Single Parent

Single Parent
50.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Zidan melajukan motor besar nya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang lumayan senggang membuat nya melaju dengan kencang.


Dengan tergesa dia masuk ke dalam rumah, pikiran nya sudah kemana-mana, hal buruk sempat terlintas di otak nya.


Dia menaiki tangga dengan berlari.


"Ada apa sebenarnya sayang?" tanyanya pada sang istri dengan nafas yang sedikit terengah, dan melepaskan jas nya.


"Aku juga nggak tau, Syifa pulang tiba-tiba saja masuk ke kamar dan membanting pintu, cepat Zid, aku takut terjadi sesuatu dengan nya" tangis Annisa.


"Syifa sayang, ini Ayah nak, buka pintu nya Ayah mohon" gedor Zidan tapi tak ada jawaban dari dalam.


"Syifa, kalau tak di buka Ayah dobrak yah" seru Zidan.


Tak menunggu lama, Zidan mendobrak pintu kamar Asyifa hingga terbuka.


Mereka masuk, Annisa menjerit dengan apa yang di lihat nya.


"Syifa sayang, bangun nak kamu kenapa?, kenapa bisa luka lebam seperti ini, siapa yang buat anak Ayah seperti ini?" tanya Zidan panik melihat putri nya dengan wajah penuh lebam, tapi Asyifa tidak menjawab, mata nya masih terpejam.


Dengan cepat Zidan menggendong Asyifa untuk di tidur kan pada ranjang nya.


Annisa segera mengambil baskom berisi air dan lap untuk membersihkan tubuh putri nya.


"Ini semua salah ku, andai saja aku menjemput nya tadi, semua nya tidak akan seperti ini" tangis Annisa sembari mengelap Asyifa.


Zidan merangkul pundak istri nya.


"Nanti aku akan cari tahu apa penyebabnya putri kita jadi seperti ini, kamu tenang sayang"


Zidan menenangkan.


Dia mengambil ponsel nya dan menelpon, seketika wajah nya merah padam menahan emosi.


🕳️🕳️🕳️🕳️


Jam pelajaran Asyifa sudah berakhir sedari tadi, dia sekarang sedang menunggu jemputan yang di kirim oleh Ayahnya, tapi sudah sekian lama dia menunggu, tapi tak kunjung datang juga.


Ada segerombolan kakak kelas yang berjalan dengan bercanda, tanpa melihat ke depan, salah satu dari mereka tersandung kaki Asyifa yang sedang duduk di anak tangga, bukan salah Asyifa sebenarnya, tapi Asyifa karena merasa lebih muda dari mereka , dia lebih dulu meminta maaf, tapi kesempatan itu malah di gunakan si kakak kelas untuk membully.


"Maaf kak"ucap Asyifa.


"Kamu itu gimana sih" marah salah satu kakak kelas dan menonyor kepala Asyifa.


"Begini nih kalau anak yang nggak ada Ayah nya" lanjut yang lain.


"Aku punya Ayah kok" jawab Asyifa bangga.


"Heleh, paling bentar lagi bakalan ninggalin kamu, kaya Ayah kamu yang dulu" ejek nya.


Asyifa tidak terima dengan apa yang di bilang kakak kelas nya, dia mendorong anak yang mengejek nya itu, tapi karena kalah jumlah, dia jadi kalah meski pun kakak kelas nya juga mendapat luka yang di berikan oleh Asyifa, tapi luka dan lebam di Asyifa lebih banyak, karena kalah jumlah.


Saat aksi nya akan semakin brutal, supir yang di utus Ayah nya datang,dan menghentikan aksi brutal mereka.


"Non,ga apa-apa Non?" tanya supir khawatir.


Asyifa tidak menjawab hanya menggeleng saja, tidak ada air mata yang mengalir rasa kesal nya melebihi rasa sedih nya, dia meminta pada nya untuk tidak memberi tahu Ayah nya, karena dia tahu Ayah nya tidak akan melepaskan orang yang menyakiti nya.


Tapi tetap saja Ayah nya itu tidak habis akal, sebaik dia menutupi, tetap saja ketahuan, lebam di wajah nya juga tidak bisa dia sembunyikan.


