
Di pagi hari, Asyifa telah siap dengan baju santai nya, karena ini adalah hari libur jadi dia berniat untuk menjenguk Bunda nya seperti yang Zidan janjikan. Mata nya terlihat sedikit bengkak karena semalaman menangis.
Dia menuruni anak tangga, dan mendapati semua orang sudah duduk di kursi meja makan.
"Om, hari ini jadi kan mau jenguk Bunda?" tanya Asyifa saat berada di samping Zidan yang duduk di ruangan makan tersebut.
"Iya tapi sekarang Syifa makan dulu yah biar nggak sakit" ucap Zidan tersenyum sendu.
Zidan melihat Syifa dengan kasihan, dadanya terasa sesak.
Mereka pun makan dengan tenang, tidak ada gurauan seperti biasa nya, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring saja.
Setelah selesai, Zidan mengantar Syifa.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu, sepanjang perjalanan tidak ada celoteh Asyifa. Hanya ada suara mobil yang melaju.
Dia termenung menatap jendela yang berembun karena hujan di pagi hari itu, entah apa yang di fikirkan olehnya.
"Asyifa, maafin Om yah, maaf Om kira dengan tidak memberi tahu Syifa tidak akan membuat Syifa seperti ini. Maaf karena Om, Syifa harus sedih seperti ini, Om berniat memberi tahu Asyifa nanti setelah Bunda sadar, tapi Bunda belum sadar juga, ini yang Om takut kan" jelas Zidan pilu.
Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Asyifa hanya setetes air mata yang turun dan di hapus cepat oleh Syifa.
💢💢💢💢
Sesampai nya di Rumah Sakit. Zidan memberhentikan mobilnya di parkiran. Baru saja berhenti, Syifa langsung membuka pintu mobil dan berlari, Zidan menghembuskan nafas kasar dan menyusul Asyifa.
Sepanjang jalan Syifa berlari menuju kamar inap Bunda nya. Dia dua kali hampir terjatuh karena saking buru-buru nya, yang di dalam fikirkan nya hanya bertemu dengan sang Bunda.
Brak....
Pintu sedikit terbuka dengan kasar karena ketidak sabaran nya Syifa.
Membuat Nenek nya terkejut.
"Asyifa sayang, kamu di sini nak?" tanya Nenek takut-takut.
Tidak ada jawaban dari Syifa. Dia menatap Zidan yang baru saja tiba dengan tatapan tanya, Zidan hanya bisa mengangguk.
Syifa mendatangi ranjang kesakitan Annisa.
Matanya begitu kosong, tidak ada air mata yang jatuh.
"Bunda, bangun Bun jangan tidur lagi, Syifa kangen sama Bunda, ayo Bun bangun,
Bun...Bunda hiks... hiks"
pertahanannya runtuh, dia sudah menjanjikan pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, tapi kenyataan begitu pahit dia rasa, dan air mata lah yang jadi jawabannya.
Nenek melihat cucu satu-satunya menangis dengan pilu, tak tega dan ikut menangis pula.
Zidan hanya bisa memandang dari jarak yang sedikit jauh,memberi kebebasan pada anak dan ibu itu.
"Bunda emangnya nggak kangen sama Syifa Bun?, ayo dong Bun bangun hiks....hiks..." lirih Asyifa
"Bunda jahat!, katanya nggak mau buat Syifa nangis, tapi sekarang Bunda bikin Syifa nangis" kata Syifa menaikan suaranya.
"Syifa sayang jangan begitu nak, kasihan Bunda mu nanti sedih liat Syifa seperti ini, sudah yah" bujuk Nenek dan memeluk cucunya.
"Bunda nggak mau bangun Nek"adu Syifa pilu.
"Kita doa'in Bunda sama-sama yah sayang" tutur sang Nenek lembut.
Lagi-lagi Zidan menghembuskan nafas kasar dan keluar ruangan memberikan waktu kepada mereka.
💢💢💢💢
"Iya nih, biasanya kan yah aku tuh semangat banget kalau ada si bos, tapi sekarang separuh hati ku serasa pergi, aku nggak lagi nafsu makan, sedih aku tuh" ucap salah satu karyawan laki-laki bernama Ridwan.
