
Setelah sholat subuh, Zidan mengajak Asyifa dan Reyyan untuk berlari pagi, udara yang dingin membuat mereka malas untuk keluar, dua bocah itu masih saja bergelut di bawah selimut hangat mereka, dan hasilnya dia hanya pergi sendiri saja.
Dia berlari pagi, udara pagi yang dingin tidak menyurutkan niat nya untuk berolahraga.
Karena kekhilafan nya yang memakan banyak daging semalam membuat dia harus membakar kalori nya.
Dan berlari adalah cara yang mudah untuk dilakukan, dan efektif.
Dia berlari memutari jalanan Desa di sekitar Villa nya, banyak sekali ibu-ibu dan juga wanita yang melihat Zidan dengan kagum.
Di tempat ini, selepas subuh adalah hal yang sibuk untuk mereka, kebanyakan orang akan memulai pekerjaan nya di waktu ini.
Ini lah yang tidak di sukai oleh Zidan, godaan dari ibu-ibu yang dulu nya jadi tetangga sang Kakak waktu dia tinggal di Villa ini.
Zidan tidak menggubris godaan ibu-ibu itu, dia hanya tersenyum pada bapak-bapak saja yang berpapasan dengan dia, sebagai rasa sopan santun nya.
Dia jadi teringat waktu dia tinggal bersama Kakak nya untuk beberapa bulan.
Di depan gerbang Villa selalu ada makanan ataupun hadiah dari mereka.
Bagaimana dia tau?, karena tentu saja ada catatan kecil yang terselip di bagian dalam paper bag atau pun plastik.
Bahkan ada namanya juga dan itu membuat Zidan risih, tapi dia anggap rejeki anak Sholeh saja yang tiap pagi di siapkan makanan oleh mereka.
Dia sampai hafal nama-nama yang mengirimkan makanan itu, saking seringnya mereka mengirim.
Memang jadi orang tampan itu rejeki yah, tapi nggak semua orang tampan selalu beruntung, contoh nya sekarang dia di culik sama ibu-ibu hamil yang memegang erat lengan nya untuk di bawa pulang.
Suami ibu itu hanya bisa pasrah, dan alasan dari kepasrahan nya itu adalah "dari pada anaknya ngeces mulu waktu lahir, karena ngidamnya nggak kesampaian" begitu katanya.
"Ya Allah nikmat banget jadi suami yang sayang istri, nyampe rela ngikutin kemauan istri yang absurd. Semoga kalau nanti Annisa ngidam nggak begini ya Allah,aku nggak rela istri aku nanti memegang tangan pria lain selain diriku, Aamiin" doa' Zidan dalam hati.
Setelah di rasa ibu hamil itu sudah tenang, dia berpamitan pulang, dia tidak melanjutkan lari nya lagi, dari pada nanti ada yang menculik nya lagi.
Dan jangan lupakan apa yang dia hasil kan dari penculikan itu, lihatlah bagaimana susahnya dia membawa buah tangan yang di beri bapak ibu itu sebagai rasa terima kasih mereka.
Memang royal sekali mereka, tidak pelit memberi.
"Terima kasih banyak yah Den, telah mau di susahkan sama kita, maaf atas permintaan istri saya yang menyusahkan Aden" kata sang suami sopan.
"Nggak apa-apa Mas, saya juga terima kasih ini udah di bawain banyak bawaan, padahal nggak usah sampai segitunya loh Mas" jawab Zidan sopan.
" Iya nggak apa-apa Den, ini nggak seberapa dari pada bayi yang istri saya kandung, sudah lama kita menantikan kedatangan dia Den, mohon di terima ya Den, nanti saya nya yang nggak enak" jelasnya.
"Ya Allah Mas, jadi ini anak pertama nya?, wah... selamat yah Mas, semoga Allah selalu melindungi keluarga kalian dan persalinan nya nanti di lancarkan, dan selalu di lindungi oleh Allah, Aamiin" doa' Zidan.
