Single Parent

Single Parent
58.



Happy reading semuanya 😁.


Baby Amier sudah pulang sedari tiga hari yang lalu, kesibukan Annisa bertambah. Tapi beruntung nya dia ada suami yang selalu mendukung dan ikut serta dalam mengasuh kedua buah hatinya.


Dia tidak menggunakan jasa baby sitter karena alasannya cukup sederhana, hanya ingin menikmati momen yang tak bisa di kembalikan lagi.


"Bun, Ayah berangkat ke kantor dulu yah" bisik Zidan setelah siap dengan setelan jas nya.


Annisa tersenyum dia mengangguk dan mengambil tangan suami nya untuk dia salimi, Amier baru saja tertidur setelah di mandikan dan di beri ASI.


Zidan mencium kening dan kedua pipi Annisa, tak lupa bibirnya yang selalu jadi tempat favorit nya.


"Udah sana jalan nggak ada habis nya nanti" tukas Annisa.


Zidan cemberut, berapa lama lagi dia harus berpuasa. Annisa terkekeh seperti tahu apa yang di inginkan sang suami mesumnya ini.


"Yang sabar ya Yah, semua akan cepat berlalu, nikmati proses nya oke" kata Annisa, Zidan hanya mengangguk lesu.


Perhatian mereka teralihkan pada pintu kamar yang terbuka pelan, putri cantik nya sudah siap dengan seragam sekolah nya.


Mereka pun pamit berangkat ke tujuan masing-masing.


💢💢💢💢


Setelah mengantar putri cantik nya ke sekolah, baru lah dia pergi ke kantornya.


"Pagi pak". sapa sekertaris Zidan.


"Pagi, ada jadwal apa saya hari ini?" tanya Zidan setelah masuk kedalam lift.


"Hari ini ada schedule temu dengan perwakilan dari perusahaan x pada jam sebelas sekaligus undangan makan siang pak" ucap asisten nya mengingatkan.


Zidan mengangguk dan berjalan keluar setelah lift sampai di lantai ruangan nya.


" Apa ada yang lain?" tanya nya tanpa mengalihkan pandangan pada ponsel yang ada di tangan nya.


"Tidak ada pak, hari ini hanya itu saja, karena hal yang lain sudah di alihkan pada perwakilan perusahaan kita sesuai permintaan bapak"jelas nya, Zidan mengangguk kembali.


💢💢💢💢


Pertemuan Zidan dan client bertempat di Restoran, dan kebetulan Restoran Annisa lah yang menjadi pilihan dari client nya tersebut.


Zidan memasuki Restoran dan para karyawan Annisa menyapa ramah, mengingat dia sebagai suami dari Bos mereka.


Dia duduk di salah satu kursi yang telah di pesan sebelum nya. Vita menghampiri dia dan menyapa.


"Tumben di sini pertemuan nya?" tanya Vita setelah duduk di kursi depan Zidan.


"Client yang minta" jawab nya singkat. Vita hanya membulat kan bibirnya, dia berlalu pergi karena memang keadaan Restoran yang sedang ramai


Dan tak lama client yang di tunggu datang dan menyapa, Zidan sedikit kaget dengan client nya kali ini.


"Hai Zid?" sapa nya. Zidan mendongak.


"Oh..Hai..Fika?" kaget nya.


Fika, iya dia Fika teman Zidan waktu di Aussie. Dia duduk dan mulai berbincang.


"Kok aku nggak tau kamu yang mewakili nya?, sejak kapan kamu kesini?" tanya nya.


"Baru dua hari yang lalu sih, terus aku dapat tawaran bagus di sini" jelas nya.


"Wah aku surprise banget loh kamu bisa di sini" ucap Zidan.


"Hehehe, sebenarnya aku juga nggak tau kalau kamu direktur dari perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami, pas aku tahu, aku seneng banget" bahagia Fika.


"Oh yah kamu sudah pesan makanan belum?, pasta di sini enak banget loh" ujar Fika.


"Kok kamu tahu pasta di sini?" tanya Zidan heran.


