Serendipity Affection

Serendipity Affection
Vero 3



"...kau jaga disini, aku dan Vero akan berjaga di gerbang keluar, jika Bunga datang, telepon kami," Dion


"Wahhh lumayan buat mabar, gini dong, kan impas. Okelah, kalian jaga disana, aku tak akan membiarkan Bungamu itu kabur kok," Riku


.


.


.


"Jika hari ini kita tak dapat Bunga, maka aku akan mencarinya ke rumahnya," Dion


"Kenapa kau jadi perduli sama Bunga??" Vero


"Iya ya, kau jadi ngebet bingo mau ketemu Bunga, kau jatuh cinta pada Bunga yaa??" Riku


Vero tercengang,


"Kau sudah gila ya Rik?? Aku hanya menganggap Bunga sebagai adikku yang dulu mengalami kebutaan dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri karena malu, aku tak akan membiarkan Bunga seperti itu, Bunga bukan adik kelas lagi bagiku, tapi Bunga adalah adikku," Dion


"Dion, adikmu cukup banyak, aku agak pusing, tapi aku yakin kau bisa jadi Kakak yang lebih baik, kami mendukungmu Dion," Riku.


.


Setelah berpisah, Vero terus menatap Dion,


"Kau kenapa sih?? Aku tau aku lebih tampan darimu, tapi jangan melihatiku seperti itu, aku masih menyukai perempuan," Dion


"Kau sudah tak waras seperti Riku ya?? Aku hanya penasaran, kenapa kau membahas Lala lagi? Bukankah kau membenci Lala," Vero


"Itu dulu, saat aku belum tau jika adikku Lala mengalami kebutaan permanen akibat diriku, ditambah Mia yang buta sejak lahir dan Tino yang mendonorkan matanya untukku dan meninggal karena asmanya, aku tak kuat jika harus menerima beban itu, apalagi Bunga adalah anak perempuan dari orang tua lain dan perkataanku sangat bisa menyakiti jiwa dan hatinya," Dion


"Bunga memang punya kebutaan wajah tapi dia bukan cewek yang mentalnya minus kayaknya ya setidaknya dalam hal seperti ini," Vero


"Aku harap gitu," Dion.


.


2 jam kemudian, Vero dan Dion saling bergantian tempat dengan Riku agar Riku tak tertidur dan meninggalkan tugasnya, para mahasiswa maupun dosen banyak yang sudah datang, namun Laras belum datang


Saat jam menunjukkan pukul 07.20 WITA, Dion melihat Laras datang sambil berlarian, dan Dion menghentikannya,


"Bunga tunggu," Dion


"Maaf Kak, aku udah terlambat masuk kelas, bentar lagi Dosen datang," Laras


"Tapi aku-" Dion


"Aku janji, saat pulang nanti Kakak bisa menemuiku, aku harus cepat pergi," Laras


Laras berlari pergi,


"Bunga lucu juga ya lari," Riku


"Diamlah, kita akan menunggui di depan kelasnya, kau panggil Vero sana," Dion


Dion pergi,


Riku pergi.


.


.


.


Saat waktu menunjukan jam 12.46 WITA, akhirnya kelas Laras selesai, Riku yang tertidur, Vero yang bermain game dan Dion yang berharap tetap setia menunggu Laras, saat Laras keluar kelas, Dion langsung berdiri dan menarik pergi Laras ke tempat teman temannya,


"Akhirnya bisa dapat juga," Dion


Laras terdiam,


"Kamu mengenaliku??" Dion


Laras menggeleng, "Kakak dan Kakak yang tidur itu kan gak ngasih tau nama kalian??" Laras


"Baiklah, sebelumnya, kenalkan namaku Dion Elrick Saputra, dan dia yang tidur itu namanya adalah Riku Putra Kanha, biasanya dipanggil Rikukanha," Dion


"Oh. Jadi ada apa ya?? Papaku udah jemput dibawah," Laras


"Aku mau minta maaf soal yang kemarin, aku sudah keterlaluan," Dion


"Iya, ngak papa kok Kak, aku udah biasa. Hanya itu aja? Aku harus segera pergi," Laras


"Besok kayaknya kamu jadwal sampai siang, apa aku boleh mengantarmu pulang," Dion


"Kakak, jangan melakukan hal yang tidak perlu seperti itu, aku tak marah karena kejadian waktu itu, malah aku sudah melupakannya, jadi anggap saja gak terjadi apa apa," Laras


"Tapi aku gak mau seperti itu. Kau memanggil Vero dengan namanya tapi kamu malah memanggilku dengan Kakak, ini curang Nga," Dion


"Ahhh Kakak ini, sudahlah, kita bicarakan nanti, Papa udah menjemputku, aku harus pergi," Laras


"Tunggu," Dion


"Apalagi??" Laras


"Setidaknya bertukar kontaklah," Dion


Dion mengeluarkan ponselnya,


"Berapa??" Dion


Laras pun menyebutkan nomor teleponnya,


"Udahkan?? Aku harus pergi," Laras


Laras pergi,


"Bunga gadis yang menarik kan??" Vero


"Ya, mau tak mau aku harus setuju dengan itu," Dion