Single Parent

Single Parent
28.



Annisa dan Asyifa sedang asik bercanda, tak lama dari kepergian Zidan, ada yang mengetuk pintu dan masuk setelah di beri izin oleh Annisa.


Annisa menegang melihat pria yang berdiri di depan nya dengan menggandeng tangan seorang anak kecil.


Anak kecil itu berlari ingin memeluk Asyifa, tapi Asyifa tidak menggubris dan mengeratkan genggaman nya pada baju sang Bunda.


Anak kecil itu berkaca-kaca hendak menangis tapi langsung di peluk oleh sang Ayah, Dia menatap nanar mereka, bahkan putrinya enggan untuk menerima kedatangan sang adik. Bisa di tebak dia siapa, benar dia adalah Aditya.


Orang yang dulu pernah menyia-nyiakan mereka, bahkan membenci nya.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Annisa pada nya dan memeluk erat sang putri.


Dia sebenarnya begitu takut melihat nya, apa lagi tidak ada orang di sekitar mereka, bagaimana jika kejadian kemarin terulang lagi?, bagaimana dia akan melawan nya dengan kondisi yang seperti ini.


"Izinkan aku untuk melihat anak ku Nis, aku tidak mau seperti kemarin yang menemuinya secara diam-diam" ujar nya.


"Bahkan sampai khilaf menculik nya dan membuat dia ketakutan seperti ini, maaf kan aku karena membuat kamu khawatir" lanjut nya.


"Anak siapa yang kau maksud?, anak kamu sudah meninggal sembilan tahun yang lalu" ketus Annisa membuang muka.


Perkataan Annisa membuat hati Aditya mencelos, ini memang salah nya. Dia harus menelan pil pahit karena kebodohannya, seandainya, seandainya masa itu terulang lagi, tapi itu hanya lah mimpi belaka, tidak mungkin hal itu terjadi.


Annisa sebenarnya tidak ingin memisahkan antara anak dan Ayah, tapi sikap egois dari Aditya yang ingin memiliki putrinya seorang diri dulu, membuat dia menjadi tega memisahkan mereka karena Annisa tidak ingin kejadian yang menimpa anak pertama nya terulang kembali.


"Annisa, kamu tidak bisa memisahkan antara anak dan Ayah, dia itu tetap anakku walaupun kita sudah berpisah, dan dia adalah darah daging ku, anak ku yang sah" jelas Aditya dengan sedikit meninggikan suara nya.


"Syifa adalah anakku, siapa yang meragukan dia adalah anaknya sendiri, bahkan kau menuduh ku berselingkuh! "geram Annisa.


Annisa sudah terbawa emosi, dia tidak mengingat bahwa ada anak kecil yang mendengar pertengkaran mereka.


Setelah merasakan pegangan Asyifa yang semakin erat, dia menoleh padanya dan baru teringat anaknya begitu ketakutan mendengar dia bersuara keras.


Karena memang Annisa tidak pernah bersuara keras seperti ini, dia hanya akan bersuara tegas.


"Tolong maaf kan aku soal itu, maafkan Nis, ini Bian dia anakku juga. Dia ingin sekali melihat dan bermain dengan Kakak nya, tolong izinkan dia untuk mengenal Syifa, Nis"


melas Aditya menunjuk Bian yang ada di gendongan nya.


Annisa hanya bisa diam, tidak bisa menjawab atau pun mengizinkan nya, apa dia terlalu jahat?, apakah dia terlalu egois dengan sikap yang seperti ini?.


"Tolong tinggalkan ruangan ini" seru Zidan dari belakang Aditya.


Mereka menoleh, Asyifa yang melihat Zidan langsung berlari menghampiri meminta perlindungan.


"Anda tidak melihat Asyifa begitu ketakutan melihat mu?" ketus Zidan.


"Aku kesini dengan tujuan baik, aku hanya..." ucapan Aditya terpotong.


"Hanya apa?, hanya ingin memanfaatkan anak mu untuk anakmu yang lain?, memang tidak salah kamu menemui mereka, tapi kenapa baru sekarang, kemana saja kemarin-kemarin" saut Zidan.


Zidan kembali ke ruangan Annisa karena kunci mobil nya tertinggal di atas nakas, tapi yang di lihat nya sedikit mengejutkan nya.