"Terima kasih doa' nya Den" ucap Bapak itu sumringah.
"Kalau begitu saya permisi,Mas,Mba nya, sehat-sehat yah" ucap Zidan tulus.
Zidan pun pulang, dengan susah dia membawa buah tangan yang berat ini.
💢💢💢💢💢
Zidan memasuki Villa dan mendapati semua sudah berada di ruang keluarga sedang bersantai, kecuali Vita.
Asyifa yang menyadari kedatangan Zidan langsung menyambut dengan memanggil namanya.
Yang mendengar Salsa tertawa mengalihkan perhatian mereka dari Zidan. Mereka melihat heran dengan pasangan suami istri ini yang tertawa geli.
"Puas banget kamu kak liat adik kamu tersiksa begini, awas ponakan aku brojol ketawa mulu" kesal Zidan.
Perlahan Salsa berhenti tertawa, dia tidak ingat kalau ada nyawa lain di tubuhnya, dia memegang perutnya lembut.
"Lagian kamu nglawak sih Zid" ucap Salsa yang masih terkekeh.
Mereka yang tak paham hanya diam dan bertanya-tanya.
"Emang nya ada apa sih Sal?" tanya Mama penasaran.
"Mama ingat nggak waktu Salsa pernah cerita tentang makanan yang nyangkut di pager depan?, pasti Mama tau kan itu dari siapa?" tanya Salsa balik.
Mama terlihat mengingat dan setelah mengingat nya, membuat dia ikut tertawa juga karena mengingat hal yang absurd dulu.
Annisa bingung dengan keluarga ini, karena dia tidak mendapatkan jawaban, dia jadi bertanya pada Zidan dengan mengangkat dagu nya minta penjelasan.
Tapi Zidan hanya tersenyum malu, Annisa jadi kesal sendiri dan menghembuskan nafas nya pelan.
Dari arah dapur Vita yang membawa cemilan ikut bergabung, dia menatap Annisa yang dengan ekspresi nya sedang kesal.
Dia duduk di samping Annisa dan menceritakan apa yang di maksud oleh Salsa, karena sedari tadi dia mendengar dari arah dapur.
Zidan melangkah ke dapur dan meletakkan dari ' hasil kerja nya '.
"Oh, jadi begitu, lumayan juga yah jadi orang tampan, dapet makanan gratis dari para fans" sindir Annisa terkekeh, menengok ke belakang tepat nya ke arah dapur.
" Tersiksa tau, aku kalau pergi harus pake topi sama masker biar nggak ketahuan" kesal Zidan, sambil berjalan dan duduk di tengah Reyyan dan Asyifa.
Membuat Reyyan kesal dan Zidan memeluk Syifa yang asik dengan tablet nya.
"Berduaan bukan muhrim" bisik Zidan pada Reyyan.
" Tapi lumayan juga sih hemat pengeluaran bulanan, iya nggak Dad?" ucap Salsa pada suaminya.
"Iya, terus duit bulanan aku di beliin tas mahalnya kamu ya Kak" sindir Zidan.
"Iya lah memanfaatkan keadaan ajah, kan lumayan" jawab Salsa terang-terangan.
Mama yang mendengar itu jadi kesal sendiri.
" Oh, jadi begitu lelakuan kamu Sal?, nggak nyangka yah Mama tuh" ucap Mama berpura kesal.
Salsa sudah gelagapan mau jawab apa, Zidan sudah tertawa terbahak,dan di ikuti oleh semua nya.
Syifa dan Reyyan yang tidak mau tau urusan orang dewasa hanya cuek saja, apa lagi Revan yang asyik dengan dunia mainannya.
SEPERTI BIASA, YUK LIKE DAN COMMENT NYA JANGAN LUPA 😅
BERI MASUKAN TENTANG TULISAN AKU YAH OCEH.
VOTE YA JUGA 😁
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