
Mereka memulai acara resepsi pernikahan setelah sang pengantin memasuki ballroom hotel luas itu yang sudah penuh dengan para tamu.
Mereka menjadi pusat perhatian para tamu undangan, berbagai macam pujian terlontar dari mulut para tamu.
Para undangan terdiri dari rekan bisnis sang Papa, karyawan Zidan dan Karyawan Annisa, serta orang-orang terdekat mereka.
Tapi ada saja orang yang mengeluh karena idolanya itu menikah dengan orang lain.
"Hufftt... semangat aku udah nikah sama orang lain" celetuk Ridwan dengan lesu di salah satu kursi tamu.
Dia duduk di antara karyawan Annisa lain nya.
"Udah ..itu si Milla juga ada, nggak usah pusing" ucap kepala koki yang membuat semua karyawan yang mendengar jadi tertawa kecil.
Ridwan jadi mencebikkan bibir nya kesal, Milla sendiri sudah malu karena nama nya di sebut.
Acara resepsi pernikahan Z&A berjalan dengan mulus, hingga saat nya untuk saling memberi selamat untuk sang pengantin di atas pelaminan.
Para tamu undangan saling mengantri memberi selamat dan doa' nya untuk kedua mempelai.
Setelah semua selesai, ada seseorang wanita yang datang dengan anggun nya menghampiri pelaminan, kecantikan nya menyamai sang mempelai wanita.
Banyak tamu yang mengagumi nya, ada juga wanita yang menyamai kecantikan pengantin wanita, pikir mereka.
Para tamu undangan bahkan memberi jalan untuk nya menghampiri kedua mempelai.
Annisa yang melihat hal itu seperti De javu, dia pernah mengalami hal ini, apa ini?, permainan apa yang sedang di main kan mereka?, mengapa hal seperti ini terjadi lagi, sama persis dengan apa yang terjadi di masa silam.
Dia menoleh ke arah Zidan dan apa ini, ekspresi nya begitu bahagia?, seperti Aditya tapi dia jauh lebih bahagia daripada Aditya dulu.
Siapa wanita itu?, pertanyaan demi pertanyaan menyeruak di dalam hati Annisa.
Tak sadar pipinya basah dengan air mata, dan dengan cepat dia menghapus air mata nya. Tapi air mata nya tetap saja keluar tanpa henti.
Vita melihat setiap ekspresi Annisa, hingga dia melihat nya menangis?.
Seketika dia mengingat apa yang di ceritakan oleh Annisa dulu, baru dia menyadari apa yang di rasakan oleh Annisa saat ini.
Zidan yang belum menyadari tangisan Annisa masih saja menatap wanita itu.
Vita jadi ada ide jail untuk mengerjai pengantin baru itu. Dia melangkah kan kaki nya dan memeluk wanita itu secara tiba-tiba, membuat wanita itu kaget. Tapi dia malah senang di peluk Vita, sudah lama sekali dari pertemuannya terakhir kali.
Akhirnya mereka bersamaan menghampiri Z&A.
Zidan langsung menghambur memeluk wanita itu, hal itu membuat Annisa jadi lebih sakit. Vita melirik Annisa dan senyuman manis terukir di wajah nya.
Vita memberikan kode pada Zidan, dan pemuda itu melirik ke arah Annisa, mendapati istrinya menangis begitu membuat dia kalang kabut.
Annisa bahkan tidak mau di sentuh oleh suami nya itu.
Keluarga mereka tertawa melihat pemandangan itu, Zidan jadi bingung harus bagaimana.
Al hasil wanita itu menengahi pertengkaran mereka.
"Hallo Nisa?, salam kenal aku kakak Zidan, lebih tepatnya saudara kembar Zidan" ucap nya sembari tersenyum manis.
Annisa langsung memandang ke Zidan, Zidan mengangguk membenarkan dengan wajah yang melas.
Dia memukul lengan Zidan gemas membuat dia mengaduh.
Vita sudah tertawa geli saja, di ikuti wanita itu dan juga keluarga nya.
Tunggu, kenapa Asyifa dan Ibu nya juga ikut tertawa?, apakah mereka ikut andil dalam hal ini?.
"Kalian jahat sekali membuat aku begini huhuhu..." Annisa menangis sesenggukan.
Zidan merengkuh pundak Annisa dan membawa nya ke dalam pelukannya.
"Aduh Mah jangan di jewer gini dong, memang nya Mama nggak kangen sama anak Mama yang imut ini" manja Naura pada Mama nya.
"Enggak, anak durhaka yang nggak pulang-pulang buat apa, minta nya Mama nya yang kesana bukannya dia yang kesini nemuin Mama nya" kesal Mama.
"Aduh Mama ku cantik deh, jangan marah-marah nanti nambah keriput nya" ledek Naura sembari merangkul pundak Mama nya.
"Ntar tarik benang biar kenceng" jawab nya dengan melipat kedua tangannya di atas perut.
"Yah, berkurang lagi deh saldo ATM" saut Papa yang membuat Mama mencebikkan bibir nya kesal.
Hal itu menambah riuh suasana, mereka tidak menghiraukan para tamu yang sedang melihat keharmonisan itu.
"Eh iya, menantu Mama mana?" tanya Mama pada Naura.
"Tuh, lagi aku suruh ngantri es krim buat aku" ucap Naura yang menunjuk ke arah suami nya.
Mama menggeleng kan kepala nya, memang sikap manja sang anak itu tidak pernah berubah.
"Semoga ajah suami kamu kuat sama kamu Ra" ucap Mama.
"Harus kuat lah, nanti kalau nggak kuat dia nggak boleh nemuin anak aku" jawab nya membuat suasana menjadi hening.
"Maksud kamu kamu hamil?, Mama mau punya cucu lagi?" tanya Mama berbinar.
Dengan mata yang masih tertuju pada suami nya, dia menelan ludah dengan berat karena es krim yang begitu menggoda, dia mengangguk saja.
Seketika mereka mengucapkan syukur atas kehamilannya.
Membuat Naura sedikit terkejut.
"Wah, bakal rame nih, kamu kapan dong Zid" ledek Vita.
"Segera, ayo sayang kita ke kamar" ucap Zidan hendak membawa istri nya pergi.
"Heeeiii... masih belum selesai" saut semua orang yang berada di panggung itu.
Annisa menyikut perut Zidan dan bersemu merah, tapi tertawa juga bersamaan dengan mereka.
Asyifa yang sedari tadi di tarik Bian meminta izin pada Bunda nya.
"Bun, aku main sama Bian dulu yah" pamit Asyifa pada Bunda nya.
Annisa mengangguk dan tersenyum lembut.
Asyifa pun berlalu, meninggalkan kerumunan orang dewasa yang berada di atas panggung pelaminan.
Cukup lama Asyifa pergi.
Suasana yang sedikit lengah karena para tamu sudah kembali ke rumah nya masing-masing hanya tersisa orang terdekat saja.
Jerit Asyifa membuat suasana di dalam ballroom itu menjadi hening seketika.
Annisa mencari sumber suara putri nya itu, hal yang di lihat nya itu membuat jantung nya seketika berhenti berdetak.
Zidan panik melihat itu, begitu pula dengan keluarga dan tamu yang tersisa.
Darah, putri nya berdarah dan orang yang sedang memegang pisau di samping putri nya membuat tubuh Annisa bergetar.
Ingatan masa lalu nya terulang kembali.
HAYOO...TEGANG NGGAK??.
AH NIH ORANG NGRUSAK SUASANA AJAH NIH 😅.
YUK...KOMEN LIKE NYA JANGAN LUPA OKE 😁.