanya kata itu lah yang terlontar dari mulut nya.


KLIK LIKE DAN COMMENT YUK...VOTE NYA JANGAN KETINGGALAN 😅😅.