Single Parent

Single Parent
54.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Senyuman Zidan pudar saat sang istri di sebrang sana mengatakan sesuatu, "ternyata perjuangan hari ini belum selesai " gumamnya dalam hati.


💢💢💢💢


"Beneran nih Zid kita harus panjat ini pohon?" tanya Azka tak percaya.


"Yakin kak, ayolah panjat, udah gerah banget ini pengen mandi, ya Allah ada-ada ajah deh ngidam nya,pas kak Salsa hamil Reyyan gini nggak sih kak?" tanya Zidan heran.


"Ya nggak gini amat sih, paling minta di beliin makanan malem-malem" jawab nya terkekeh geli mengingat sang istri waktu hamil anak pertama nya.


"Aku yakin banget itu anak kamu Zid" saut Raka terkekeh geli.


"Wah ngajak berantem nih orang, maksud nya apa nih ngomong begitu?!" kata Zidan yang tersulut emosi.


"Iya lah, soalnya sifat nya sama suka ngerjain orang" jawab nya santai.


Suasana yang tadi nya mulai panas seketika menjadi tawa, bisa ajah suami dari kembarannya ini, semenyusahkan itu kah dia dulu, huft dia jadi merasa kan bagaimana susahnya orang yang pernah di kerjain nya dulu.


Dia jadi menyesal pernah menceritakan kisah kenakalan nya itu pada sang istri, sekarang malah dia harus memanjat pohon yang dulu pernah jadi salah satu penyebab dirinya di buang ke negara tetangga.


"Kenapa nggak yang kita beli ajah sih, bilang ajah kalau itu hasil manjat" usul Raka.


"Enggak bisa Kak, kalau itu sih aku juga mau, jadi nggak susah-susah amat manjat nya" jawab Zidan.


" Kalian tau apa yang di bilang Annisa sama aku" tanya Zidan.


"Apa??" jawab mereka kompak.


"Katanya kalau bukan hasil metik sendiri dia bakalan tau dan hasilnya dia akan suruh aku buat tidur diluar" jawab nya muram.


"Uhhh sadis" jawab mereka kompak dan di akhiri tawa.


"Emang serem hukuman itu mah buat suami yang setia kaya kita ini" saut Azka membuat ke dua adik nya terkekeh.


Setelah hom pim pa siapa yang harus memanjat, akhirnya Zidan lah yang kalah, mau nggak mau harus mau, "tak apa lah demi anak dan istri", gumamnya.


Setelah meminta izin pada yang punya pohon yaitu pak lurah, Zidan memanjat pohon mangga yang tinggi nya lumayan, untung saja pak lurah ini baik, ya meskipun karena koneksi dari Ayahnya itu ikut andil, kalau tidak dia mungkin tidak bisa mengambil mangga itu karena mengingat dulu Zidan suka sekali memanjat pohon ini, tapi tidak bilang-bilang alias 'mencuri' dan sial nya selalu ketahuan.


pernah sekali dia memanjat pohon ini dan buah nya menimpa pak lurah, jika satu biji mungkin tidak akan sampai pingsan itu lurah, lah ini dia menjatuhkan satu batang pohonnya juga yang terinjak dirinya saat ingin mengambil mangga, al-hasil si lurah masuk Rumah Sakit karena tulang bahu nya yang retak.


Setelah memilah mana yang akan di ambil nya, akhirnya dia menjatuhkan pilihan nya pada buah mangga muda pesanan sang istri dan juga kakak-kakak nya.


Azka dan Raka saling mengarah kan Zidan agar bisa lebih mudah mengambil, tapi karena perdebatan kecil kakak ipar nya itu malah mencelakai nya. Dia terjatuh karena salah menginjak batang pohon yang tak kuat, dan akhirnya dia harus jatuh ke semak-semak yang berduri.


Mendengar suara jatuh, kedua kakak ipar nya kaget dan menengok ke arah Zidan yang sedang kesakitan.


Bahkan bukan cuma terkena duri saja,tapi kotoran ayam pak lurah yang menempel di pipinya dan juga baju yang di kenakan nya pun jadi penambah bumbu penyedap terjatuh nya Zidan, Zidan mengumpat di dalam hati, kenapa pula pohonnya dekat dengan kandang ayam, jadi begini kan akhirnya.


🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️


Mereka masih tertawa saja, melihat Zidan yang acak-acakan.


"Enggak, cuma ngambil mangga nih, buat Bunda kamu" jawab Zidan muram sembari menunjukkan mangga nya ke sang anak.


Dan pada akhirnya Zidan masuk ke dalam untuk membersihkan dirinya, Annisa menyusul Zidan kedalam hendak mengobati luka bekas duri.


Setelah lebih dari lima belas menit Zidan keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya sedang duduk di sofa dengan kotak obat di atas meja.


" Sudah selesai?" tanya Annisa dan Zidan mengangguk.


Annisa menepuk sofa meminta Zidan untuk duduk di samping nya.


"Maaf yah, gara-gara aku kamu jadi kaya gini" ujar Annisa menyesal sembari mengobati luka di lengan wajah Zidan


"Kamu sih, sakit tau, kenapa harus manjat dulu sih Yang" kesal Zidan.


"Oh jadi nggak ikhlas panjat-anjat, ini juga demi anak kamu, kalau nggak mau ya sudah jangan bikin aku hamil, gitu ajah repot, lagian nih ya kamu kan biasa manjat-manjat kayak begitu dulu" cerocos Annisa panjang lebar dengan menekan luka Zidan membuat si empunya mengaduh.


"Eh.. waduh mode galak nya on lagi,tadi imut banget, sekarang garang banget, ya ampun ibu hamil, mood nya naik turun, mending aku iya in ajah lah biar aman dari pada tidur sendiri nanti nya" gumamnya dalam hati.


Annisa membuang muka ke sembarang arah, Zidan jadi kelabakan melihat sang istri yang ngambek.


Muka Zidan turun ke arah perut Annisa, dia mengelus lembut perut nya dan menciumi nya sayang. Annisa melirik ke bawah melihat suaminya yang sedang bermanja di perutnya itu.


"Baby, bilangin sama Bunda dong, jangan marah-marah sama Ayah, nanti Ayah nya jadi sedih nih, memang nya baby mau Ayah yang tampan ini jadi sedih?, enggak kan ayo lah bujuk Bunda yah" monolog Zidan, Annisa terkekeh kecil tapi masih bisa di dengar oleh Zidan.


Zidan mendongak, senyum bidadari nya sudah terbit kembali. Dia menegakkan duduk nya dan memeluk sang istri sayang.


"Maaf sayang, aku salah, seharusnya aku tidak berbicara seperti itu" sesal Zidan dan Annisa mengangguk.


Mereka pun menyudahi perdebatan mereka dan keluar untuk menemui yang lain.


Vita melihat Bos dan teman rasa kakak nya itu sedang turun tangga, dia tertawa pelan mengingat cerita ajaib Zidan.


Annisa dan Zidan ikut bergabung dengan yang lainnya,namun saat di tengah-tengah aktifitas mereka ngerujak, Salsa mencengkram perut nya, keringat dari kening nya semakin banyak, tangan satu nya terulur mencengkeram lengan sang suami yang berada di samping nya.


Aktifitas mereka seketika berhenti dan menoleh pada sang kakak tertua.


Wajah mereka panik, terlebih suami nya, karena sewaktu Reyyan akan lahir, diri nya sedang dalam penerbangan jadi dia datang saat sang anak sudah terlahir d dunia.


Salsa mulai menenangkan diri karena memang Salsa sebelum nya sudah merasakan mulas, tapi tidak di sangka akan secepat ini.


Mereka kalang kabut, di saat seperti ini sang Mama tidak di rumah membuat mereka kelimpungan karena tidak ada yang mengarah kan.


Karena para suami mereka semakin ribut, para istri berteriak hampir bersamaan meminta untuk diam.


Setelah mengatur nafas nya, Salsa dengan tenang mengintruksi apa yang harus mereka lakukan.


KLIK LIKE DAN COMMENT JUGA VOTE NYA 😅.


TERIMA KASIH SELALU MENUNGGU CERITA DARI SAYA, YANG MUNGKIN NGGAK SEBERAPA TAPI ANTUSIAS KALIAN MEMBUAT AUTHOR BAHAGIA.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.