
"Aaarrgghhh....Kenapa kamu begitu peduli nya dengan dia mas, aku ini sekarang istri kamu, kamu lihat itu anak kamu, bukan kah kamu yang menginginkannya?" seru Yasmin marah dan membanting gelas.
"Apa yang kamu harapkan dari dia?, apa kamu akan mencari dia!, apa kamu akan kembali lagi sama dia!, kamu tidak lihat dia bersama laki-laki?, mungkin saja dia sudah menikah lagi !!" teriak Yasmin kesetanan.
Amarah Yasmin tak terkendali lagi, setelah beberapa hari yang lalu pertemuan nya dengan Annisa membuat sang suami berubah menjadi lebih dingin pada nya.
"Itu semua gara-gara kamu! andai saja, andai saja kamu tidak menghasut ku dulu, hal ini tidak akan terjadi Yasmin!".
"Dan aku tidak akan kehilangan anak aku yang pertama, anak yang kau bunuh dengan menabrak Annisa!, jangan anggap aku tidak tahu kebusukan apa yang telah kamu lakukan pada Annisa! " seru Aditya dengan mata yang merah karena marah.
"Ba... bagaimana kamu bisa tahu" ucap Yasmin gugup.
"Jangan mengira aku diam selama ini, bukan berarti kamu bisa seenaknya kayak gini" seru Aditya.
"Aku diam karena Bian, andai saja kamu tidak mengandung Bian, maka sudah dari dulu aku ceraikan kamu" tegas Aditya.
"Enggak...aku nggak mau kamu ceraikan aku, tolong maaf kan aku mas, aku nggak sengaja berbuat seperti itu,aku khilaf mas, tolong maaf kan aku jangan ceraikan aku" mohon Yasmin dengan berlutut memegang tangan Aditya.
Aditya pergi meninggalkan Yasmin yang menangis.
"Aaarrgghhh.... Annisa brengsek!!! " Yasmin meraung.
Tanpa di sadari mereka, sedari tadi di balik pintu masuk anak kecil itu memperhatikan pertengkaran orang tuanya, dia gemetar ketakutan berjongkok dan memegang kedua telinganya, tidak ada air mata yang mengalir hanya ada ketakutan yang teramat.
Aditya keluar dari kamar nya berjalan melewati Yasmin yang masih saja menangis.
"Mau kemana kamu mas,?! " seru Yasmin.
"Bukan urusanmu" jawab Aditya ketus.
Dia terus saja berjalan membuka pintu dan beranjak keluar rumah. Saat dia keluar, dia melihat anaknya 'Bian' yang bergetar hebat ketakutan.
"Ya Allah nak, kamu ngapain di sini sayang?" tanya Aditya sembari berjongkok.
" Bian takut " jawab bocah itu.
" Bian sini nak, Bian ikut Ayah yuk" ajak Aditya merentangkan kedua tangannya.
Bian mengangguk dan menerima ajakan Aditya, dia merangkul leher sang ayah.
"Kita mau kemana Yah? " tanya Bian polos.
"Kita ke sekolah kakak mau?" tanya Aditya lembut.
"Memang nya Bian punya kakak Yah?" tanya Bian.
"Punya sayang, nanti kita ketemu yah" jawab Aditya tersenyum.
"Asik.... Bian punya kakak, kayak teman-teman" teriak Bian girang.
Aditya tersenyum, dia sangat bahagia melihat tingkah Bian, sedikit mengobati rasa rindu nya pada Asyifa, sejak dia tahu kebenaran Asyifa yang masih hidup dia mulai mencari dimana Annisa dan Asyifa berada, Aditya mengerahkan kan anak buah nya untuk mencari mereka, saat sudah menemukan nya dia akan menceraikan Yasmin, karena di samping itu dia juga mengetahui apa yang di lakukan nya pada Annisa dan anak nya.
Tapi dia urung kan karena Yasmin yang lebih dulu mengandung anaknya. Niat nya di urung kan karena dia tidak mau kejadian itu terulang lagi, dia terpaksa tetap bersama Yasmin karena bayi nya.