Zidan hampir saja tersedak, apa? kakak ipar?, jadi dia adik dari Aditya?, tanya nya dalam hati.


"Tunggu?, kamu bilang tadi pemilik Restoran ini punya mantan kakak ipar kamu?, jadi kamu adik dari Aditya?" tanya Zidan memastikan.


Fika mengangguk pelan, dia mengerutkan dahi nya bingung.


"Kamu kenal kah?" tanya Fika.


"Bukan cuma kenal, kenal banget malah" jawab Zidan, Fika mengangguk dan tersenyum.


"Dan juga Annisa itu istri aku sekarang" lanjut Zidan serius.


Fika tertegun, sejak kapan Zidan menikah, hati nya tercubit, dia tersenyum canggung mendengar itu.


"Kamu, sudah menikah?" tanya Fika dan Zidan mengangguk dengan tersenyum lebar.


Dia tidak tahu bahwa ada hati yang sakit karena senyum lebar nya itu.


"Ka.. Kapan?" tanya nya gugup.


"Hampir dua tahun yang lalu" jawab Zidan, Fika mengangguk menyembunyikan rasa kecewanya.


Iya dia memang mencintai Zidan sejak ketidakadaan nya Zidan di samping nya dulu, dia baru merasakan kehilangan dan baru menyadari bahwa dia mencintai nya. Alasan dia sering pulang ke Indonesia salah satunya adalah untuk mencari keberadaan Zidan.


Namun mendengar kenyataan ini seperti hal nya dia harus terpaksa menelan pil pahit. Orang yang di cintai nya sudah menikah, dan dia menikah bukan dengan orang lain melainkan dengan kakak ipar nya dulu.


Sesakit ini kah?, sewaktu dia putus dengan pacarnya dulu, dia tak merasakan rasa yang begitu sakit seperti ini.


Hati nya menjerit, dia harus merelakan lagi cinta nya dan bukan untuk dirinya saja. Ini demi mantan kakak ipar nya, dan juga keponakan nya.


Iya dia tahu segalanya apapun yang terjadi dengan rumah tangga Kakak nya, Aditya, dia tahu semuanya.


Dan sekarang, setelah sekian lama Kakak ipar nya baru mendapatkan kebahagiaan, di lain sisi dia bahagia, dan di sisi lain dia merasa hancur.


Dia bingung apa yang harus dilakukan nya, monolog Fika dalam hati.


"Fik, Fika?!" panggil Zidan sembari menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Fika membuat si empunya tersadar dari lamunan nya.


" Eh iya, kenapa?" tanya Fika linglung.


"Kamu ngelamunin apa sih?" tanya Zidan heran.


"Enggak kok, nggak ngelamun " jawab Fika cepat.


Mereka pun melanjutkan perbincangan dan makan siang mereka, hingga sebuah kerja sama yang di bicarakan sebelum nya tersetujui juga.


💢💢💢💢


Zidan memeluk Annisa yang sedang menyiapkan makan malam. Dia menyibakkan jilbab istri nya dan menciumi bahu sang istri.


"Ih Ayah udah dong, nanti nggak selesai-selesai nih keburu Amier bangun" keluh Annisa beralasan karena dia begitu geli dengan perlakuan Zidan.


Zidan menghentikan kegiatan asik nya dan menjauhkan diri untuk duduk di depan meja makan.


Dan tak lama Asyifa turun dari kamar nya ikut bergabung.


Di tengah-tengah mereka menikmati makan mereka, tiba-tiba Zidan berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Annisa terheran dengan kelakuan Zidan yang tidak biasa.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Annisa khawatir.


"Aku baik-baik saja sayang jangan khawatir, aku ke toilet dulu" jawab Zidan.


Dia memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk. Dan setelah selesai dia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.


Dia mengatur nafas nya yang terengah. Zidan menatap wajah nya di cermin, dia tersenyum namun meneteskan air mata nya.


JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE COMMENT VOTE YAH MAN-TEMAN 🤗 TERIMA KASIH.