Single Parent

Single Parent
38.



Asyifa masih saja terdiam dan menatap adiknya dengan kasihan. Benarkah sebegitu ingin nya dia sampai sakit seperti ini?.


Aditya sudah lelah harus membangunkan putranya seperti apa lagi. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ranjang Bian dan menundukkan kepalanya sembari memegang tangan putra nya.


"Bian.." panggil Asyifa.


Dia masih setia memejamkan mata, namun mulut nya bergumam memanggil Kakak nya lirih.


"Bian?, katanya mau main sama Kakak?, sekarang Kakak datang nih, Bian nggak mau buka mata Bian?" tanya Asyifa polos.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Bian me ngerjap kan matanya, ajaib memang, mungkin karena dia tahu yang memanggil nya itu adalah Kakak nya, Kakak yang dia rindukan.


Dia menatap wajah Kakak nya dengan mata yang polos.


Asyifa tersenyum melihat mata itu akhirnya terbuka.


"Ayah, Bian membuka mata nya!" seru Asyifa tanpa sadar.


Seketika Aditya mendongak dengan raut wajah yang bahagia, dia menatap putrinya dan bergantian dengan putra nya. Tapi....


Tunggu...


Tadi Asyifa bilang apa?, Ayah?, Asyifa memanggil nya dengan sebutan Ayah?. Dia begitu bahagia mendengar nya.


Aditya segera memencet tombol di samping ranjang Bian, dan dengan tergesa Dokter membuka pintu. Pandangan Aditya tidak lepas dari Asyifa.


Asyifa yang di perhatikan jadi salah tingkah, apa dia ada salah sehingga Om itu memperhatikan nya dengan begitu lama, pikir Asyifa.


Dokter memeriksa Bian. Dan dia tersenyum melihat Bian tidak dalam masa kritis nya lagi.


Aditya mendekati Asyifa, mata nya berkaca-kaca.


Dia memegang tangan Asyifa, Asyifa jadi sedikit takut.


Dokter sudah memeriksa Bian dan menyatakan semua nya baik-baik saja, dia berpamitan pada Aditya, dan dia keluar bersama suster.


Aditya masih saja menggenggam tangan Putrinya erat.


"Tadi kamu memanggil apa nak?, Ayah??" tanya Aditya bahagia.


Asyifa mengernyitkan dahinya bingung, kapan dia memanggil seperti itu?.


Bersamaan dengan itu, semua orang masuk ke dalam dan itu menjadi kesempatan bagi Asyifa untuk melepaskan diri.


Dia berlari ke Bunda nya dan memeluk nya erat.


Annisa melihat heran sang putri. Ada apa dengan putrinya?, dari pelukan nya dia seakan meminta perlindungan?.


Zidan melihat itu sedikit tau dan mengusap lembut pucuk kepala Asyifa.


Asyifa mendongak dan tersenyum tenang.


Bian menangis memanggil Kakak nya, Annisa menuntun Asyifa mendekati Bian.


Bian mulai berceloteh karena senang nya.


Dia ingin meraih tangan Asyifa.


Asyifa mendongak menatap wajah Bunda nya. Annisa mengangguk dan tersenyum.


Asyifa kembali menatap Bian, wajah nya masih dingin tapi tangan nya terulur untuk menggenggam tangan Bian.


Bian sangat bahagia di sentuh Asyifa, dia ingin memeluk Asyifa, Asyifa kembali menengok ke Bunda nya dan jawaban nya sama.


💢💢💢💢


Lama Bian berceloteh, dia tak tampak seperti anak yang sakit, Asyifa hanya menanggapi nya dengan senyum dan menjawab sekedar nya saja.


Orang dewasa yang berada di ruangan itu diam tidak terlibat obrolan, hanya Asyifa dan Bian lah yang sibuk berbicara tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitar nya.


Yasmin masih saja diam dan tak mau minta maaf kepada Annisa, dasar Yasmin yang angkuh.


Mereka hanya terdiam canggung, dan sesekali melihat interaksi Kakak beradik itu.


"Maaf kan aku Nis, telah merepotkan mu" ucap Aditya tulus memulai percakapan.


Annisa hanya mengangguk.


"Dari karyawan kamu, aku sudah ke rumah kamu, tapi tidak ada orang, jadi aku pergi ke Restoran kamu dan meminta nomer kamu pada karyawan kamu" jawab Aditya.


