Single Parent

Single Parent
41.



Seminggu berlalu dari pembicaraan rencana pernikahan Z&A, sekarang mereka berada di salah satu boutique langganan keluarga Zidan, bisa di bilang masih kerabat Zidan, karena Nenek Zidan dan Nenek pemilik boutique itu masih satu keluarga.


"Wah, Ayah keren banget pake jas itu, eemm cocok banget sama Bunda" puji Asyifa melihat calon Ayah nya mengenakan jas warna putih tulang.


Tubuh nya yang proposional di padukan dengan jas yang sangat pas di tubuh nya, membuat Zidan terlihat gagah.


"Asyifa suka?" tanya Zidan.


Syifa mengangguk "suka banget Yah,keren" ucap Asyifa mengacungkan dua jempol nya ke depan.


Bersamaan dengan percakapan mereka, tirai terbuka dan menampilkan sang calon pengantin wanita dengan balutan gaun berwarna senada dengan apa yang di pakai oleh Zidan.


Dengan model yang modern tapi masih dengan ke syar'i an nya.


Zidan menoleh dan mendapati Annisa yang berdiri di hadapan nya, pandangan nya tak teralih kan dari sang calon istri.


Annisa malu di lihat dengan penuh kekaguman oleh Zidan.


"Ehem...awas loncat itu mata" saut Vita dari ambang pintu.


Hal itu membuyarkan lamunan Zidan dari kekaguman melihat salah satu ciptaan Allah yang akan menjadi tulang rusuk nya kelak.


Zidan menoleh ke arah Vita dan berdecak kesal.


"Gangguin ajah sih" kesal Zidan.


"Nanti kalau udah saat nya, baru boleh deh di pandangin sampai mata keluar juga nggak apa-apa, sekarang belum boleh yah" ledek Vita, membuat semua orang di tempat itu tertawa.


Annisa yang menjadi objek pembicaraan jadi malu.


Ibu Annisa dan Mama Zidan yang sedari tadi di dalam boutique itu pun hanya tertawa kecil saja, mereka maklum saja dengan respon Zidan yang seperti itu.


Karena memang, keanggunan Annisa yang di balut dengan gaun itu pun menjadi semakin mengeluarkan aura nya, membuat semua orang yang melihat nya menjadi mengagumi dan mungkin saja menjadi sedikit iri oleh aura nya yang cantik dan menenangkan.


"Sudah jangan di pandang terus, kamu nggak liat tuh pipi calon mantu Mama sudah kayak kepiting rebus gitu" ucap Mama yang menengahi ledekan Vita pada Zidan.


Zidan menggaruk tengkuknya, dan Annisa segera pergi dari mereka untuk mengganti gaun yang ke dua nya.


Perawakan yang ideal dari Annisa membuat semua yang dia pakai menjadi semakin cantik saja.


Hampir seharian mereka fitting gaun maupun seragam yang akan mereka pakai di hari yang membahagiakan itu.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Asyifa tertidur di mobil saat dalam perjalanan pulang. Dia begitu nyaman di pangkuan sang Nenek.


Annisa melihat ke belakang melalui kaca spion dan mendapati Putri nya tertidur pulas.


"Pulas banget Syifa Bu?" ucap Annisa melihat putri nya.


"Iya, kayaknya capek banget dia seharian ini nemenin kamu" jawab Ibu.


"Bu, keputusan yang aku ambil ini bener nggak sih Bu?" tanya Annisa ragu.


"Maksud kamu?" tanya Ibu heran.


" Ya, nggak maksud apa-apa sih Bu, cuma pengin tahu pendapat Ibu ajah, mumpung masih belum ada ikatan" jawab Annisa.


"Kamu sudah tanya hati kamu kah?, sebelum kamu menerima pinangan Zidan kamu sudah minta sama Allah bukan?" tanya Ibu.


Annisa mengangguk.


"Dan jawaban nya?" tanya Ibu lagi.


"Jadi, kenapa harus ragu sayang,Ibu hanya ingin kamu dan Asyifa bahagia nak, yang Ibu lihat, nak Zidan begitu tulus sama kamu"jelas Ibu.