"Halah lebay loe, bilang sok-sok an nggak nafsu makan, itu yang di tangan kamu bukan makanan tuh apa, hah!" ketus Mila.
"ini bukan makanan tapi cemilan, perlu di ingat ini ce..mi..lan" jelas Ridwan.
"Wan...wan... sandwich di bilang cemilan, terus makanan berat apa coba, sapi hidup" heran Mila yang membuat Ridwan mencebikkan bibirnya dan mengundang gelak tawa teman yang lainnya.
"Loe sirik banget dah sama gue, gue mau makan seberapa pun badan gue nggak gemuk-gemuk tuh, nggak kayak kamu makan dikit ajah udah megap-megap pengin langsung diet" kesal Ridwan membuat Mila kesal.
"Beruntung loe" jawab karyawan yang lain.
"Kerja-kerja ngrumpi mulu kerjaan nya" seru Vita yang baru datang.
"Eh..Bu Vita, oh yah Bu bagaimana keadaan si Bos? " tanya Ridwan.
"Masih belum sadar, minta doa' nya yah semua, biar cepet sadar dan kumpul lagi sama kita" jawab Vita.
Mendengar jawaban dari Vita membuat mereka merasa sedih.
"Ayo semangat-semangat,jangan sampai kendor semangat kita walaupun nggak ada Bos di sini, tunjukkan kerja kita biar Bos kita seneng pas sudah siuman, oke!" Vita menyemangati.
" Siap!! " jawab mereka semangat
💢💢💢💢
Malam tiba, keadaan Annisa masih seperti semula, cidera Annisa sudah sembuh tapi entah mengapa dia tidak mau membuka mata nya, mungkin saja dia nyaman pada tidur panjangnya.
Asyifa masih menunggu Bunda nya, dia tidak mau pulang, alhasil Zidan hanya mengalah dan membiarkan Asyifa di sana.
Setelah Asyifa tidur, Zidan menghampiri ranjang Annisa.
"Nis, kamu nggak lelah tiduran terus di sini?, memang nya kamu nggak kasian sama anak kamu Asyifa, dia sampai nungguin kamu di sini loh " kata Zidan lirih menatap wajah Annisa.
" Lihat tuh, dia sampai tidur disini " lanjut nya menunjuk Syifa yang tidur di sofa
"Bangun yah, jangan lama-lama aku juga kangen liat kamu tersenyum" ucap Zidan lagi, namun tetap saja sama tidak ada respon yang berarti, hanya suara mesin deteksi jantung saja yang menyaut dari keheningan malam itu.
"Ya udah deh aku ke luar dulu yah,mau beli kopi, kamu mau? nanti aku belikan sekalian hehehe" canda Zidan garing, dia tersenyum pahit, setelah mengatakan hal yang tak berguna seperti itu, dia pun berlalu meninggalkan ruangan.
Setelah kepergian Zidan, tak lama bola mata Annisa bergerak, sedikit demi sedikit dia terbuka dan mengerjap beberapa kali.
Dia menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala nya yang sedikit sakit.
"Di mana ini?" tanya Annisa pada dirinya sendiri.
puk...
Gelas kertas yang di pegang Zidan terjatuh, Zidan sudah kembali, dan melihat sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan. Rasa bahagia yang begitu menyeruak di dalam hati nya datang kembali.
Dengan seribu langkah dia melangkah menghampiri nya, mata yang hampir dua minggu ini terpejam kini terbuka kembali.
Membuat ukiran senyum di wajah Zidan.
Dia memencet tombol di samping ranjang Annisa, tak lama kemudian Dokter datang bersama suster dengan terburu-buru.
Karena mendengar suara berisik, Asyifa jadi terbangun, dan berteriak memanggil nama yang selama beberapa hari ini membuat dia jadi banyak berdiam diri.
"Bunda..." teriak Asyifa
Jangan lupa untuk klik like dan comment yah man-teman terima kasih 😊 vote nya jangan lupa juga😁.