Single Parent

Single Parent
55.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Suasana di koridor Rumah Sakit menjadi ramai karena kedatangan keluarga Husein.


Bukan karena banyak fans yang mengerubungi mereka,tapi karena kepanikan yang di timbulkan para suami, yang di ribut kan hanya meringis menahan sakit yang luar biasa, dia menahan sakit dan juga gemas pada mereka.


Karena keributan yang di buat mereka menjadikan dia seperti tokoh utama saja, walaupun memang sebenarnya iya untuk saat ini.


Azka meringis kesakitan karena rambut nya di tarik oleh Salsa.


"Bisa diam nggak sih, suara kalian nambah bikin aku mules tau nggak!" seru Salsa kesal.


Seketika mereka berhenti, meski pun masih cemas dan ribut dengan suara yang rendah.


Salsa masuk ke ruangan bersalin, dia melahirkan dengan cara normal, suami nya ikut serta dalam proses persalinan sang istri.


Zidan dan yang lain menunggu di luar depan ruangan bersalin, Zidan menggenggam tangan Annisa erat bahkan sangat erat sehingga membuat nya meringis kesakitan.


"Maaf Yang nggak sengaja, aku cemas banget ini, sebegitu susah nya kah melahirkan" ujar Zidan yang tidak bisa menyembunyikan kecemasan nya.


Annisa tersenyum lembut, dia mengusap tangan suami nya itu yang begitu erat menggenggam nya.


"Itu adalah tugas seorang wanita sayang, maka dari itu para lelaki harus menghargai wanita, menjunjung tinggi harga diri wanita, apa lagi para ibu, bahkan ibu itu derajat nya tiga kali lebih tinggi dari ayah, dan juga mengapa seorang suami itu di harapkan untuk mendampingi saat istri sedang berjuang melahirkan buah hati mereka, supaya tahu bagaimana perjuangan seorang istri yang akan melahirkan keturunan dari nya" jawab Annisa.


Zidan tersenyum teduh, beruntung sekali dia yang mendapatkan istri seperti Annisa, yang dapat meneduhkan hati nya, meskipun kata-kata nya sangat familiar untuk nya, tapi entah mengapa dia begitu tenang.


Dua jam mereka menunggu akhirnya suara lantang tangisan bayi itu memecahkan keheningan yang tercipta, suara syukur atas lahirnya keponakan mereka pun saling bersahutan.


Dokter keluar dari ruangan, dia memberitahu bahwa anak dari Salsa adalah perempuan.


💢💢💢💢💢


"Wah Bun, cantik banget dedek bayi nya yah Bun, nanti adik Syifa cantik begini nggak Bun?" celoteh Syifa saat melihat anak Salsa.


"Nama nya siap Tan?" lanjutnya.


"Nama nya Alia Hazimah Khansa" jawab Reyyan.


"Aku nggak nanya kamu aku nanya nya Mama kamu" ketus Syifa.


"Masih nggak maafin aku nih?" tanya Reyyan melas.


"Enggak, enggak mau!" seru Syifa kesal.


Orang dewasa yang melihat itu menggelengkan kepalanya, selalu saja seperti itu.


"Memang nya Reyyan salah apa sama Syifa,kok nggak di maafkan, nggak baik kalau marah lama-lama" tanya Annisa yang berujung nasihat.


Asyifa masih membuang muka tidak mau menjawab karena kesal.


"Itu Tante, kan waktu istirahat aku janji makan siang sama Syifa tapi aku keasyikan main sama temen aku Tan, jadi aku kelupaan tapi aku udah minta maaf sama Syifa Tan,tapi Syifa nya nggak mau maafin aku Tan, bujukin dong Tan" jelas Reyyan.


" Syifa?" saut Annisa.


"Syifa nggak mau maafin, Bunda kan tau kalau aku nggak suka sama orang yang tidak menepati janji" kata Syifa kesal.


"Syifa sayang, Reyyan kan kelupaan, maafin ajah yah, nanti kalau kamu memaafkan Reyyan bakalan di teraktir es krim coklat, sama strawberry" bujuk Zidan.