Annisa tersenyum, "Doa'in Annisa ya Bu" ucap Annisa tenang.


"Selalu nak, Ibu selalu mendoakan agar kau selalu bahagia" jawab Ibu menenangkan.


Dan tak lama mereka sampai di rumah, Annisa memarkirkan mobil nya di halaman.


Bukan hanya mobil nya saja yang berada di halaman tersebut, tapi ada mobil lain yang sudah terparkir di halaman sebelum Annisa datang.


Annisa mengernyit melihat orang yang duduk di kursi dekat pintu masuk, dua laki-laki beda usia sedang menunggu nya. dia mengenali nya, bahkan sangat kenal dengan nya.


Dia turun sembari menggandeng tangan putri nya, karena dia baru saja membuka mata nya karena di bangun kan oleh sang Bunda.


"Ada apa?" tanya Annisa Kepada Aditya setelah ada di depan nya.


"Maaf ganggu kamu, tapi Bian ingin menemui Kakak nya boleh kah?" tanya Aditya.


Bian langsung memeluk Asyifa.


Annisa melihat putri nya senang dengan apa yang di lakukan oleh Bian, dan dia hanya mengangguk saja mengizinkan.


Aditya begitu senang karena mendapat izin untuk bermain dengan putri nya, karena selama ini dia bertemu tapi masih dalam pengawasan Zidan dan itu atas izin Annisa.


Dia ke rumah Annisa untuk bertemu dengan putrinya tapi karena tidak melihat Zidan ntah mengapa dia begitu senang.


Seminggu terakhir ini, hubungan antara Ayah dan Anak serta Adik dan Kakak semakin baik-baik saja. Karena setelah Bian pulang dari Rumah Sakit, mereka selalu bertemu dan mereka menjadi akrab dan tak canggung lagi, tapi tetap Asyifa memanggil nya masih dengan sebutan Om, bukan Ayah.


Tak mengapa untuk Aditya, sudah bisa bermain dengan buah hati. ya saja sudah sangat beruntung, karena mengingat kesalahan. ya sewaktu yang dulu.


Dia sangat beruntung mempunyai mantan istri seperti Annisa, yang pemaaf, bisa di bilang baru bisa di maaf kan. Tapi itu sudah cukup bagi nya.


Tidak ada hal yang membahagiakan bagi Aditya dari kedekatan nya dengan anak-anak nya.


Annisa mencoba memberikan waktu untuk Ayah dari anak nya untuk bertemu dengan putri nya itu.


Annisa menghampiri mereka di teras depan dan ikut duduk, dia memberi undangan pernikahan nya dengan Zidan.


Dengan kaku Aditya menerima uluran dari Annisa. Dia memandang nanar kartu undangan pernikahan itu.


"Jadi kamu sudah mantap dengan pilihan mu?" tanya Aditya dengan suara yang sedikit tercekat.


Annisa mengangguk, dan membenarkan nya.


"Iya, aku yakin dengan pilihan ku" jawab Annisa mantap.


Aditya tersenyum kecut, dia menatap mata Annisa, membuat si empunya menjadi gugup, gugup karena mata itu lah yang selalu dia rindukan, dulu ! perlu di garis bawahi.


"Semoga dia bisa jadi imam yang baik buat kamu dan juga sayang pada Asyifa, maaf kan aku yang dulu, yang membuat kamu menangis" tutur Aditya tulus.


Annisa mengangguk dan tersenyum kaku.


Rasanya canggung sekali berhadapan dengan nya seperti ini.


Di kejauhan ada seseorang yang diam-diam di dalam mobil memperhatikan mereka. Dia menggenggam erat stir mobil nya hingga kuku-kuku tangan nya memutih. Dia menggenggam marah.


HAYOO, SIAPA TUH πŸ˜…πŸ˜… IKUTI TERUS YAH, JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE NYA DONGπŸ€— BIAR NAMBAH SEMANGAT 😍😍


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE😁