Dan tanpa sepengetahuan istrinya, dan juga Annisa, dia memantau anaknya itu dari kejauhan, namun lama-kelamaan dia juga rindu ingin memeluk anak nya, meskipun jarak yang begitu jauh karena beda kota, Aditya tak mempersalahkan nya, asal bisa melihat anaknya dia tidak keberatan bila harus menyebrang lautan sekalipun, Aditya berpindah pada kota yang sama dengan Annisa karena Yasmin mulai curiga yang diri nya kerap kali bepergian pada kota yang sama setiap minggunya, Aditya khawatir akan keberadaan Asyifa di ketahui oleh istrinya, takut kejadian yang merenggut nyawa anak pertama nya terulang kembali.
Pada akhirnya dia berpindah ke kota yang sama dengan Annisa dengan alasan ingin mengembangkan perusahaan cabang nya yang berada di kota itu.
Tidak hanya Asyifa saja yang dia pantau tapi juga Annisa, dia ada sedikit bahagia karena Annisa tak lagi menikah kembali,
tapi pertemuan nya dengan Annisa di bandara beberapa waktu lalu bersama laki-laki, hati nya meradang ada sebuah rasa tak terima, apa lagi laki-laki itu mengaku bahwa dia adalah calon suami Annisa.
💢💢💢💢
"Ini sekolah kakak Yah, yyee...Bian mau ketemu kakak" semangat Bian.
Mereka turun dan mendekati gerbang sekolah, memang sebentar lagi Asyifa akan pulang. Dia menunggu beberapa saat, sesaat dia beranjak dari duduknya untuk menghampiri Asyifa, langkah terhenti melihat sesosok lelaki yang di samping Annisa waktu di bandara.
Zidan menggandeng Asyifa dan Reyyan sembari bercanda, membuat Aditya meradang karena anak nya yang dekat dengan orang lain.
Sebenarnya Zidan melihat keberadaan Aditya tapi dia mengabaikan dan dengan sengaja meledek Aditya, Zidan tersenyum miring meledek.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Asyifa" kata Zidan dalam hati.
"Ayo sayang kita masuk" ajak Zidan dan membuka pintu mobil.
"Makasih Om " ucap Asyifa tersenyum.
Di sisi lain Aditya geram, dia mengepal kuat tangan nya.
"Ayah, kok kakak nggak kelual-kelual, Bian udah kepanasan nih" Bian mengeluh.
"Ayo kita pulang" ajak Aditya lembut.
"Kita nggak jadi ketemu kakak Yah?" tanya Bian berkaca-kaca.
"Besok-besok ajah yah sayang"tutur Aditya.
"Nggak mau....Bian nggak mau pulang Ayah, Bian mau ketemu sama kakak hiks...hiks".
"Nanti yah sayang nanti ketemu nya,kakak udah pulang duluan soalnya" jelas Aditya.
"Memang nya rumah kakak dimana Yah? kok kakak nggak tinggal sama kita?" tanya Bian polos.
Aditya memijat pangkal hidung nya,pusing mau mengawab apa pada putra nya ini.
💢💢💢💢
"Bos !?" panggil Vita.
"Eemmhh " jawab Annisa sembari tak lepas dari buku laporan yang dia baca.
"Bos...iihh ngadep sini Kenapa aku lagi ngmong juga" ulang Vita.
"Kenapa sih Vita?" tanya Annisa menutup buku nya.
"Lagi ribet ini, bukan nya kamu bantuin juga, ini kan tugas kamu juga" kesal Annisa.
"Hehhe... nanti dulu dong bos,aku mau ngmong nih" ujar Vita.
"Ngomong tinggal ngmong nggak ada yang larang, aku dengerin "jawab Annisa nggak mau kalah sembari membuka bukunya kembali, tapi di cekal Vita.
"Gini, kamu sama Zidan ada kemajuan nggak" tanya Vita terang-terangan.
"Kemajuan apa?, biasa ajah tuh" jawab Annisa.
"Iihh Nisa, aku sebel deh lama-lama" saut Vita
Annisa hanya nyengir saja mendengar kekesalan Vita.
"Aku tau kamu ketemu kan sama 'dia' di bandara kemaren waktu kamu pulang" tanya Vita.
"Iya.." jawab Annisa sembari menunduk.
Jangan lupa untuk klik like dan comment yah man-teman terima kasih 😊