
HAPPY READING MAN-TEMAN.
"Selamat datang sayang, aku merindukan mu" ucap Zidan manja dan memeluk pinggang Annisa , Zidan baru saja keluar dari kamar mandi,dan mendapati istrinya sudah berada di ruangan itu.
Annisa tersenyum lembut meski perbedaan antara dia dan suaminya hanya dua tahun saja, tapi kelakuan nya saat bersama menjadi seperti Asyifa saja, dia jadi merasa punya dua anak kecil, terkadang juga dia tidak mau mengalah dengan sang putri.
Beda bila di luar, dia akan jadi seorang bermuka es untuk para wanita saja, tapi tidak dengan satu gender nya, dia akan ramah walaupun hanya bertegur sapa saja.
"Kamu kan sudah bawa bekal kenapa minta aku untuk bawa lagi?" ucap nya kesal.
" Bekal aku di ambil Papa,kamu tau apa yang Papa katakan sama aku?" adu nya.
"Apa?" tanya Annisa.
"Dia bilang, Zidan kalau kamu nggak bagi bekal kamu, kamu pulang dari sini Papa jamin Asyifa tidak tinggal di rumah bersama kamu lagi, dan bukan cuma itu saja, tapi Annisa mu itu juga tidak akan di rumah lagi" jelas Zidan dengan menirukan gaya bicara sang Papa beberapa jam yang lalu.
Annisa tertawa, ada-ada saja mertua nya itu.
"Emang mau di kemanain kita?" tanya Annisa bingung.
"Papa culik" jawab nya.
"Huft... dari pada aku jauh sama kamu dan si cantik, mending aku kasih ajah,dan hal ini juga bisa buat kita berduaan, soalnya kan kalau di rumah Syifa suka iseng" kata Zidan tersenyum lebar.
Perdebatan antara anak dan Ayah memang sedikit menguras energi, mereka itu terkadang seperti dua anak kecil yang berebut mainan, tidak ada yang mau kalah
"Lagi pula, aku sebenarnya nggak keberatan juga, nggak mungkin lah Papa bakalan culik kamu beneran,tapi kasian, kali ajah dia pengin makan masakan spesial dari menantu nya" kata Zidan.
"Takut banget Papa bakalan nyulik aku sama Syifa beneran" ucap Annisa terkekeh.
"Gimana nggak takut coba,kamu tau kan aku pernah cerita kalau aku di bawa ke Australia dengan paksa?" tanya Zidan, Annisa mengangguk.
"Aku nggak mau yah kalau Papa nekat,serem soalnya" ucap nya merinding.
"Ya udah ini makan saja yang banyak aku temenin" ujar Annisa.
Zidan hanya melihat Annisa dengan tatapan puppy eyes nya, Annisa menatap jengah suami manja nya itu.
Seperti tau apa yang di inginkan suami nya, dia mengambil alih sendok yang dia serahkan tadi,dan mulai menyuapkan makanan pada bayi besarnya itu.
"Manja nya" ucap Annisa terkekeh.
Zidan tersenyum manis, sangat manis hingga Annisa tak sanggup untuk memarahi nya.
"Aku mencintaimu" bisik nya dan mencium pipi sang istri.
"Ehem....ya Allah nggak di rumah, nggak di sini, panas banget perasaan liat pengantin baru mesra-mesraan begitu,bikin ngiri ajah tau" celetuk Papa yang masuk dan melihat pemandangan yang begitu membuat iri hati nya.
Sontak hal itu membuat Annisa dan Zidan menoleh bersamaan, Annisa tersenyum canggung dan mencoba melepaskan pelukan Zidan.
Dia malu di lihat oleh mertuanya itu, tapi tidak dengan Zidan, dia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa Papa di sini?, ngiri yah, minta Mama begini dong kayak gini,biar romantis" ledek Zidan membuat Annisa memukul lengan nya.
Papa hanya menggeleng kepala saja, kok bisa Annisa menaklukkan orang kaya Zidan, pada orang tua nya saja masih saja dingin,tapi pada istri nya begitu hangat.
💢💢💢💢💢
Bian termenung melihat teman-temam nya yang pulang sekolah dengan di dampingi oleh Ibu mereka.
Setelah satu bulan lebih, Bian akhirnya bisa beraktifitas kembali, dia sudah mulai masuk PAUD.
