Single Parent

Single Parent
48.



HAPPY READING MAN-TEMAN 😊


Hari ini adalah hari pertama Asyifa masuk sekolah untuk kelas yang baru.


"Bunda cepetan, aku udah telat nih" teriak Asyifa dari ambang pintu rumah.


Annisa dari dapur berlari dengan terburu-buru.


"Hos...hos...hos,.. nih" ucap Annisa memberikan bekal untuk putri nya dengan mengatur nafas nya yang terengah.


"Makasih Bun, sayaaaanngg Bunda" ucap Asyifa mengecup pipi Annisa sayang.


"Jangan lari-lari sayang, nanti kalau di perut kamu ada malaikat kecil nya bagaimana?,kan kasian ke guncang" nasihat Zidan lirih sembari memeluk istrinya dan mencium sayang puncak kepala nya.


Annisa tersenyum, dia menoleh pada suaminya dan mengatakan kata yang membuat ekspresi Zidan menjadi lesu.


"Jangan khawatir, aku lagi ada tamu jadi nggak mungkin ada malaikat kecil nya" bisik Annisa, membuat Zidan cemberut.


"Yah, nggak dapet jatah dong nanti malem" kata nya lemas, membuat Annisa terkekeh geli melihat nya.


"Yang sabar yah, selamat menunggu satu Minggu" ucap Annisa.


"Huft, ya sudah deh aku berangkat dulu yah" ucap Zidan sembari mengulurkan tangannya untuk di salami oleh Annisa.


"Hati-hati yah, jangan lupa bekal nya di makan" pesan Annisa.


"Tentu" final Zidan tersenyum.


Annisa melihat kepergian suaminya dan putri nya, setelah sudah tak terlihat dia masuk kembali ke dalam.


Mereka sudah pindah ke rumah Annisa dari tiga hari yang lalu, karena permintaan sang anak.


💢💢💢💢


Setelah mengantar putri cantik nya ke sekolah, Zidan memasuki perusahaan Papa nya, hari ini adalah hari pertama dia masuk dengan jabatan sebagai Direktur, sebenarnya Zidan enggan untuk menduduki jabatan itu, tapi Papa nya selalu memaksa nya, bukan dia tidak bisa menolak untuk jabatan itu, tapi kekasih hati nya lah yang ikut memaksa nya menerima tawaran itu.


Papa nya tahu Annisa lah kelemahan sang anak, jadi dia meminta tolong, bisa di bilang memanfaatkan situasi yang ada.


Zidan melangkah memasuki perusahaan nya dengan santai, karena ke engganan nya membuat dia malas untuk pergi, namun Zidan tetap lah Zidan, semalas apapun dia tetap saja selalu menyembunyikan ekspresi nya. Dia tetap saja dingin, banyak wanita yang jatuh dengan pesona nya, namun dia tidak akan menyapa dengan wanita tak di kenal nya, tapi akan selalu ramah pada satu gender nya.


Seperti sekarang ini, dia berjalan dengan muka yang dingin, pesona Zidan akan menjadi bahan utama untuk perebutan di kalangan wanita.


Di mata nya wanita cantik dan menawan selain dari keluarga nya hanya lah Annisa sang istri dan putri cantik nya Asyifa.


Dia memasuki ruangan sang Papa, dia dengan muka yang tak ramah duduk di sofa dalam ruangan Papa nya itu.


"Pinter banget Papa buat rencana, curang tau nggak" kesal Zidan yang baru saja mendudukan dirinya di sofa.


Papa mendongak melihat muka dari anak nya di tekuk dia jadi terkekeh, berhasil juga rencananya.


Dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang anak, dia menepuk pelan pundak nya.


"Kalau Papa tidak merencanakan hal seperti itu, kamu nggak akan mau terjun ke dunia perkantoran, percuma dong ilmu nya kalau nggak di gunain" tutur Papa tersenyum.


"Iya tapi kenapa harus sekarang sih Pah?" tanya Zidan kesal.


"Mau kapan lagi Zid, kamu sekarang sudah menikah, kamu itu anak laki-laki satu-satu nya di keluarga kita, Papa mau kamu meneruskan perusahaan keluarga kita" ujar nya.


" Papa ini sudah tua Zid, Papa ingin ada yang membantu Papa di sini, biar lah bengkel nanti di pegang sama orang kepercayaan kamu, kamu nggak usah terjun langsung hanya mengontrol dari jauh, Papa rasa semua bisa di handle, sesekali saja kamu mengecek perkembangan bengkel kamu" lanjutnya.


Zidan berfikir, ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Papa nya itu, tapi ekspresi wajah Zidan masih saja ragu.


"Eh...Pah jangan dong" mohon Zidan memegang lengan Papa nya cepat.


"Jadi??"


"O..oke, aku mau" ucap Zidan setuju.


Papa tersenyum menang, akhirnya putra nya sah menyetujui permintaan dari nya, meskipun dengan ancaman.


💢💢💢💢


Siang telah tiba, sebentar lagi jam makan siang, Zidan menghela nafas panjang.


Dia mengambil ponsel nya dan menelpon sang istri.


"Dimana Yang?, .....ya udah aku tunggu yah" tanya Zidan pada Annisa di seberang sana.


💢💢💢💢


Annisa keluar dari mobil nya dan mulai melangkah ke dalam gedung yang sekarang menjadi tempat kerja sang suami.


Dia melewati lobby dan banyak karyawan keluar dari kantor untuk makan siang karena sudah waktunya.


Tapi dia urung kan, dia berbelok menuju kantin kantor yang berada di samping gedung utama guna membeli jus.


Banyak karyawan wanita yang sedang bergosip tentang atasan baru mereka di sana.


Dan tak sedikit orang yang memuji ketampanan atasan baru mereka itu.


Annisa merasa cuek saja karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan yang ternyata adalah suami nya sendiri, tapi kata-kata mereka membuat air mata nya tiba-tiba saja keluar dengan sendirinya.


"Eh..eh Bos kita yang baru tahu kan yang tadi pagi dateng,aduh..cakep banget ya ampun, andai dia jadi pacar aku, atau jadi suami aku juga aku ridho dunia akhirat" celetuk karyawan yang sedang duduk di salah satu kursi kantin kantor.


"Ngayal mulu, dia itu udah nikah tau, bahkan istri nya itu denger-denger cantik banget" jawab satu karyawan yang satu meja.


"Yah, gagal deh dapet kandidat suami idaman" .


"Tapi denger-denger dia janda anak satu"


"Ah mas sih,kok mau sih Bos kita sama dia, udah punya anak pula kan masih banyak gadis-gadis di luar sana, siapa sih dia"


" Nama nya sih kata nya Annisa, kurang tahu juga sih kan kita nggak di undang di pernikahan mereka cuma kalangan bisnis doang kata nya"


"Selera nya janda kali yah"


Perbincangan mereka di akhiri dengan tawa yang mengejek.


Annisa yang mendengar menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.


Mereka tidak tahu yang di bicarakan mereka ada pada tempat yang sama.


Dia keluar dari kantin karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia berjalan cepat menghapus air mata nya.


Hatinya sakit, tapi dia sudah tahu apa resiko nya bila menikah dengan seorang Zidan yang bisa di bilang mendekati sempurna untuk kalangan pemuda.


Dia memasuki lift dan memencet nomor lantai ruangan sang suami, dia menetralkan ekspresi nya dan tersenyum.


Dia tidak mau suami nya khawatir karena dia menangis, suami nya itu paling anti melihat dirinya menangis.


LIKE COMMENT VOTE. NYA😅