Annisa hanya mengangguk dan terdiam saja.


"Bunda, kita pulang yuk, Asyifa udah ngantuk nih" ucap Asyifa lelah.


Bian mulai berkaca-kaca hendak menangis, Annisa yang melihat itu menghampiri nya memberi pengertian, karena tidak mungkin dia mengorbankan putri nya untuk anak orang lain.


"Bian, Kakak nya pulang dulu yah, Kakak mau istirahat, nanti kita jenguk Bian lagi, oke" ucap Annisa lembut.


"Kapan Bunda?" tanya Bian.


Mendengar kata Bunda yang keluar dari mulut mungil itu dia terhenyak, begitu pun dengan yang lain, apa lagi Yasmin yang tidak terima dengan panggilan itu.


"Bian, dia bukan Bunda kamu nak" kata Yasmin mengingat kan.


"Kan Kakak manggil nya Bunda, Mah, kan Bian adik nya Kakak, jadi Bunda juga Bunda aku Mah" celoteh Bian.


Ya ampun, anak sekecil itu mengerti apa yang terjadi di sekitar nya.


Annisa masih terkejut, Yasmin semakin kesal tapi tidak bisa berbuat apapun, yang lain hanya kagum dengan penuturan anak kecil itu. Dan Asyifa?, Asyifa cemberut saja dan melipat kedua tangannya di atas perut.


"Bunda aku tetap Bunda aku, nggak boleh di bagi-bagi, kan kamu udah punya Mama sendiri, jadi jangan panggil Bunda aku dengan sebutan Bunda" kesal Asyifa.


"Tapi kan Kakak itu Kakak aku, jadi Bunda sama ajah Bunda aku dong" jawab Bian nggak mau kalah.


Ya ampun, berapa tahun usia mereka?, tapi obrolan nya seperti orang yang merebut kan hak waris saja, tidak ada yang mau mengalah.


Zidan terkekeh geli melihat tingkah dua bocah itu, begitu pun mereka yang mendengar nya. Tentu saja tidak dengan Yasmin, dia mendengus kesal.


Asyifa yang mendengar kekehan mereka langsung menoleh dan melihat mereka tajam.


Terutama Zidan, aduh Kenapa dia yang jadi sasaran tajam nya mata Asyifa.


Zidan melipat bibir nya dalam, dan menghentikan kekehan nya.


"Ayo Bun, Syifa udah ngantuk" rengek Asyifa.


Annisa mengangguk, dan melambaikan tangannya pada Bian setelah berpamitan.


💢💢💢💢


Zidan mengantar Annisa dan keluarga nya pulang, Asyifa sudah tertidur sedari tadi.


Annisa masih bergelut dengan pikiran nya.


" Bagaimana perasaan kamu di panggil Bunda oleh Bian Nis?" tanya Zidan membuyarkan lamunan Annisa.


" Ntah lah, agak kaget sebenarnya tapi, hal itu memang tidak bisa di pungkiri kalau aku adalah ibu tiri nya" jawab Annisa sembari mengusap lembut kepala putrinya.


"Boleh kah aku memberi saran?" tanya Zidan lagi.


Annisa mengangguk" tentu" jawab nya.


"Jangan memisahkan antara Asyifa dan Ayah nya, apa aku berlebihan memberikan saran ini?" tanya Zidan takut-takut.


Annisa berfikir, Zidan melihat ekspresi Annisa dari kaca spion, menunggu jawaban dari Annisa.


"Zidan benar nak, tidak baik jikalau kamu memisahkan antara Anak dan Ayah, kau boleh tidak menyukai mereka tapi jangan ajari anak membenci Orang tua nya" Ibu Annisa ikut menyauti.


"Insya Allah aku sudah ikhlas kalau Syifa mau kenal dengan Ayah nya, tapi tetap dalam pengawasan aku Bu" jawab Annisa dan mereka mengangguk.


"Dan juga aku tidak akan mengizinkan Asyifa untuk menemui nya tanpa sepengetahuan dan izin ku" lanjutnya.


Mereka tersenyum dan mengangguk.


"Biarlah Syifa mengenal, tapi tidak untuk ikut dengan nya, aku nggak akan rela bila dia menguasai Syifa"


batin Annisa mengatakan dengan penuh penekanan.


JANGAN LUPA YAH LIKE NYA SAMA. COMMENT DAN VOTE NYA🤗


HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.