Meskipun dia selalu menyembunyikan perasaan akan kehilangan sang Mama, tapi ekspresi wajah nya tidak demikian.
Aditya membuang nafas pelan, dia merasakan sakit melihat putra nya begitu sedih. Dia yakin putra nya begitu ingin di temani Mama nya seperti teman-teman nya itu. Tapi bagaimana lagi itu memang jalannya.
"Bian kangen Mama yah?" tanya Aditya lembut dengan memegang pundak sang anak.
"Bian, kalau kamu kangen, Bian boleh kok jenguk Mama" ucap Aditya membuat Bian mendongak menatap Ayah nya.
"Beneran boleh Yah?" tanya Bian ceria.
Aditya terkekeh,lucu nya putranya itu, tadi menggeleng tapi sekarang malah senang.
Mereka pun masuk ke mobil dan pergi ke rutan tempat Yasmin di tahan.
💢💢💢💢💢
Yasmin berjalan dengan menunduk lesu, penampilan nya acak-acakan, dia mendongak melihat ke depan, mata nya berkaca-kaca melihat malaikat kecil nya berada di depan matanya.
Dia berjalan cepat dan langsung memeluk Bian. Tangisan nya pecah karena rasa bahagia dan bersalah nya menjadi satu.
"Bian, maafin Mama ya nak, Mama salah telah buat Bian terluka" ujar Yasmin setelah tenang.
"Bian sudah maafin Mama kok" ucap Bian.
"Makasih sayang, makasih telah memaafkan Mama" tangis Yasmin.
Mereka pun saling melepas rindu, Aditya merasa sedikit lega, meskipun Yasmin salah, tapi dia tetap lah Ibu dari anak nya, dan hal itu tidak bisa dia hindari.
💢💢💢💢
Asyifa pulang dengan wajah yang cemberut, dia tanpa menyapa sang Bunda langsung saja menaiki tangga menuju kamarnya.
Dia membanting pintu kamar nya membuat Annisa kaget dengan apa yang di lakukan sang putri.
Dia bergegas naik dengan khawatir dan mengetuk pintu. Tidak biasanya putri nya berperilaku seperti ini, ada apa dengan nya.
"Syifa sayang, kamu kenapa nak?,buka pintu nya Bunda mau masuk" seru Annisa dengan masih mengetuk.
Tidak ada jawaban dari dalam, Annisa semakin panik, ada apa dengan putri nya itu.
Di rumah nya sedang tidak ada orang, dia harus minta bantuan siapa?.
Kemudian dia mengambil ponsel nya, nomor yang dia hubungi adalah suaminya, hanya dia yang ada di pikiran nya saat ini.
Sementara di kantor nya Zidan sedang dalam rapat penting, beberapa kali dia menghubungi tapi tak di angkat nya juga, karena ponsel Zidan berada pada sekertaris nya.
Dia tidak berani memberitahu karena rapat ini begitu penting. Setelah panggilan ke lima bersamaan dengan selesainya rapat, dengan terburu-buru sekertaris nya itu memberanikan diri untuk memberi tahu atasan nya itu.
"Pak maaf pak, itu tadi istri bapak menelpon beberapa kali" ujar sekertaris Zidan.
"Istri saya?, kenapa tidak kamu beri tahu saya sedari tadi?" kesal Zidan.
"Maaf pak, kan bapak sendiri yang berpesan tidak boleh ada yang mengganggu" kata nya takut-takut.
Zidan mengusap kasar wajah nya, dia lupa dialah yang telah berpesan seperti itu. Dan tak membuang waktu lagi dia memencet nomor sang istri.
"Hallo Yang?" sapa Zidan.
"Ha..hallo, Zid kamu bisa pulang sebentar nggak, Syifa Zid, Syifa mengunci pintu dari dalam dan tidak ada jawaban saat aku gedor" suara Annisa dengan panik.
"A..apa?, oke kamu jangan panik yah, kamu tenang, aku bentar lagi nyampe oke" final Zidan dan segera bergegas pulang.
HAYOO SYIFA KENAPA TUH🤗.
LIKE, COMMENT,VOTE JANGAN LUPA 😅, TERIMA KASIH.
JANGAN LUPA JUGA FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH, YANG MAU AJAH😅
@MEIRISQIA16 😍😍😍