Aditya diam tak berkutik, kenapa Zidan selalu saja mendapat hal yang membuat dia tidak berkutik seperti ini.


"Sudahlah ini bukan waktu yang tepat untuk anda berada disini, lebih baik anda keluar sekarang" ucap Zidan yang sudah menurunkan nada bicara nya.


Seperti kata Zidan, Aditya pergi dari ruangan Annisa dengan sedih.


Setelah mereka pergi, Zidan menurunkan Syifa.


"Kamu nggak salah, maaf kan aku juga sudah melibatkan kamu dalam masalah ku" ucap Annisa sedikit tersenyum.


"Tapi Nis, maaf sebelumnya, Asyifa perlu tahu tentang Ayah sebenarnya, kasian dia apa lagi dia seorang anak perempuan" kata Zidan lembut.


Takut-takut Annisa membencinya karena menyinggung hal yang sensitif seperti ini.


"Memang benar, tapi aku belum siap Zid, mungkin lain kali" Annisa mencoba tersenyum meski kaku.


"Ya sudah aku ke bengkel lagi, sekali lagi maaf" kata Zidan berlalu setelah mengambil kunci mobil nya.


Tapi sebelum Zidan keluar, Asyifa memegangi ujung kemeja yang di kenakan Zidan. Membuat dia menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ayah jangan pergi, nanti kalau orang itu datang lagi bagaimana?" ucap Syifa sedih.


"Enggak, Orang itu tidak akan kembali lagi, sekarang Asyifa temani Bunda yah. Jangan membuat Bunda kesulitan oke?" nasihat Zidan. Dan Asyifa terpaksa mengangguk.


💢💢💢💢


"Ayo dong Mom, aku pengin ketemu sama Asyifa, hari ini Syifa nggak masuk sekolah soalnya, kangen nih" kata Reyyan merajuk.


Dia terus saja memohon pada Mommy nya, mengikuti langkah kaki nya dari belakang dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Reyyan, kamu ngertiin Mommy dong, Mommy ini lagi hamil, nggak boleh sering-sering di rumah sakit, lagian kemarin baru saja ketemu juga" saut Mommy nya yang sedari tadi mengambil buah-buahan dari kulkas untuk di jadikan rujak.


"Eemmm enak "ucap Mommy sumringah setelah mendapat kan rasa sambal yang pas untuk nya.


Reyyan hanya mencebikkan bibirnya juga ngilu melihat Mommy nya makan dengan lahap buah mangga muda.


"Reyyan, sudah jangan ganggu Mommy mu, dia tidak boleh pergi sering-sering kesana sayang" tutur Oma lembut.


"Tapi kan Oma, Reyyan kangen sama Asyifa, tadi saja dia nggak masuk sekolah" saut Reyyan dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya kan Bunda nya Syifa lagi sakit, maklum saja lah" jawab Oma.


Reyyan masih saja cemberut, dan berlalu meninggalkan mereka.


"Ngambek, katanya cowok keren, tapi gitu doang ngambek, hhuuu cupu" ledek Zidan yang baru saja tiba di rumah.


Reyyan yang mendengar suara Om nya itu bukannya marah seperti biasa nya, malah dia tersenyum sangat manis, membuat Zidan memicingkan mata nya curiga.


"Eh...Om Zidan" sapa Reyyan tersenyum.


"Mau apa kamu?, kaya nya Om nyium bau-bau yang nggak beres nih" ucap Zidan.


" Hehehe...Tau saja Om ganteng" rayu Reyyan.


"Huh...kabur ah..."teriak Zidan sambil berlari menuju kamar nya.


" Oommm Zidaaannnnn..." teriak Reyyan, membuat sang Mommy terkekeh.


Zidan sudah tertawa terbahak, dia sudah tau apa yang di niatkan oleh Ponakan nya itu, karena sedari tadi dia tidak sengaja mendengarkan rengekan nya kepada Mommy nya.


JANGAN LUPA UNTUK KLIK LIKE DAN COMMENT YAH MAN-TEMAN 😊


VOTE NYA JUGA JANGAN LUPA OCEH 🤗


HAPPY READING MAN-TEMAN 😊