Hingga malam tiba Asyifa baru saja membuka mata nya, dia melihat Bunda nya tertidur dengan pulas sembari memeluk dirinya.


Dia menangis, ntah apa yang buat dia menangis dia juga tidak tahu, tapi mungkin saja karena dia telah membuat Bunda nya itu khawatir.


Annisa yang mendengar sayup-sayup suara menangis jadi terbangun dari tidur nya.


"Ya Allah Syifa, kamu udah bangun sayang, mana yang sakit sayang bilang sama Bunda" tanya Annisa khawatir.


"Syifa nggak apa-apa kok Bun, Bunda tenang ajah yah" ujar Syifa tersenyum.


Zidan masuk ke dalam kamar Asyifa. Dia melihat putri cantik nya itu sudah membuka matanya. Dengan cepat dia menghampiri.


"Syifa, Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Zidan khawatir.


"Nggak apa-apa kok Yah,Ayah jangan khawatir, anak Ayah kan kuat" ucap Asyifa tersenyum dan memeluk Zidan tiba-tiba.


"Ayah,Ayah tidak akan meninggalkan kita kan?" tanya Asyifa dengan suara yang purau.


Zidan tertegun dan mengerutkan alisnya.


"Syifa kok ngmong nya begitu?" tanya nya heran, tapi putri nya itu hanya menggeleng saja.


Sebenarnya Zidan tahu apa penyebab Asyifa nya itu jadi seperti ini, tapi dia ingin mendengar langsung dari mulut putrinya apa yang terjadi. Tapi lagi-lagi Syifa menggeleng cepat, Zidan menghembuskan nafas lelah.


"Syifa sayang, dengar sini nak" Zidan menjauh kan diri dari Asyifa guna melihat wajah putri nya. Dia memegang kedua pipi nya.


"Syifa, Ayah akan selalu bersama Syifa dan Bunda sampai kapan pun,Ayah janji tidak akan meninggalkan kalian, Syifa percaya sama Ayah kan?" ujarnya memberi nasihat pada putrinya.


Asyifa mengangguk "Janji ya Yah?" dia mengacungkan jari kelingking nya,dan di sambut dengan senang oleh Zidan.


Annisa yang tak tahu apapun, hanya bisa diam saja sedari tadi.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?,kok Bunda nggak di kasih tau" rajuk Annisa.


Sontak membuat kedua nya menengok,dan detik berikutnya mereka saling pandang kembali, mereka terkekeh membuat Annisa lebih kesal lagi.


"Iihh kok malah ketawa sih"Ucap Annisa tambah kesal.


"Rahasia Bunda.. Sayang" jawab mereka kompak.


Dan itu semakin membuat Annisa semakin tak di hargai, dia membuang muka dan melipat kedua tangannya di atas perut dengan ekspresi wajah yang kesal.


Asyifa dan Zidan tertawa melihat ekspresi lucu Annisa. Mereka seketika memeluk Annisa erat. Membuat nya tersenyum.


💢💢💢💢


Setelah kejadian kemarin, Asyifa tetap ke sekolah, tapi dia di minta untuk menghadap kepala sekolah.


Di ruangan itu sudah terdapat kakak kelas nya yang sedang di sidang oleh kepala sekolah, bersamaan dengan orang tua mereka masing-masing.


Mereka di minta untuk meminta maaf, dan Asyifa memang sudah memaafkan mereka, karena sebenarnya saat terjadi pembullyan, Asyifa sempat melawan namun karena dia kalah jumlah, jadi dia mendapatkan luka yang lebih banyak.


Tentu hal ini tidak luput dari campur tangan sang Ayah. Meskipun hal yang di katakan oleh kakak kelas kemarin itu menyakitkan untuk Syifa,tapi tidak bisa di pungkiri bahwa itu benar adanya.


Tapi yang dia tidak terima, karena si kakak kelas yang menghina Bunda tersayang nya, siapapun akan marah bila ada yang menjelekkan orang yang di sayang, tidak terkecuali Asyifa sendiri.


LIKE DAN COMMENT VOTE NYA JUGA 😁