Single Parent

Single Parent
26.



Zidan melajukan mobilnya menuju tempat tujuan, Zidan geram sekaligus bingung.


Satu sisi dia geram karena dia membawa Asyifa secara paksa, dan satu sisi yang lain dia berhak atas Asyifa.


Dia juga harus bagaimana untuk menyikapinya?, karena status nya yang belum jelas dengan Annisa, membuat dia harus berfikir berkali-kali untuk mengambil Asyifa dari tangan Ayah kandung nya.


"Ya Allah aku harus bagaimana ini, jadi bingung sendiri?" Zidan mengusap wajah nya dengan kasar.


Dia sudah berada di depan rumah Aditya, mantan suami Annisa. Tapi dia ragu untuk masuk kedalam.


Dimana keberaniannya dan emosi yang menggebu tadi?, semuanya lenyap begitu saja setelah dia tiba di tempat tujuan.


"Aduh, gimana yah,,,,Ah,,,,masa bodo lah yang penting masuk dulu" ucap Zidan pada dirinya sendiri.


Pada akhirnya dia memutuskan untuk turun dari mobil nya dan memasuki pekarangan rumah Aditya setelah di perbolehkan masuk oleh scurity.


Tok...tok...tok...


" Maaf apa pak Aditya nya ada?" tanya Zidan setelah di buka kan pintu.


"Pak Aditya sedang keluar tuan" jawab pengurus rumah tangga Aditya.


"Siapa Bi?" seru Yasmin dari dalam.


"Oh kebetulan kamu dateng, cepat deh itu kamu bawa anak si*l*n itu keluar dari sini" kata Yasmin tak ramah setelah melihat siapa yang datang bertamu.


"Apa maksudnya?, kenapa ucapan anda begitu kasar!?" tanya Zidan dengan geram.


Yasmin hanya tersenyum sinis.


"Ada apa ini!?" seru Aditya saat baru datang dan melihat Zidan di depan pintu rumah nya.


"Mau apa kamu datang ke rumah saya?!" tanya Aditya dingin.


"Saya mau menjemput Syifa!" tegas Zidan.


"Ada hak apa kamu ingin mengambil dia dari saya?!" seru Aditya.


Zidan terlihat sedikit gugup. Dia benar, ada hak apa untuk mengambil Syifa?, tapi bila dia mengalah bagaimana dengan Annisa.


Lalu dia ingat sesuatu.


"Ada hak apa juga anda pada Asyifa, anda bahkan meragukan Asyifa sebelum dia lahir!, suami macam apa kamu dulu yang tega mendorong tubuh istri nya sampai tersungkur saat dia sedang mengandung! " seru Zidan tegas.


Aditya jadi tidak berani berkata, apa yang di bicarakan oleh Zidan benar adanya. Dia pernah meragukan hadir nya Asyifa. Dia menggeram dengan kesal.


Dari arah dalam, terdengar suara anak yang memanggil Ayah dan berlari ke arah mereka, mereka menoleh secara bersamaan.


Aditya dengan bahagia mendengar suara putri nya itu memanggil nya dengan sebutan Ayah, tapi apa yang di lihat nya begitu membuat hati nya terluka.


Asyifa, anaknya, darah daging nya, bukannya dia berlari menghampiri nya dan memeluk nya.


Tapi dia berbelok memeluk seorang pria yang ada di depan matanya.


Sesakit ini kah tidak di akui oleh darah daging nya sendiri, justru dia memilih pria yang belum jelas statusnya untuk di panggil Ayah oleh putrinya.


"Ayah, aku mau pulang, aku mau ketemu sama Bunda Yah..hiks..hiks.." tangis Syifa.


Zidan yang tadinya diam saja sekarang membalas pelukan Asyifa. Dia tersenyum menang.


"Syifa mau ketemu Bunda?, ayo Ayah anter ketemu Bunda" ucap Zidan lembut dan menekankan kata 'Ayah' dengan sengaja.


"Syifa, dia bukan Ayah kamu nak, Ayah lah yang sebenarnya Ayah kamu bukan dia" kata Aditya lembut dan menunjuk Zidan dengan tatapan membunuh.


"Enggak mau! kamu orang jahat, Syifa nggak mau sama kamu, Syifa mau nya sama Ayah Zidan!" jerit Syifa dengan air mata nya.


"Bagus deh lebih baik kamu pergi sana, pergi yang jauh dan jangan kembali lagi" usir Yasmin dan menyilang kan tangannya di depan dada.