Reyyan yang di lirik pun menarik baju Zidan dan berbisik meskipun masih terdengar orang lain.


"Om mau bantu aku nggak sih, kok malah ngejeblosin aku sih" bisik Reyyan kesal.


Zidan dan yang lainnya menahan tawa, Asyifa sudah melotot pada Reyyan.


"Oh jadi nggak ikhlas ngasih nya?" tanya Syifa ketus.


Reyyan yang di ketusin jadi kelabakan.


"Bu...bukan nggak ikhlas, aku ikhlas kok beneran deh" jawab nya cepat dan mengacungkan jari tengah dan telunjuk nya.


"Oke,aku maafkan kamu" jawab Asyifa dengan wajah yang masih dingin.


Reyyan menghela nafas lega. Tawa Zidan hampir meledak, kalau saja tidak mendapat pelototan dari sang istri tercinta. Anak siapa ini pintar sekali mengambil kesempatan yang di lemparkan oleh sang Ayah.


💢💢💢💢


Hari demi hari, minggu ke minggu,dan bulan ke bulan, usia kandungan Annisa sudah memasuki usia 35 minggu sebentar lagi akan melahirkan namun sedih karena di saat seperti ini dia harus di tinggal sang suami yang harus bertugas di perusahaan cabang, yang berada di Australia, sedih memang, tapi tidak ada pilihan lain selain harus merelakan karena hal ini tidak bisa di wakil kan.


"Beneran harus berangkat malem ini juga Yah?" sedih Annisa.


"Mau bagaimana lagi Yang, ini nggak bisa di wakil kan soalnya client di sana mau nya ketemu aku, gimana dong?, apa Bunda mau ikut juga?, ga apa-apa kalau Bunda ikut, Ayah malah seneng" ucap nya tersenyum.


"Ngaco, nggak ah yang ada nanti Bunda nyusahin Ayah kerja, malah bikin nggak fokus lagi" jawab Annisa.


"Tapi sebenarnya Ayah nggak mau jauh-jauh sama Bunda loh, kalau ajah client ini nggak penting, Ayah juga ogah ketemu" gerutu Zidan.


"Hust... nggak boleh ngomong gitu, alkhamdulillah masih di percaya Yah, jangan ngeluh" nasihat Annisa.


Zidan meluruhkan bahu nya, dia berbaring di pangkuan sang istri, wajah nya menghadap ke perut besar istri nya itu. Dia mendusal menciumi dan mengelus sayang membuat Annisa geli.


Tangan Annisa terulur mengusap kepala suami nya itu, dia tersenyum, meskipun sedikit tidak rela untuk melepas suaminya untuk terbang, tapi dia harus kuat,dia tidak mau membuat suami nya itu khawatir, karena dia tau kalau suami nya itu tidak akan meninggalkan nya bila dia mengatakan tidak.


Dia tidak boleh egois, dia tidak boleh memikirkan kepentingan emosional, sebagai istri dia harus mendukung apapun itu tapi dalam hal yang wajar dan baik tentu nya.


"Ayah bakalan rindu banget sama kalian, meskipun cuma seminggu di sana tapi rasanya nggak rela banget yah" ucap Zidan masih menciumi perut istri nya.


"Ayah akan usahakan untuk cepat pulang, baby jangan rewel yah, nggak boleh buat Bunda susah oke" monolog nya pada sang janin, Zidan mendongak.


"Oh ya Bun, kalau mau itu boleh nggak?" kata Zidan dengan cengirannya.


"Eemm modus" jawab Annisa yang tahu maksud dari ucapan suami nya membuat Zidan terkekeh.


"Buat bekel Bun, nanti kan Ayah bakalan puasa nggak bisa minta" mohon nya.


Tidak ada penolakan dari Annisa, memang tugas nya, dan juga kasihan sang suami jika tidak mendapatkan hak nya.


Jadi lah siang itu menjadi siang panas mereka, karena untuk waktu yang lama mereka tidak bertemu 'mungkin'.


LIKE COMMENT VOTE JANGAN LUPA 😅.


SALAM MANIS DARI AUTHOR KECE.😁