"Diam kamu!! " bentak Aditya membuat Yasmin terkesiap.


"Lebih baik anda urus saja istri anda yang bermulut tajam ini" geram Zidan.


Zidan membawa Asyifa keluar dari pekarangan rumah Aditya, dan memasuki mobil nya. Dari arah dalam Bian mengejar Kakak nya yang sudah hampir keluar dari pekarangan rumah nya.


Keributan yang timbul dari pertengkaran orang dewasa itu membangun kan tidur nyamannya Bian.


dia melihat semua kejadian yang ada di depan mata nya. Saat dia melihat kakaknya di bawa oleh orang asing dia mengejar Asyifa, namun karena tubuh kecil nya dia tidak mampu mengejar mobil yang melaju cepat.


Aditya menggendong Bian dan menenangkan putranya itu. Tapi tetap saja Bian meronta ingin di lepas kan.


"Bian, Bian dengerin Ayah" ucap Aditya dengan suara yang sedikit meninggi membuat putra nya itu menatap nya dengan mata yang basah.


"Bian, nanti kita temui kakak lagi yah,btapi nggak sekarang sayang" tutur Aditya membuat putra nya itu sedikit meredakan tangisnya.


" Beneran Yah?" tanya nya sesegukan.


"Iya sayang, nanti kita ketemu sama kakak lagi" jawab Aditya.


"Tapi kakak akan kesini lagi kan Yah?, Bian mau main sama kakak Yah" rengek Bian.


" Ngapain juga dia kesini, dia juga nggak mau di sini juga" Yasmin melimpali.


Aditya hanya bisa diam saja, Dia tidak bisa menjawab apapun karena putri nya tidak mau dengan nya, bahkan menyentuh pun dia begitu ketakutan, Dia iri saat Asyifa memeluk Zidan dengan erat.


💢💢💢💢


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Annisa sekarang sedang berada di taman. Vita menemani Annisa untuk berjalan-jalan sore, dia masih menggunakan kursi roda.


"Vit, Aku kangen Syifa" ucap nya lirih setetes air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Sabar ya Nis, semua lagi mencari Asyifa, kita doa'kan yah " kata Vita .


Sebenarnya Vita juga sedih dan frustasi karena hilangnya Asyifa, tapi temannya ini jauh lebih frustasi dari nya, maka dari itu dia harus kuat untuk bisa menguatkan Annisa.


Dari arah belakang datang lah segerombolan orang mendatangi Annisa.


"Assalamualaikum, Annisa, Vita?" sapa seorang wanita dan di ikuti yang lain.


mereka menoleh dan mendapati keluarga Zidan yang datang dengan ramai.


"Wa'alaikumusalam" jawab serempak mereka.


"Gimana kabarnya sayang?" tutur Mama Zidan mengawali pembicaraan.


"Baik Tante" jawab Annisa tersenyum.


"Tante, Asyifa mana?, kok aku nggak lihat Asyifa sih?" tanya Reyyan polos.


Karena memang Reyyan tidak mengetahui tentang penculikan Asyifa, hanya orang dewasa saja yang mengetahui nya.


Mendengar pertanyaan Reyyan membuat mereka bungkam dan tak enak hati pada Annisa.


Annisa yang mendengar pertanyaan polos Reyyan kembali menetes kan air mata nya.


Sesat suasana menjadi sendu, melihat Annisa menangis seperti itu membuat mereka ikut pilu.


Mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menemukan Asyifa tapi belum ada hasil nya.


Dari arah belakang seorang anak berlari menuju Annisa, memanggil nya dengan suara lantang.


"Bunda!!..." seru Asyifa dari kejauhan.


Annisa yang mendengar suara yang dia amat sangat rindukan menoleh dan mendapati sang putri sedang berlari menghampiri. Mereka ikut terkejut.


"A... Asyifa" lirih Annisa


Dia berlari menghampiri Bunda nya dan hampir saja terjatuh.


Annisa dengan refleks ingin memeluk putri nya, namun karena luka kaki nya dia hampir saja terjatuh.


membuat Vita yang berada di samping nya refleks memegangi Annisa.


"Hati-hati Nis" Vita mendudukkan lagi Annisa.


Syifa memeluk Bunda nya dengan erat. Annisa membalas pelukan putri nya dan menciumi seluruh wajah nya setelah melepas pelukannya.


Jangan lupa untuk klik like dan comment yah man-teman terima kasih 😊 vote nya juga jangan lupa.


HAPPY READING MAN-TEMAN 😊.